Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Lee mendekat hingga hanya beberapa sentimeter dari wajah Giselle. Senyum puas tak pernah lepas dari bibirnya. "Ayo kita check-in sekarang," bisiknya pelan. "Aku kangen sama kamu."
Tubuh Giselle langsung menegang. "Aku... nggak bisa."
Ekspresi Lee seketika berubah dingin. Ia mengeluarkan kembali flashdisk dari saku celananya, lalu mengangkatnya di depan wajah Giselle. "Hm... jadi kamu menolak?" katanya tenang. "Kalau begitu, mungkin sudah waktunya Rebeca tahu isi flashdisk ini."
Wajah Giselle memucat. "Jangan..." suaranya bergetar.
"Kalau begitu, ikut denganku."
Giselle memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Dalam benaknya hanya ada satu nama.
Rebeca.
Demi menjaga rahasia yang selama ini disembunyikan dari putrinya, ia merasa seolah tak memiliki jalan keluar. Dengan suara yang hampir tak terdengar, akhirnya ia berkata, "Baik."
Senyum Lee kembali mengembang. "Itu baru keputusan yang tepat." Ia memasukkan kembali flashdisk ke dalam saku celananya, lalu menggenggam pergelangan tangan Giselle. "Ayo."
Giselle tidak membalas. Wajahnya kosong, langkahnya terasa berat seolah setiap pijakan mengikis harga dirinya.
Keduanya keluar dari ruang VIP, melewati lobi kafe tanpa banyak bicara.
Di luar, sebuah hotel berdiri hanya beberapa puluh meter dari sana.
Lee mengarahkan langkah ke sana sambil tetap menggenggam tangan Giselle.
Di balik wajah yang tampak pasrah, pikiran Giselle justru bekerja keras. "Aku harus menemukan cara mengambil flashdisk itu. Apa pun risikonya... aku tidak boleh membiarkan Lee terus mengendalikanku." Dengan tekad yang mulai tumbuh di balik ketakutannya, Giselle mengikuti langkah Lee menuju hotel, sembari diam-diam menunggu kesempatan untuk membebaskan diri dari ancaman pria tersebut.
***
Sinar matahari yang hangat menembus celah gorden kamar Rebeca. Gadis itu menggeliat pelan sebelum akhirnya membuka mata. Dengan wajah masih mengantuk, ia menegakkan tubuh dan meraih ponsel di atas meja nakas. Pandangannya kemudian tertuju pada secarik memo yang berada tepat di bawah ponselnya. Rebeca mengambilnya lalu membacanya perlahan.
"Beca sayang, Mama keluar sebentar ada urusan. Jangan khawatir, Mama akan segera pulang. Sarapan sudah Mama siapkan. Mama sayang kamu."
Senyum tipis terukir di bibir Rebeca. "Hm... ya udah," gumamnya. "Semoga urusan Mama cepat selesai." Tiba-tiba ia teringat pada seseorang. "Eh, aku mau nge-WA dulu Elgar, ah. Dia udah berangkat pemotretan atau belum, ya?"
Dengan cepat Rebeca membuka aplikasi WhatsApp dan mulai mengetik.
"Selamat pagi, Babe. Kamu udah berangkat pemotretan belum? Semangat, ya!"
Pesan itu baru saja terkirim, tetapi tak sampai satu menit kemudian sudah muncul balasan.
Elgar: Aku udah di lokasi. Bentar lagi mulai pemotretan. Doakan ya semoga lancar."
Senyum Rebeca semakin lebar. Jarinya kembali menari di atas layar. "Tentu. Semoga semuanya berjalan lancar. Jangan lupa sarapan dan jangan terlalu capek. Aku sayang kamu."
Beberapa detik kemudian, Elgar kembali membalas. "Siap, Ibu Negara. Perintahnya akan saya laksanakan."
Rebeca terkekeh kecil membaca balasan itu. "Bagus. Nanti kalau udah selesai kabarin aku, ya."
"Pasti. Aku juga bakal video call kamu malam nanti kalau jadwalku nggak molor."
Pipi Rebeca seketika memerah. "Oke. Aku tunggu. Semangat kerja, Sayangku."
"Thanks, Sweety."
Melihat kata terakhir itu, Rebeca refleks memeluk bantal di sampingnya sambil tersenyum malu. "Dasar..." bisiknya pelan. "Elgar pinter banget bikin aku salting."
Belum sempat Rebeca meletakkan ponselnya, layar tiba-tiba menampilkan panggilan video dari Mili. "Wah, Milimeter VC!" serunya antusias. Tanpa ragu, Rebeca langsung mengangkat panggilan itu. "Haiii!" sapanya ceria sambil melambaikan tangan ke arah kamera. "Gimana kabar kamu, bestie?"
"Hai juga, Princess!" Mili tertawa kecil. "Baik dong."
"Kamu lagi di mana? Kok background-nya beda?" Rebeca menyipitkan mata.
Mili langsung membalik kamera ponselnya. "Pengen lihat?"
"Iya!"
Layar memperlihatkan sebuah kamar hotel yang luas dengan jendela besar menghadap pantai. Cahaya matahari pagi menyinari ruangan itu dengan indah. "Aku lagi liburan di Bali," kata Mili riang.
"Ya ampun, mantap dong!" Rebeca berseru. "Sama siapa?"
Mili terkekeh, lalu menggeser kamera ke samping.
Di atas ranjang king size, seorang pemuda masih tertidur tengkurap sambil memeluk guling. Selimut hanya menutupi tubuhnya hingga pinggang. Sehingga punggungnya yang polos terlihat jelas. Pria itu tampak benar-benar masih terlelap.
"Nih..." bisik Mili sambil menahan tawa. "Bebe gue masih bobok."
Rebeca ikut tertawa. "Sudah kuduga, pasti sama si mput!"
Mili tertawa.
"Bangun, Put! Udah siang!" teriak Rebeca sambil kembali tertawa.
Tawa Mili makin kencang, detik selanjutnya, ia menanggapi perkataan Rebeca. "Dia kecapekan, Beca."
Rebeca menudingkan telunjuknya. "Jangan-jangan tadi malam... kalian udah adu senjata ya?"
"Hehe... iya." Tanpa rasa canggung, Mili mengakuinya. "Bukan tadi malam aja. Tapi dari sorenya, Beca. Gue sama Putra nggak berhenti adu senjata. Enak banget tahu. Hahaha...!"
Rebeca menggeleng geli. "Anjir! Hyper banget sih kalian. Nggak takut bunting apa?"
Mili kembali mengarahkan kamera ke wajahnya. "Ya enggaklah." Kekehan keluar dari bibirnya. "Kan pake sarung, Sayang. Jadi ... aman!"
Spontan, wajah Rebeca memerah. Ia jadi teringat rencana check in tadi malam dengan Elgar yang batal. "Kalau seandainya aku nggak mendadak datang bulan ... pasti sekarang aku pun terbangun dengan Elgar di sisiku," batinnya.
"Beca! Woy!" Teriakan Mili berhasil membuyarkan suara batin Rebeca. "Lo sendiri gimana? Udah pergi ke mana aja? Udah ketemu belum sama idola lo ... Mas Agus alias Suga?" Pertanyaan itu kembali diiringi tawa.
"Gue belum ke mana-mana. Baru hari ini mau keliling-keliling Seoul. Kali aja ketemu sama Suga-ku."
"Ya udah bestie. Happy holiday, ya. Semoga lo bisa ketemu Suga. Gue mau ke kamar mandi dulu nih. Kebelet pipis."
"Oke. Selamat liburan juga! Jangan bercocok tanam terus! Nanti kerang lo lecet!"
"Hahaha... sialan lo!"
Keduanya tertawa bersamaan sebelum panggilan video itu berakhir.
Rebeca meletakkan ponselnya di atas ranjang dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. "Sebenarnya gue udah gregetan banget pengen curhat soal Elgar ke lo, Mil. Tapi Elgar ngelarang gue. Huhhh!"
***
Robinson duduk di ruang keluarga rumah keduanya bersama Cika. Di atas meja telah tersusun map berisi berbagai dokumen, mulai dari surat rekomendasi nikah, hasil pemeriksaan kesehatan, hingga berkas administrasi yang diperlukan untuk akad di KUA.
Meski pernikahan mereka baru akan dilangsungkan dua hari lagi dan hanya digelar secara sederhana di Kantor Urusan Agama, seluruh persiapannya dilakukan dengan sangat matang.
Robinson memeriksa kembali setiap dokumen satu per satu. "Coba kita cek sekali lagi. Saya tidak nggak mau ada berkas yang tertinggal."
Cika mengangguk. "Baik, Pak."
Robinson tersenyum tipis. "Kamu masih memanggil saya dengan sebutan 'Pak'? Mulai sekarang, biasakan memanggil saya dengan panggilan 'Mas'."
Wajah Cika langsung memerah. "Maaf... saya masih belum terbiasa, Pa-eh... Mas."
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja."
Cika kembali membuka map di hadapannya.
Tak lama kemudian, Astri yang membantu menyiapkan kebutuhan akad datang membawa busana yang sudah selesai dijahit. "Pak Robinson, kebaya akad dan beskapnya sudah siap. Tinggal fitting terakhir."
Robinson mengangguk puas. "Terima kasih, Astri."
Cika memandangi kebaya akad berwarna putih gading dengan bordir yang anggun. Meski desainnya sederhana, gaun itu terlihat sangat elegan. "Indah sekali..." gumamnya.
"Kalau ada yang kurang nyaman, langsung bilang. Masih ada waktu untuk penyesuaian sebelum hari H," ujar Robinson.
Cika mengangguk pelan. "Baik, P-Mas."
Setelah urusan busana selesai, mereka kembali membahas susunan acara.
Astri dan suaminya, Hasan berpamitan, ruang keluarga kembali dipenuhi suasana tenang.
Cika menutup map berisi dokumen pernikahan, lalu menoleh kepada Robinson yang masih memeriksa jadwal akad. "Mas ..." Kali ini ia berhasil mengucapkan kata itu tanpa canggung.
"Ya?"
Cika tampak ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya. "Kalau boleh tahu... apakah Rebeca sudah diberi tahu soal pernikahan kita?"
Robinson terdiam beberapa saat. Ia kemudian menggeleng pelan. "Belum."
Cika sedikit terkejut. "Belum?"
Robinson mengembuskan napas panjang. "Biarlah dia tahu nanti saja... setelah kita resmi menikah."
"Kok begitu, Mas?"
Robinson tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan kegelisahan. "Kalau kuberitahu sekarang, semuanya pasti akan rumit, Cika. Biarlah dia tahu setelah kita sudah sah menjadi suami istri."
Cika mengangguk pelan. "Semoga saat dia tahu nanti, Rebeca tidak mengamuk ke saya."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