BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Begitu membuka pintu belakang, Aditya merasa jantungnya copot ke dasar perut. Langkah pria itu langsung terhenti seolah kakinya dipaku ke lantai. Udara malam yang seharusnya terasa sejuk justru terasa menyesakkan dadanya. Di hadapan dia berdiri Kemuning dengan tenang dan senyum tipis.
Di sisi kanan dan kiri Kemuning ada dua orang polisi berdiri dengan wajah tegas. Di belakangnya, Arkatama memperhatikan tanpa banyak bicara, tetapi sorot matanya tajam, penuh peringatan.
"Halo, Mas!" kata Kemuning tersenyum lebar.
Wajah Aditya berubah pucat pasi. Dia ketakutan melihat Kemuning, seperti melihat hantu. Terlebih lagi wanita itu menyeringai seakan senang memergokinya.
"Ke-Kemuning ...! I-ni salah paham," ucap Aditya tergagap dengan jari menunjuk ke arahnya.
"Iya, Mas ... ini aku. Kemuning ... istrimu," balas Kemuning. Walau bibirnya tersenyum, tetapi sorot matanya tajam.
“Saudara Aditya, Anda kami amankan atas dugaan tindak pidana yang sedang diselidiki. Silakan ikut kami.”
Aditya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika seorang polisi maju membawa selembar kertas, surat penangkapan resmi untuknya.
"Tu-tunggu, Pak ...." Aditya mundur, berusaha kabur.
Namun, Arkatama dan seorang polisi lainnya segera menahan kedua tangannya. Dengan cepat polisi memasangkan borgol ke tangan Aditya.
Melihat Aditya ditangkap polisi, Kemuning merasa senang dan lega. Mungkin, ini terasa kejam. Seorang istri memenjarakan suaminya sendiri. Namun, perbuatan pria itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Masa depannya sudah dibuat hancur. Pengkhianatan yang dilakukan suaminya juga sudah menghancurkan rumah tangga mereka.
Sementara di teras depan rumah, Lavanya berteriak-teriak histeris saat seorang polwan hendak memasangkan borgol ke tangannya.
"Lepaskan aku! Aku tidak melakukan kejahatan apa pun ...!" Lavanya melompat-lompat hendak melepaskan diri ketika hendak di bawa ke dalam mobil polisi.
"Dasar pelakor!" teriak salah satu tetangga.
"Eh, berarti benar tuh berita yang beredar di medsos kalau Lavanya selingkuhan bosnya sendiri," lanjut wanita berambut panjang tadi siang yang bertemu dengan Kemuning.
"Dasar wanita gatel! Suka rebut suami orang!" Suara Bu RT begitu nyaring.
"Ngakunya pacaran LDR-an. Ternyata jadi pelakor," tambah wanita berambut pendek.
Warga berdatangan, memenuhi halaman rumah karena mendengar suara keributan itu. Mereka langsung menghujat Lavanya habis-habisan. Ada yang menunjuk, ada yang mencibir, ada yang terang-terangan memaki.
Lavanya menangis semakin keras. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Semua kesombongan yang dulu ia miliki, seolah hilang dalam satu malam.
Aditya yang juga digiring ke halaman depan rumah, dibuat terkejut dengan banyaknya orang berkumpul. Dia pun menjadi bahan hujatan warga.
"Dasar laki-laki mata keranjang! Sudah punya istri yang cantik dan baik, malah selingkuh," teriak ibu-ibu sambil melemparkan sandalnya ke arah Aditya, saking kesal dan emosi.
“Laki-laki enggak tahu diri!” teriak seseorang.
“Selingkuh sama anak buah sendiri! Malu-maluin!” tambah yang lain.
Padahal dulu mereka selalu menyapa Aditya dengan hormat, kini penuh hinaan.
"Mas Aditya ...! Tolong aku ... Mas!" teriak Lavanya saat dipaksa masuk mobil polisi.
