NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Skenario lain

Lantai teratas gedung Vareksa Tower selalu punya atmosfer yang berbeda dari lantai-lantai di bawahnya. Dingin, hening, dan terkesan mengintimidasi. Di balik meja mahoni besar yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta, Areksa Vareksa duduk tegak.

Usianya baru dua puluh lima tahun. Di saat anak muda seumurannya mungkin masih sibuk berhura-hura atau berjuang mencari jalan karier, Areksa sudah berdiri di puncak tertinggi. Sebagai CEO termuda dalam sejarah Vareksa Group, kejeniusannya berhasil membawa perusahaan keluarga itu berkembang pesat. Di mata publik dan lawan bisnisnya, Areksa adalah sosok yang tegas, dingin, dan tak pernah ragu mengambil keputusan ekstrem demi keuntungan perusahaan.

Pandangannya tertuju pada laporan keuangan di layar gawai. Wajah tampannya yang berahang tegas sama sekali tak menunjukkan ekspresi. Sejak dipercaya memegang kendali penuh tiga bulan lalu, ia membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk memegang kekuasaan.

Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kayu ek yang tebal memecah keheningan ruangan. Tak banyak orang yang bisa masuk ke ruangan Areksa tanpa membuat janji temu terlebih dahulu melalui sekretarisnya.

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Aruna, kakak perempuan pertama Areksa. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu tampil anggun dengan setelan blazer desainer ternama. Di sampingnya, seorang anak kecil berusia empat tahun berjalan sambil menggandeng tangannya. Itu Elio, keponakan tersayang Areksa.

Sementara itu, Arthur, kakak laki-laki kedua Areksa yang berusia tiga puluh tahun, lebih memilih menata jalan hidupnya sendiri sebagai pengacara internasional bertangan dingin di luar negeri. Arthur merasa dunia bisnis Vareksa yang penuh intrik memang paling cocok berada di tangan adik bungsu mereka.

Aura dingin yang menyelimuti Areksa seketika luntur begitu ia melihat kedatangan Aruna dan Elio. Senyum tipis yang amat jarang terlihat kini terbit di bibirnya. Di luar sana, Areksa boleh saja ditakuti ratusan karyawan dan rekan bisnisnya. Namun di hadapan sang kakak, ia hanyalah adik bungsu yang dulu selalu dilindungi dan dimanjakan.

"Masih saja berkutat dengan angka-angka itu, Dek? Ini sudah lewat jam makan siang," ucap Aruna dengan nada lembut penuh perhatian.

Areksa bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah menghampiri sofa di tengah ruangan.

"Om Echa!"

Elio yang melihat pamannya langsung melepaskan genggaman tangan ibunya. Bocah kecil itu berlari dan menubruk kaki Areksa dengan tawa riang.

Areksa tidak menunjukkan keberatan sedikit pun. Pria yang biasanya disegani itu justru membungkuk dan mengangkat Elio ke dalam pelukannya. Ia bahkan membiarkan tangan mungil Elio mengacak-acak dasi sutranya tanpa protes.

"Elio, jangan nakal sama Om Echa. Nanti dasi Om bisa rusak," tegur Aruna lembut sembari tersenyum geli melihat kelakuan putranya.

"Tidak apa-apa, Kak," balas Areksa singkat. Ia duduk di sofa sambil memangku Elio, membiarkan keponakannya memainkan pulpen mewah yang terselip di kantong kemejanya.

"Dia dari tadi tantrum mau ketemu kamu," kata Aruna sambil mengamati adiknya. "Oh ya, Kakak ke sini sekalian mau mengingatkan pesan Mama soal makan malam besok. Ini soal kelanjutan aliansi kita dengan keluarga Valerius. Tadi pagi Tuan Danuel Valerius menghubungi Papa secara pribadi untuk mengonfirmasi pertemuannya."

Mendengar nama keluarga itu, gerakan Areksa yang hendak mengambil gelas air minum sempat terhenti sejenak. Tangannya tertahan di udara, rahangnya merapat halus—sebuah reaksi refleks yang sangat singkat, namun cukup untuk ditangkap oleh pengamatan Aruna.

"Valerius?" kening Areksa berkerut halus. "Kudengar kondisi internal mereka sedang kurang stabil setelah cucu perempuan Tuan Danuel yang dulu sempat hilang akhirnya kembali. Kenapa perjodohan ini terkesan sangat terburu-buru?"

Aruna menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Tuan Danuel cuma ingin mengamankan posisi garis keturunan utamanya. Bagi Vareksa, ini kesempatan bagus untuk memperluas jaringan pelabuhan di wilayah timur. Tapi..." Aruna menatap adiknya dengan raut khawatir. "Apa kamu yakin mau menerimanya? Kakak dengar kamu masih belum sepenuhnya lupa sama mantanmu."

Wajah Areksa kembali tenang. Topeng profesionalnya terpasang rapat. Ingatannya sempat melayang sejenak ke masa lalu—masa-masa sekolah saat ia mengenal Valerie, teman kecilnya yang penuh percaya diri, hingga kesalahpahaman yang membuatnya jatuh hati pada Zevanna, gadis lugu dan pendiam yang dulu pernah mengisi kesehariannya.

Namun, Areksa menyapu bersih kenangan itu dari benaknya.

"Pernikahan bisnis adalah hal yang wajar di lingkaran kita," ujar Areksa dingin sambil meletakkan gelasnya kembali ke meja. "Siapa pun wanita yang ditunjuk oleh keluarga Valerius, aku akan menerimanya, selama hal itu membawa dampak besar dan keuntungan bagi Vareksa."

Aruna menatapnya penuh selidik. "Kamu yakin, Sa? Dari obrolan dengan teman-teman sosialita, Valerie itu tumbuh jadi gadis yang sangat ambisius dan manja. Kalian memang teman kecil dulu, tapi apa kamu yakin bisa berbagi hidup dengannya? Papa dan Mama sebenarnya tidak memaksa. Mereka hanya tidak ingin kamu terlalu fokus bekerja sampai lupa mencari pasangan."

Areksa menyandarkan punggungnya ke sofa. Tangan kirinya merapikan rambut Elio yang mulai mengantuk di pangkuannya. Ia mengecup perlahan puncak kepala keponakannya itu sebelum akhirnya kembali menatap Aruna.

"Perasaan tidak ada hubungannya dengan urusan ini, Kak," kata Areksa datar. "Aku tidak punya waktu untuk hal-hal sentimental. Dalam bisnis, cinta cuma akan jadi kelemahan yang membuat kita rapuh."

Aruna menghela napas panjang, memahami betul betapa keras kepalanya adik bungsunya jika sudah membuat keputusan.

Namun tepat sebelum suasana makin serius, sudut bibir Areksa terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan—sebuah garis senyum yang menyimpan niat tersembunyi.

"Kakak tenang saja," bisik Areksa pelan, matanya berbinar penuh teka-teki. "Ada skenario lain yang sedang berjalan. Kakak cuma perlu datang dan menikmati makan malamnya besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!