Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Racun Krisan (Alara Jadi Detektif Dadakan)
Aula Pengadilan Dalam seketika berubah menjadi pengadilan masa perburuan penyihir.
Ibu Suri duduk di singgasananya dengan wajah yang sengaja di pucatkan, bersandar lemah di bantalan sutra sambil sesekali batuk yang dibuat-buat seolah nyawanya tinggal di ujung kuku.
Di sekelilingnya, barisan selir senior dipimpin oleh Selir Shina yang mendadak muncul lagi sudah memasang wajah penuh keluh kesah dan air mata buaya.
"Yang Mulia! Selir Alara benar-benar keterlaluan! Karena dendam atas ujian kemarin, dia tega meracuni Ibu Suri yang agung!" pekik Selir Shina dramatis sembari menyeka sudut matanya yang kering kerontang.
Kaisar Kaivan duduk di kursi pengadilan utama. Wajahnya sedingin gunung es terdalam, sepasang mata elangnya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, membuat seisi ruangan merinding ketakutan.
Namun, pandangannya tetap lurus terkunci pada Alara yang baru saja melangkah masuk dengan santai bersama Putri Aurora.
"Alara," suara Kaivan bergema rendah, bergetar menahan emosi kompleks.
"Prajurit menemukan bubuk racun Arsenik Hitam tersembunyi di dalam kompartemen roda gigi mesin tenun milikmu. Apa pembelaanmu?"
Alara tidak langsung menjawab. Dia berjalan ke tengah aula, membungkuk hormat sekilas, lalu berjalan mendekati meja barang bukti tempat cawan teh krisan dan sebungkus bubuk hitam diletakkan.
'Arsenik Hitam, huh? Trik kuno kelas teri ini sih sering banget gue tonton di serial detektif atau baca di komik Conan,' batin Alara menyeringai licik di balik ekspresi tenangmnya.
"Yang Mulia Kulkas maksud saya Yang Mulia Kaisar, serta hadirin sekalian yang hobi drama," Alara berbalik, menatap satu per satu wajah di aula tersebut.
"Menuduh saya meracuni Ibu Suri itu sama saja dengan menuduh Einstein gak bisa matematika. Bodoh banget. Kalau saya emang mau ngeracunin orang, ngapain saya taruh sisa buktinya di mesin tenun kesayangan saya? Mending saya buang ke sumur belakang Istana Dingin!"
"Lancang! Barang bukti sudah jelas nyata! Kau tidak bisa mengelak lagi, Alara!" bentak Ibu Suri dengan suara yang mendadak lantang, lupa kalau dia tadi akting sekarat.
"Tahan dulu, Ibu Suri yang mendadak bertenaga," sindir Alara manis. Dia kemudian mengambil cawan teh krisan yang berisi sisa racun tersebut, lalu mengangkatnya ke udara.
"Berdasarkan ilmu kimia dasar dan forensik modern... racun Arsenik Hitam kuno itu memiliki sifat korosif alami yang sangat kuat. Jika racun ini dicampur ke dalam teh krisan yang mengandung zat asam organik dari kelopak bunga, maka cairan tehnya akan mengalami reaksi oksidasi instant dalam waktu tiga puluh menit."
Alara melirik ke arah tabib istana yang berdiri gemetaran.
"Pak Tabib, bener gak kalau Arsenik ketemu asam krisan bakal bikin airnya berubah warna jadi agak keunguan dan baunya mirip bawang putih busuk?"
Tabib tua itu mengerjap-erjap, lalu mengangguk ragu.
"B-benar, Selir Utama. Itu adalah ciri khas racun Arsenik jika mengendap dalam teh..."
"Nah!" Alara menjentikkan jarinya dengan nyaring. Dia mengarahkan cawan teh itu tepat di bawah hidung Putri Aurora dan Kaisar Kaivan.
"Coba lihat dan cium. Air teh sisa ini warnanya tetep kuning jernih, dan aromanya... wangi banget kayak parfum bunga melati kelas atas. Ini bukan Arsenik Hitam, tapi cuma bubuk arang batok kelapa dicampur bubuk pewarna hitam biasa yang sengaja ditaruh di mesin saya!"
*JDIAARRR!,'
Seluruh menteri dan selir langsung melongo berjamaah.
"T-tapi... tapi Ibu Suri benar-benar muntah darah tadi subuh!" bantah Selir Shina mulai panik, keringat dingin mulai membasahi dahi berlapis bedaknya.
