NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. ( Rahasia Masa Lalu )

"Malam sekali baru pulang, An. Kau dari mana saja?" tanya Nenek Erwita lega. Sejak tadi dia tak bisa tenang memikirkan cucunya yang tak kunjung sampai di rumah.

Sebelum menjawab, Andrea mengganti sepatu dengan sendal rumah lalu membimbing sang nenek duduk di sofa. Setelah itu dia mengeluarkan amplop berisi uang hasil jerih payahnya selama 1 bulan bekerja menjadi karyawan magang di GS Company.

"Tada!"

"Apa ini?"

"Amplop ini berisi uang gajiku, Nek. Lihat, sekarang cucumu sudah bisa diandalkan. Hebat 'kan?" seru Andrea penuh suka cita.

Mata Nenek Erwita berkaca-kaca melihat kebahagiaan di diri cucunya. Datang dari desa dengan pengetahuan sosial yang minim, tak disangka bisa mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus. Terharu, Nenek Erwita pun memeluknya penuh kasih.

"Selamat ya, Nak. Akhirnya kerja kerasmu membuahkan hasil. Nenek turut senang melihatnya,"

"Ini semua juga berkat doa dan dukungan dari Nenek, makanya aku bisa berhasil secepat ini. Mulai sekarang Nenek tidak perlu lagi berjualan di kedai. Semua kebutuhan di rumah kita biar aku yang tanggung. Nenek fokus menjaga kesehatan saja dan menikmati hidup. Oke?"

"Mana boleh begitu. Uang gajimu tidak boleh digunakan sembarangan. Harus ditabung. Mengerti?"

Andrea berdecak. Sambil bersedekap tangan, dia menasehati sang nenek yang terkesan sungkan dia hidupi.

"Nek, aku sudah besar dan sudah berpenghasilan. Sudah waktunya menggantikan tugas Nenek mengemban tanggung jawab. Dan tentu saja aku akan tetap menabung. Gaji yang ku terima dari perusahaan lumayan besar, belum lagi tambahan uang bonus lembur dari Lucien. Semuanya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kita berdua selama dua bulan penuh. Jadi Nenek jangan khawatir ya? Aku jamin semua akan terkendali dengan baik."

Nasehat Andrea tak begitu saja diterima oleh sang nenek. Menyadari hal itu, Andrea pun enggan menyerah. Dengan lembut dia memberi pengertian agar tak menyinggung. Bagaimana pun juga dia sangat memaklumi alasan sang nenek memintanya agar tidak menghamburkan uang. Mereka lama hidup terpisah dan menjalani hidup tak berkecukupan. Wajar jika neneknya khawatir tentang masa depannya nanti.

"An, kau belum menjawab pertanyaan Nenek. Pulang selarut ini kau pergi ke mana dan dengan siapa?" tanya Nenek Erwita penasaran.

(Apa mungkin dengan Lucien?)

"Tadi aku jalan-jalan di taman sebentar, Nek. Sudah satu bulan lebih aku berada di ibukota tapi masih belum tahu banyak tentang jajanan apa saja yang dijual di tempat ini," jawab Andrea jujur. "Oya, aku punya hadiah untuk Nenek."

Andrea menyerahkan satu bingkisan pada sang nenek lalu dia menyunggingkan senyum tipis. "Nek, tanggalnya mungkin sudah lewat. Dengan gaji pertamaku, aku membelikan Nenek sebuah kue ulang tahun. Nenek tidak keberatan bukan kita baru merayakan ulang tahun sekarang?"

Haru, Andrea dan neneknya menangis bersama. Setelah itu mereka menyalakan lilin lalu meniupnya bersama-sama. Kebahagiaan yang sangat sederhana, tapi manis maknanya.

"Saat di desa dulu apa orang tua angkatmu pernah menceritakan sesuatu? Tentang asal-usulmu mungkin?"

"Tidak. Seingatku mereka tidak pernah menceritakan apa-apa. Kenapa memangnya, Nek?"

Nenek Erwita menarik nafas dalam-dalam.

"Jika ... jika orang tuamu masih hidup, apa kau bersedia bertemu dengan mereka?"

Deg

Tiba-tiba jantung Andrea berdegup kuat sekali. Dia yang sedang makan, seketika berhenti mengunyah kue ulang tahun lalu beralih menatap wajah neneknya lekat.

"Kenapa Nenek membahas soal ini sekarang? Apa Nenek sudah bosan tinggal denganku?" tanya Andrea dengan suara tercekat. Ada rasa pahit yang tiba-tiba mengalir di tenggorokan. "Walaupun di desa semua orang sangat baik padaku, tapi aku tetap ingin tinggal dengan keluarga sendiri. Ini belum ada dua bulan, dan Nenek seperti sudah tidak menginginkanku lagi. Kenapa, Nek? Aku terlalu nakal ya?"

Sebutir cairan bening lolos dari sudut mata Andrea. Perih, rasanya sungguh tak nyaman di posisi ini. Bertahun-tahun Andrea berusaha keras mengubur keinginan untuk tidak mencari tahu alasan kenapa dirinya dibuang, sekarang neneknya malah mengungkit hal itu. Rasanya sangat pedih, tapi tak berdarah.

