Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tak lama kemudian, Dara mengikuti Sherly menuju kamar milik Gavin di lantai atas. Sherly melirik beberapa kantong belanja yang tadi dibawa Dara.
"Skincare dan kosmetik yang kamu beli tadi mana?" tanya Sherly.
Dara buru-buru mengambil sebuah paper bag dari atas tempat tidur. "Ini, Ma. Tapi aku belum bisa memakainya."
Sherly tersenyum kecil. "Bagus. Justru hari ini Mama akan mengajarimu."
Mendengar itu Dara sangat senang karena akan diajari oleh ibu mertuanya. Mereka pun pergi ke kamar sebelah milik Sherly.
Begitu masuk kamar, Sherly menarik sebuah kursi ke depan meja rias. "Duduklah!"
Dara menurut duduk manis di depan meja rias milik Sherly. Ia duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan bertumpu rapi di atas pangkuannya, seperti murid yang siap menerima pelajaran.
Di atas meja, Sherly mengeluarkan satu per satu produk yang baru dibeli Dara, lalu menatanya dengan rapi.
Mata Dara membulat melihat meja rias yang dipenuhi berbagai botol perawatan wajah, kuas, dan kotak kosmetik milik Sherly.
"Banyak sekali kosmetiknya, " gumam Dara.
Sherly memperhatikan wajah menantunya beberapa saat, lalu mengambil sebotol pelembap. "Kalau mau belajar berdandan, jangan langsung memakai make up."
Sherly menuangkan sedikit pelembap ke ujung jarinya, lalu mengoleskannya perlahan ke wajah Dara. "Yang paling penting justru merawat kulit terlebih dahulu."
Dara mengangguk serius. "Iya, Ma."
"Langkah pertama, bersihkan wajah. Setelah itu gunakan pelembap. Jangan lupa sunscreen." Sherly kembali mengambil botol lain.
Dara tampak heran. "Walaupun tinggal di pegunungan?"
"Iya." Sherly tersenyum sabar. "Sinar matahari tetap mengandung sinar ultraviolet yang bisa membuat kulit cepat kusam. Jadi, jangan malas memakai sunscreen."
"Oh, begitu."
Dara kembali mengangguk. Tatapannya tidak pernah lepas dari setiap gerakan tangan Sherly. Sesekali ia mengulang dalam hati semua penjelasan itu agar tidak lupa.
Melihat kesungguhan menantunya, Sherly tersenyum bangga. "Dara memang cepat belajar," batinnya.
Setelah selesai mengoleskan perawatan dasar, Sherly mengambil bedak padat. "Kalau kulit sudah siap, baru kita memakai make up."
Sherly mengusap bedak tipis-tipis ke wajah Dara, lalu merapikan alisnya dengan sapuan ringan. Setelah itu, Sherly memilih lipstik berwarna nude dan mengoleskannya perlahan pada bibir menantunya.
"Kalau untuk sehari-hari, tidak perlu make up yang tebal. Yang sederhana saja sudah cukup," jelas Sherly.
"Kenapa, Ma?"
Sherly tersenyum sambil memandangi wajah Dara. "Karena wajahmu sudah cantik. Make up hanya membantu membuatmu terlihat lebih segar, bukan mengubah siapa dirimu."
Pipi Dara seketika memerah. "Mama bisa saja."
Sherly hanya tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, beliau memutar kursi menghadap cermin. "Nah," ucap Sherly sambil menepuk pelan bahu Dara. "Sekarang lihat dirimu."
Dara perlahan membuka mata. Begitu melihat bayangan dirinya di dalam cermin, ia langsung terpaku. Matanya membesar.
"Ini ...." Dara menyentuh pipinya pelan, seolah memastikan wajah di depannya benar-benar miliknya. "Benaran aku, Ma?"
Sherly terkekeh geli. "Kalau bukan kamu, siapa lagi? Masa tetangga?!"
Dara ikut tertawa malu. Ia kembali menatap pantulan dirinya. Riasan di wajahnya hampir tidak terlihat, tetapi kulitnya tampak lebih cerah dan segar. Alisnya terlihat rapi, sementara bibirnya berwarna merah muda alami. Penampilannya tetap sederhana, tetapi kini memancarkan kesan anggun dan lembut.
"Aku kelihatan berbeda," gumam Dara lirih.
Sherly menggeleng pelan. Beliau berdiri di belakang Dara, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak menantunya.
"Bukan jadi berbeda, ini tetap Dara yang sama. Hanya saja, kecantikan alami yang selama ini tersembunyi sekarang lebih terlihat."
Mata Dara mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Ma. Ini pertama kalinya aku belajar hal-hal seperti ini."
Sherly menggenggam lembut tangan Dara. Lalu, dia berbicara dengan suara tenang, seperti seorang ibu yang sedang menasihati anaknya.
