Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Yang Menembus Kegelapan
Cahaya gabungan yang dipancarkan Xiao Chen, Bai Xue, dan seluruh rombongannya menyebar luas bagaikan ombak yang menembus segala rintangan. Ia tidak hanya menembus lapisan awan energi yang menyelimuti permukaan Xing Yun, tetapi juga menembus dinding-dinding bangunan kristal di ibu kota, menembus ruang komando pusat, bahkan menembus hati setiap makhluk yang merasakannya. Cahaya itu bukanlah cahaya yang menyilaukan atau menakutkan, melainkan hangat, menenangkan, dan membawa rasa damai yang sudah lama hilang dari planet itu.
Di dalam pesawat induk yang menghalangi jalan, Ketua Dewan menatap pemandangan di luar jendela dengan mata terbelalak campuran marah dan tidak percaya. Tangannya mengepal erat di atas meja kendali, sementara wajahnya yang keriput memerah menahan amarah yang meluap-luap. Selama puluhan tahun ia memegang kendali, ia selalu meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa jalan yang dipilihnya adalah satu-satunya jalan yang benar. Namun kini, di hadapannya, ia melihat bukti nyata yang bertentangan dengan segala keyakinannya.
"Jangan biarkan cahaya itu menyebar lebih jauh!" teriaknya pada para perwira di sekelilingnya. "Aktifkan semua senjata penekan energi! Hancurkan sumber cahaya itu sebelum ia mempengaruhi lebih banyak orang!"
Para perwira tertegun sesaat. Mereka bisa merasakan sendiri kehangatan dan kekuatan yang memancar dari cahaya itu—sesuatu yang membuat tubuh mereka yang selama ini terasa lemas dan dingin perlahan mendapatkan kembali kekuatan. Namun, sebagai prajurit yang telah dilatih untuk mematuhi perintah tanpa ragu, mereka segera bergerak menjalankan perintah.
Di luar, puluhan pesawat tempur mengarahkan senjata khusus yang dirancang untuk meredam energi cahaya. Sinar ungu gelap ditembakkan, berusaha membungkus dan memadamkan cahaya emas dan putih yang menyebar. Namun, alih-alih padam, cahaya itu justru berdenyut semakin kuat, memecah sinar penekan itu seolah memecahkan kabut tipis. Semakin keras mereka berusaha menekan, semakin terang cahaya itu bersinar.
"Ini tidak mungkin!" seru salah seorang perwira sambil menatap layar deteksi yang menunjukkan angka energi yang terus meningkat. "Jenis energi ini berbeda dengan apa yang kita ketahui! Ia tidak bisa ditekan atau dihisap seperti energi biasa!"
Di dalam pesawat utama, Xiao Chen berdiri tegak dengan mata terpejam, mengalirkan seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya. Liontin di dadanya bersinar sedemikian terangnya hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya, menjadi pusat dari cahaya raksasa itu. Di sampingnya, Bai Xue memegang tangannya erat-erat, energi mereka menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan—seperti dua aliran sungai yang bergabung menjadi lautan yang luas dan tak tergoyahkan.
"Teruskan," bisik Ratu Lien yang juga berkontribusi memperkuat cahaya itu. "Biarkan mereka merasakan apa yang telah lama hilang dari kehidupan mereka. Biarkan mereka mengingat apa arti sebenarnya dari energi kehidupan."
Wu Gui dan yang lain juga ikut memancarkan energi mereka, menambah kekuatan cahaya itu hingga ia menyelimuti seluruh wilayah ibu kota. Di bawah sana, di jalan-jalan yang tadinya sepi dan gelap, penduduk mulai keluar dari rumah mereka. Mereka menengadah ke langit, wajah-wajah yang tadinya penuh keputusasaan dan lelah perlahan berubah. Senyum-senyum mulai muncul, mata yang tadinya sayu kini berbinar kembali.
"Ini... ini cahaya kuno yang diceritakan dalam legenda!" seru seorang tetua sambil meneteskan air mata haru. "Cahaya kehidupan yang bisa menyembuhkan dan memulihkan!"
"Rasanya seperti ribuan tahun yang lalu, saat planet kita masih muda dan penuh kekuatan!" tambah yang lain.
Berita itu menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut, dari satu gedung ke gedung lain. Orang-orang mulai berkumpul di alun-alun pusat, menengadah ke langit, menantikan sumber dari cahaya ajaib itu. Bahkan di dalam gedung pemerintahan, banyak pejabat yang mulai meragukan keputusan Ketua Dewan. Mereka merasakan sendiri manfaat dari energi itu, dan hati nurani mereka mulai bicara.
Sementara itu, Elion yang memimpin perjalanan mereka berdiri di samping Xiao Chen, matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi seumur hidupnya. "Ini... ini lebih dari yang saya harapkan. Cahaya ini menyentuh hati mereka, bukan hanya tubuh mereka. Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya."
Namun, Ketua Dewan belum menyerah. Ia menekan tombol darurat di mejanya, mengaktifkan sistem pertahanan terkuat yang tersimpan di pusat ibu kota—sebuah menara energi raksasa yang selama ini disiapkan sebagai senjata terakhir jika terjadi serangan dari luar. Dari puncak menara yang menjulang tinggi di tengah kota, sebuah sinar energi hitam pekat mulai terbentuk, berputar cepat dan memancarkan hawa dingin yang membuat udara di sekitarnya menjadi beku.
"Jika cahaya itu tidak bisa dipadamkan dengan cara biasa, maka ia akan dihancurkan sepenuhnya!" teriak Ketua Dewan dengan suara serak dan penuh dendam. "Lebih baik hancurkan semuanya daripada membiarkan cara yang salah menghancurkan tatanan yang telah kita bangun selama ribuan tahun!"
