Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Annisa dalam penanganan
Setelah memberikan perintah itu, Chensi tidak lagi menoleh ke belakang. Ia segera melompat kembali ke dalam mobil, duduk di samping Annisa, memeluk tubuhnya erat‑erat sambil terus membisikkan kata‑kata penenang, berdoa dalam hatinya agar Annisa dan anaknya bisa selamat melewati bahaya ini.
Mobil melaju secepat kilat menerobos jalanan, lampu sorot dan sirene darurat menyala terus menerus agar bisa melintasi setiap persimpangan tanpa hambatan. Di dalam mobil, Chensi memeluk erat tubuh Annisa yang terasa semakin lemah. Darah segar terus merembes keluar, membasahi kain gamisnya dan mengalir ke lantai mobil. Wajah Annisa terlihat sangat pucat, matanya mulai terpejam perlahan, napasnya terengah‑engah seolah terputus‑putus.
“Tetaplah sadar, Annisa! Jangan tidur dulu, dengar suaraku!” seru Chensi dengan suara bergetar, ia mengusap lembut pipi gadis itu dan menekan bagian dahinya yang luka dengan sapu tangan bersih yang sudah ia basahi. “Kamu dan anak kita harus bertahan, aku mohon… aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada kalian.”
Annisa berusaha membuka matanya sedikit, bibirnya bergerak pelan mengeluarkan suara yang hampir tak terdengar. “Tuan… maafkan saya…”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini salahku, aku yang terlalu lengah, aku yang tidak cukup menjagamu,” potong Chensi cepat, matanya berkaca‑kaca menahan rasa takut yang luar biasa. “Kuatlah sedikit lagi, rumah sakit sudah dekat. Kita akan sampai sebentar lagi.”
Begitu mobil berhenti di depan pintu darurat rumah sakit, tim medis yang sudah diperintahkan menunggu segera mendorong brankar keluar. Annisa segera dibawa masuk ke ruang tindakan, sementara Chensi hanya bisa berdiri di depan pintu, tangannya mengepal erat, napasnya terasa sesak seolah ada beban berat menekan dadanya.
Li Wei berdiri di sampingnya, mencoba menenangkan meski hatinya juga gelisah. “Tuan, dokter terbaik sudah dipanggil. Mereka akan berusaha sekuat tenaga.”
Beberapa jam terasa seperti berhari‑hari. Chensi mondar‑mandir di lorong, sesekali menepuk kepalanya dengan tangan gemetar, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Rasa marah pada Ailin, Ayah dan Ibu tirinya masih membara, namun rasa takut kehilangan Annisa dan anaknya jauh lebih besar.
Akhirnya pintu ruang tindakan terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah namun terlihat tenang. Chensi segera menghampiri dengan langkah cepat.
“Bagaimana keadaan mereka, Dokter? Apakah keduanya selamat?” tanyanya tergesa‑gesa.
Dokter menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada hati‑hati.“Kondisinya sangat kritis saat dibawa masuk. Dia mengalami pendarahan hebat akibat benturan keras dan tekanan pada perutnya. Kepalanya juga terbentur cukup kuat. Kami sudah menghentikan pendarahan, membersihkan luka, dan memberikan obat penguat kandungan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Saat ini nyawa ibu sudah aman, tapi kondisinya masih sangat lemah dan harus dirawat intensif. Untuk janinnya… usia kandungan lima bulan, posisinya sempat terancam, namun detak jantungnya masih terasa meski lemah. Kita harus memantau dengan sangat ketat selama beberapa hari ke depan. Jika dia bisa melewati masa kritis ini, ada harapan untuk bertahan.”
Mendengar penjelasan itu, Chensi tertegun sejenak, lalu menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Rasa syukur yang bercampur kekhawatiran memenuhi hatinya. “Terima kasih, Dokter. Lakukan apa saja yang dibutuhkan, biaya bukan masalah. Yang terpenting mereka berdua selamat.”
"Baik, Tuan. Kami akan berusaha semampunya.
"Apakah aku sudah boleh masuk untuk melihatnya?" tanya Chensi tidak sabaran.
"Silahkan, tetapi jangan mengganggu dan berisik."
Setelah mendapatkan izin, Chensi masuk ke ruang rawat khusus. Ia melihat Annisa terbaring lemah, wajahnya masih pucat, dahinya dibalut perban, selang infus terpasang di lengannya. Chensi berjalan pelan, lalu duduk di sisi tempat tidur, lalu menggenggam tangan gadis itu dengan sangat lembut, takut menyakiti tubuhnya yang masih luka.
“Maafkan aku, Annisa… maafkan aku yang membiarkan hal ini terjadi padamu,” bisiknya lirih, air matanya akhirnya jatuh membasahi tangan gadis itu. “Mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu. Aku akan melindungimu dan anak kita dengan nyawaku sendiri.”
Sementara itu, di luar rumah sakit, hukuman yang dijatuhkan Chensi sudah dilaksanakan. Ailin diusir dari kota dan dilarang kembali selamanya, kehilangan semua fasilitas dan kemewahan yang pernah ia nikmati. Ayah Chensi dan Nyonya Lin menerima hukuman yang membuat mereka tidak bisa lagi bergerak bebas dan tidak memiliki akses ke harta serta kekuasaan yang selama ini mereka banggakan. Chensi memutuskan hubungan keluarga secara hukum, memastikan mereka tidak akan pernah lagi bisa mengganggu hidupnya, Annisa, dan anak yang akan lahir.