Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Ujian yang Semakin Berat
Sejak malam hujan itu, hubungan antara Anya dan Arga terasa berubah secara nyata. Batasan dingin yang dulu memisahkan mereka perlahan mulai menipis, digantikan oleh rasa saling percaya dan perhatian yang tumbuh secara alami. Arga tidak lagi bersikap kaku dan menjaga jarak sejauh sebelumnya, sedangkan Anya mulai merasa lebih nyaman dan tidak lagi melihat Arga hanya sebagai orang yang terikat perjanjian.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Di dunia kalangan atas yang penuh intrik dan persaingan, kebahagiaan yang terlihat mudah seringkali menjadi sasaran bagi mereka yang merasa iri dan tidak senang.
Pagi itu, suasana di ruang makan terasa lebih hangat dari biasanya. Arga, Nyonya Wijaya, Anya, dan ibunya duduk bersama menikmati sarapan. Pembicaraan berjalan lancar, sampai suara telepon berdering dari meja samping. Arga mengangkatnya, dan seketika raut wajahnya berubah menjadi serius.
“Baik, saya segera ke sana,” ucapnya singkat, lalu menutup telepon. Ia menoleh ke arah yang lain dengan ekspresi tegang. “Ada masalah di kantor. Sepertinya ada orang yang menyebarkan berita bohong tentang kondisi keuangan perusahaan kita. Para mitra bisnis mulai merasa ragu dan meminta pertemuan mendesak.”
Mendengar itu, Nyonya Wijaya langsung cemas. “Berita bohong? Siapa yang berani melakukan hal itu?”
“Belum jelas siapa pelakunya, tapi saya punya dugaan,” jawab Arga sambil berdiri dan bersiap pergi. “Saya harus segera menanganinya sebelum situasi semakin buruk. Mungkin hari ini saya akan pulang malam sekali, atau bahkan tidak pulang jika urusannya memakan waktu lama.”
Anya menatapnya dengan perasaan khawatir. “Hati-hati, Tuan. Semoga semuanya bisa diselesaikan dengan baik.”
Arga berhenti sejenak, lalu menatap Anya dengan pandangan yang menenangkan. “Jangan khawatir. Saya bisa mengatasinya. Kalau ada apa pun di rumah, hubungi Pak Haris atau langsung telepon saya.”
Setelah Arga pergi, suasana di ruang makan menjadi sedikit hening. Nyonya Wijaya menghela napas panjang. “Ini pasti ulah orang yang tidak senang melihat perusahaan kita terus berkembang. Selama ini banyak pesaing yang ingin melihat keluarga Wijaya jatuh.”
Hari itu terasa lebih panjang dan sunyi dari biasanya. Anya mencoba menyibukkan diri dengan membaca dan menemani ibunya, tapi pikirannya terus melayang memikirkan keadaan Arga. Ia tidak tahu betapa besar masalah yang sedang dihadapi pria itu, tapi ia bisa merasakan beban berat yang dipikulnya.
Menjelang sore, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang rumah. Kali ini yang datang bukanlah tamu biasa, melainkan Tuan Wijaya, ayah Arga, yang baru saja pulang dari perjalanan dinas luar negeri. Ia mendengar kabar tentang masalah yang menimpa perusahaan dan langsung pulang untuk ikut menangani.
Begitu masuk ke ruang tamu, wajahnya terlihat serius dan tegas. Ia menyapa istrinya, lalu menatap Anya yang berdiri di sudut ruangan.
“Jadi ini istri Arga yang sering diceritakan?” tanyanya dengan nada datar, tanpa senyum sama sekali. “Saya dengar banyak hal tentangmu, ada yang baik, ada juga yang meragukan kehadiranmu di keluarga ini.”
Anya merasa tertekan dengan tatapan tajam itu, tapi ia tetap menjaga sikap dan menjawab dengan tenang. “Benar, Tuan. Saya Anya. Saya mengerti kalau Bapak masih memiliki keraguan, karena saya memang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Tapi saya datang ke sini dengan niat baik, dan saya berusaha melakukan tugas saya sebaik mungkin.”
Tuan Wijaya duduk di sofa, lalu menatap Anya dari atas ke bawah. “Arga bilang kamu wanita yang bisa dipercaya. Tapi saya butuh bukti, bukan hanya kata-kata. Saat ini perusahaan sedang dalam situasi sulit. Berita yang menyebar membuat banyak orang mulai meragukan stabilitas kita. Beberapa pihak bahkan mengaitkan masalah ini dengan kedatanganmu, mengatakan bahwa kehadiranmu membawa ketidakberuntungan bagi keluarga Wijaya.”
Mendengar tuduhan yang tidak berdasar itu, hati Anya terasa perih. Ia tahu itu hanya alasan untuk menyalahkan orang yang dianggap lemah dan baru masuk ke lingkungan ini. Namun ia tidak marah, justru menjawab dengan kepala terangkat tinggi.
“Saya mengerti mengapa banyak orang mudah mencari kambing hitam saat ada masalah. Tapi saya tidak akan membela diri dengan kata-kata kosong. Biarkan waktu dan kenyataan yang membuktikan siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang jujur. Saya hanya berharap Bapak bisa melihat fakta, bukan mendengar gosip semata.”
Jawaban yang tegas dan tenang itu membuat Tuan Wijaya tertegun sejenak. Ia sudah terbiasa melihat orang yang tunduk dan takut di hadapannya, tapi Anya justru menjawab dengan wibawa yang tidak dimiliki banyak orang. Namun keraguannya belum hilang sepenuhnya.
“Baiklah, kita lihat saja nanti,” ucapnya singkat. “Sementara itu, saya harap kamu tidak menambah masalah yang sudah ada.”
Malam semakin larut, Arga belum juga pulang. Anya tidak bisa tidur, ia duduk di ruang tengah sambil menunggu. Sekitar pukul sebelas malam, suara mobil terdengar memasuki halaman. Pintu terbuka dan Arga masuk dengan wajah lelah, matanya terlihat sayu seolah memikul beban yang sangat berat.
“Arga, bagaimana keadaannya?” tanya Nyonya Wijaya yang masih menunggu bersama Anya.
Arga duduk di sofa sambil mengusap wajahnya. “Belum selesai sepenuhnya. Berita itu sudah menyebar luas, dan beberapa mitra bisnis sudah menarik kerjasama. Sepertinya ada orang yang sengaja menyusun rencana ini untuk menjatuhkan kita.”
“Siapa yang berani berbuat sejauh ini?” tanya Tuan Wijaya dengan nada marah.
“Menurut laporan tim penyelidik, kemungkinan besar ini dilakukan oleh keluarga Baskara, pesaing utama kita. Mereka sudah lama ingin menguasai proyek-proyek yang kita pegang,” jawab Arga dengan suara lelah.
Anya yang mendengar semuanya hanya diam, tapi di dalam hatinya ia merasa ingin membantu, meskipun ia sadar ia tidak memiliki kekuasaan atau pengetahuan soal bisnis. Namun ia tahu, di saat sulit seperti ini, dukungan dan ketenangan adalah hal yang sangat dibutuhkan.
Ia segera menyiapkan air hangat dan teh hangat, lalu membawanya ke hadapan Arga. “Minumlah ini, agar tubuhmu lebih segar. Jangan memaksakan diri terlalu keras, nanti kamu malah jatuh sakit.”
Arga menatap Anya, dan melihat ketulusan serta perhatian di matanya. Di tengah kekacauan dan tekanan yang datang dari berbagai arah, kehadiran Anya terasa seperti penyejuk yang menenangkan hatinya. Ia meraih tangan Anya yang tergeletak di meja, menggenggamnya lembut.
“Terima kasih, Anya. Kehadiranmu saja sudah cukup membuat saya merasa lebih kuat menghadapi semuanya,” ucapnya dengan suara rendah, hanya bisa didengar oleh Anya.
Namun momen itu terganggu ketika suara telepon kembali berdering. Arga mengangkatnya, dan kali ini raut wajahnya terlihat semakin gelap.
“Apa? Dokumen kontrak penting yang disimpan di brankas hilang? Bagaimana bisa hal itu terjadi?” seru Arga kaget. Ia menutup telepon dengan tangan gemetar. “Ini makin parah. Dokumen yang menjadi bukti kepemilikan proyek utama kita tiba-tiba menghilang. Tanpa dokumen itu, kita bisa kehilangan hak atas proyek bernilai miliaran rupiah.”
Suasana di ruang tamu seketika menjadi tegang. Tuan Wijaya berdiri dengan wajah memerah karena marah. “Ini pasti rencana yang sudah disusun matang-matang. Mereka ingin membuat kita jatuh dalam waktu singkat!”
Saat semua orang sibuk berpikir dan merasa panik, Anya teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, saat ia berjalan melewati lorong dekat ruang kerja Arga, ia melihat seseorang yang terlihat mencurigakan sedang berdiri di depan pintu ruangan itu. Wajahnya samar, tapi ia ingat ada kalung dengan liontin berbentuk bunga mawar yang tergantung di leher orang itu — kalung yang sering dikenakan oleh asisten pribadi Arga, Bimo.
Anya ragu untuk berbicara, takut tuduhannya tidak berdasar dan justru memperburuk keadaan. Tapi melihat betapa tertekannya keluarga Wijaya, ia tidak bisa diam saja.
“Tuan Arga, saya ingin menyampaikan sesuatu, tapi saya tidak yakin apakah ini ada hubungannya atau tidak,” ucap Anya dengan hati-hati.
Arga menoleh padanya. “Apa itu? Katakan saja.”
Anya menceritakan apa yang ia lihat, tanpa menuduh secara langsung, hanya menyampaikan apa yang terlihat matanya. “Saya hanya melihatnya sekilas, jadi saya tidak berani memastikan. Tapi mungkin bisa menjadi petunjuk untuk diselidiki lebih lanjut.”
Mendengar itu, Arga langsung teringat beberapa kejanggalan yang terjadi belakangan ini. Bimo adalah orang yang sudah ia percayai selama bertahun-tahun, tapi memang belakangan ini sikapnya terasa berubah dan sering terlihat gugup.