"Dara, seorang perempuan tidak harus selalu memakai make up, tapi merawat diri itu penting. Bukan supaya dipuji orang atau untuk bersaing dengan perempuan lain. Akan tetapi sebagai bentuk rasa syukur dan menghargai diri sendiri."
Dara mengangguk pelan. Kata-kata itu terasa begitu hangat di hatinya.
"Aku mengerti sekarang, Ma. Ternyata merawat diri bukan berarti berlebihan."
Sherly tersenyum bangga. "Betul."
Tak lama kemudian, keduanya turun menuju ruang keluarga. Juragan Darmawan yang sedang duduk santai sambil membaca koran langsung mendongakkan kepala ketika mendengar langkah kaki mereka. Pria itu menurunkan kacamatanya perlahan. Matanya berkedip beberapa kali.
"Dara?" Juragan Darmawan terpana melihat perubahan penampilan pada cucu menantunya.
"Iya, Kek," jawab Dara sambil tersenyum malu.
Juragan Darmawan tertawa lebar. "Ya Tuhan, cucu menantuku berubah jadi cantik seperti artis."
Dara langsung menundukkan kepala. Kedua pipinya memerah menahan malu. "Kakek ada-ada saja."
"Kakek enggak bohong?" Juragan Darmawan terkekeh, lalu menoleh ke arah lorong ketika mendengar langkah kaki seseorang.
"Gavin!" panggil Juragan Darmawan dengan suara lantang.
Pria itu baru saja kembali dari gudang teh, dengan kemeja yang lengan bajunya digulung hingga siku. Baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah, suara kakeknya sudah membuat dia mengalihkan perhatiannya ke arah ruang keluarga.
"Coba lihat istrimu!"
Gavin masuk ke ruang keluarga. Langkah kakinya terhenti ketika tatapannya perlahan beralih ke arah Dara. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dara yang menyadari Gavin terus menatapnya mendadak menjadi gugup. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, ia merapikan ujung jilbabnya, lalu mengusap pelan bagian depan gamis yang dikenakannya.
"Apa ada yang salah? Jangan-jangan riasannya malah aneh?" batin Dara cemas.
Melihat reaksi menantunya, Sherly tersenyum jahil. Ia sengaja melirik putranya yang masih berdiri mematung.
"Nah, Gavin," panggil Sherly sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Bagaimana menurutmu?"
Gavin tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Dara, memperhatikan wajah istrinya yang kini tampak lebih segar dengan riasan tipis dan senyum yang malu-malu.
Dara semakin salah tingkah. Ia memberanikan diri mengangkat wajah. "Aa ...," panggilnya lirih.
Gavin berkedip pelan. "Iya?"
"Ada yang aneh?"
Gavin menggeleng singkat. "Tidak."
Dara mengembuskan napas lega, tetapi rasa penasarannya belum hilang. "Lalu, bagaimana?"
Beberapa detik Gavin tetap diam. Hingga akhirnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Cantik." Hanya satu kata sederhana, namun keluar dengan tulus.
Seketika pipi Dara berubah merah. Ia buru-buru menundukkan kepala karena malu.
Sherly langsung menutup mulutnya, menahan tawa. "Lho, sudah selesai?" godanya. "Komentarnya cuma satu kata?"
Juragan Darmawan yang sejak tadi menyaksikan dari sofa ikut terkekeh. "Cucuku memang paling irit bicara. Kalau disuruh pidato lima menit, mungkin selesai dalam tiga kalimat."
Gavin hanya mengembuskan napas pelan. "Kakek ...."
"Apa?" sahut Juragan Darmawan sambil masih tersenyum.
"Dara memang cantik." Jawaban itu kembali membuat suasana pecah oleh tawa.
"Nah, begitu, kan!" seru Juragan Darmawan. "Kalau memang cantik, bilang saja dari tadi."
Sherly ikut mengangguk sambil menepuk pelan bahu Dara. Dia tersenyum hangat kepada menantunya.
"Sudah, jangan malu. Kalau Gavin sampai bilang cantik, berarti memang cantik. Soalnya dia bukan tipe laki-laki yang mudah memuji."
Dara perlahan mengangkat wajah. Diam-diam ia melirik Gavin yang kini duduk di kursinya sambil menikmati secangkir kopi. Ekspresi pria itu kembali datar seperti biasanya, seolah pujian tadi bukan sesuatu yang istimewa. Namun, ketika pandangan mereka bertemu, Gavin menganggukkan kepala pelan. Gerakan kecil itu seolah mengulang kembali pujiannya.
"Iya, kamu memang cantik."
Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi bibir Dara. Rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan menghilang, berganti kehangatan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.
Sherly memperhatikan keduanya dengan senyum penuh haru.
Rumah besar yang selama bertahun-tahun terasa sunyi kini mulai dipenuhi tawa, candaan, dan kehangatan sederhana. Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan ayahnya, Sherly melihat Gavin membuka sedikit demi sedikit dinding yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya.