NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Mengobati Luka Kecil

Siang itu udara di ruang arsip terasa agak pengap karena jendela kecil di bagian atas sedang diperbaiki. Rima berdiri di depan rak besi tertinggi, berjinjit sambil meraih kotak berlabel merah yang letaknya hampir menyentuh langit-langit. Tugasnya hari ini adalah memindahkan arsip proyek tahun lalu ke rak bagian belakang, memberi ruang untuk dokumen baru yang akan datang minggu depan.

"Tinggi sekali. Hati-hati Rima, jangan sampai jatuh," bisiknya pelan sambil memegang sisi rak dengan satu tangan. Ia menarik kotak itu perlahan, tapi karena debu menumpuk di alasnya, kotak itu tersangkut. Rima menarik sedikit lebih kuat, dan kotak itu akhirnya meluncur keluar tiba-tiba.

Karena kaget, Rima mundur selangkah dengan cepat. Pinggiran rak besi yang tajam dan belum tertutup pelindung menyapu lengan kirinya dengan cepat.

"Sstt!" Rima menarik tangannya seketika. Ia menunduk melihat lengan seragamnya yang teriris. Ada garis merah panjang di kulit, dan sedikit darah mulai menembus kain tipis seragamnya. Perih sekali rasanya.

Ia meletakkan kotak di lantai dengan hati-hati, lalu duduk di kursi dekat meja kerja. Ia menekan luka itu dengan tisu, berusaha menahan rasa perih yang menjalar. "Cuma luka kecil... nanti berhenti sendiri darahnya," hiburnya diri sendiri, meski matanya sedikit berkaca-kaca dan mulutnya meringis.

Kebetulan saat itu Andre baru saja selesai memeriksa ruang rapat di seberang lorong. Ia berjalan menyusuri koridor menuju lift, tapi langkahnya terhenti saat melihat pintu ruang arsip yang sedikit terbuka. Ia melihat Rima yang memegangi lengannya dengan wajah meringis kesakitan.

Andre mendorong pintu perlahan. "Ada apa?"

Rima mendongak kaget, segera menyembunyikan lengannya di balik punggung. "Ah... tidak ada apa-apa Pak Andre!"

Andre tidak langsung percaya. Ia melangkah maju sedikit, melihat bercak merah di lengan seragam Rima. "Itu apanya yang tidak apa-apa. Dino!"

Dino yang berjalan di belakangnya segera maju. "Siap Pak?"

"Ambilkan kotak P3K dari ruang kesehatan sekarang. Yang lengkap," perintah Andre singkat namun tegas.

"Baik Pak, sebentar saya ambil!" Dino segera berlari kecil keluar ruangan.

Rima panik. "Tidak usah repot-repot Pak! Ini nanti juga kering sendiri kok. Saya bawa plester di tas kalau perlu."

Andre menatapnya tajam. "Luka di besi berkarat bisa berbahaya kalau tidak dibersihkan. Jangan menyepelekan kesehatanmu sendiri. Duduk saja diam di sana."

Rima menutup mulutnya, lalu duduk patuh di kursi. Ia hanya berani menatap lantai saja, merasa malu karena sekali lagi menjadi pusat perhatian sang pimpinan karena kecerobohannya sendiri.

Beberapa menit kemudian Dino kembali membawa kotak P3K berwarna putih yang cukup lengkap. Ia meletakkannya di meja, lalu berbisik pada Andre: "Pak, saya harus lapor ke Bu Tia sebentar soal jadwal sore ini. Boleh saya tinggalkan sebentar?"

Andre mengangguk. "Pergilah. Saya tunggu sebentar di sini."

Dino menutup pintu rapat-rapat setelah memberi isyarat semangat pada Rima. Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara kipas angin di sudut ruangan.

"Buka lengan bajumu," perintah Andre pelan sambil menarik kursi kosong di hadapan Rima. Ia duduk di sana, membuka kotak P3K dan menata botol obat, kapas, dan perban di atas meja.

