NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Elite One

Lantai kaca siber di Auditorium Sentral bergetar sekali lagi, disusul oleh suara gemuruh mekanis dari dinding pembatas ruangan. Dinding-dinding logam tersebut perlahan bergeser memutar, membuka akses ke tiga koridor raksasa yang terhubung langsung ke sayap timur benteng.

Dari ketiga koridor tersebut, gelombang remaja berseragam serupa melangkah masuk dengan formasi rapi. Mereka adalah para peserta yang lolos dari jalur seleksi paralel di dua distrik satelit lainnya. Total ada enam ratus siswa yang kini berkumpul di satu ruangan luas, membentuk lautan manusia berseragam abu-abu gelap. Enam ratus otak terbaik dari seluruh penjuru negeri yang kini resmi menyandang status sebagai angkatan baru.

Di atas podium yang kembali terangkat, asisten senior Profesor Adrian mulai membagikan sebuah paket kit perak kepada setiap siswa. Di dalam paket tersebut terdapat kartu identitas siber bermaterial titanium tipis dan sebuah buku panduan fisik bersampul kulit hitam tebal dengan lambang grafis yang dicetak timbul di bagian depannya.

Atharva menerima buku tebal itu, merasakan bobotnya yang tidak biasa. Di tempat di mana segala hal telah didigitalisasi, keberadaan buku fisik setebal lima ratus halaman ini adalah sebuah anomali yang sengaja diciptakan untuk menegaskan warisan otoritas yayasan yang absolut.

"Buku di tangan kalian adalah Konstitusi Nexus," suara Profesor Adrian kembali menggema, menembus riuh rendah bisikan enam ratus siswa yang baru saja bergabung. "Setiap pasal di dalamnya ditulis dengan tinta algoritma yang tidak mengenal negosiasi. Pelanggaran terhadap satu baris aturan berarti pengurangan poin massal atau karantina isolasi."

Keisya Aurellia langsung membuka halaman pertama buku tersebut, matanya yang tajam memindai barisan teks mikro dengan cepat. Di barisan faksi beasiswa, Nabila dan Dimas juga melakukan hal yang sama, membalik lembaran-lembaran kertas premium yang beraroma kimia itu dengan tangan tegang.

Hingga pada bab ketiga mengenai Regulasi Retensi Keanggotaan, sebuah pasal yang dicetak dengan tinta merah tebal menarik perhatian seluruh siswa. Ruangan auditorium yang tadinya dipenuhi suara lembaran kertas mendadak sunyi senyap saat enam ratus pasang mata membaca baris kalimat yang sama:

Pasal 14, Ayat 2: Sistem kompetisi biner dan evaluasi taktis akan terus berjalan secara akumulatif. Siswa yang menempati peringkat terakhir pada papan skor sentral di akhir setiap semester akan langsung dicabut hak kedaulatannya dan dikeluarkan dari Nexus Academy tanpa hak banding.

"Dikeluarkan..." Dimas menelan ludah, tangannya meremas pinggiran buku tebal itu. "Mereka benar-benar akan membuang kita satu per satu di setiap akhir semester."

"Ini bukan sekadar dikeluarkan dari sekolah," Farel berbisik dari belakang Dimas, matanya menatap dingin ke arah panggung. "Ingat kata Profesor Adrian tadi malam? Status kita di luar sana sudah dinonaktifkan. Jika kamu dikeluarkan dari tempat yang tidak terdaftar di peta dunia ini, menurutmu ke mana mereka akan mengirimmu pulang?"

Pertanyaan Farel menggantung di udara bagai vonis tak kasatmata. Ketakutan baru yang lebih nyata kini merayap ke dalam benak enam ratus siswa. Ini bukan lagi tentang fasilitas asrama yang nyaman di Sektor Atas atau barak yang sempit di Sektor Bawah. Ini adalah perang eksistensial untuk memastikan nama mereka tidak berada di titik nadir saat semester berakhir.

Raka Elang tertawa rendah, melirik lencananya sendiri lalu menatap barisan siswa baru dari distrik lain dengan pandangan meremehkan. "Aturan yang bagus. Dengan begitu, sampah-sampah yang tidak berguna akan membersihkan diri mereka sendiri dari sistem tanpa perlu kita tangani manual."

Kirana Safira tetap diam, jemarinya mengusap pelan sampul hitam buku aturannya. Senyum lembutnya tidak pudar, namun di dalam kepalanya, ia sudah mulai menghitung berapa banyak variabel kelemahan baru dari ratusan siswa yang baru datang ini yang harus segera ia catat sebelum ujian biner pertama dimulai.

Di barisan paling depan, Atharva menutup buku tebalnya dengan bunyi BUK yang pelan namun terdengar tegas di tengah keheningan. Ia tidak melihat ke arah buku ataupun papan skor raksasa yang kini menampilkan enam ratus baris angka baru.

"Satu orang di setiap akhir semester," Keisya melirik Atharva dari samping. "Itu adalah batas minimum eksekusi. Sistem ini sengaja mematok target terendah agar semua orang di atasnya merasa aman, padahal kenyataannya, seluruh piramida ini dirancang untuk runtuh dari bawah."

