Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Cahaya emas keluar dari ujung jarinya.
Di sisi lain, terdengar suara seperti sesuatu yang terbelah.
Hei Yan menggeram.
Raka berkata pelan.
“Kalau kau ingin datang, datanglah sendiri.”
Celah itu bergetar.
“Tapi ingat satu hal.”
Mata Raka dingin.
“Jangan kirim anjingmu ke Pontianak lagi.”
Retakan hitam pecah.
Bukan menutup biasa.
Pecah.
Seperti kaca yang dihancurkan dari dalam.
Kabut gelap yang tersisa lenyap seketika.
Di bawah Jembatan Kapuas, udara perlahan kembali normal. Suara kendaraan di atas jembatan terdengar lagi. Angin dari sungai bergerak pelan. Air Kapuas kembali mengalir seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun para preman yang berlutut di tanah tahu, sesuatu baru saja dihancurkan di depan mata mereka.
Bukan hanya makhluk.
Tapi juga kesombongan sosok yang mengirimnya.
Raka berbalik.
Para preman langsung menunduk serempak.
Salah satu dari mereka menangis.
“Bang Raka… kami cuma disuruh jaga…”
Raka berjalan mendekati mereka.
“Kalian tahu makhluk itu akan dilepaskan?”
Mereka saling pandang dengan wajah pucat.
Tidak ada yang berani menjawab.
Raka mengangkat tangan.
Salah satu dari mereka langsung bersujud.
“Ampun! Kami tahu ada sesuatu, tapi tidak tahu bentuknya seperti itu! Sumpah, Bang!”
Mata Dewa membaca kebohongan.
Tidak sepenuhnya bohong.
Mereka memang tidak tahu bentuk makhluk itu.
Tapi mereka tahu ada bahaya.
Dan mereka tetap berjaga agar orang biasa tidak mengetahui.
Raka menatap mereka satu per satu.
“Jadi kalian tahu sesuatu berbahaya akan muncul di bawah jembatan, tapi tetap diam.”
Tubuh mereka gemetar.
“Bang, kami takut sama Bang Bram dan keluarga Mahendra…”
Raka menatap pria yang bicara.
“Sekarang takutlah kepadaku.”
Udara menekan turun.
Semua preman tersungkur dengan wajah menyentuh tanah.
Raka tidak berteriak.
Tidak memukul.
Tapi suaranya terdengar seperti keputusan yang tidak bisa ditolak.
“Kalian akan pergi ke Bram.”
Mereka mengangguk panik.
“Sampaikan apa yang kalian lihat.”
“Iya, Bang.”
“Sampaikan bahwa makhluk yang mereka lepaskan sudah mati.”
“Iya, Bang.”
“Sampaikan juga kepada Reza Mahendra…”
Raka berhenti sebentar.
Cahaya emas gelap berdenyut di matanya.
“…bahwa aku akan mendatanginya setelah dia merasa paling aman.”
Salah satu preman menggigil.
“Bang… kami boleh pergi?”
Raka diam beberapa detik.
Mereka menunggu dengan napas tertahan.
Lalu Raka mengangkat satu jari.
Cahaya emas kecil terpecah menjadi beberapa titik dan masuk ke dada mereka.
Mereka menjerit pendek.
Tanda mahkota retak kembali terbentuk di dalam jiwa mereka.
Raka berkata dingin.
“Ini bukan ampunan.”
Mereka gemetar.
“Ini tali.”
Raka menatap mereka seperti menatap alat yang sementara belum perlu dihancurkan.
“Kalau kalian mencoba lari dari Pontianak sebelum menyampaikan pesanku, tubuh kalian akan mengingat rasa sakit makhluk tadi.”
Wajah mereka kehilangan warna.
Raka menurunkan tangan.
“Pergi.”
Mereka langsung bangkit dan lari dengan langkah kacau.
Beberapa kali ada yang jatuh, tetapi mereka langsung bangun lagi. Tidak ada yang berani menoleh.
Setelah mereka hilang dari pandangan, Raka berdiri sendirian di bawah Jembatan Kapuas.
Sungai mengalir di belakangnya.
Kabut tipis mulai menghilang.
Namun di tanah bekas retakan dunia, ada sisa simbol hitam yang belum sepenuhnya padam.
Raka menatapnya.
“Sistem.”
[Aku mendengar.]
“Makhluk tadi hanya tingkat rendah?”
[Benar.]
Raka diam sejenak.
Jika makhluk serendah itu saja bisa membuat manusia biasa hampir mati, lalu bagaimana dengan makhluk yang lebih tinggi?
Bagaimana dengan Hei Yan?
Bagaimana dengan kultivator dari Dunia Immortal?
Bagaimana dengan para dewa yang terbangun karena kebangkitannya?
Raka menatap pantulan cahaya kota di permukaan Sungai Kapuas.
“Kalau mereka semua datang ke Pontianak…”
Sistem menjawab sebelum ia selesai bertanya.
[Maka Pontianak akan menjadi medan perang.]
Raka mengepalkan tangan.
Di dalam dadanya, mahkota retak berdenyut pelan.
“Kalau begitu, aku harus lebih kuat.”
[Kurang tepat.]
Raka mengerutkan kening.
Sistem melanjutkan dengan suara agung.
[Tuan tidak perlu menjadi lebih kuat.]
[Tuan hanya perlu mengingat lebih banyak.]
Raka menutup mata sebentar.
Sekilas, dalam gelap kesadarannya, ia melihat kembali takhta emas.
Dan di depan takhta itu, Pedang Penghakiman Absolut bergetar pelan.
Retakan kecil di bilahnya tampak sedikit lebih jelas dari sebelumnya.
Sistem berkata.
[Pedang merespons penghakiman pertama terhadap makhluk asing.]
[Namun segelnya masih terlalu dalam.]
Raka membuka mata.
“Kapan aku bisa memanggilnya?”
[Ketika kehendak Tuan cukup tajam untuk membangunkannya.]
[Atau ketika musuh yang layak menerima bilahnya muncul.]
Raka menatap langit malam.
Awan bergerak pelan di atas Pontianak.
Tidak ada retakan.
Tidak ada cahaya emas.
Tapi ia tahu, di balik langit itu, sesuatu sedang menatapnya.
Dan jauh di tempat lain, di sebuah ruangan gelap yang dipenuhi simbol hitam, Hei Yan mundur satu langkah.
Wajahnya pucat.
Di telapak tangannya, muncul luka tipis bercahaya emas.
Luka itu tidak besar.
Tapi tidak bisa sembuh.
Hei Yan menatap luka itu dengan mata menyipit.
“Cap takhta…”
Bram yang berdiri tidak jauh darinya melihat luka itu dan merasa napasnya tertahan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Hei Yan terluka.
Reza Mahendra yang berada di ruangan itu juga membeku.
Surya Mahendra menatap luka itu dengan wajah serius.
Hei Yan perlahan tersenyum.
Namun senyum itu tidak lagi santai.
Ada kemarahan di baliknya.
Ada kewaspadaan.
Dan ada rasa penasaran yang lebih gelap.
“Raka Pratama,” gumamnya pelan. “Kau benar-benar bukan wadah biasa.”
Reza mengepalkan tangan.
“Makhluk itu gagal?”
Hei Yan menoleh pelan.
“Mati.”
Reza terdiam.
Bram merasa kakinya melemas.
Surya menghela napas kecil.
“Jadi sekarang?”
Hei Yan menatap luka di tangannya.
“Sekarang kita berhenti mengirim umpan kecil.”
Ia mengangkat wajah.
Matanya gelap seperti lubang tanpa dasar.
“Kita tunggu tamu dari Dunia Immortal turun.”
Surya menyipitkan mata.
“Tamu?”
Hei Yan tersenyum dingin.
“Seorang kultivator muda yang sombong. Cukup kuat untuk membuat kekacauan. Cukup bodoh untuk meremehkan Raka.”
Bram menelan ludah.
“Siapa namanya?”
Hei Yan memandang ke arah Jembatan Kapuas dari kejauhan.
“Luo Cheng.”
Pada saat yang sama, jauh di atas lapisan dunia yang tidak terlihat manusia, sebuah gerbang kecil terbuka.
Dari balik gerbang itu, seorang pemuda berjubah putih melangkah keluar dengan pedang spiritual di punggungnya.
Ia menatap dunia manusia di bawahnya dengan senyum meremehkan.
“Jadi ini Pontianak?”
Luo Cheng mengangkat dagu.
“Dunia fana memang terlihat kotor.”
Pedang di punggungnya bergetar pelan.
Ia tidak tahu bahwa di bawah kota yang ia remehkan, seseorang baru saja menghancurkan makhluk asing tingkat rendah tanpa mengangkat senjata.
Ia juga tidak tahu bahwa nama Raka Pratama sedang menunggunya seperti badai yang belum turun.
Di bawah Jembatan Kapuas, Raka berbalik meninggalkan tempat itu.
Sistem berbisik dalam jiwanya.
[Makhluk asing pertama telah dihancurkan.]
[Jejak Dunia Immortal semakin dekat.]
Raka berjalan di bawah cahaya lampu jembatan yang redup.
“Biarkan mereka datang.”
Suaranya tenang.
Tapi dingin.
“Pontianak akan mengajari mereka cara berlutut.”