Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Di hadapan Xin Lan terhampar jelas gundukan tanah merah yang baru saja ditimbun. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi dupa yang baru dibakar, menciptakan suasana sendu yang menusuk kalbu. Sebuah papan kayu sederhana berdiri tegak, diukir dengan nama "Jenderal Liu yang Terhormat" oleh tangan Xin Lan sendiri. Tulisan itu masih tampak baru, kontras dengan kayu yang sudah mulai lapuk.
Gadis itu bersujud, dahinya menyentuh tanah yang dingin. Ini adalah penghormatan terakhir yang bisa ia berikan kepada keluarganya . Keluarga yang hadir dalam hidupnya secara tiba-tiba, mengisi kekosongan yang selama ini menganga dalam hatinya.
Wajah Xin Lan datar, namun matanya sembab dan merah. Tangannya gemetar saat ia mencoba menopang tubuhnya yang lemas. Ia terduduk di depan makam sederhana itu, pikirannya melayang jauh ke masa lalu, mencoba merangkai kembali kepingan-kepingan memori yang kini terasa begitu berharga.
flashback on...
Xin Lan selalu terbangun ditengah karena mendengar suara teriakan dari kamar Kakek Liu. Ia segera berlari ke kamar Kakek Liu dan melihat lelaki tua itu sedang meracau tidak jelas.
"Jangan ambil dia dariku!" teriak Kakek Liu sambil memeluk bantal erat-erat. "Dia adalah cucuku! Jangan sakiti dia!"
Xin Lan mencoba menenangkan Kakek Liu, namun lelaki tua itu justru semakin histeris. Ia terus berteriak dan meracau, menyebut-nyebut nama seorang gadis kecil.
"Kakek? tenanglah." tanya Xin Lan dengan lembut.
Kakek Liu berhenti meracau dan menatap Xin Lan dengan tatapan kosong.
"Dia adalah cucuku," jawab Kakek Liu lirih. "Mereka mengambilnya dariku. Mereka juga membunuh putriku."
Xin Lan hanya terdiam mendengar Racauan Kakek Liu yang sudah biasa ia dengar semenjak ia tinggal bersamanya.
"Kakek,Ini Xin Lan,Aku cucu mu," kata Xin Lan sambil memeluk Kakek Liu. Begitulah cara Xin Lan menenangkan kakek Liu.
"Kau sungguh cucuku?!," kata Kakek Liu sambil membelai rambut Xin Lan. "Wajahmu sangat mirip dengannya,Kau mengingatkanku padanya."
"Iya iya,ini Xin Lan , cucumu,Anak dari putrimu, Sekarang,Xin Lan sudah disini, Beristirahat lah,kakek."Ucap Xinlan.
Ingatan lain muncul.....
Pertarungan Xin Lan dan kakek Liu,Yang membuatnya kalah telak, Terlebih lagi,kakek Liu merebut kalung gioknya.
"Kalung itu," kata Kakek Liu dengan suara gemetar. "Dari mana kau mendapatkannya?"
Xin Lan terkejut dengan pertanyaan Kakek Liu. Ia tidak tahu mengapa Kakek Liu begitu tertarik dengan kalung gioknya.
"Itu sudah ada sejak aku lahir," jawab Xin Lan. "Kenapa kakek begitu tertarik dengan kalung usang itu?."
Kakek Liu mendekati Xin Lan dan memeriksa kalung giok itu dengan seksama. Matanya berkaca-kaca saat ia melihat ukiran naga dan phoenix yang membentuk huruf hanzi Mandarin "Liu" di kalung itu.
"Ini adalah kalung keluarga Liu," kata Kakek Liu dengan suara tercekat. "Hanya anggota keluarga Liu yang memakainya."
Xin Lan terkejut mendengar pengakuan Kakek Liu. Ia tidak mungkin menjadi bagian dari keluarga Liu. Ia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di organisasi Mo Hui dan ia sama sekali tidak tahu asal-usulnya.
"Omong kosong!," kata Xin Lan. "Bagaimana mungkin aku menjadi bagian dari keluarga Liu?"