Alara berjalan mendekati Selir Shina dengan langkah pelan yang mengintimidasi.
"Muntah darah? Ah, itu trik sulap pasar malam yang receh barget, Mbak Shina. Sini, saya tebak. Sebelum tabib datang, Ibu Suri pasti mengunyah sejenis akar tumbuhan Merah Semburat yang kalau bercampur air liur bakal menghasilkan cairan kental warna merah pekat mirip darah segar, kan? Efek sampingnya cuma bikin perut agak kembung sedikit."
Alara tiba-tiba menyambar tangan kanan Selir Shina, membalikkan telapak tangan selir itu ke atas. Di sela-sela kuku panjang Selir Shina, masih tertinggal serat-serat halus berwarna merah tua sisa tanaman.
"Dan sepertinya, asisten sulapnya adalah Anda sendiri, Mbak Shina. Serat akar tanaman merahnya masih ketinggalan tuh di kuku.
Lupa cuci tangan pake sabun ya habis bikin ramuan darah palsunya?" goda Alara dengan senyuman savage yang sangat mematikan.
"A-Ah! Ini... ini tidak sengaja!" Selir Shina langsung menarik tangannya dengan panik, wajahnya mendadak seputih kain kafan.
Dia langsung jatuh berlutut di lantai, tubuhnya gemetar hebat menghadapi tatapan mata elang Kaivan yang kini sudah memancarkan badai es pembunuh.
"SHINA!!!" bentak Kaivan dengan suara bariton yang menggelegar, sanggup meretakkan kaca lampion di aula.
"Berani-beraninya kau membuat konspirasi palsu untuk memfitnah Selir Utamaku dan mengacaukan pengadilan kekaisaran!"
"Ampun, Yang Mulia! Ampun! Hamba... hamba hanya diperintah" Shina berniat menunjuk Ibu Suri, namun tatapan tajam nan mematikan dari Ibu Suri langsung membuatnya bungkam ketakutan.
"Seret Selir Shina ke penjara bawah tanah, cabut seluruh gelarnya, dan asingkan keluarganya ke perbatasan selatan!" perintah Kaivan mutlak tanpa ampun.
"Dan mengenai Ibu Suri... karena kondisi 'kesehatan' beliau yang tampaknya perlu banyak istirahat, mulai hari ini seluruh hak pengelolaan istana dalam resmi ditarik dan diserahkan sepenuhnya kepada... Selir Utama Alara Villin!"
*BOOMMM!!!'
Bom nuklir jilid dua resmi meledak di istana. Ibu Suri langsung pingsan beneran kali ini karena syok kehilangan seluruh kekuasaan politiknya di istana dalam.
Di tengah kegemparan itu, Putri Aurora yang sejak tadi menonton dengan seksama perlahan bertepuk tangan pelan. Dia menatap Alara dengan binar mata kekaguman yang luar biasa mendalam.
"Luar biasa, Alara. Kau tidak hanya memenangkan otot di hutan, tapi kau juga memenangkan otak di pengadilan. Aku resmi menarik diriku dari persaingan calon Permaisuri Utama. Naga Ruelle ini... memang hanya pantas bersanding dengan rubah cerdik sepertimu."
Alara nyengir kuda, memberikan salam high-five mental ke arah Aurora.
"Makasih, Mbak Aurora! Jangan lupa nanti malem mampir ya, kita rayakan pembongkaran kasus ini pake hotpot jilid dua!"
Kaivan melangkah turun dari singgasananya, berjalan mendekati Alara yang kini sedang tersenyum bangga atas kemenangan telaknya. Tanpa memedulikan puluhan menteri yang masih ada di aula, Kaivan merengkuh pinggang ramping Alara, menariknya mendekat hingga dada mereka menempel rapat.
"Kau benar-benar tidak pernah berhenti membuatku takjub, Permaisuriku," bisik Kaivan lembut dengan binar mata yang penuh dengan cinta sejati yang tak lagi disembunyikan.
"Hehe, makanya jangan macem-macem sama lulusan generasi milenial, Tuan Kai!" goda Alara tertawa renyah, melingkarkan tangannya di leher sang Kaisar Es yang kini telah sepenuhnya meleleh di pelukannya.
---
Seosen satu' TAMAT
Hehe gays makasih udah baca, aku lanjutin 2 hari lgi ya seosen 2 nya
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