"Bukan seperti itu, Andrea. Nenek ... Nenek cuma ....

Belum juga selesai mengucapkan kata, tangis Nenek Erwita sudah lebih dulu pecah. Dadanya sesak teringat kejadian mengerikan di masa lalu yang menimpa anak dan menantunya.

"Hikss, harusnya kau tidak menjalani kehidupan semenyedihkan ini, Andrea. Ayahmu punya kuasa, punya status tinggi yang bisa menjadikanmu seorang putri. Namun, keserakahan seseorang membuat semuanya menjadi gelap. Mereka terpaksa mengasingkanmu demi agar kau tetap bisa hidup di dunia. Dan sekarang ... sekarang mereka entah ada di mana. Andai pun meninggal, harusnya ada makam yang terlihat. Tapi ini tidak ada. Ayah dan ibumu seperti hilang di telan bumi. Nenek sudah menyerah mencari keberadaan mereka," ucap Nenek Erwita tersedu-sedu menceritakan masa lalu keluarga putrinya. Dengan tangan gemetaran, dia meraih pundak Andrea lalu mengelusnya lembut. "Tolong jangan pernah benci mereka ya. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk melindungimu."

(Jadi ini alasan kenapa aku dibuang? Tapi kenapa tidak ada satupun orang yang memberitahukan hal ini padaku? Apa mungkin mereka juga diam-diam melindungiku? Lalu siapa orang jahatnya? Kenapa Ayah dan Ibu bisa ketakutan begini?)

"Dari keluarga mana Ayah berasal, Nek?" tanya Andrea setelah berjuang menguatkan diri untuk kembali bicara. Matanya memerah disebabkan air mata dan juga amarah.

"Lupakan. Sampai kapan pun Nenek tidak akan pernah membiarkanmu berurusan dengan mereka!" jawab Nenek Erwita gelisah.

"Tapi kenapa?"

"Karena mereka tidak pantas untuk tahu tentang dirimu."

"Nek, aku ....

"Sudah malam, lebih baik kita istirahat. Percakapannya dilanjut besok pagi saja."

Hati Andrea mencelos. Dia menatap kepergian sang nenek dengan penuh tanda tanya. Seberbahaya itukah keluarga ayahnya hingga dia tak diijinkan untuk tahu?

"Lucien. Aku harus minta tolong padanya." Segera Andrea membuka ponsel lalu melakukan panggilan video. "Meninggal tanpa makam, bisa jadi itu hanya alibi mereka. Siapa tahu masih ada kemungkinan kalau Ayah dan Ibu sebenarnya masih hidup, tapi tersembunyi di suatu tempat. Ya, aku harus menyelidiki hal ini."

Cukup lama Andrea menunggu panggilan tersambung. Hingga wajah tampan yang masih basah muncul di layar ponsel.

["Rindu aku, eh?"]

"Kirimkan alamat rumahmu ke ponselku. Aku akan ke sana sekarang juga!" ucap Andrea to the point. Terlalu lama jika dibahas lewat ponsel. Lebih baik langsung datang ke rumahnya saja. "Cepat sedikit, bos. Aku sudah tidak tahan."

Di lain tempat, pikiran Lucien sudah melayang ke mana-mana mendengar Andrea berkata kalau dirinya sudah tidak tahan. Niat hati ingin pamer otot tubuhnya, gadis ini malah membuatnya hampir kena serangan jantung. Memaksa minta alamat rumah lalu mengatakan hal yang ... errr, menjurus ke hal-hal intim. Siapa yang tidak panas dingin coba.

"Aku harus bersiap serapi mungkin. Jangan sampai dia kecewa melihat penampilanku yang biasa saja," ujar Lucien seusai menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Dia yang sedang berendam di bathup, buru-buru keluar tanpa pakaian lalu memilih baju. "Terlalu formal jika memakai piyama tidur. Ah pakai kaos dan celana panjang saja."

Sambil bersiul, Lucien berdiri di depan cermin menatap pantulan tubuhnya. Tampan. Tak lupa juga dia menyemprotkan parfum ke sekujur badan. Harus tampil sempurna.

"Perfect."

Dengan tidak sabaran Lucien menunggu kedatangan Andrea. Seperti setrika pakaian, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu mansion. Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit, hingga tiga puluh menit terlewat, yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri. Khawatir tersesat, Lucien memutuskan untuk menyusul saja. Tepat ketika dia hendak masuk ke mobil, security membukakan gerbang. Gadisnya datang.

"Hiksss Lucien, kau harus menolongku."

Apa-apaan ini. Kenapa gadisnya datang dengan kondisi berantakan dan berurai air mata? Secepat kilat Lucien berlari menghampiri Andrea lalu menangkup pipinya yang basah.

"Hei, kenapa menangis? Siapa yang mengganggumu?"

Bukannya menjawab, tangisan Andrea makin menjadi-jadi. Sadar ada yang tak beres, Lucien segera membopongnya dan membawanya masuk ke dalam mansion.

(Aku bersumpah siapapun yang berani membuat Andrea sedih begini, kalian akan berhadapan langsung dengan amarahku. Aku mati-matian membuatnya agar terus tersenyum, orang lain malah membuatnya menangis. K*parat!)

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!