NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

​Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di teras rumah pribadi Ibra dan Bita. Rintik gerimis Jakarta yang dingin terasa kontras dengan atmosfer panas yang mendadak menyergap.

​Ibra langsung mengambil satu langkah mundur yang lebar. Dengan gerakan yang sangat tegas namun tenang, ia menepis halus kedua tangan Safira dari lengan kemejanya. Wajahnya mengeras, kembali memancarkan wibawa dingin seorang Gus yang tidak bisa tersentuh oleh sembarang orang.

​"Ustazah Safira, tolong jaga batasan Anda," suara bariton Ibra terdengar begitu rendah dan sedingin es, bergema di keheningan malam. "Tenangkan diri Anda dan jelaskan dengan sopan. Ada apa?"

​Safira tercekat. Sentuhan yang ditolak mentah-mentah itu membuat tangisnya tertahan sejenak. Ia memandangi tangannya yang menggantung kosong di udara dengan tatapan tidak percaya.

​Sebelum Safira sempat bersuara lagi, langkah kaki yang konstan terdengar dari arah dalam rumah. Bita melangkah keluar dari balik bayangan ruang tengah. Jilbab instan hitamnya membingkai wajahnya yang kini tampak datar, namun sorot matanya tajam menusuk langsung ke arah kakak kandungnya.

​"Mbak Safira," panggil Bita, suaranya tenang namun sarat akan ketegasan yang belum pernah Safira dengar sebelumnya. "Malam-malam begini, bawa tas besar, nangis-nangis di depan rumah orang. Ada masalah apa?"

​Safira menoleh dengan cepat, matanya membelalak melihat keberadaan Bita. "B-Bita... kamu di sini?"

​"Tentu saja aku di sini, Mbak. Ini rumah aku. Rumah suamiku," sahut Bita menekankan kata 'suamiku' dengan volume yang jelas. Ia melangkah berdiri tepat di samping Ibra, melipat kedua tangannya di dada. "Pertanyaan aku belum dijawab, Mbak. Bagaimana bisa Mbak Safira tahu alamat rumah pribadi kami? Seingat aku, Papa dan Mama pun gak kami kasih tahu alamat lengkapnya demi privasi."

​Wajah Safira seketika memucat di bawah temaram lampu teras. Ia menggeser pandangannya gelisah sebelum akhirnya meremas tali tas besarnya dengan erat.

​"Mbak... Mbak gak sengaja denger Umi sama Abi waktu Mbak mengantar silabus kemarin, Dek," aku Safira dengan suara bergetar, mencoba mencari pembenaran. " Tolong Mbak, Bita... Gus Ibra... Mbak bener-bener gak tahu harus ke mana lagi sekarang. Di pondok putri... ada kekacauan besar."

​Ibra tidak langsung percaya. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya, dan langsung mendial sebuah nomor. "Saya akan konfirmasi langsung ke Bang Yusuf."

​"Jangan, Gus! Tolong jangan telepon siapa-siapa dulu!" cegah Safira panik, bahkan sampai mencoba maju lagi namun tertahan oleh tatapan peringatan dari Ibra. "Masalah ini... ini masalah pribadi Mbak, tapi dampaknya sampai ke gerbang pesantren Al-Madani."

​Bita mengembuskan napas panjang, menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik. "Kekacauan apa, Mbak? Tolong langsung intinya. Jangan berbelit-belit."

​Sambil terisak, Safira akhirnya mulai bercerita. Sisi anggun dan sempurna yang selama ini ia agungkan perlahan runtuh, menyisakan sosok perempuan yang sedang ketakutan setengah mati.

​Kedatangan Pria yang entah dari mana dan ada hubungan apa dengan Safira ternyata berhasil melacak keberadaan Safira di Al-Madani.

​"Mbak takut banget, Bita... Lelaki itu nekat banget. Dia bawa nama-nama media juga, mengancam mau viralkan Mbak dan bawa-bawa nama Al-Madani kalau Mbak gak mau menemui dia," tangis Safira pecah lagi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Mbak gak mau reputasi Mbak hancur di depan Abi dan Umi. Cuma Gus Ibra yang Mbak rasa punya kekuatan buat bungkam orang itu..."

​Mendengar penjelasan itu, Bita bukannya iba, melainkan merasakan gelombang kemarahan yang luar biasa. Ia menatap kakaknya dengan tatapan getir.

​"Jadi... karena Mbak takut reputasi Mbak sebagai 'ustazah sempurna' hancur di depan Abi dan Umi, Mbak memilih kabur? Mbak tinggalin para santriwati yang ketakutan di dalam pondok?" cecar Bita, suaranya naik satu oktav karena tidak habis pikir.

​"Bita, Mbak panikbbanget—"

​"Dan yang lebih parah," potong Bita tajam, melangkah satu langkah mendekati Safira. "Mbak membawa masalah masa lalu Mbak yang berantakan itu langsung ke depan pintu rumah privasi kami? Mbak berharap Mas Ibra maju jadi pahlawan Mbak, gitu?!"

​Safira terdiam, menatap adiknya dengan tataran yang campur aduk antara malu dan tersinggung.

​Pada saat yang sama, ponsel di tangan Ibra bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Bang Yusuf. Ibra segera mengangkatnya dan mengaktifkan mode speaker agar Bita juga bisa mendengar.

​"Assalamualaikum, Bang. Saya sudah dengar ada keributan di gerbang pondok putri," buka Ibra langsung tanpa basa-basi.

​"Waalaikumussalam, Bra! Waduh, ini benar-benar kacau di depan!" suara Bang Yusuf terdengar sangat gusar di seberang telepon, diiringi sayup-sayup suara gaduh di latar belakang. "Ada laki-laki bikin keributan bawa-bawa nama Ustazah Safira. Tapi yang bikin pusing, Ustazah Safira-nya malah hilang dari kamarnya! Kami cari ke mana-mana gak ada. Abi dan Umi sampai turun tangan langsung ke lokasi sekarang!"

​Ibra melirik Safira yang langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu mendengarkan suara Bang Yusuf.

​"Ustazah Safira ada di rumah saya sekarang, Bang," ujar Ibra lempeng.

​"Hah?! Kok bisa di situ?!" Bang Yusuf terdengar sangat terkejut luar biasa. "Waduh... kok malah lari ke rumah pribadimu? Malah jadi makin runyam urusannya kalau media atau orang itu tahu!"

​"Saya tahu. Makanya, Bang Yusuf tolong sampaikan ke Abi dan pihak keamanan untuk amankan pria itu," perintah Ibra dengan nada komando yang tidak terbantahkan. "Dan untuk malam ini... biarkan Ustazah Safira tinggal di penginapan tamu luar pondok. Saya akan mengantarnya ke sana sekarang."

​Klik.

​Ibra mematikan sambungan telepon bahkan sebelum Bang Yusuf sempat membalas. Pria itu kemudian menatap Safira dengan sorot mata yang mutlak tanpa kompromi.

​"Ustazah Safira, ambil tas Anda. Saya dan istri saya akan mengantar Anda ke penginapan resmi yayasan di luar kompleks pondok sekarang juga," tutur Ibra dengan nada bariton yang tegas.

​Safira mendongak, matanya yang sembap menatap Ibra dengan tatapan memohon yang amat sangat. "Tapi Gus... di sana tidak aman. Kalau orang itu tahu saya di sana gimana? Boleh gak... malam ini saja, saya menginap di sini? Di kamar tamu juga gak apa-apa, Gus. Tolong... demi keselamatan saya."

​Mendengar permintaan itu, ego Bita yang sudah lama terpendam langsung mengambil alih sepenuhnya. Ia maju, berdiri tepat di depan suaminya, memotong pandangan Safira ke arah Ibra.

​"Nggak boleh, Mbak," jawab Bita dingin, lugas, dan telak.

​Safira tertegun, menatap adiknya dengan tidak percaya. "Bita! Mbak ini kakak kandung kamu! Kamu tega lihat Mbak dalam bahaya?!"

​"Mbak Safira, dengar aku baik-baik," kata Bita, menatap lurus ke dalam mata kakaknya tanpa ada lagi rasa insekuritas yang tersisa. "Aku peduli sama keselamatan Mbak sebagai kakakku. Makanya Mas Ibra mau mengantar Mbak ke penginapan yayasan yang keamanannya dijaga satpam 24 jam. Tapi kalau Mbak minta tidur di dalam rumah ini? Jawabannya adalah tidak."

​Bita menarik napas dalam-dalam, menegaskan posisinya sebagai nyonya rumah yang sah.

​"Rumah ini adalah tempat pribadi kami. Tempat di mana aku dan suamiku berhak atas privasi penuh tanpa gangguan dari siapa pun—termasuk dari keluarga kita sendiri. Mbak sudah melanggar batas dengan mencari tahu alamat ini diam-diam, dan aku tidak akan membiarkan Mbak melangkah masuk lebih jauh untuk mengacaukan ketenangan rumah tangga kami."

​Safira meremas tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melihat Bita—adik kecilnya yang selalu dianggap remeh—bisa berdiri seberani dan seberwibawa ini di depannya.

​Safira melirik ke arah Ibra, berharap pria itu akan menegur sikap Bita. Namun, harapannya pupus total saat melihat Ibra justru melingkarkan lengannya di pinggang Bita, menarik tubuh istrinya merapat ke sisinya dengan tatapan yang sepenuhnya mendukung setiap kata yang keluar dari bibir Bita.

​"Apa yang dikatakan istri saya adalah keputusan mutlak, Ustazah Safira," tambah Ibra dengan suara dinginnya yang mematikan. "Ambil tas Anda. Kita berangkat sekarang sebelum malam semakin larut."

​Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berantakan di lantai teras, Safira akhirnya membungkuk perlahan untuk mengambil tas pakaian besarnya. Ia membalikkan badannya dengan langkah lunglai menuju mobil, menyadari bahwa pesona 'ustazah sempurna' yang ia miliki sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun di hadapan benteng kokoh pernikahan adiknya.

1
Siska Fatmawati
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 thor💪 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐮𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞 𝐲
keynara
double update thor🙏
Della Nuri delima
thorrr jangan lama' up nya
Della Nuri delima
pasti lama nih up nyaaa
Anita Rahayu
ayo cepat biar safirot tau arti tidak dipedulikan😈😈😈😈😈😈
😈😤😡😡😡
sutiasih kasih
lanjut up banyak2 thor
sutiasih kasih
kok ak lbh setuju.... bita tak ada lgi hubungan keluarga dgn kedua org tuanya yg lucnut & sodara perempuannya yg biadab itu....
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
sutiasih kasih
bolehkah.... bita kelak tak lgi mngenal org tuanya...
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
Dinda Putri
semoga kebohongan safira terbongkar semuanya kasian bita dari dulu terus teraniaya 😞🥲🔥🔥🥲
sutiasih kasih
sering2 up dunk thor....
Anita Rahayu
kapan thor kau buat gila si safirot ini karna udah ketauan busuknya kalau bisa sampai bikin malu ortunya yg dah pasang badan bela dia😤😤😤😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
sutiasih kasih
ujian lucnut dri keluarga sndiri....
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....
Jas Merah
Hisss terllu berdrama..
sutiasih kasih
nungguin upnya thor
merry
takutnya ibra kena jebkn Batman gmn ya,, gk stuju ibra hrs jdi istri ke dua ya
merry
jgn jgn bita tu bukn ank kandung mu bu,, ko bisa bisa ya beda ksh syg bgtuu
merry
mkn tu ank pintar dan shalihah mu bu tar kena batu ya baru kapok dechh,,, msk hncur ngjak ngjak org
merry
tp ibra gk bodoh aku rasa. mah itu jebknn buat Safira yg bodoh kebanggaan mm bpky yg mengira bkln jdi istri muda ya ibra,,
merry
viralkan biar hncur tu kakak bgtu mah,, iblis sjj mkr mkr x sakitin sesama jin 🤭🤭🤭🤭ini rt ajj mau di embat pdhl dia ud dpt semua nya dr orgtua ya ank terlalu di manja bgtuu tu
merry
gk malu sm bju ya gk malu sm ilmunya gk malu sm adab ya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!