Rima ragu sejenak, lalu perlahan menurunkan lengan bajunya sampai terlihat jelas luka memanjang itu. Darah sudah berhenti mengalir, tapi pinggirannya kemerahan dan sedikit kotor terkena debu rak.

"Saya bersihkan dulu ya," ucap Andre pelan. Ia mengambil kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik.

Rima menahan napas saat kapas itu menyentuh kulitnya. "Aduh..."

"Sabar sebentar. Harus bersih supaya tidak infeksi," kata Andre lembut. Tangannya yang biasanya hanya memegang pulpen mahal dan dokumen penting bergerak sangat hati-hati, membersihkan setiap sudut luka tanpa menyakiti lebih dalam.

Selesai dibersihkan, Andre mengambil perban kain. Ia ingin melilitkannya pada lengan Rima, tapi ujung perban selalu melorot saat ia mencoba memutarnya. Rima berusaha membantu dengan tangan kanannya, tapi posisinya malah makin canggung.

"Tunggu sebentar," gumam Andre tanpa sadar. Ia lupa jabatan, lupa jarak, lupa bahwa ini anak magang di bawah pimpinannya. Ia hanya melihat gadis itu kesakitan dan kesulitan. Dengan gerakan cepat namun lembut, tangan kirinya menahan ujung perban di lengan Rima, sementara tangan kanannya melilitkannya dengan rapi dan pas.

Jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. Rima bisa merasakan hembusan napas hangat Andre, dan melihat betapa teliti matanya yang biasanya dingin itu saat sedang fokus mengobati luka kecilnya.

Baru saat perban itu sudah terpasang rapi dan Andre hendak menempel selotip penutup, ia tersadar sepenuhnya akan apa yang baru saja dilakukannya. Ia segera menarik tangannya mundur dengan cepat, berdiri tegak, dan kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi seperti biasa.

"Sudah selesai," ucapnya agak kaku sambil menutup kotak P3K. "Jangan mengangkat beban berat dulu hari ini. Biarkan lukanya kering."

Rima masih diam memegang lengannya yang sudah diperban rapi. Ia tersenyum tulus dan sangat berterima kasih. "Terima kasih banyak ya Pak Andre... Bapak baik sekali. Saya kira Bapak cuma tegas soal pekerjaan, ternyata Bapak juga sangat perhatian pada kesehatan karyawan. Saya senang sekali bekerja di sini."

Andre tertegun sejenak mendengar kata-kata polos itu. Rima sama sekali tidak curiga, tidak berpikir aneh, hanya menganggapnya sebagai pimpinan yang peduli pada bawahannya. Entah mengapa hati Andre terasa sedikit kecewa sekaligus lega.

"Jangan abaikan pesan saya," ucapnya singkat untuk menutupi perasaannya sendiri. "Hati-hati bekerja."

"Iya Pak! Terima kasih lagi Pak!" Rima membungkuk sopan.

Andre segera berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Di lorong, Dino sudah menunggu. Melihat wajah Andre yang sedikit memerah di bagian telinga, Dino tersenyum malu-malu.

"Sudah selesai Pak? Sepertinya Bapak yang lebih canggung daripada Mbak Rima ya?"

Andre melirik sekilas, tapi tidak marah. Ia hanya merapikan kemejanya. Dan terus berjalan.

''Aneh sekali, rasanya ingin terus berada di dekatnya." Andre berbicara sendiri di dalam hatinya.

Sementara di dalam ruangan, Rima terus memandangi perban di lengannya. Ia tersenyum sendiri.

"Pak Andre memang orang yang luar biasa," bisiknya pelan. "Tegas di luar, tapi lembut sekali di dalam. Semoga luka ini cepat sembuh supaya bisa kerja sebaik mungkin lagi."

Ia tidak tahu bahwa momen singkat itu telah menjadi titik di mana Andre mulai menyadari perasaannya pada gadis ceroboh itu sudah jauh melampaui batasan.

1
Edi Lupiyan
harus nunggu lagi cuma 2bab
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: iya kak. terimakasih ya
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!