“Terima kasih, Anya. Ini petunjuk yang sangat berharga,” ucap Arga sambil segera memanggil kepala keamanan. “Suruh dia mengawasi pergerakan Bimo, dan periksa semua rekaman kamera di area ruang kerja dan brankas.”
Selama proses penyelidikan berlangsung, malam itu terasa sangat panjang. Arga tidak bisa tidur, ia duduk di ruang kerja memeriksa semua laporan yang ada. Anya juga tidak tidur, ia menyiapkan makanan ringan dan minuman, lalu membawanya ke ruang kerja.
“Kamu masih terjaga?” tanya Arga melihat Anya masuk.
“Bagaimana bisa tidur melihat keadaan seperti ini,” jawab Anya sambil meletakkan nampan di meja. “Saya tahu saya tidak bisa membantu soal urusan bisnis, tapi setidaknya saya bisa menemanimu agar kamu tidak merasa sendirian.”
Arga berdiri dan berjalan mendekat, lalu memeluk Anya dengan lembut namun erat. “Terima kasih. Di saat semua orang meragukan dan panik, kamu justru menjadi satu-satunya yang membuat saya tetap tenang. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa kamu sekarang.”
Pelukan itu terasa hangat dan menenangkan, seolah menjadi kekuatan bagi keduanya. Di tengah badai masalah yang datang bertubi-tubi, mereka mulai sadar bahwa kebersamaan ini bukan lagi sekadar kewajiban perjanjian, tapi sudah menjadi kebutuhan hati.
Keesokan harinya, hasil penyelidikan keluar. Rekaman kamera membuktikan bahwa Bimo memang masuk ke ruang kerja saat tidak ada orang, dan ia terlihat membawa sebuah amplop besar keluar dari ruangan. Saat ditangkap dan diperiksa, ia mengaku bahwa ia disuap oleh keluarga Baskara untuk mencuri dokumen itu dan menyebarkan berita bohong agar nama perusahaan Wijaya tercemar.
“Mengapa kamu berani melakukan hal ini? Saya sudah mempercayaimu selama bertahun-tahun!” bentak Arga dengan marah namun tetap tenang.
Bimo menunduk takut. “Mereka menawarkan uang yang sangat banyak, lebih dari gaji saya selama sepuluh tahun. Saya tergoda, Tuan. Saya minta maaf, saya khilaf.”
Masalah itu akhirnya terungkap, dan dokumen penting itu berhasil dikembalikan. Berita bohong yang menyebar pun bisa dibantah dengan bukti yang jelas, sehingga kepercayaan para mitra bisnis perlahan pulih kembali.
Namun, kejadian ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang. Tuan Wijaya yang semula meragukan Anya kini menatap gadis itu dengan pandangan yang berbeda — penuh rasa hormat dan terima kasih.
“Terima kasih, Anya. Tanpa perhatian dan pengamatanmu, mungkin kita tidak akan menemukan pelakunya secepat ini,” ucap Tuan Wijaya dengan nada tulus. “Saya minta maaf karena sempat meragukanmu. Kamu memang wanita yang cerdas, jujur, dan berhati mulia. Kamu memang pantas menjadi bagian dari keluarga Wijaya.”
Mendengar ucapan itu, Anya hanya tersenyum sopan. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Tuan. Saya senang akhirnya masalah ini bisa selesai dengan baik.”
Sore itu, saat ketenangan kembali terasa di rumah, Arga mengajak Anya berjalan-jalan di taman. Ia menggenggam tangan Anya dengan erat, seolah takut melepaskannya.
“Lihatlah, Anya. Badai sudah berlalu, dan kedamaian kembali datang. Selama ini saya selalu berpikir bahwa kekuasaan dan kekayaan adalah segalanya, tapi kejadian ini mengajari saya bahwa kepercayaan, kejujuran, dan kehadiran orang yang kita cintai adalah hal yang paling berharga.”
Ia berhenti melangkah, lalu menatap mata Anya dengan pandangan yang penuh perasaan. “Anya, saya ingin mengajukan satu permintaan padamu. Maukah kamu melupakan perjanjian satu tahun itu? Maukah kamu tetap tinggal di sini, menjadi istri saya yang sesungguhnya, bukan hanya di atas kertas?”
Jantung Anya berdebar kencang mendengar permintaan itu. Air mata bahagia hampir menetes di matanya. Selama ini ia juga menyimpan perasaan yang sama, tapi takut mengakuinya. Sekarang, di hadapan Arga yang menyatakan perasaannya dengan tulus, ia tidak bisa menahan diri lagi.
Dengan senyum yang mekar indah, Anya mengangguk perlahan. “Saya mau, Arga. Saya mau menjadi istrimu yang sesungguhnya, selamanya.”
Namun, di balik kebahagiaan yang baru saja tercipta, di tempat lain, Rina dan keluarga Baskara duduk dengan wajah muram dan penuh kebencian. Rencana mereka gagal, dan mereka berjanji tidak akan membiarkan kebahagiaan pasangan itu berlangsung lama. Masih ada rintangan lain yang menanti, dan ujian cinta mereka belum sepenuhnya berakhir.
Bersambung ...