Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran Pertama Reygan
"Terima kasih pujiannya. Ah... Pak Reygan? Atau cukup Reygan saja? Aku kira hubungan kita bisa melangkah lebih dekat dari sekadar formalitas," ujar Gladis singkat dengan senyum tipis yang penuh perhitungan.
Menjaga jarak adalah keahlian utama Gladis. Sebagai wanita yang sadar betul akan daya tariknya, ia tahu persis kapan harus menarik ulur perhatian ketika mendapati lawan bicaranya sudah terpesona setengah mati.
"Reygan... Panggil Reygan saja," jawab Reygan pendek, suaranya terdengar agak kaku karena jantungnya masih berdegup di luar irama normal.
Mama Reygan yang melihat interaksi itu langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia menepuk lengan putranya dengan bangga. "Bagaimana, Rey? Kamu suka, kan, pilihan Mama? Gladis ini anaknya teman lama Mama, Pak Prasetya. Dulu almarhum ayahnya sempat bekerja sama dengan papamu, sebelum kamu menggantikan posisi di kantor pusat ini."
Pandangan elegan sang Mama kemudian beralih ke sudut ruangan, menatap Shella yang sejak tadi berdiri kaku. "Lalu... siapa wanita ini, Rey? Asisten barumu?"
"Saya Shella, Bu. Asisten khusus Pak Reygan," jawab Shella cepat.
Mama Reygan hanya mengangguk sekilas tanpa minat, lalu kembali menatap putranya. "Pastikan kamu mengatur dan mengosongkan semua jadwal hari ini dengan asistenmu ini, paham? Mama ingin kamu mengenal Gladis lebih dekat. Ayo Rey, Gladis, kita keluar. Kita makan siang dan lanjut makan malam di luar hari ini," ajak sang mama.
Shella hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan pemandangan di depannya. Pria dingin yang biasanya bertingkah seperti patung Antartika dan hobi mengomelinya itu, kini tampak seperti kerbau yang dicocok hidungnya—terhipnotis total oleh pesona Gladis.
Reygan melangkah mengekor di belakang Gladis dan mamanya, bahkan tanpa menoleh sedikit pun atau memberikan instruksi lanjutan pada Shella.
"Ya ampun... Dicuekin total. Keluar juga tidak bilang apa-apa," ujar Shella geli dengan pemandangan barusan.
Harus diakui, Gladis adalah definisi dari sosok sempurna itu sendiri secara fisik. Almarhum ayah kandung mereka adalah keturunan campuran Arab-Indonesia yang berwajah luar biasa tampan.
Berbeda dengan Shella yang mewarisi wajah lokal Indonesia ibunya, Gladis beruntung memenangkan lotre genetik dengan mewarisi struktur wajah Timur Tengah sang ayah—mata bulat besar dengan bulu mata lentik yang tajam, hidung mancung sempurna, dan bibir penuh yang sensual.
Namun, di balik topeng visual yang menyilaukan itu, Shella tahu betul tabiat asli kakak kandungnya.
Gladis adalah sosok yang terlalu acuh pada dunia, tamak, dan pemaksa.
Shella ingat betul bagaimana setelah kematian ayah mereka, abang sulung mereka, Vino, yang hobi berfoya-foya, bekerja sama dengan Gladis yang gila pesta. Keduanya mendesak untuk menjual perusahaan keluarga yang sudah dikelola mati-matian oleh ayah mereka selama puluhan tahun demi mendapatkan uang instan.
Bagi Gladis, bekerja keras adalah hal yang tidak berguna. Dia tahu dia punya modal wajah yang siap menaklukkan pria kaya mana pun yang dia inginkan. Dan hari ini, Shella tahu... Reygan Aliansyah tampaknya telah resmi menjadi target "cinta pertama" sekaligus obsesi baru kakaknya.
"Mbak Gladis memang acuh dan matre, tapi setahuku dia tidak suka mempermainkan perasaan pria secara murahan. Semoga saja Pak Reygan tidak berakhir mengenaskan di tangannya," gumamnya.
'Tapi... kenapa dadaku rasanya perih sekali? Sial... kenapa aku harus merasa se-iri ini melihat mereka?' batin Shella meremas dadanya yang mendadak terasa ngilu.
Ingatan Shella mendadak melayang ke masa lima tahun yang lalu. Dulu, ketika ia memilih Bramantyo, ibunya sendiri menentang hubungan mereka habis-habisan karena Bram berasal dari kalangan bawah yang tidak punya apa-apa. Shella nekat memberontak demi cinta, membangun usaha dari nol bersama Bram, namun akhirnya dicoret dari daftar keluarga dan berakhir dikhianati saat Bram memilih berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
Sementara Gladis? Kini dengan mudahnya melangkah masuk ke dalam lingkaran elite Aliansyah Group. Didukung penuh oleh Ibu Reygan, dan langsung membuat seorang CEO papan atas bertekuk lutut dalam hitungan detik.
"Aku yakin, Mama pasti akan merestui kalian berdua dengan sangat mudah. Selamat ya, Pak Reygan... Semoga hubungan kalian langgeng sampai pelaminan," bisiknya.
**
Didalam restoran bergaya Eropa itu, kini hanya tertinggal Gladis dan Reygan, dia tahu, mama nya sengaja memberi ruang untuk mereka berdua.
"Aku benar-benar ngga nyangka, ternyata adik kandungku justru lebih dulu mengenalmu daripada aku, Rey," ujar Gladis membuka obrolan, sambil meletakkan cangkir teh dimeja.
"Aku juga tidak menyangka kalau kalian berdua ternyata adalah saudara kandung."
Gladis menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Reygan dengan sepasang mata bulat khas Timur Tengah-nya yang berbinar jenaka.
"Kenapa? Kamu lihat kan, kami terlihat mirip sekali?"
"Mirip?" Reygan refleks menggelengkan kepalanya. Matanya kembali memindai wajah Gladis yang tanpa cela. "Sama sekali tidak. Kalian berdua justru terlihat berbeda seperti langit dan bumi."
"Oh ya...?" tanya Gladis lagi, nadanya memanjang, terdengar sangat manja.
"Tentu saja," tegas Reygan.
Di dalam lubuk hatinya, Reygan mati-matihan menahan gejolak aneh yang terus menggedor dadanya. Hanya dengan bertukar tatapan dan mendengar intonasi suara Gladis yang lembut berbisik, sang CEO berdarah dingin ini bisa dibuat salah tingkah.
'Ya ampun... bagaimana bisa dua orang yang lahir dari rahim yang sama bisa memiliki perbedaan yang begitu kental? Yang satu keturunan Arab yang luar biasa anggun dan memabukkan, sementara yang satu lagi... ah, sudahlah,' batin Reygan, mendadak membandingkan Gladis dengan asisten barunya yang barbar.
"Rey?" panggil Gladis lembut, melambaikan jemari lentiknya di depan wajah Reygan.
Reygan tersentak dari lamunannya. "Ah, ya... Maaf. Aku... aku hanya ingin tahu sedikit lebih banyak tentang dia."
Mendengar kata 'dia', kilat ketidaksukaan melintas sekejap di mata Gladis, namun dengan cepat ia menutupinya dengan helaan napas dramatis yang terdengar penuh keprihatinan.
"Shella? Ya... dia adalah anggota keluarga kami yang bisa dibilang... dibuang oleh keluarga besar, lebih tepatnya. Maaf, Rey, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan adikku sendiri di depanmu. Tapi, semua itu terjadi karena pilihannya sendiri."
Reygan mengernyitkan dahi, rasa ingin tahunya terusik. "Pilihan?"
"Ya. Dulu setelah Papa meninggal, Shella bersikeras mengambil miliaran uang warisannya untuk membangun sebuah perusahaan dari nol bersama suaminya, Bramantyo. Dia rela menentang keputusan Mama demi pria itu. Tapi setelah perusahaan itu sukses dan menjadi besar... kamu tahu sendiri akhirnya, kan? Dia malah didepak dan ditinggalkan begitu saja. Bulan depan mereka bahkan akan segera menghadapi sidang cerai. Sebagai kakak kandungnya, aku terkadang sangat menyesal. Kenapa adikku yang biasanya jenius itu bisa bertingkah segegabah dan sebodoh itu demi cinta.
Reygan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku... pernah mendengar cerita itu sekilas dari Shella sendiri."
"Lalu menurutmu bagaimana, Rey?" tanya Gladis menuntut pendapat.
"Ya... dia cukup bodoh, mungkin," jawab Reygan jujur. "Tapi, kalau seseorang sudah terlanjur mencintai orang lain secara mendalam, bukankah wajar jika cinta itu akhirnya mengalahkan akal sehat?"
Gladis terkekeh renyah. "Wah... sepertinya kamu sangat berpengalaman dalam urusan 'Cinta' ya, Rey?"
"Tidak," tangkis Reygan cepat, wajahnya mendadak kaku. Pria itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela demi menyembunyikan rasa gugupnya. "Ini... ini adalah kali pertama aku pergi bersama seorang wanita untuk berkencan. Selama tiga puluh tahun hidupku, aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan korporat."
Mendengar pengakuan polos dari seorang miliarder tampan di depannya, mata Gladis seketika berbinar penuh kemenangan. Target empuk ada di depan mata.
"Oh, baguslah kalau begitu," godanya. "Kalau aku adalah wanita pertama yang beruntung berkencan denganmu... apa itu berarti, aku juga bisa menjadi wanita yang terakhir di hidupmu, Reygan?"
GULP.
Reygan menelan salivanya dengan bersusah payah. Jakunnya naik turun. Sial, wanita di depannya ini benar-benar nekat, luar biasa cantik, dan sangat blak-blakan! Seluruh pertahanan mental yang dibangun Reygan selama puluhan tahun rasanya runtuh tak bersisa hanya dalam satu petang.
"Gladis... kamu ini..." ujar Reygan terbata, kehilangan kata-kata.
Gladis tersenyum manis, namun tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat intens dan penuh penekanan. "Aku bukan remaja belasan tahun lagi, Rey. Di usiaku yang sekarang, aku butuh kepastian dan status yang jelas untuk sebuah hubungan. Dan aku harap... ke depannya kamu bisa memastikan hal itu untukku," ucap Gladis, nadanya terdengar lembut namun sarat akan tuntutan mutlak.
Reygan terdiam sejenak. Kata-kata Gladis barusan entah kenapa tidak terdengar seperti sebuah permintaan biasa, melainkan sebuah perintah tak kasat mata yang harus dan wajib dia penuhi. Otak Reygan yang sudah terobsesi total sejak pandangan pertama langsung menyetujui hal itu tanpa syarat. Ya, dia benar-benar menyukai wanita sempurna ini.
"Tentu... tapi beri aku sedikit waktu," jawab Reygan akhirnya, memberikan komitmen pertamanya.
Gladis tertawa kecil, kembali menyandarkan tubuhnya dengan gaya manja yang sangat memikat. "Santai saja, Rey. Aku ingin kamu menikmati proses hubungan ini, bukan malah merasa dikejar-kejar oleh apa yang baru saja kamu temui beberapa jam yang lalu."