Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kembalinya Sang Raja Iblis
Lin Tian melangkah keluar dari celah retakan batu gua bawah tanah dengan gerakan yang sangat lincah. Sinar matahari pagi yang hangat langsung menerpa permukaan wajahnya, menggantikan kegelapan pekat yang telah menemaninya sepanjang malam.
Dia menarik napas dalam-dalam untuk merasakan kesegaran udara pegunungan yang terbebas dari aroma pekat energi Yin. Di dalam rongga dadanya, aliran tenaga spiritual tingkat keenam ranah pengumpulan Qi berputar dengan sangat stabil dan padat.
Pedang Berat Hitam yang terikat kuat di punggung lebarnya kini terasa laksana bagian dari anggota tubuh fisiknya sendiri. Bobot masif dari senjata pusaka tersebut tidak lagi memberikan tekanan mekanis pada struktur tulang peraknya yang kokoh.
‘Bocah, kekuatan fisikmu saat ini sudah cukup untuk meremukkan zirah besi dengan tangan kosong,’ suara Yue Chan menggema di dalam benak Lin Tian dengan nada yang dipenuhi oleh kilatan kepuasan spiritual. Wanita iblis seksi itu tampak melirik ke arah luar melalui celah dimensi Mutiara Yin-Yang Primordial.
Lin Tian tersenyum konyol sambil membetulkan letak kerah jubah sutra hitam barunya yang tampak sangat elegan. ‘Yue Chan yang menggoda, semua ini berkat bimbingan malammu yang sangat luar biasa hebat.’
Yue Chan hanya mendengus sinis mendengar ucapan genit yang keluar dari mulut murid bimbingannya yang tidak tahu malu itu. Namun, dia tetap mengagumi tingkat determinasi mental Lin Tian yang mampu menahan siksaan brutal di dalam kolam esensi bumi semalam.
Lin Tian mulai menggerakkan kedua tungkai kakinya untuk melesat membelah kerapatan vegetasi Hutan Binatang Buas dengan kecepatan penuh. Setiap lompatan kakinya mampu menembus jarak hingga belasan meter tanpa menimbulkan suara gesekan daun yang berarti.
Lin Tian sengaja memilih jalur memutar demi menghindari sisa-sisa pos penjagaan dari pasukan klan rival. Dia tahu betul bahwa membuang-buang tenaga untuk meladeni para pion kecil sebelum turnamen utama adalah sebuah tindakan yang sangat tidak efisien.
Hanya dalam waktu kurang dari dua jam saja, benteng pertahanan batu berwarna merah tua dari Kota Daun Merah telah terlihat di cakrawala. Suasana di sekitar gerbang utama kota tampak jauh lebih ramai dan padat dibandingkan dengan hari-hari biasanya.
Kereta-kereta kuda mewah milik berbagai klan kecil dari wilayah pinggiran tampak mengantre panjang untuk memasuki area pusat kota. Hari ini adalah hari pelaksanaan Turnamen Klan tahunan, sebuah ajang pembagian sumber daya wilayah yang sangat krusial bagi seluruh praktisi bela diri.
Lin Tian menurunkan ritme kecepatannya lalu berjalan dengan santai membaur di antara kerumunan para pedagang dan pengembara fana. Dia menarik tudung jubah hitamnya sedikit ke bawah untuk menutupi sebagian dari kontur wajah tampannya yang kini memancarkan aura ketegasan alami.
Di sepanjang jalan setapak, telinga tajam milik Lin Tian berulang-ulang menangkap pembicaraan hangat mengenai konflik internal keluarganya sendiri. Para penduduk kota tampak sangat bersemangat mendiskusikan kabar tentang pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh jenius Sekte Awan Putih tempo hari.
“Kudengar mantan jenius dari Klan Lin itu melarikan diri ke dalam hutan karena tidak tahan menahan rasa malu yang sangat luar biasa,” ucap seorang lelaki bertubuh tambun sambil menenggak arak murahnya di kedai pinggir jalan.
