NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Rayyan

"Bagaimana suhu tubuh Sabrina pagi ini, Zia? Apa demamnya sudah benar-benar turun?"

Suara bariton yang sarat akan nada khawatir itu langsung menyambut Zia begitu dia melangkah melewati pintu kaca butik utama di kawasan Orchard Road.

Rayyan, yang sudah berdiri di dekat meja display manekin dengan kemeja abu-abu yang sedikit kusut, langsung menoleh tanpa memedulikan berkas kain sutra di tangannya. Matanya yang biasanya tajam kini tampak agak meredup, dikelilingi bayangan hitam tipis akibat terjaga semalaman suntuk.

Zia menghentikan langkahnya, lalu meletakkan tas jinjingnya di atas meja konter sembari tersenyum sangat lembut.

"Sudah jauh lebih baik, Ray. Tadi sebelum aku berangkat, suhunya sudah normal, 36,7°C. Sekarang dia sedang tidur pulas ditemani Suster Maria di rumah,"

"Gantian nih, kamu yang sakit?" tanya Zia.

Zia melangkah mendekat, matanya menangkap gerakan refleks Rayyan yang perlahan mengangkat tangan kanan untuk memijat tengkuknya sendiri. Pria itu tampak meringis kecil, mencoba meredakan rasa pegal yang mendera leher dan punggungnya setelah berjam-jam berjongkok di tepi ranjang bayi tanpa tidur menit pun.

"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kaku di bagian leher," jawab Rayyan, mencoba memasang wajah tegap khasnya, meski suaranya terdengar sedikit parau.

"Kamu itu kurang tidur. Harusnya hari ini tidak usah datang ke butik dulu. Kenapa tidak istirahat saja di apartement?"

"Ciyeee... yang pagi-pagi sudah perhatian banget sama Bos besar!"

Sebuah suara cempreng yang dipenuhi nada ledekan mendadak memotong pembicaraan mereka. Hansel, salah satu desainer senior sekaligus rekan kerja terdekat Zia di butik tersebut, melangkah keluar dari ruang pola sambil membawa gulungan meteran kain di lehernya. Wajahnya dihiasi senyum jahil yang amat lebar.

"Kalian berdua ini kalau dilihat-lihat sudah seperti pasutri yang sedang sibuk mengurus anak, tahu tidak?" ledek Cindy lagi, menyikut lengan Zia dengan gemas.

"Daripada cuma perhatian tunjuk-tunjukkan begini, kenapa kalian tidak langsung menikah saja, sih? Biar kalau Pak Rayyan badannya pegal-pegal atau sakit karena kurang tidur, ada Zia yang mengurus dan memijatnya di rumah. Kasihan tahu, Pak... kalau jomblo terus sakit sendirian itu rasanya ngenes banget, tidak ada yang membuatkan teh hangat,"

"Bener tuh, Pak Bos. Punya istri itu enak tau. Sama kayak suami saya, kalau sakit. Aduh... Manjanya minta ampun deh. Maunya nempel terus sama saya," celetuk Helen menambahkan.

Wajah Zia seketika merona merah padam mendengar celetukan frontal dari rekan kerjanya. Dia buru-buru memalingkan wajah, mencoba menutupi debaran jantungnya yang mendadak menggila.

"Ih, Hensel, Helen! Apa sih, jangan bicara sembarangan!" seru Zia, mencoba membela diri sembari merapikan beberapa sketsa di atas meja kerja untuk mengalihkan perhatian.

"Kalau aku sampai menikah dengan Bos kita yang satu ini, yang ada nanti butik ini malah terbengkalai. Bisa-bisa setelah menikah, Pak Bos kita ini malah jarang masuk kantor, malas-malasan di rumah saja dan menyuruhku yang mengurus semua pekerjaan,"

Rayyan yang mendengar jawaban Zia tidak marah sedikit pun. Sebaliknya, sebuah senyuman asimetris yang sangat tampan terukir di sudut bibirnya. Dia meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana, lalu melangkah perlahan mendekati posisi Zia, mengunci tatapan mata wanita itu dengan sorot mata yang penuh kilat jenaka sekaligus romantis.

"Siapa bilang aku akan bermalas-malasan, Zia?" sahut Rayyan dengan nada suara yang sengaja diperdalam, cukup keras hingga bisa didengar oleh seluruh staf yang ada di ruangan depan.

"Kalau nanti aku sampai malas-malasan di rumah setelah kita menikah, itu bukan karena aku tidak mau mengurus butik," bisik Rayyan dengan senyuman tipis yang sangat menawan di sudut bibirnya.

"Tapi itu karena aku tidak sanggup berpaling dari wajah cantik istriku. Jangankan mengurus kain-kain di butik, melihat kamu tersenyum di pagi hari saja sudah membuat seluruh duniaku rasanya berhenti berputar, Zia. Jadi, salah siapa kalau nanti aku tidak mau berangkat kerja?"

Gombalan yang meluncur dengan begitu lancar dan penuh percaya diri dari bibir seorang Rayyan Malik benar-benar merusak seluruh pertahanan Zia.

"Uuuhhh!!! So sweet banget, ya ampun!!! Tolong dong, ini butik baju atau toko sirup? Manisnya kebangetan!"

Sahutan riuh langsung bergemuruh dari sudut ruangan lain. Beberapa karyawan butik yang sedang menata pakaian di rak gantung seketika bersorak heboh, memegangi dada mereka masing-masing karena ikut baper mendengarkan adegan romantis dadakan di depan mata mereka.

"Tahu begini, tadi aku bawa semut dari rumah! Pak Rayyan kalau sudah mode bucin ternyata lebih bahaya daripada koleksi gaun high-fashion kita!" gurau Halen sambil mengipasi wajahnya dengan buku katalog, memicu gelak tawa di seluruh penjuru butik.

Zia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah matang seperti tomat di balik kedua tangannya, tidak sanggup lagi membalas godaan Rayyan yang begitu telak di depan

publik.

Suasana cair itu berlanjut hingga jam makan siang tiba. Rayyan mengajak Zia untuk menikmati makan siang di sebuah restoran privat berkonsep taman kaca yang letaknya tidak jauh dari area butik. Setelah pelayan selesai mengantarkan hidangan steak dan pasta yang mereka pesan, keheningan yang cukup intim mulai terjalin di antara mereka.

Zia memainkan ujung garpunya, memutar-mutar pasta di atas piringnya dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat serius. Kejadian semalam saat dia melihat ketulusan murni Rayyan yang menjaga Sabrina tanpa lelah telah memantapkan seluruh keraguan di hatinya. Dia tidak ingin lagi membuang waktu dalam ketakutan masa lalu.

Zia menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak, menatap lekat sepasang mata elang Rayyan yang berada di hadapannya.

"Rayyan..." panggil Zia dengan nada suara yang lembut namun sarat akan kesungguhan.

"Ya, Zia? Ada apa?" Rayyan meletakkan pisau dagingnya, memberikan perhatian penuh pada wanita di depannya.

"Kemarin... di dalam pesawat saat kita pulang dari Paris, dan juga beberapa kali sebelumnya... Kakak bilang ingin aku membuka hati, dan Kakak ingin menjaga kami lebih dekat lagi," ujar Zia, hatinya berdegup kencang saat mengucapkan kalimat demi kalimat.

"Aku... aku mau bertanya. Sebenarnya... kapan kamu akan melamarku secara resmi?"

Rayyan tampak sedikit tertegun mendengar pertanyaan yang begitu lugas dari Zia. Dia menatap wajah Zia sejenak, lalu pandangannya melunak, memancarkan kedalaman rasa sayang yang teramat besar. Pria itu mengulurkan tangan kanannya di atas meja, meraih jemari tangan Zia dan mengusap punggung tangannya dengan sangat lembut.

"Aku akan melamarmu secara resmi, Zia. Pasti. Tapi... tidak dalam waktu dekat ini," jawab Rayyan dengan nada suara yang sangat tenang dan teratur.

Dada Zia sempat mencelos sedikit mendengar jawaban itu.

"Kenapa,Ary? Apa karena... Kamu masih meragukan perasaanku?"

"Sama sekali bukan karena itu, Zia. Aku menunggu... sampai Sabrina tumbuh sedikit lebih besar dulu,"

Zia mengerutkan dahinya bingung.

"Sabrina?"

"Iya," Rayyan tersenyum hangat, membayangkan wajah bayi gembul yang semalam memeluk dadanya begitu erat.

"Aku tidak ingin pernikahan kita terkesan egois, hanya berdasarkan keputusan kita berdua saja. Aku ingin Sabrina tumbuh besar dan mulai bisa memahami lingkungan di sekitarnya. Aku ingin dia memberikan penilaiannya sendiri terhadapku sebelum aku sah menjadi ayahnya secara hukum. Setidaknya sampai dia berusia 7 sampai 8 tahun lah,"

Rayyan menjeda kalimatnya, tatapannya begitu tulus.

"Aku ingin pernikahan kita nanti terjadi di saat Sabrina benar-benar menerima kehadiranku di sisinya, bukan karena terpaksa, melainkan karena rasa nyaman dan ikatan batin yang kuat yang dia rasakan bersamaku sejak kecil. Aku ingin dia tahu bahwa pria yang menikahi ibunya adalah pria yang memang dia inginkan untuk menjadi ayahnya,"

Rayyan tidak hanya memikirkan status hubungan mereka, melainkan sangat memikirkan kesehatan mental dan kebahagiaan putri kecilnya yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.

"Selain itu, Zia... aku punya satu rencana besar untuk masa depan kalian berdua," lanjut Rayyan, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih fokus seperti sedang menyusun strategi masa depan.

"Rencana apa, Ray?"

"Aku menyarankan... setelah Sabrina sudah agak besar nanti, mungkin saat dia memasuki usia prasekolah, kalian berdua sebaiknya kembali ke Indonesia. Menetap di Jakarta kembali," ujar Rayyan tenang.

Zia seketika tersentak, wajahnya menyiratkan kilat ketakutan yang instan.

"Kembali ke Jakarta? Tapi Ray... di sana ada Alfa. Ada keluarga Abraham. Bagaimana kalau mereka..."

"Dengar dulu penjelasanku, Zia," potong Rayyan lembut, mengusap jemari Zia untuk menenangkannya dari kepanikan.

"Kamu tidak bisa selamanya bersembunyi di luar negeri dan menjauh dari tanah kelahiranmu. Bagaimanapun, kehidupan di Indonesia akan jauh lebih baik bagi jenjang pergaulan dan perkembangan sosial Sabrina saat dia besar nanti. Dia butuh mengenal budayanya, butuh tumbuh di lingkungan tempat kamu dibesarkan. Dan untuk kariermu... pasar mode di Indonesia saat ini sedang berkembang sangat pesat untuk desainer internasional sepertimu,"

Rayyan bersandar pada kursinya.

"Mengenai Alfa atau siapa pun yang ingin mengusikmu... kamu tidak perlu khawatir. Saat waktu itu tiba, namamu sebagai desainer sudah terlalu besar untuk bisa disentuh secara sembarangan oleh mereka. Aku sendiri yang akan memfasilitasi semuanya,"

Rayyan mengetuk meja dengan jarinya secara perlahan.

"Nanti, aku akan membelikan sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta yang sekaligus akan dibangun butik megah khusus untukmu di bagian depannya. Semua aset itu akan terdaftar atas namamu sendiri secara sah. Kamu bisa bekerja dari rumah sambil mengawasi tumbuh kembang Sabrina dengan aman,"

"Lalu... bagaimana dengan kamu sendiri? Pekerjaan kamu kan sebagian besar berada di Singapura dan Eropa,"

Rayyan tersenyum sangat manis, menatap Zia dengan binar mata yang memikat.

"Aku akan sesekali pulang ke Indonesia, Zia. Setiap dua minggu sekali, atau bahkan setiap akhir pekan jika jadwalku senggang, aku akan terbang ke Jakarta hanya untuk menjenguk kalian berdua, memastikan putri kecilku dan ibunya baik-baik saja,"

Rayyan membawa tangan Zia ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh takzim dan janji yang suci.

"Kita akan menjalani hubungan seperti itu untuk sementara waktu, sampai Sabrina benar-benar siap melihat kita berdiri bersama di atas pelaminan. Aku akan menjagamu dari jauh, menunggumu di Indonesia, sampai hari pernikahan kita tiba. Bagaimana? Apa kamu menyetujui rencana masa depan kita ini, Zia?"

Zia tidak bisa berkata-kata lagi. Air mata kebahagiaan lolos begitu saja dari sudut matanya, mengalir membasahi pipinya. Di hadapan pria yang begitu sempurna dalam merencanakan kebahagiaan hidupnya ini, Zia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan mantap diiringi senyuman paling tulus yang pernah dia miliki.

"Iya, Ray. Aku setuju. Aku akan mengikuti apa pun rencana terbaik yang Kak Rayyan siapkan untuk kami," bisik Zia penuh rasa percaya yang mutlak.

Rayyan tersenyum lega, mengusap lembut ibu jari Zia yang berada di dalam genggamannya. Namun, momen hangat di antara mereka berdua mendadak terinterupsi saat ponsel Zia yang tergeletak di atas meja restoran bergetar hebat. Sebuah nada dering nyaring memecah keheningan di sudut privat tersebut.

Zia melirik layar ponselnya, dan dahinya langsung berkerut samar begitu melihat nama yang tertera di sana.

"Suster Maria?" gumam Zia pelan. Perasaan tenang yang baru saja merayapi hatinya seketika menguap, digantikan oleh debaran cemas yang mendadak berpacu di dalam dadanya.

"Sebentar, aku angkat dulu," ujar Zia dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Sus? Ada apa? Apa suhu badan Sabrina naik lagi?"

Suara Suster Maria dari seberang telepon terdengar agak panik, berlatar belakang suara tangisan melengking seorang bayi yang sangat familiar di telinga Zia.

"Halo, Madam Zia... Maaf mengganggu waktu makan siangnya," ucap Suster Maria dengan nada suara yang terengah-engah, mencoba menenangkan tangisan di dekatnya.

"Ini Madam... Non Sabrina mendadak terbangun dari tidur siangnya. Suhu badannya sih sudah normal, tapi dia mendadak rewel sekali. Dia menangis menjerit-jerit sejak tadi dan tidak mau minum susu sama sekali,"

"Lalu? Apa dia kesakitan, Sus?"

"Sepertinya tidak, Madam. Tapi sejak tadi, Non Sabrina terus-menerus memegang mainannya sambil meracau memanggil Papa... Papa.... Dicari-cari Papanya tidak ada, makanya dia tidak mau diam, Madam. Saya bingung harus bagaimana lagi membuainya," jelas Suster Maria dari seberang saluran.

Zia tersenyum dan menatap pada Rayyan.

"Ya sudah, Sus. Sebentar lagi saya pulang dengan Papanya Sabrina,"

Panggilan itu pun terputus.

"Sabrina rewel, kangen kamu kayaknya," ucap Zia.

"Kalau begitu habiskan makananmu, karena aku juga sudah kangen dengan Sabrina," balas Rayyan, yang langsung mesukkan makanannya ke dalam mulut.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!