Kakek Liu menatap kearah Xinlan dengan tatapan penuh selidik.
"Mata itu....,Mata itu mirip sekali dengan mata Mei lan ku." jawab Kakek Liu. "Kenapa? Kenapa kau bisa memiliki mata yang sama dengan putriku?."
Xin Lan memasang ekspresi aneh, Sedangkan yu zhang hanya Bisa terdiam.
Ingatan lain muncul lagi....
Kakek Liu menceritakan tentang kisah pembantaian keluarga Liu di kota Mingyue 18 tahun yang lalu.
ingatan ingatan singkat muncul seolah menutup cerita.
"Kau punya kakak laki laki,Dia seorang ksatria yang hebat, Namanya Feng Xinyu ,Ayahmu Feng Tianming adalah pangeran di wilayah kekaisaran Tiandou,Kakekmu adalah Kaisar Tiandou saat ini,Ibumu bernama Liu Mei lan,Dia gadis secantik dirimu saat Tersenyum, Matamu itu mirip ibumu, Tatapan Tajam bagaikan mata elang.......
Flashback end.
Xin Lan mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ingatan tentang Kakek Liu begitu kuat dan jelas, seolah baru terjadi kemarin. Ia merindukan Kakek Liu, merindukan senyumnya, merindukan cerita gilanya, merindukan semua hal tentangnya.
"Kakek," bisik Xin Lan. "Aku janji akan membalas dendam atas kematianmu. Aku akan menghancurkan organisasi Mo hui yang telah menyakitimu dan keluargamu. Aku akan membuat mereka membayar atas semua kejahatan yang telah mereka lakukan."
Xin Lan berdiri tegak dan menatap makam Kakek Liu dengan tatapan penuh tekad. Ia tidak akan menyerah sampai ia berhasil membalas dendam dan mengembalikan kehormatan keluarga Liu. Ia akan menjadi pahlawan yang selama ini diimpikan oleh Kakek Liu.
Gadis itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan makam sederhana itu di belakangnya. Ia berjalan menuju masa depan yang penuh dengan bahaya dan tantangan, namun ia tidak takut. Ia memiliki tekad yang kuat dan semangat yang membara. Ia adalah Xin Lan, keturunan keluarga Liu, dan ia akan berjuang sampai akhir.
Sepanjang perjalanan,air Mata terus mengalir di pipi Xin Lan, meski ia berusaha keras untuk menahannya. Yu Zhang, yang berdiri tak jauh darinya, merasa canggung. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menenangkan seorang gadis yang sedang berduka. Ia hanya bisa berdiri diam, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi ia juga tidak ingin Xin Lan bertingkah bodoh.
Yu Zhang memberanikan diri mendekat. Ia berjalan perlahan, seolah takut mengganggu kesedihan Xin Lan. Ketika ia sudah cukup dekat, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak Xin Lan dengan lembut.
"Xin Lan," panggil Yu Zhang dengan suara pelan.
Xin Lan berhenti berjalan dan tanpa menoleh ke arah Yu Zhang. Matanya merah dan bengkak karena menangis.
"Aku tahu kau sedang sedih," kata Yu Zhang. "Tapi hey kau tidak sendirian. Aku di sini untukmu."
Xin Lan terdiam dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu aku tidak bisa menggantikan keluargamu," lanjut Yu Zhang. "Tapi, Kau bisa menggunakan kekuatan ku, Aku akan membantumu membalas dendam."
Xin Lan hanya menarik napas dalam-dalam dan menatap langit dengan tatapan penuh tekad. Tiba-tiba, matanya berubah dingin dan tatapannya mengeras. Dengan gerakan cepat, ia merogoh sesuatu dari balik hanfunya.
Sring!
Sebuah belati perak melesat ke arah Yu Zhang, menancap tepat di tanah di depan kakinya. Yu Zhang terkejut dan mundur selangkah. Ia menatap belati itu dengan bingung, lalu menatap Xin Lan dengan tatapan bertanya.
"Bunuh aku," kata Xin Lan dengan suara dingin dan tanpa emosi.
Yu Zhang terkejut mendengar kata-kata Xin Lan. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa yang kau....hah!?" tanya Yu Zhang dengan nada bingung.
"Kau sudah tahu siapa aku kan?," jawab Xin Lan sambil tersenyum getir. "Aku adalah Jenderal Hantu dari Mo Hui. Aku adalah musuh seluruh kekaisaran. Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian banyak orang. Aku tidak pantas untuk hidup, Cepatlah, kepalaku dihargai ribuan Tael emas di kekaisaran Zhilin ."
"Hei! Hei! Te...tenang dulu ,Itu kau yang di masa lalu," kata Yu Zhang. "Kau sudah berubah, Lagipula apa kau tidak ingat tentang kontrak kesepakatan kita? Itu masih berlaku! Meskipun kau bukan Yun Xiao!"
" hahahah, Aku sudah tidak peduli dengan kontrak itu lagipula tidak ada yang bisa mengubah masa lalu," jawab Xin Lan. "Aku akan tetap menjadi Jenderal Hantu Yang paling dibenci."
Xin Lan mendekati Yu Zhang dan mengambil belati dari tanah. Ia menyodorkan belati itu kepada Yu Zhang.
"Bunuh aku yang mulia!," kata Xin Lan lagi. "Kau pernah bilang ingin membawa Dunia ini menuju kedamaian bukan? Maka dari itu bunuh aku karena aku salah satu penyebab dunia ini dikuasai kegelapan!."
Yu Zhang hanya menatap belati itu dengan tatapan ragu. Ia sama sekali tidak berniat membunuh Xin lan. Namun, dengan gerakan cepat, Yu Zhang meraih belati itu dari tangan Xin Lan. Xin Lan sempat terkejut namun ia lantas menatap Yu Zhang dengan tatapan senang, Akhirnya ia bisa pergi dari dunia ini.
"Aku tidak bisa," kata Yu Zhang dengan suara bergetar.
"Apa?"
Yu Zhang menggenggam erat belati itu, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke tanah. Belati itu menancap dalam di tanah, jauh dari jangkauan mereka.
"Aku tidak akan pernah membunuhmu, Xin Lan," kata Yu Zhang dengan nada tegas. " Aku tidak peduli dengan masa lalumu,Aku hanya peduli dengan kesepakatan."
Yu Zhang meraih Xin Lan dan memeluknya erat-erat. Xin Lan terkejut dengan tindakan Yu Zhang, tetapi ia tidak menolak.
"Ingatlah itu ,Xin, Lan!"Bisiknya.
...
Xin Lan duduk di dekat api unggun, sibuk mengoleskan obat herbal ke luka-lukanya. Pertarungan melawan para anggota Mo Hui di desa meninggalkan beberapa luka memar dan goresan di tubuhnya. Ia meringis kesakitan setiap kali jarinya menyentuh luka yang masih basah. Gerakannya kaku, jelas kesulitan menjangkau beberapa bagian di punggungnya.
Yu Zhang, yang sedari tadi memperhatikannya, memecah keheningan. "Xin Lan, sepertinya kau kesulitan. apa kau mau kubantu mengoleskan obatnya?" tawarnya, berusaha menyembunyikan nada gugup dalam suaranya.
Xin Lan terdiam sejenak,Kemudian menatap tajam ke arah yu Zhang.
"A...aku hanya menawarkan bantuan, ka.. karena kau terlihat kesulitan." Yu zhang gemetar.
Xin Lan terlihat menghela napas pasrah. "Baiklah," jawabnya singkat, "tapi, jaga pandanganmu."
Yu Zhang menelan ludah. "Te... Tentu," jawabnya dengan suara sedikit bergetar..
Yu Zhang bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Xin Lan. Ia duduk di belakang gadis itu dan mengambil alih botol obat herbal dari tangannya. Tangannya sedikit gemetar saat membuka tutup botol.
Xin Lan menurunkan pakaiannya dan menutupi tubuh bagian depannya.
Yu Zhang mulai mengoleskan obat herbal ke luka-luka itu dengan hati-hati. Sentuhannya lembut, berusaha tidak menyakiti Xin Lan. Ia fokus pada luka-luka di punggung Xin Lan, menghindari kontak mata langsung.
"Bekas lukanya banyak sekali."Gumam yu zhang dalam pikirannya.
Sentuhan tangan Yu Zhang di kulit Xin Lan membuatnya merinding. Ia mencoba untuk tetap tenang dan menahan rasa sakitnya, sekaligus rasa aneh yang menjalar di tubuhnya.
Yu Zhang terus mengoleskan obat herbal ke luka-luka Xin Lan dengan hati-hati. Ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan perasaannya dan fokus pada tugasnya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan aroma tubuh Xin Lan yang samar-samar tercium.
Di bawah cahaya rembulan dan api unggun, kulit Xin Lan tampak bercahaya dan lembut. Rambutnya yang panjang tergerai indah di punggungnya, menutupi sebagian lukanya. Yu Zhang berusaha keras untuk menjaga pandangannya, seperti yang Xin Lan perintahkan.
"Sssttt..." desis Xin Lan.
"Ah... Ma... Maafkan aku," mendengar Xin lan. berdesis , membuat Yu Zhang semakin berhati-hati saat mengoleskan obatnya.
Mereka berdua duduk di dekat api unggun, menikmati keheningan malam dan kebersamaan mereka. Api unggun menari-nari, menghangatkan suasana dan mengusir kegelapan yang mengintai.
Yu Zhang kembali mengoleskan obat herbal ke punggung Xin Lan dengan hati-hati. Aroma obat yang menenangkan bercampur dengan bau hutan yang segar. Saat tangannya menyentuh kulit Xin Lan, ia merasakan sedikit getaran, berusaha mengabaikannya dan tetap fokus pada tugasnya. Namun, matanya selalu terpaku pada serangkaian bekas luka yang menghiasi punggung Xin Lan.
Luka-luka itu beragam bentuk dan ukuran. Ada yang tampak seperti bekas cambukan, garis-garis tipis yang memudar namun masih jelas terlihat. Setiap luka bercerita tentang rasa sakit, kekerasan, dan masa lalu kelam yang Xin Lan coba sembunyikan.
Yu Zhang tertegun. Ia tahu bahwa Xin Lan adalah seorang pembunuh, seorang mantan Jenderal Hantu dari Mo Hui. Ia tahu bahwa gadis itu telah melakukan banyak hal buruk di masa lalu. Tapi, melihat bekas luka-luka itu secara langsung membuatnya menyadari betapa beratnya beban yang harus ditanggung Xin Lan. Luka-luka itu bukan hanya luka fisik, tapi juga luka batin yang menganga lebar.
"Apa ini...?" Yu Zhang bertanya lirih, hampir berbisik. Ia tidak yakin apakah Xin Lan mendengarnya.
Xin Lan terdiam sejenak. Kemudian, dengan nada dingin dan datar, ia menjawab, "Itu masa lalu."
Yu Zhang mengerutkan kening. "Tapi... bagaimana kau mendapatkannya?"
Xin Lan menghela napas. "Tidak penting," jawabnya singkat. "Fokus saja pada obatnya."
Yu Zhang Hanya diam. Ia tahu bahwa Xin Lan tidak ingin membicarakan masa lalunya.
"Itu adalah hukuman," jawab Xin Lan akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Pamanku ,Feng yan yang memberikan luka ini,Dia akan menghukum ku jika aku gagal saat menjalankan misi." lanjut Xin Lan ditengah keheningan.
Namun, Xin Lan tersenyum tipis."Tapi..., Setidaknya dia merawat ku dengan baik bukan?"
Yu Zhang mengepalkan tangannya. Ia merasa marah dan jijik pada Mo Hui. Ia bersumpah dalam hati bahwa ia akan membalas dendam atas apa yang telah mereka lakukan pada Xin Lan.
"Aku minta maaf," kata Yu Zhang dengan nada tulus. " karena kau harus menceritakan semua ini."
Xin Lan tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Sudahlah, seperti katamu ,kita selesaikan kesepakatan ini, dan pergi menjalani kehidupan masing masing."
"Ya." Gumamnya.
....
lanjut thor