Aditya tidak berdaya. Dia tidak menyangka Kemuning akan melakukan hal ini kepadanya. Padahal selama ini, istrinya sangat penurut dan tidak suka keributan, makanya selalu mengalah.
Aditya dan Lavanya dibawa ke kantor polisi dengan mobil yang berbeda. Sementara Kemuning naik mobil Arkatama.
"Apa Mbak senang?" tanya Arkatama sambil menyetir.
"Ya," jawab Kemuning. "Tapi, aku akan lebih senang jika bisa mengambil semua milikku yang sudah mereka rampas. Dan lepas dari hubungan toxic ini."
Arkatama tersenyum tipis. "Aku akan berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan semua kemampuanku, agar Mbak mendapatkan keadilan. Kita selesaikan satu per satu.”
Kemuning menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata berlebihan, tetapi ada keyakinan yang pelan-pelan tumbuh.
Keesokan harinya, berita tentang Aditya dan Lavanya yang digrebek, bahkan sampai ditangkap oleh polisi, langsung menjadi buah bibir di kampung mereka, bahkan sekecamatan. Video penggerebekan yang direkam warga tersebar luas. Semua orang membicarakan hal yang sama. Entah itu di media sosial atau gosip di warung dan pasar
Bu Ratih yang mendengar itu keesokan harinya dari tetangga, langsung pingsan karena penyakit darah tingginya kambuh. Sementara Kemuning tidak berada di rumah. Wanita itu sedang sidak ke peternakan.
Begitu juga dengan kedua orang tua Lavanya. Mereka bahkan dibawa ke rumah sakit daerah karena kejang-kejang dan pingsan. Belakangan diketahui Pak Bagus kena stroke.
Di sisi lain, Kemuning sedang berada di peternakan. Dia mulai memeriksa pembukuan yang selama ini tidak pernah diberi lihat oleh Aditya.
Kemuning memang tidak sekolah jurusan ekonomi, tetapi dia bisa berbisnis. Sejak zaman sekolah sudah punya bisnis kecil-kecilan. Jadi, dia tahu bagaimana caranya memutar uang agar bisa terus bertambah.
"Selain mengambil uang dari tabungan bersama, rupanya Mas Aditya juga mengambil uang kas dan uang modal usaha," ucap Kemuning bermonolog, kesal dan marah ketika memeriksa uang yang ada di brankas kantor.
Kemuning pun berjalan ke arah kandang untuk memeriksa ayam-ayamnya. Kini peternakan itu miliknya, bukan milik Aditya. Dia berjalan perlahan, memperhatikan setiap sudut. Para pekerja yang melihatnya langsung menunduk, tidak berani menatap lama.
"Bu, Pak Aditya suka sering pergi berdua dengan Lavanya, setelah Ibu mengantarkan makanan ke sini. Lalu, baru kembali jika sudah sore," kata Maman, pekerja bagian mengurus pakan ayam.
"Yang paling enggak enak itu kalau keduanya menginap di kantor, Bu. Semua pintu dikunci. Kita yang mau ke dapur jadinya enggak jadi, nunggu mereka bangun dulu," lanjut Yuda.
Kemuning menatap satu per satu wajah mereka. “Kalian tahu perselingkuhan itu sejak kapan?” tanyanya pelan.
Tidak ada yang langsung menjawab. “Itu sudah lama, Bu,” jawab Maman akhirnya.
Kemuning menghela napas. Semua orang di peternakan itu sudah tahu akan perselingkuhan Aditya dan Lavanya, tetapi semua bungkam tidak ada yang berani memberi tahunya. Tentu saja dia jadi sakit hati. Orang-orang itu sudah dia kasih pekerjaan, tetapi melihat dia dikhianati dan sakiti, malah bungkam. Seakan menganggap wajar perbuatan Aditya.
"Sungguh aku kecewa. Kalian memilih diam selama bertahun-tahun," ucap Kemuning dengan tatapan dingin dan ekspresi wajah datar.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus