NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Action / Fantasi
Popularitas:36.2k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

🏆GOLD NOVEL🏆
...

"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."

Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.

Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.

"Aku adalah..."

GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 023: Pengganggu di Lantai Dua

Qin Xiang mengayunkan langkahnya menapaki anak tangga kayu kuno yang telah dipoles hingga mengilap seperti cermin. Setiap pijakannya di lantai dua Paviliun Harta disambut oleh keheningan yang jauh lebih pekat dan menindas dibandingkan lantai di bawahnya.

Jika lantai pertama adalah pasar yang riuh oleh debu dan ambisi murid luar, maka lantai ini adalah kuil sunyi yang memancarkan aura kemewahan yang angkuh.

Beberapa pasang mata seketika melirik tajam saat jubah kasar murid luar yang dikenakan Qin Xiang tampak mencolok di tengah kerumunan murid sekte dalam yang mengenakan seragam sutra biru tua yang elegan.

Bisik-bisik bernada curiga dan cemoohan merambat cepat di antara pilar-pilar paviliun. Qin Xiang terus melangkah mengabaikan tatapan-tatapan yang tak lebih dari embusan angin yang tak mampu menggoyahkan gunung.

“Hmm, jadi ini wilayah istimewa yang mereka banggakan?” gumamnya pelan, suaranya nyaris menyerupai desiran halus di tengah kesunyian.

Matanya yang tajam mulai memindai jajaran pedang dan artefak yang diletakkan di dalam etalase giok transparan yang memancarkan uap energi dingin.

Lantai ini menawarkan harta yang jauh lebih bernilai bagi perjalanan kultivasinya.

Di sebuah etalase khusus yang dijaga oleh segel energi tipis, Qin Xiang menghentikan langkah di depan sebuah kantong hitam kecil dengan sulaman benang perak yang memancarkan fluktuasi ruang yang halus.

Tas Penyimpanan Ruang.

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil satu yang memiliki kapasitas seratus meter persegi—sebuah dimensi saku yang mampu menampung gunung kecil harta tanpa menambah beban setitik pun pada pemiliknya.

Nilai tukarnya mencapai 2.000 poin sekte, sebuah harga yang setara dengan nyawa bagi murid luar biasa, namun bagi Qin Xiang, itu hanyalah alat pertukaran yang adil.

Setelah menebus tas tersebut melalui sistem otomatis paviliun, Qin Xiang melirik plat emasnya.

Masih tersisa 5.500 poin dari total 7.500 poin hadiah yang ia terima dari Tetua Chu atas keberhasilannya di Desa Quang.

Jumlah ini sangat cukup untuk menebus sebilah pedang kelas Misterius—

Untuk pedang kelas Bumi?

Harganya terlalu mahal.

Ia setidaknya butuh sekitar 10.000 hingga 20.000 poin, masih berada di luar jangkauannya untuk saat ini.

“Lihat siapa yang berani menyeret kakinya ke tempat terhormat ini dengan begitu lancang.”

Sebuah suara berat yang sarat dengan nada penghinaan memecah konsentrasi Qin Xiang.

Qin Xiang menoleh perlahan, menemukan sosok pemuda jangkung berjubah biru sutra yang auranya kini terasa jauh lebih pekat dan stabil dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya di Aula Kultivasi.

Ji Yang.

Pemuda itu berdiri dengan keangkuhan seorang naga kecil yang baru saja menemukan taringnya, memamerkan status barunya sebagai murid sekte dalam setelah berhasil menembus ranah Inti Formasi.

“Ji Yang...”

Qin Xiang menyebut nama itu dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia hanya sedang menyapa sebutir debu yang kebetulan menghalangi garis pandangnya.

Tidak ada setitik pun rasa gentar atau rasa hormat yang biasanya ditunjukkan oleh murid rendah kepada seorang praktisi ranah Inti Formasi.

“Bocah, apakah kau melakukan kesalahan jalan karena matamu buta? Apa kau pikir dengan seragam rendahanmu itu kau layak menginjakkan kaki di lantai dua paviliun?”

Ji Yang menatapnya dengan pandangan sinis, auranya sengaja dilepaskan untuk menekan atmosfer di sekitar Qin Xiang, mencoba memaksa pemuda itu untuk berlutut di bawah beban tekanannya.

“Apa aku harus meminta izin dari seekor lalat hanya untuk berjalan di bawah luasnya langit?”

Qin Xiang membalas, suaranya jernih namun mengandung wibawa yang membuat beberapa murid sekte dalam di sekitarnya tersentak. Nada bicaranya tenang, namun tekanannya seperti ombak samudera yang siap menghantam karang hingga hancur.

Rahang Ji Yang mengeras mendengarnya, matanya berkilat penuh kemurkaan yang meledak-ledak.

“Wah, tampaknya lidahmu menjadi jauh lebih tajam setelah merangkak ke ranah Qi Fondasi. Ataukah kau merasa besar kepala karena telah mendapatkan belas kasihan dari gadis jalang itu?”

Maksudnya jelas merujuk pada Li Mei, sosok yang tempo hari berani menghentikannya untuk menindas Qin Xiang.

“Rekan-rekan sekte dalam, lihatlah pemandangan menjijikkan ini!”

Ji Yang berteriak lantang, suaranya memantul di dinding-dinding paviliun, menarik perhatian seluruh penghuni lantai dua.

“Ada seekor tikus pencuri dari sekte luar yang menyelinap ke sini! Ia jelas telah melanggar peraturan yang ditetapkan oleh Master Paviliun, Tetua Lou Ji!”

Suasana seketika berubah menjadi panas dan menyesakkan.

Murid-murid sekte dalam yang memang memiliki rasa superioritas yang mendarah daging mulai mendekat, wajah mereka dipenuhi ekspresi tidak senang melihat sosok Qin Xiang yang mereka anggap sebagai penyusup kotor.

Bagi mereka, mereka adalah kawanan serigala yang merasa wilayah perburuannya diusik oleh seekor domba yang tersesat.

“Saudara Ji benar! Bagaimana mungkin sampah ini diizinkan melihat harta yang sama dengan kita?” seru seorang pemuda dengan pedang perak di pinggangnya, suaranya penuh nada provokasi.

“Usir dia! Paviliun Harta bukan tempat penampungan untuk sampah yang tidak tahu diri!” sahut yang lain, suaranya memicu gelombang protes yang semakin berisik.

“Kau ingin mendisiplinkanku?”

Qin Xiang tiba-tiba terkekeh rendah, sebuah tawa yang seolah datang dari puncak langit tertinggi, terdengar sangat asing dan menakutkan bagi telinga mereka yang fana.

“Bahkan jika ayahmu, sang Tetua Agung, datang merangkak kepadaku untuk memohon, kata-katanya tak akan lebih berharga dari sekadar angin lalu yang membawa bau busuk!”

Hening seketika.

Seluruh ruangan seolah membeku menjadi es.

Mereka tak percaya ada murid luar yang berani menghina secara terang-terangan sosok Tetua Agung—salah satu dari tiga pilar kekuatan absolut sekte yang sanggup meratakan sebuah kota kecil hanya dengan lambaian tangan.

“Wah... kau benar-benar tidak mengetahui tingginya langit dan dalamnya bumi!”

Ji Yang hampir meledak karena amarah yang memuncak.

Ia melangkah maju satu tindak, tangannya mencengkeram gagang pedang dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya.

“Hah... Selalu saja ada serangga kecil yang mencoba mengguncang pohon raksasa yang akarnya sudah menembus inti bumi,” Qin Xiang menghela napas panjang, merasa sangat bosan dengan drama picik yang berulang ini.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda yang memancarkan kilauan emas murni yang menyilaukan mata.

“Aku adalah seorang murid jenius sekte luar dan Tetua Lou Ji sendiri yang sudah mengizinkanku untuk berada di sini.”

Qin Xiang mengangkat plat identitas emasnya tinggi-tinggi ke udara.

Membiarkan cahaya emas itu memantul di wajah-wajah murid sekte dalam yang semula dipenuhi penghinaan, kini berubah menjadi topeng keterkejutan.

“Tidak mungkin! Itu... Plat Emas Jenius Sekte Luar?!”

“Mustahil!"

"Dia... dia baru berada di ranah Qi Fondasi tahap pertama! Bagaimana mungkin rekor abadi yang dipegang Xiao Lin Yue bisa dipatahkan oleh bocah tidak dikenal ini?!”

Kehebohan meledak laksana badai besar yang menghantam lantai dua.

Murid-murid dalam yang sebelumnya bersikap acuh tak acuh kini terpaku diam, memandangi plat emas itu dengan tatapan yang bergetar hebat antara rasa iri yang mendalam dan ketidakpercayaan yang murni.

Di tengah kekacauan mental itu, wajah Ji Yang berubah drastis; dari merah padam karena amarah menjadi pucat pasi laksana mayat.

Ia merasa seolah-olah baru saja menggunakan seluruh tenaganya hanya untuk menampar wajahnya sendiri di depan publik yang ia provokasi.

...

Bersambung!

1
yos helmi
up hanya satu bab = menjauhkan pembaca dari cerita ini 👍👍
Qin Xiang🏆: Sabar bang, kata editor sy fokus naikin retensi dulu😭

Editor novel emang nyaranin untuk lambatin dulu sebelum memasuki bab 80. Nanti kalau 80 bab (semuanya) sudah lulus retensi baru sy berani crazy up🙏🏻
total 1 replies
Risah1112
mantap
budiman_tulungagung
gass satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
Jade Meamoure
bukan main malah d ambilkan tubuh kebo 🤣🤣🤣
New Account
Like dan vote
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹 dan satu vote
Ress
mantap💪💪👍👍👍
Ress
/Joyful//Determined//Determined//Determined//Determined/
Ress
Hajar💪👍
Sefa Silves
gass👍👍👍
yos helmi
😍😍😍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Qin Xiang🏆: si bro akhirnya mampir lagi. Thanks bro🙏/Doge/
total 1 replies
yos helmi
😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣😍😍😍😍😍💪💪💪
yos helmi
singkat padat.. 🤣🤣🤣
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!