Temannya yang mengenakan baju kain abu-abu langsung mengangguk setuju dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rona penghinaan. “Tentu saja dia harus lari, memprovokasi seorang tetua dari sekte besar sama saja dengan menaruh satu kaki di dalam lubang kubur.”
Lin Tian yang berjalan melewati kedai tersebut hanya menampilkan senyuman tipis yang dipenuhi oleh kelicikan taktis yang sangat dingin. ‘Tertawalah sesuka hati kalian para manusia fana, karena sebentar lagi panggung komedi yang sesungguhnya akan segera dimulai di arena utama.’
Dia mempercepat langkah kakinya menuju ke arah kompleks kediaman utama Klan Lin yang terletak di bagian utara kota. Sesampainya di depan gerbang utama klan, dia bisa melihat dekorasi kain sutra merah yang sangat megah telah terpasang di setiap sudut dinding batu.
Para penjaga gerbang yang mengenakan zirah ringan tampak sangat sibuk memeriksa tanda pengenal dari para tamu kehormatan yang terus berdatangan. Lin Tian tidak memilih untuk melewati gerbang depan melainkan langsung melompati dinding belakang area halaman dalam yang jauh lebih sepi.
Dia bergerak laksana bayangan hantu melewati koridor-koridor kayu hingga akhirnya tiba di tepi area lapangan pelatihan utama klan. Lapangan yang biasanya digunakan untuk latihan harian kini telah disulap menjadi sebuah arena beladiri raksasa yang dilapisi oleh batuan granit tebal.
Ratusan murid muda dari berbagai cabang keluarga Klan Lin telah berkumpul di sekitar tribun penonton dengan wajah dipenuhi rasa cemas. Di bagian tribun kehormatan yang paling tinggi, para tetua klan tampak duduk berjejer sesuai dengan tingkatan otoritas politik mereka masing-masing.
Tetua Pertama, Lin Kuang, duduk di kursi tengah dengan posisi tubuh yang sangat tegak dan memancarkan aura keangkuhan yang sangat pekat. Di atas meja kayunya, terdapat sebuah gulungan perkamen emas yang berisi daftar resmi dari para peserta turnamen klan hari ini.
Lin Kuang melirik ke arah kursi utama Patriark yang saat ini masih tampak kosong tanpa ada tanda-tanda kehadiran dari kakek Lin Tian. Sebuah senyuman kejam perlahan-lahan terukir di sudut bibir tua pria bangka yang telah lama mengincar posisi pemimpin tertinggi klan tersebut.
“Tetua Ketiga, apakah semua persiapan administrasi untuk pencoretan nama-nama murid yang tidak berguna sudah diselesaikan dengan baik?” tanya Lin Kuang dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh para petinggi klan lainnya.
Tetua Ketiga yang merupakan salah satu orang kepercayaan dari faksi Tetua Pertama langsung berdiri sambil membungkukkan tubuhnya dengan penuh kepatuhan. “Melapor kepada Tetua Pertama, seluruh berkas sudah siap dan tinggal menunggu tanda tangan resmi dari Anda untuk disahkan.”
Lin Kuang mengambil sebuah kuas tinta hitam dengan gerakan tangan yang sangat lambat namun dipenuhi oleh penekanan energi spiritual yang kuat. “Bagus sekali, klan kita tidak membutuhkan seorang sampah tidak berguna yang hanya bisa membawa bencana dan memalukan nama baik leluhur.”
Matanya yang dingin langsung mengunci baris tulisan yang menuliskan nama Lin Tian di bagian tengah gulungan perkamen emas tersebut. Dia mengalirkan energi spiritual elemen tanahnya ke ujung kuas, bersiap untuk mencoret nama cucu dari Patriark itu dari daftar silsilah keluarga besar klan.
Para murid muda yang berada di sekitar tribun penonton mulai berbisik-bisik dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa puas dan ejekan. Mereka semua mengira bahwa Lin Tian memang telah tewas mengenaskan di dalam hutan atau melarikan diri ke kota lain karena ketakutan yang mendalam.