Sinar hitam itu ditembakkan ke atas, menembus langit dan langsung menuju sumber cahaya yang dipancarkan oleh rombongan Xiao Chen. Semua orang menahan napas, menyadari betapa berbahayanya serangan itu. Energi hitam itu bukan sekadar energi kasar—ia adalah energi negatif yang tercipta dari keputusasaan, ketakutan, dan keinginan untuk menguasai, yang telah dikumpulkan secara diam-diam selama bertahun-tahun.
"Pertahankan!" perintah Komandan Kael dengan tegas. Ia dan para perwiranya yang setia telah bergabung dengan rombongan, siap memberikan perlindungan sekuat tenaga.
Xiao Chen dan Bai Xue membuka mata mereka secara bersamaan. Mereka tidak mundur, melainkan justru melangkah maju. Cahaya emas dan putih di sekeliling mereka berputar cepat, membentuk perisai raksasa yang bening namun kokoh. Saat sinar hitam itu menabrak perisai itu, terjadilah tabrakan yang dahsyat—namun bukan ledakan yang menghancurkan, melainkan pertarungan antara dua jenis energi yang sangat berbeda.
Energi hitam itu berusaha menembus, berusaha mendinginkan dan memadamkan cahaya di dalamnya. Namun, semakin ia berusaha menekan, semakin terang cahaya itu bersinar. Seolah air dingin yang dituangkan ke dalam api yang menyala terang, energi hitam itu perlahan-lahan mulai melemah, berubah warna, dan akhirnya diserap serta diubah menjadi energi murni yang bergabung dengan cahaya itu sendiri.
Ketua Dewan menatap dengan mata terbelalak tak percaya. Ia merasakan kekuatannya sendiri perlahan hilang, tidak diambil secara paksa, melainkan berubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Tubuhnya yang selama ini terasa berat dan tua perlahan menjadi ringan, dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasakan kedamaian yang tidak pernah ia kenal.
Di saat yang sama, suara ribuan orang mulai terdengar dari bawah—suara sorakan, suara harapan, suara yang meminta agar mereka yang membawa cahaya itu diizinkan turun dan berbicara.
"Biarkan mereka turun! Kami ingin mendengar mereka!"
"Ini cahaya penyelamat! Jangan halangi mereka!"
"Kami sudah cukup menderita! Kami ingin hidup damai!"
Suara itu semakin keras, semakin banyak, hingga akhirnya terdengar oleh semua orang di ruang komando. Banyak prajurit dan pejabat yang tadinya setia pada Ketua Dewan kini menurunkan senjata mereka, menundukkan kepala, dan memilih untuk tidak lagi mematuhi perintah yang bertentangan dengan hati nurani mereka.
Ketua Dewan mundur selangkah, tubuhnya gemetar bukan karena marah, melainkan karena kebingungan yang mendalam. Ia menatap layar yang menampilkan wajah rakyatnya yang kini penuh harapan, lalu menatap kembali ke arah cahaya yang masih bersinar terang di langit. Perlahan namun pasti, ketegangan di wajahnya hilang, digantikan oleh rasa lelah yang mendalam dan sedikit penyesalan.
"Berhenti," ucapnya pelan, suaranya terdengar lemah namun jelas. "Hentikan semua serangan."
Semua orang tertegun. Para perwira segera menurunkan senjata mereka dan mematikan sistem pertahanan. Sinar hitam yang tadinya mengancam lenyap sepenuhnya, digantikan oleh cahaya hangat yang kini menyelimuti seluruh ibu kota.
Xiao Chen dan Bai Xue perlahan menurunkan tangan mereka. Cahaya yang menyelimuti mereka tidak hilang, melainkan berubah menjadi lebih lembut, terang namun tidak menyilaukan. Pesawat mereka perlahan mulai turun, diikuti oleh pesawat Elion dan sisa pasukan yang kini telah memilih untuk tidak lagi memusuhi mereka.
Saat pesawat itu mendarat dengan lembut di alun-alun pusat yang luas, ribuan penduduk sudah berkumpul di sana, menunggu dengan penuh harapan. Pintu pesawat terbuka, dan Xiao Chen melangkah keluar lebih dulu, diikuti oleh Bai Xue, Ratu Lien, Elion, Komandan Kael, dan yang lain.
Di hadapan mereka berdiri Ketua Dewan, diiringi oleh para penasihatnya. Wajahnya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh keraguan dan rasa ingin tahu. Ia menatap Xiao Chen dengan pandangan yang menilai, lalu berbicara dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya.
"Kau telah menunjukkan sesuatu yang tidak saya pahami. Sesuatu yang tidak ada dalam buku-buku pengetahuan kami. Energi yang tidak menghancurkan, melainkan menyatukan. Jelaskan padaku... apa sebenarnya yang kalian bawa? Dan bagaimana cara ini bisa menyelamatkan planet kami tanpa harus mengambil apa pun dari dunia lain?"
Xiao Chen menatapnya dengan tatapan jujur dan tenang, tanpa rasa permusuhan sedikit pun. "Kami membawa harapan, Yang Mulia. Harapan bahwa tidak ada jalan yang harus ditempuh dengan mengorbankan orang lain. Bumi dan Xing Yun bisa hidup berdampingan, saling berbagi, dan saling menguatkan. Dan saya akan tunjukkan caranya, dengan bukti yang nyata."
Ia mengangkat tangannya, dan cahaya emas lembut muncul kembali di telapak tangannya—sebuah awal dari perubahan besar yang akan menentukan masa depan dua dunia selamanya.