NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Tinju Penghancur Bintang

Raungan guntur yang menggema di dalam Lautan Kesadaran Lin Chen seolah ingin merobek pikirannya. Di atas rak batu yang retak itu, lempengan giok abu-abu kusam yang tertutup debu berabad-abad kini memancarkan pendar cahaya keemasan yang redup namun sangat buas.

Aliran informasi kuno membanjiri benaknya bagaikan air.

"Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba."

Di dalam cincin hitamnya, Tua Hitam yang biasanya kritis kini menarik napas panjang, nada suaranya dipenuhi keterkejutan yang nyata.

"Bocah... kau benar-benar menemukan barang gila," gumam Tua Hitam. "Ini bukan teknik tingkat tinggi biasa. Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba diciptakan oleh seorang kultivator sinting di masa lalu yang mencoba meniru kekuatan jatuhnya meteor. Teknik ini mengompresi seluruh energi Qi di Dantian ke dalam satu titik di kepalan tangan, lalu meledakkannya secara instan. Kekuatannya luar biasa, tapi ada satu masalah besar..."

"Lengan pengguna biasa akan meledak menjadi kabut darah sebelum tinju itu mengenai lawan," potong Lin Chen dalam hati, sudah membaca peringatan di baris pertama teknik tersebut.

"Tepat!" seru Tua Hitam. "Teknik ini menuntut tulang dan meridian yang setara dengan artefak tingkat bumi. Bagi kultivator biasa, ini adalah teknik bunuh diri. Tapi bagi seseorang sepertimu, yang tulangnya telah ditempa di kawah magma dengan Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba, ini adalah senjata pemusnah massal!"

Senyum tipis dan mematikan tersungging di bibir Lin Chen. Inilah yang ia cari. Ia segera mengambil lempengan giok abu-abu itu dan menyimpannya di balik jubahnya.

Ia melangkah keluar dari sudut gelap itu dan kembali ke tengah ruangan. Tak lama kemudian, Su Qingyue muncul dari area elemen es. Gadis itu membawa sebuah gulungan biru kristal yang memancarkan hawa dingin menusuk tulang.

"Kau sudah menemukannya?" tanya Qingyue, melirik ke arah dada Lin Chen tempat giok itu disimpan. Seperti biasa, guru pembimbingnya, Tetua Puncak Salju, pasti akan sangat puas dengan pilihan elemen murninya.

"Sudah. Sebuah teknik tua yang berdebu," jawab Lin Chen santai.

Keduanya berjalan menuju pintu keluar. Di sana, tetua penjaga yang buta masih duduk bersila di atas tikar jerami. Saat Lin Chen dan Qingyue meletakkan pilihan mereka untuk didaftarkan, tetua itu meraba gulungan es milik Qingyue dan mengangguk pelan.

"Teknik Pedang Teratai Salju Surgawi... pilihan yang sangat selaras dengan fisikmu, Nak," ucap tetua buta itu.

Namun, ketika jemari keriputnya menyentuh lempengan giok abu-abu milik Lin Chen, tetua itu terdiam. Matanya yang tertutup perlahan terbuka sedikit, memperlihatkan bola mata putih pucat yang seolah mampu menembus jiwa.

"Tinju Penghancur Bintang Purba..." suara serak tetua itu bergetar samar. "Sudah tiga ratus tahun lempengan ini tidak berpindah dari raknya. Tiga murid inti terakhir yang mencoba mempelajarinya berakhir sebagai cacat seumur hidup karena kedua lengan mereka hancur berkeping-keping. Kau yakin dengan pilihanmu, Anak Muda?"

"Saya yakin, Tetua," jawab Lin Chen tanpa ragu sedikit pun. Punggungnya tetap tegap.

Tetua buta itu terdiam sejenak, lalu mendesah pelan. "Kesombongan masa muda... Baiklah. Lempengan giok ini hanya memiliki tiga tingkat pukulan. Ingat peringatanku: Jangan pernah mencoba melontarkan pukulan tingkat kedua jika kau belum mencapai ranah Pembentukan Jiwa (Soul Formation), atau kau akan mati."

Setelah mendaftarkan teknik mereka, Lin Chen dan Su Qingyue melangkah keluar dari Pagoda Teknik Bintang. Namun, baru beberapa belas langkah mereka menuruni tangga batu, udara di sekitar pelataran mendadak menjadi berat dan menindas.

Tujuh orang pemuda berseragam sutra ungu telah memblokir jalan mereka.

Di tengah kelompok itu, berdiri seorang pemuda bertubuh besar dengan luka sayatan pedang di wajahnya. Fluktuasi Qi yang memancar dari tubuhnya sangat liar, seperti harimau yang siap menerkam. Ia berada di puncak ranah Pengumpulan Tingkat 9, hanya selangkah lagi menuju ranah Pondasi Abadi (Foundation Establishment).

"Kau yang bernama Lin Chen?" suara pemuda itu menggelegar, sarat akan niat membunuh.

Lin Chen berhenti melangkah. Ekspresinya setenang danau beku. "Tergantung siapa yang bertanya."

"Aku Liu Zhan. Kakak seperguruan dari Liu Ming," desis pemuda itu, menginjakkan kakinya ke tanah hingga batu giok di bawahnya retak. "Kau meremukkan lengan adikku dan membuatnya kehilangan muka di hari pertama kau menginjakkan kaki di pelataran inti. Fraksi Harimau Ungu kami tidak akan pernah membiarkan cacing dari sekte pinggiran menginjak-injak harga diri kami!"

Su Qingyue langsung melangkah maju, memposisikan dirinya di samping Lin Chen. Suhu di sekitar pelataran anjlok seketika. Bunga-bunga es mulai terbentuk di udara, ujung pedangnya memancarkan kilau biru yang mematikan.

"Mengeroyok murid baru yang baru tiba, inikah harga diri yang dibanggakan Fraksi Harimau Ungu?" suara Qingyue terdengar dingin, menembus langsung ke tulang.

Melihat aura es Su Qingyue yang tak wajar, Liu Zhan mengerutkan kening. Ia tahu gadis ini adalah murid langsung Tetua Puncak Salju, sosok yang tidak boleh disinggung sembarangan.

Liu Zhan mendengus kasar. "Ini urusan antar laki-laki. Sesuai aturan akademi, kami tidak boleh membunuhnya di luar arena. Tapi..."

Liu Zhan menunjuk lurus ke arah dada Lin Chen. "Lin Chen, aku menantangmu di Arena Bintang. Satu bulan dari sekarang. Pertarungan hidup dan mati, di mana tidak ada tetua yang boleh ikut campur. Jika kau pria sejati, terima tantanganku. Jika kau pengecut, berlututlah sekarang, potong sendiri kedua lenganmu, dan merangkaklah keluar dari akademi ini!"

Para pengikut Liu Zhan tertawa mengejek, mencoba menghancurkan mental Lin Chen di hadapan puluhan murid lain yang mulai berkerumun. Mereka yakin seorang murid baru di Tingkat 3 tidak akan berani menerima tantangan dari monster di puncak Tingkat 9.

Namun, di luar dugaan semua orang, Lin Chen sama sekali tidak memerah karena marah, apalagi pucat karena takut. Ia hanya menatap Liu Zhan dengan pandangan kasihan.

"Satu bulan?" Lin Chen tersenyum tipis. Di dalam darahnya, kekuatan fisik yang telah menembus anak tangga ke-99 Tangga Bintang beresonansi dengan ganas. "Waktu yang terlalu lama hanya untuk mengurus sampah sepertimu. Tapi baiklah, aku terima."

Mata Liu Zhan menyipit tajam. "Bagus. Nikmati 30 hari terakhirmu menghirup udara."

"Gunakan 30 hari itu untuk mencari tabib terbaik di seluruh benua," balas Lin Chen dengan nada santai namun mematikan. "Karena kali ini, aku tidak akan berhenti hanya dengan meremukkan lenganmu."

Liu Zhan mendengus marah, mengibaskan lengan bajunya, dan berbalik pergi bersama kelompoknya.

Su Qingyue menoleh ke arah Lin Chen, alisnya sedikit bertaut. "Dia berada di puncak Tingkat 9, Lin Chen. Fondasi Qi-nya sangat padat."

"Aku tahu," jawab Lin Chen tenang, matanya menatap ke arah Pagoda Teknik Bintang di belakang mereka. Tangannya menyentuh dada, di mana lempengan giok abu-abu itu tersimpan. "Itulah sebabnya aku punya waktu satu bulan penuh untuk memastikan tinjuku mampu menghancurkan fondasinya menjadi debu."

1
Bernard
Mantap sekali Thor👍👍
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍💪💪💪👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
GEDE JAYANEGARA
bintang Toedjoe, obt sakit kepla
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
mbono keling
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Bernard
Pleaseee.., tolong di lanjut
Sang_Imajinasi: lanjut terus kok kak tiap hari jam 3 sore
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
yoi
Bernard: Sangat bagus.., tolong lanjutkan 🙏
total 1 replies
saniscara_Patriawuha
gasss pollll manggg minnnn..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤨🤨🤨Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!