Tepat pada saat ujung kuas tinta hitam milik Lin Kuang hampir menyentuh permukaan perkamen emas tersebut, sebuah suara langkah kaki terdengar menggema. Langkah kaki itu terdengar sangat konstan dan berat, menciptakan getaran halus yang merambat melewati permukaan lantai batu granit arena.
“Tetua Pertama, tangan tuamu itu tampaknya sudah mulai gemetar hebat hingga tidak bisa lagi membedakan antara sampah dan emas murni,” sebuah suara pemuda yang sangat tenang namun dipenuhi nada sarkasme memecah keheningan lapangan.
Seluruh perhatian dari ratusan sepasang mata yang berada di dalam area lapangan pelatihan seketika beralih sepenuhnya ke arah pintu masuk koridor barat. Sosok pemuda tegap berbaju sutra hitam dengan sebuah Pedang Berat Hitam di punggungnya berjalan masuk dengan gaya yang sangat santai.
Lin Tian berjalan melewati kerumunan murid klan yang langsung terbelalak lebar dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa terkejut yang luar biasa. Tudung jubah hitamnya kini telah dibuka, mengekspos kontur wajah tampannya yang memancarkan seulas senyuman konyol bermuka tebal yang sangat menjengkelkan musuh.
“Lin Tian! Bagaimana mungkin bajingan kecil itu masih berani menampakkan batang hidungnya di tempat suci ini?” teriak salah seorang murid senior dari faksi Tetua Pertama dengan nada suara yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya.
Lin Kuang yang berada di atas tribun kehormatan langsung menghentikan gerakan kuasnya dengan mata yang menyipit tajam menatap sosok keponakannya tersebut. Aura spiritual tingkat ketujuh ranah pengumpulan Qi miliknya langsung meledak keluar untuk memberikan tekanan mental yang sangat berat kepada Lin Tian.
Gelombang tekanan spiritual tak kasat mata itu melesat membelah udara, mengincar titik saraf pusat di kepala pemuda berbaju hitam itu secara instan. Namun, di hadapan kekuatan Fondasi Tubuh Iblis milik Lin Tian, tekanan mental tingkat rendah seperti itu sama sekali tidak memberikan dampak mekanis apa pun.
Lin Tian tetap melangkah maju dengan sangat santai, bahkan sempat mengorek telinga kirinya menggunakan jari kelingking dengan gerakan yang sangat tidak sopan. Tindakan meremehkan yang dipertontonkan secara terbuka itu langsung membuat wajah tua Lin Kuang berubah menjadi merah keunguan karena menahan amarah yang luar biasa.
“Lancang sekali! Lin Tian, kamu telah meninggalkan klan tanpa izin selama beberapa hari berturut-turut dan mengabaikan panggilan resmi dari dewan tetua!” bentak Lin Kuang dengan suara guntur yang membuat beberapa murid tingkat rendah di sekitarnya terpaksa menutup telinga mereka.
Lin Tian menghentikan langkah kakinya tepat di tepi garis pembatas arena utama lalu mendongak menatap lurus ke arah wajah tua sang Tetua Pertama. “Paman tua yang terhormat, aku pergi ke hutan hanya untuk mencari sedikit udara segar demi membersihkan sisa-sisa asap kentut dari tetua Sekte Awan Putih tempo hari.”
Mendengar bumbu komedi yang keluar dari mulut Lin Tian, beberapa murid dari cabang keluarga luar tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara tawa kecil. Sifat konyol dari pemuda itu benar-benar sangat sukses dalam menghancurkan atmosfer ketegangan yang sengaja dibangun oleh faksi pimpinan klan.
Lin Kuang memukul meja kayunya hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu kecil-kecil akibat luapan amarah spiritualnya yang sudah tidak terbendung lagi. “Tutup mulut lancangmu itu! Hari ini dewan tetua telah memutuskan secara resmi untuk mencoret namamu dari daftar kompetisi turnamen klan ini!”
Lin Tian hanya menaikkan kedua alis matanya dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat tampak sangat terkejut sekaligus polos laksana seorang anak kecil tanpa dosa. “Oh? Mencoret namaku? Atas dasar aturan hukum klan yang mana paman tua bisa melakukan tindakan sepihak yang sangat sewenang-wenang seperti itu?”
Tetua Ketiga langsung maju ke depan tribun sambil menunjuk wajah Lin Tian menggunakan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi kemarahan. “Atas dasar bahwa kamu adalah seorang sampah cacat yang tidak memiliki kultivasi apa pun untuk bisa mewakili nama baik klan di atas arena bela diri ini!”
Lin Tian terkekeh geli mendengarkan pernyataan yang sangat subjektif dan tidak berdasar dari orang kepercayaan paman tuanya tersebut. Dia tahu bahwa ini adalah momen psikologis yang paling tepat untuk menunjukkan sedikit taringnya.
Dia perlahan-lahan melepaskan ikatan tali kulit Pedang Berat Hitam dari punggung lebarnya lalu menghantamkan ujung senjata besar itu ke atas permukaan lantai batu. Benturan keras antara ujung pedang besi hitam dengan batuan granit arena menciptakan suara dentuman masif yang menggetarkan seluruh struktur tribun penonton.
Retakan-retakan kecil laksana sarang laba-laba langsung terbentuk di sekitar titik tumpuan pedang besar itu, menandakan bobot senjata tersebut benar-benar berada di luar ukuran normal. Bersamaan dengan hantaman pedang itu, Lin Tian sengaja melepaskan sedikit fluktuasi energi spiritual tingkat keenam ranah pengumpulan Qi dari dalam dantiannya.
Gelombang energi murni berwarna hitam kemerahan yang sangat pekat mengalir keluar laksana ombak lautan, menyapu seluruh area lapangan pelatihan dalam hitungan detik. Hawa dingin bercampur aroma pembantaian yang sangat pekat dari sisa esensi darah serigala langsung membuat suhu udara di sekitar arena menurun drastis.
Ratusan murid klan yang berada di sekitar tribun seketika terbungkam sepenuhnya dengan raut wajah yang berubah menjadi pucat pasi laksana mayat hidup. Mereka semua bisa merasakan tekanan spiritual yang dilepaskan oleh Lin Tian saat ini jauh lebih kuat dan padat daripada kultivasi milik para murid jenius klan lainnya.
Lin Kuang dan Tetua Ketiga langsung berdiri dari kursi mereka dengan sepasang mata yang hampir melompat keluar dari rongganya karena rasa terkejut yang teramat sangat. “Kultivasi tingkat keenam ranah pengumpulan Qi! Bagaimana mungkin seorang sampah yang meridiannya telah hancur total bisa mencapai tingkatan ini dalam waktu singkat?”
Lin Tian mengambil kembali gagang Pedang Berat Hitamnya dengan satu tangan lalu menyandarkan senjata besar tersebut di atas bahu kanannya yang kekar. “Paman tua, tampaknya fungsi indra penglihatan matamu itu memang sudah benar-benar rusak total akibat faktor usia tua yang terlalu banyak memakan uang klan.”
Dia kemudian melangkah menaiki tangga batu arena utama dengan gerakan yang sangat anggun namun memancarkan aura dominasi seorang raja iblis yang baru bangkit dari kegelapan. “Sekarang, silakan umumkan nama lawan pertamaku di atas panggung arena ini sebelum aku memutuskan untuk mencoret seluruh nama murid dari faksimu itu sendiri.”
Sifat kejam dan sadis pada musuh mulai terpancar samar-samar dari balik binar sepasang mata hitam milik Lin Tian yang kini mengunci posisi berdiri para sepupunya. Dia tahu bahwa turnamen hari ini adalah awal dari pertumpahan darah yang sesungguhnya, dan dia sama sekali tidak berniat untuk memberikan sedikit pun belas kasihan bagi mereka yang pernah menginjak harga dirinya.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