NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Pertempuran di Ambang Gua

   ​Raungan parau yang keluar dari celah-celah bibir topografi es Pulau Frostfire seketika memecah keheningan lereng gunung yang sunyi. Kabut salju yang semula bergulung lambat mendadak berputar cepat, dipicu oleh gelombang hawa pekat yang menguar dari tubuh makhluk-makhluk mistis penunggu pulau terlarang.

   Frost Wraith, roh es purba yang tubuh asapnya telah mengkristal menjadi cangkang es tajam yang mematikan, melesat maju dari balik kegelapan. Sepasang mata mereka yang menyala merah darah mengunci barisan ekspedisi kecil yang baru saja melangkah beberapa ratus meter dari buritan The Sky Leviathan.

   ​"Bentuk formasi pertahanan lingkaran! Jangan biarkan mereka memecah barisan!" seru wakil komandan ekspedisi darat dengan lantang sembari menghunus pedang sihir peraknya yang langsung memancarkan pendaran cahaya suci.

   ​Lima prajurit elite kapal bergerak dengan kedisiplinan militer tingkat tinggi. Mereka dengan cepat mengambil posisi saling memunggungi, mengangkat pelontar sihir penolak roh, dan mengunci bidikan ke arah pergerakan musuh yang kian mengepung.

   ​KRIEEEK...

   BUM!

   ​Tembakan beruntun dilepaskan. Kilatan energi perak melesat membelah badai salju, menghantam tepat pada dada beberapa Frost Wraith terdepan. Benturan itu memicu suara ledakan kristal yang nyaring saat cangkang es tebal milik makhluk-makhluk tersebut hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu gaib.

   Namun, sisa-sisa energi hitam kuno yang merasuki tanah Pulau Frostfire seolah bertindak sebagai bahan bakar tanpa batas. Dari balik retakan tanah es yang bergetar hebat, belasan roh baru kembali merayap keluar dengan raungan yang jauh lebih murka.

   ​Melihat jumlah musuh yang kian bertambah dan mengepung dari segala arah, konsentrasi Leo yang bertindak sebagai pemegang perisai kehangatan mulai goyah. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu merasakan tekanan magis yang sangat berat menghantam dinding batinnya.

Percikan api jingga keemasan yang menyelimuti barisan mereka mendadak bergetar tidak stabil, meredup sesaat dan membiarkan hawa dingin ekstrem dari luar merembes masuk menusuk tulang.

   ​"Leo, tetap fokus pada aliran apimu! Jangan melihat ke arah jumlah musuh, tatap mata Ibu!" seru Clara lantang, berusaha memecah kepanikan yang mulai menguasai pikiran putranya di tengah riuh deru angin utara.

   ​Clara melangkah maju satu langkah di dalam lingkaran pertahanan, meletakkan tangan kirinya di atas pundak kecil Leo yang mulai gemetar. Melalui sentuhan itu, ia menyalurkan ketenangan batin seorang mantan Penyembuh Agung, bertindak sebagai jangkar emosional agar energi Phoenix di dalam darah Leo tidak kembali meledak menjadi amarah yang merusak. "Ingat matahari pagi di Valenica, Leo. Pertahankan kehangatan ini demi adik-adikmu di atas kapal."

   ​Mendengar suara jernih Clara, Leo menarik napas dalam-dalam. Sepasang mata jingganya kembali berkilat penuh tekad, dan pendaran perisai hawa hangat di sekitar mereka kembali menguat, menolak rembesan hawa beku yang mengancam akan membekukan aliran darah para prajurit.

   ​Namun, pemimpin dari kawanan Frost Wraith, seekor roh es purba berukuran raksasa dengan empat lengan berbentuk bilah pedang kristal, mendadak melompat dari atas tebing batu es yang menggantung di atas mulut gua.

   Makhluk itu memanfaatkan celah tipis saat konsentrasi barisan terpecah, meluncur jatuh dengan kecepatan luar biasa tinggi, membidik langsung ke arah kepala Leo dengan cakar esnya yang siap merobek apa saja.

   ​"Leo, awas!"

   ​Dalam detik yang sangat kritis itu, Clara tidak menggunakan logika taktisnya sebagai seorang pemimpin, yang bergerak adalah insting murni seorang ibu yang menolak melihat anaknya terluka. Tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri yang tidak memiliki inti sihir, Clara melesat maju ke depan, memposisikan tubuh fisiknya sebagai tameng hidup yang mendorong Leo jatuh ke belakang perlahan ke arah dekapan para prajurit.

   ​BUM!

   ​Clara mengangkat kedua tangannya yang terbalut sarung tangan Sutra Laba-laba Salju tinggi-tinggi ke udara, menahan hantaman cakar es raksasa itu secara langsung di atas kepalanya.

   Benturan dua energi ekstrem yang berlawanan itu menciptakan gelombang tolak balik (recoil) termal yang luar biasa kuat. Pendaran cahaya perak dari sutra mistis pemberian Alden meledak terang benderang, memancarkan sihir pemurnian total yang langsung mengikis dan membekukan balik asap hitam di dalam cangkang sang roh purba hingga makhluk raksasa itu menjerit gaib sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menjadi abu es di udara.

   ​Namun, harga yang harus dibayar Clara atas tindakan heroik tersebut sangatlah mahal. Mengaktifkan energi penolak bala dalam skala sebesar itu tanpa didukung oleh aliran dari inti sihir murni memicu kejutan biologis yang masif ke dalam organ tubuh fisiknya.

   ​"Ugh...!" Clara melenguh kesakitan, tubuhnya seketika limbung dengan lutut yang menghantam lantai es yang keras.

   ​Aliran darah di sepanjang lengan kanannya terasa seperti dialiri oleh cairan logam panas yang membakar, disusul oleh rasa kaku luar biasa yang menjalar cepat hingga ke belikat dan persendian bahunya.

Kulit di balik pergelangan tangan kanannya mendadak melepuh hebat, memancarkan warna kemerahan tua yang mengerikan akibat penyerapan energi kehidupan fisik oleh sarung tangan perak yang dipaksa bekerja melampaui batas manusia biasa. Napas Clara tersengal, wajahnya yang manis kini pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.

   ​"Ibu!" teriak Leo dengan suara parau yang dipenuhi rasa takut dan hancur secara emosional.

   ​Menyaksikan wanita yang awalnya ia ragukan sebagai ibu tiri, kini justru terluka parah dan bertaruh nyawa di depan matanya sendiri demi melindunginya, memicu sebuah ledakan batin yang luar biasa dahsyat di dalam jiwa ksatria langit muda tersebut.

   ​Kemarahan Leo kali ini tidak lagi menjelma menjadi ledakan api liar yang menghancurkan segalanya tanpa arah seperti di masa lalu. Berkat bimbingan psikologis Clara selama tiga hari terakhir, luapan emosi Leo melebur menjadi sebuah tekad murni untuk melindungi balik sang ibu.

   ​Sreeet...

   BLAAAM!

   ​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sepasang sayap manifestasi energi api Phoenix sejati mengepak megah dari punggung kecil Leo, membubung setinggi tiga meter dengan kobaran warna jingga keemasan yang luar biasa indah dan panas murni. Leo berdiri tegap di depan tubuh Clara yang sedang terduduk kesakitan, mengayunkan kedua tangan kecilnya ke depan dengan sapuan horizontal yang presisi.

   ​"Jangan sentuh ibuku!" raung Leo lantang menembus badai.

   ​Gelombang ombak api murni Phoenix melesat menyapu permukaan lereng bukit es, menciptakan efek pembersihan termal yang luar biasa dahsyat.

Hawa panas yang terukur dengan sempurna itu membakar habis seluruh sisa-sisa kawanan Frost Wraith di sekeliling pelataran mulut gua hingga mereka menguap menjadi udara kosong dalam hitungan detik, tanpa melukai satu pun prajurit elite maupun merusak geografi es di sekitar mereka. Jalur masuk menuju Gua Air Mata Phoenix Ice akhirnya terbuka sepenuhnya dengan bersih.

   ​Wakil komandan ekspedisi darat tertegun sesaat melihat kedahsyatan kendali kekuatan Tuan Muda mereka, sebelum akhirnya bergegas berlutut di samping Clara bersama dua prajurit lainnya. "Nyonya Clara! Anda bisa mendengar suara saya? Segera amankan area luar! Kita harus membawa Nyonya masuk ke dalam gua yang memiliki hawa lebih stabil sekarang juga!"

   ​Clara mencengkeram pergelangan lengan kanannya yang kaku dan gemetar hebat menggunakan tangan kirinya. Rasa perih di persendiannya begitu menyiksa, namun melihat Leo yang langsung berbalik dan memegangi jubah wolnya dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan dan ketakutan, Clara memaksakan seulas senyum tulus yang paling menguatkan di bibirnya yang pucat.

   ​"Ibu tidak apa-apa, Leo... lihat, apimu hari ini sangat indah dan luar biasa. Kau berhasil melindungi Ibu," bisik Clara lembut, suaranya parau namun memancarkan ketegasan seorang ibu yang tidak akan pernah menyerah pada rasa sakit fisiknya demi menjaga mental anak-anaknya.

   ​Leo mengangguk kuat-kuat di antara isak tangisnya, menahan seluruh gejolak emosinya agar tidak lagi memicu percikan api yang bisa melukai tangan Clara yang sedang melepuh.

   ​Dengan sisa-sisa kekuatan fisik Clara yang dipapah dengan penuh rasa hormat oleh Wakil Komandan dan kawalan super ketat dari para prajurit elite kapal, barisan ekspedisi kecil itu segera melangkah cepat meninggalkan pelataran lereng yang beku.

   Mereka melangkah masuk menembus kegelapan mulut gua, bergerak menuju titik terdalam di mana keindahan magis aula mata air suci yang akan menyembuhkan luka mereka semua sudah menanti di balik dinding-dinding es bening layaknya kaca.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!