"Bukan satu orang," sahut Atharva datar, pandangannya lurus mengunci pod simulasi yang kini telah sepenuhnya terangkat di tengah aula. "Aturan itu dibuat untuk memicu kepanikan. Dan saat enam ratus orang jenius mulai panik, mereka akan saling menghancurkan hingga yang tersisa di akhir semester bukan lagi satu orang yang terbawah, melainkan hanya mereka yang sanggup berdiri di atas tumpukan kegagalan orang lain."

...****************...

Asisten senior di podium kemudian mengangkat tangan kanannya, memicu sensor pada kartu identitas titanium para siswa. Seketika, permukaan kartu tersebut berpendar biru dan memproyeksikan jadwal sinkronisasi kelas serta diagram pembagian wilayah Menara Akademik langsung ke udara di depan dada masing-masing.

"Proses registrasi angkatan baru dinyatakan selesai," suara Profesor Adrian terdengar mutlak, memberikan intonasi final yang tidak menerima interupsi. "Kalian memiliki waktu tepat tiga puluh menit untuk mengosongkan auditorium ini dan menuju ke ruang kelas taktis dasar masing-masing sesuai instruksi pada kartu identitas kalian. Sesi pengenalan medan dimulai sekarang."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Profesor Adrian dan jajaran asisten senior melangkah turun dari panggung melalui jalur evakuasi belakang, meninggalkan enam ratus remaja terbaik itu di dalam ruangan yang kini mulai dipenuhi riuh kepanikan yang tertahan.

"Tiga puluh menit? Ruang kelas taktis dasar ada di Lantai Lima Puluh Empat, dan lift utama hanya bisa menampung lima puluh orang sekali jalan," Nareswara langsung menghitung cepat, matanya menatap tajam ke arah dinding lift kapsul di ujung aula. "Jika kita mengantre seperti warga sipil biasa, setidaknya dua ratus orang di barisan belakang akan terlambat dan terkena penalti sepuluh poin di hari pertama."

"Maka dari itu, jangan mengantre," Raka Elang mendengus, langsung membalikkan badannya dan melangkah dengan angkuh menuju lift prioritas Sektor Atas yang berada di sisi kiri. "Sistem ini sudah menyediakan jalur cepat untuk sepuluh besar. Kalian yang berada di peringkat bawah silakan mencari tangga darurat atau berdoa agar liftnya tidak macet."

Beberapa siswa baru dari distrik satelit tampak terpancing emosinya mendengar ucapan Raka, namun mereka tidak memiliki waktu untuk berdebat. Aturan pengurangan sepuluh poin di hari pertama adalah ancaman nyata yang bisa langsung menjatuhkan posisi mereka ke zona eliminasi semesteran.

"Ayo, Nabila, Dimas, kita harus bergerak sekarang!" Farel memberi komando rendah pada kelompok kecilnya. Ia tidak memilih jalur lift utama yang sudah mulai dipadati oleh ratusan siswa yang saling sikut, melainkan mengarahkan pandangannya pada pintu besi kedap suara di sudut kanan auditorium yang bertuliskan Jalur Utilitas Teknis.

"Farel, itu jalur terlarang untuk siswa, kan?" Nabila bertanya dengan napas yang mulai memburu, mencoba menyamakan langkah kakinya yang kecil.

"Buku aturan halaman dua belas, pasal empat," sahut Farel tanpa menghentikan langkah. "Jalur utilitas hanya ditutup saat pemeliharaan reaktor kuantum sedang berjalan. Sekarang statusnya idle. Itu artinya jalur itu legal digunakan jika terjadi kepadatan logistik. Kita lewat sana."

Dimas tersenyum tipis, mulai melihat bahwa faksi beasiswa tidak sepenuhnya tidak berdaya menghadapi keistimewaan faksi elite.

Di sisi lain auditorium, Atharva dan Keisya melangkah memasuki lift prioritas Sektor Atas tanpa perlu berdesakan. Saat pintu lift berlapis titanium itu menutup, memotong pemandangan ratusan siswa yang mulai berebut masuk di aula bawah, Keisya melirik ke arah Atharva yang berdiri diam di sampingnya.

"Sistem ini sangat rapi dalam menciptakan hierarki," kata Keisya sambil menatap angka lantai di layar digital yang terus bergerak naik dengan cepat. "Mereka tidak hanya memisahkan tempat tidur kita, tapi juga memberikan hak istimewa untuk menyelamatkan diri dari penalti waktu."

"Hak istimewa itu adalah ilusi," Atharva menyahut datar, kedua tangannya tetap berada di dalam saku almamater abu-abunya. "Sistem sengaja membuat kita sampai lebih dulu di ruang kelas agar enam ratus orang lainnya melihat siapa yang duduk di kursi depan saat mereka datang dalam kondisi kelelahan. Itu bukan fasilitas, Keisya. Itu adalah metode untuk menanamkan rasa benci di kepala lima ratus sembilan puluh orang lainnya kepada kita."

TING—

Pintu lift terbuka di Lantai Lima Puluh Empat, menampilkan sebuah ruang kelas taktis berarsitektur amfiteater melingkar yang kosong, siap menyambut para Elite One yang berhasil menembus seleksi waktu di pagi pertama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!