NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. MENUJU PERNIKAHAN

Cika masih memeluk kedua lututnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setelah pertanyaan itu melintas di benaknya. "Jangan-jangan ... aku yang mulai jatuh cinta sama Pak Robinson?" Dalam sekejap, kedua matanya membulat. Wajahnya memerah hingga ke telinga. "Ya Allah ..." desisnya lirih.

Ia buru-buru menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri, seolah ingin menyadarkan dirinya. "Tidak ... tidak ... tidak mungkin!" gumamnya cepat sambil menggeleng kuat. "Cika, kamu kenapa, sih? Baru juga diperlihatkan mahar, langsung mikirnya ke mana-mana." Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu pada dirinya sendiri. "Astagfirullah ... astagfirullah ..."

Beberapa detik kemudian, Cika menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, memeluk guling erat-erat. "Malu banget ..." rengeknya pelan. "Untung nggak ada orang yang dengar." Ia mengubur wajahnya ke bantal.

"Pak Robinson itu orangnya memang baik sama semua orang. Beliau cuma menghargai aku sebagai calon istrinya. Jangan sampai aku salah mengartikan kebaikannya." Cika menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar di dadanya. "Iya ... pasti begitu," bisiknya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Namun, bayangan senyum teduh Robinson kembali muncul di pelupuk matanya. Cara pria itu menatapnya dengan penuh penghormatan, berbicara lembut tanpa sedikit pun merendahkannya, serta kesabarannya dalam menghadapi setiap kecanggungan yang ia tunjukkan.

"Aduh ..." Cika kembali menutup wajahnya dengan bantal. "Kenapa malah keingat terus, sih?" Ia menggeliat kecil di atas kasur, lalu mengembuskan napas panjang. "Pokoknya nggak boleh berharap macam-macam. Pernikahan ini terjadi karena kesepakatan. Kalau nanti ternyata Pak Robinson memang nggak punya perasaan apa-apa, aku yang bakal malu sendiri." Meski sudah berkali-kali menasihati dirinya, senyum tipis tetap tersungging di sudut bibir Cika.

***

Suasana Kampus Satya Wisesa sudah mulai dipenuhi mahasiswa. Lorong-lorong kampus ramai oleh mahasiswa yang baru datang, sementara beberapa dosen berjalan menuju ruang kelas.

Tak lama kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna merah memasuki area parkir kampus. Suara mesinnya yang khas membuat beberapa mahasiswa menoleh.

"Itu Rebeca datang."

"Mobilnya baru lagi!"

Rebeca turun dari balik kemudi dengan penuh percaya diri. Kacamata hitam bertengger di wajahnya, tas bermerek menghiasi bahunya, dan langkahnya anggun seolah semua mata memang harus tertuju padanya.

Di sisi lain, Cika baru saja memasuki gedung fakultas sambil membawa beberapa buku. Penampilannya tetap sederhana, tetapi rapi dan bersih. Saat keduanya berpapasan di lorong kampus, senyum sinis langsung menghiasi wajah Rebeca. "Eh, Cika."

Cika menghentikan langkahnya dan menoleh sopan. Rebeca mengulas senyum tipis. "Sebentar lagi, kan, libur semester." Cika hanya mengangguk pelan. "Aku sudah nggak sabar." Rebeca menyilangkan kedua tangan di dada. "Libur semester ini aku bakal liburan ke Korea. Tiket pesawat, hotel bintang lima, itinerary ... semuanya sudah beres."

Beberapa mahasiswa yang melintas mulai melirik ke arah mereka.

Rebeca sengaja menaikkan volume suaranya. "Kalau kamu gimana?" tanyanya dengan nada mengejek. "Oh iya, aku lupa." Ia tertawa kecil. "Orang sepertimu mana mungkin liburan ke luar negeri. Paling juga libur semester dipakai kerja sampingan dari pagi sampai malam buat cari uang." Tatapannya turun dari ujung kepala hingga kaki Cika. "Ya, mau bagaimana lagi? Nasib orang miskin memang begitu. Sementara aku tinggal menikmati liburan di Korea."

Suasana lorong mendadak canggung.

Namun, berbeda dengan yang diharapkan Rebeca, Cika sama sekali tidak menunjukkan ekspresi tersinggung. Ia hanya tersenyum tipis dengan sopan. "Semoga perjalanannya menyenangkan." Hanya itu yang diucapkannya. Setelah itu, Cika sedikit menundukkan kepala. "Bye, Beca." Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia kembali melangkah menuju ruang kuliahnya.

Rebeca memandangi punggung Cika yang semakin menjauh sambil mendecakkan lidah. "Huh ... dasar sok tenang," gumamnya kesal. "Padahal paling dalam hati iri setengah mati."

Sementara itu, Cika tetap berjalan dengan langkah tenang. Ia memilih mengabaikan semua ucapan Rebeca, karena baginya, membalas hinaan hanya akan menghabiskan tenaga dan waktu. "Silakan pamer sesuka hatimu, Beca. Karena minggu depan ... kamu mungkin akan syok berat. Hihi ..."

***

Robinson duduk tenang di ruang rapat utama bersama beberapa jajaran direksi dan kolega bisnisnya. Di hadapan mereka, layar besar menampilkan rancangan proyek baru yang akan segera diluncurkan.

"Kalau semua perizinan selesai sesuai jadwal, pembangunan bisa dimulai awal bulan depan," ujar salah seorang kepala divisi sambil menunjuk denah yang terpampang di layar.

Robinson mengangguk pelan. Jemarinya menyentuh berkas di hadapannya sebelum memberikan pendapat. "Saya ingin seluruh proses berjalan sesuai standar. Jangan ada yang dipercepat dengan mengorbankan kualitas. Reputasi Alexander Holdings dibangun selama puluhan tahun. Saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun."

"Baik, Pak Robinson," jawab beberapa peserta rapat hampir bersamaan.

Seorang kolega lain kemudian membuka map berwarna biru. "Ada satu lagi, Pak. Untuk proyek kawasan terpadu ini, beberapa investor dari luar negeri tertarik bergabung. Mereka meminta pertemuan langsung dengan Bapak minggu depan."

"Jadwalkan saja," sahut Robinson tenang. "Pastikan semua data keuangan dan proyeksi sudah diverifikasi sebelum dipresentasikan."

"Siap, Pak."

Rapat berlangsung hampir satu jam. Berbagai pembahasan mengenai anggaran, strategi pemasaran, hingga pembagian tugas disampaikan secara rinci. Robinson memimpin jalannya rapat dengan tenang namun tegas. Setiap keputusan yang diambil selalu disertai pertimbangan matang sehingga membuat para kolega menaruh hormat kepadanya.

Setelah rapat selesai, satu per satu peserta meninggalkan ruangan.

Tak lama kemudian, Hasan masuk sambil membawa sebuah map. "Pak, ini jadwal Bapak untuk minggu depan." Robinson menerimanya lalu membukanya sekilas. "Hari Senin ada pertemuan dengan investor. Selasa peninjauan lokasi proyek. Rabu makan siang bersama mitra bisnis dari Singapura. Kamis ..." Hasan berhenti sejenak sambil melihat catatannya. "Kamis sore ada jadwal finalisasi beberapa perlengkapan pernikahan yang sebelumnya sudah dijadwalkan."

Mendengar itu, ekspresi Robinson yang sejak tadi serius perlahan melunak.

"Saya hampir lupa, San," gumamnya pelan dengan senyum tipis.

Hasan ikut tersenyum kecil. "Perlu saya geser, Pak? Jadwal Bapak minggu ini memang cukup padat."

Robinson menggeleng mantap. "Tidak usah."

"Tapi kalau investor meminta tambahan waktu ..."

"Kalau perlu, pertemuannya yang disesuaikan." Robinson menutup map itu perlahan. "Saya tidak ingin urusan pernikahan terus tertunda. Cika sudah terlalu banyak berkompromi dengan keadaan. Kali ini saya yang harus menyesuaikan jadwal."

Hasan mengangguk hormat. "Baik, Pak. Akan saya atur."

Robinson kembali menatap dinding kaca di balik ruangannya yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Tanpa sadar, embusan napas berat mengiringinya mengingat seminggu lagi, ia akan menikah dengan Cika. "Ya Tuhan ... lancarkan lah semuanya. Meskipun pernikahanku dan Cika tidak didasari cinta ... tapi aku berharap semoga pernikahan ini langgeng sampai maut memisahkan dan semoga Rebeca menerima keputusanku ini dengan lapang dada. Tanpa drama apalagi kemarahan. Aamiin."

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!