Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Hari Kamis yang mendebarkan akhirnya tiba. Di dalam Aula Pertemuan Markas Kodam III/Siliwangi, suasana terasa begitu formal dan sakral. Pagi ini, sidang korps kelulusan pernikahan militer atau yang biasa disebut sidang pengajuan nikah kantor bagi Kapten Sakti Prawira Kusuma dan Rahma Wulandari resmi dimulai.
Keduanya tampil serasi dan memukau. Sakti terlihat gagah berwibawa dengan Seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan segala atribut kepangkatannya. Sementara di sampingnya, Rahma tampak begitu anggun dan bersahaja mengenakan pakaian muslimah senada berwujud kebaya kurung modern berwarna hijau lumut warna khas Persit (Persatuan Istri Prajurit) dipadukan dengan jilbab yang tertata rapi.
Meskipun terlihat anggun, Rahma tidak bisa membohongi tubuhnya. Duduk di kursi panjang menghadap meja para pejabat sidang, jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai tangannya yang memegang map berkas di pangkuannya bergetar halus. Ini adalah pertama kalinya ia berada di dalam situasi militer yang begitu formal, dikelilingi oleh para perwira senior yang menguji kesiapannya menjadi seorang istri tentara.
Melihat raut pucat dan jemari calon istrinya yang gemetar, Sakti yang duduk tegak di sampingnya langsung tanggap. Di bawah meja, tanpa menarik perhatian para penguji, Sakti perlahan mengulurkan tangan kanannya. Ia menyelimuti jemari dingin Rahma dengan genggaman tangannya yang besar dan hangat.
Sakti meremas pelan jemari Rahma, menyalurkan kekuatan, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya tanpa mengubah posisi tegapnya.
"Tarik napas dalam-dalam, Rahma. Tatap ke depan, jangan melihat ke bawah," bisik Sakti dengan suaranya yang tenang, mengalun lembut namun penuh penekanan yang menenangkan. "Ada aku di sini. Kamu pasti bisa melewati ini."
Mendengar bisikan penuh keyakinan dan merasakan kehangatan dari genggaman tangan Sakti, Rahma perlahan mengangkat wajahnya. Ia menoleh sekilas ke arah Sakti yang kini melemparkan sebuah anggukan kecil dan tatapan mata yang seolah berkata
'semua akan baik-baik saja'.
Seketika, rasa gugup yang sempat mengunci dadanya Rahma perlahan mencair. Rahma menghembuskan napasnya perlahan melalui mulut, mencoba merilekskan bahunya.
"Iya, Kak. Terima kasih," jawab Rahma sangat pelan, hampir berupa desisan.
Tak lama kemudian, ketua sidang mengetuk palu, menandakan sesi wawancara dan pengujian mental ideologi serta kesiapan bagi kedua calon mempelai dimulai. Berkat kekuatan kecil yang disalurkan Sakti, Rahma kini mampu menegakkan kepalanya dengan tegap. Dengan mantap dan penuh ketulusan, ia siap menjawab setiap pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan, melangkah bersama Sakti menuju gerbang pernikahan yang sesungguhnya.
Ketukan palu ketua sidang menggema di dalam aula, menandai dimulainya pemeriksaan mental ideologi dan kesiapan bagi kedua calon mempelai. Tiga perwira senior yang duduk di meja depan menatap tajam, memeriksa satu per satu berkas yang ada di hadapan mereka dengan raut wajah yang serius.
"Kapten Sakti Prawira Kusuma," puji Letkol Hermawan selaku ketua sidang, suaranya berat dan berwibawa. "Dokumen kedinasan dan hasil tes kesehatan maupun psikologi kalian berdua dinyatakan sangat baik. Namun, sebagai komandan, saya ingin mendengar langsung kesiapan kalian."
Letkol Hermawan mengalihkan pandangannya tajam ke arah Rahma. Genggaman tangan Sakti di bawah meja sempat mengerat sedetik, memberikan suntikan keberanian psikologis bagi gadis itu.
"Nak Rahma Wulandari," panggil Letkol Hermawan. "Menjadi istri seorang prajurit TNI Angkatan Darat tidaklah mudah. Anda akan menjadi anggota Persit. Tugas suami Anda bertaruh nyawa demi bangsa, dan sering kali Anda harus siap ditinggal dalam waktu yang lama. Terlebih, Anda adalah seorang mahasiswi kedokteran yang memiliki kesibukan luar biasa. Bagaimana Anda akan membagi waktu dan mendukung kedinasan Kapten Sakti?"
Rahma menarik napas dalam-dalam, ingatan tentang wejangan ayahnya dan ketulusan hati Sakti selama ini membuatnya mantap. Ia menegakkan punggungnya, menatap langsung mata sang perwira senior tanpa ragu lagi.
"Siap, Bapak," jawab Rahma dengan suara yang terdengar tegas namun tetap santun. "Sejak awal, saya memahami bahwa menikah dengan seorang prajurit berarti saya juga siap mengabdi pada negara. Mengenai perkuliahan saya, profesi dokter adalah tentang kemanusiaan, sama halnya dengan tugas Kak Sakti yang melindungi bangsa. Saya berkomitmen untuk disiplin membagi waktu, menuntaskan studi saya tanpa mengabaikan kewajiban saya sebagai seorang istri yang akan selalu mendoakan dan mendukung penuh setiap langkah tugas suami saya."
Mendengar jawaban yang begitu dewasa dan tertata rapi keluar dari mulut Rahma, Sakti sempat melirik tertegun. Ada rasa bangga yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya. Gadis yang selama ini dikira anak kecil, ternyata memiliki pemikiran yang sangat matang.
Perwira penguji di sebelah kiri, Mayor Sutiyoso, ikut tersenyum tipis. "Jawaban yang sangat bagus dari seorang calon dokter. Lalu untuk Kapten Sakti, bagaimana Anda akan membimbing istri yang usianya jauh lebih muda dan masih berstatus mahasiswi?"
Sakti melepaskan genggaman tangannya dari Rahma, lalu memberikan sikap hormat dari posisi duduknya. "Siap. Sebagai suami, saya akan menjadi pelindung sekaligus pembimbingnya. Saya tidak akan membatasi cita-citanya sebagai dokter, melainkan akan menjadi garda terdepan yang mendukung studinya hingga selesai, sejalan dengan pengabdian saya kepada kedinasan."
Para penguji tampak saling berpandangan dan mengangguk-angguk puas. Proses tanya jawab mengalir lancar selama hampir satu jam, membahas segala aspek kesiapan mental, hukum militer, hingga kehidupan berorganisasi kelak. Rahma yang tadinya sangat ketakutan, kini bisa menjawab semua pertanyaan dengan senyuman tenang.
Tok! Tok! Tok!
Letkol Hermawan akhirnya mengetuk palu sidang sebanyak tiga kali.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen, tes tertulis, wawancara, dan kesiapan mental kedua belah pihak, maka Sidang Pembinaan Perkawinan ini menyatakan bahwa permohonan izin nikah kantor atas nama Kapten Sakti Prawira Kusuma dan Rahma Wulandari secara resmi... DIKABULKAN."
"Alhamdulillah..." bisik Rahma spontan, air mata kelegaan hampir saja menetes di pipinya.
Sakti langsung berdiri tegap dan memberikan hormat pamungkas sebagai tanda terima kasih atas keputusan sidang. Setelah dipersilakan keluar untuk menandatangani berkas administrasi akhir, keduanya melangkah meninggalkan ruangan sidang yang sakral itu.
Begitu pintu aula tertutup di belakang mereka, koridor markas yang sepi menjadi saksi runtuhnya ketegangan Rahma. Gadis itu bersandar ke dinding, memegangi dadanya yang masih berdegup sisa ketegangan tadi.
"Bagaimana? Tidak seseram yang kamu bayangkan, kan?" tanya Sakti lembut, ia berdiri tepat di hadapan Rahma sambil melonggarkan sedikit kerah seragam PDU nya.
Rahma mendongak, menatap mata tajam Sakti yang kini memancarkan binar kehangatan. "Ih, Kak Sakti tidak tahu saja, jantungku rasanya mau copot tadi pas ditanya soal membagi waktu kuliah," adu Rahma jujur dengan nada sengaunya yang khas, membuat aura kedewasaannya saat sidang tadi mendadak sirna dan kembali menjadi Rahma yang menggemaskan.
Sakti terkekeh pelan, sebuah pemandangan langka di Markas Siliwangi jika ada prajurit lain yang melihatnya. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan gemas mengacak pelan puncak jilbab hijau lumut yang dikenakan Rahma.
"Tapi jawabanmu tadi hebat. Aku sempat tidak percaya kalau yang bicara di sampingku tadi itu kamu," puji Sakti jujur, membuat pipi Rahma seketika merona merah, lebih cerah daripada warna kebaya yang dipakainya hari ini.
Bersambung...
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi