Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Perjanjian Percobaan Setahun
Nathaniel membawa Nadine ke Cambridge Bay menjelang tengah malam.
Kirana membuka pintu sebelum mereka menekan bel. Ia sudah menyiapkan kamar tamu, air hangat, handuk bersih, dan obat luka dasar yang dibeli dari apotek bawah gedung. Ketika melihat Nadine berdiri di belakang Nathaniel dengan wajah pucat dan mata bengkak, semua pertanyaan tentang identitas suaminya mundur sejenak.
"Masuk," kata Kirana.
Nadine mencoba tersenyum. "Maaf merepotkan."
"Kamu tidak merepotkan."
Kalimat itu keluar terlalu cepat, mungkin karena Kirana pernah sangat ingin mendengarnya dari seseorang. Nadine menatapnya, lalu menunduk sebelum air mata jatuh lagi.
Nathaniel tidak banyak bicara. Ia membantu meletakkan tas Nadine di kamar tamu, menelepon Yvonne, dan memberi instruksi singkat kepada Leo agar dokter datang pagi tanpa membuat suasana seperti pemeriksaan kriminal. Kirana membuat teh manis. Tangannya bergerak otomatis, tetapi pikirannya terus menangkap potongan baru: mobil berbeda, perintah kepada pengacara, nama Nathaniel yang dipakai orang lain dengan penuh hormat.
Setelah Nadine tidur karena lelah, apartemen kembali sunyi.
Sebelum itu, Kirana sempat membantu Nadine membersihkan luka kecil di dekat siku. Ia tidak banyak bertanya. Hanya berkata kapan terasa perih, beri tahu. Nadine duduk di tepi ranjang seperti orang yang tidak yakin boleh menerima kelembutan. Ketika kapas menyentuh kulitnya, ia menarik napas, lalu meminta maaf.
"Kenapa minta maaf?" tanya Kirana.
"Aku merepotkan rumah kalian."
"Kamu tidak merepotkan."
Nadine menatapnya, lalu tertawa kecil yang langsung berubah menjadi tangis. Kirana tidak memeluk paksa. Ia hanya menaruh tisu di dekat tangannya dan menunggu. Di luar kamar, Nathaniel berdiri diam, mendengar tanpa masuk. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tidak ia ucapkan.
Kirana berdiri di dapur, mencuci cangkir yang sebenarnya sudah bersih. Nathaniel melepas jasnya di ruang tamu.
"Aku perlu bicara," katanya.
"Akhirnya."
Ia menerima kata itu. "Nama lengkapku Nathaniel Sim. Leon adalah nama tengah yang kupakai untuk menyamar. Aku bukan sopir. Aku memimpin beberapa bisnis keluarga Sim."
Kirana mematikan keran.
Ia sudah menebak sebagian, tetapi mendengarnya langsung tetap membuat dada terasa kosong. Semua bantuan, semua pintu yang terbuka, semua orang yang mendadak sopan. Bukan karena Leon punya atasan bernama Nathaniel. Karena Leon adalah Nathaniel.
"Jadi selama ini aku menikah dengan siapa?"
"Dengan aku."
"Jawabanmu terdengar sederhana sekali."
"Tidak sederhana. Tapi benar."
Kirana menoleh. "Kamu tahu hal paling menakutkan? Bukan karena kamu kaya. Bukan karena kamu bukan sopir. Tapi karena aku mulai percaya pada cara kamu menjadi Leon."
Nathaniel diam.
"Kalau Leon saja bisa kamu ciptakan, bagaimana aku tahu mana yang asli?"
Pertanyaan itu membuatnya tidak langsung menjawab.
"Aku tidak bisa memintamu percaya sekarang," katanya. "Aku hanya bisa berhenti menambah kebohongan."
"Terlambat."
"Iya."
Kejujuran itu lagi-lagi membuat amarah Kirana kehilangan sasaran, tetapi luka tetap ada.
Nathaniel mengambil map tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Aku menyiapkan sesuatu. Bukan untuk memaksa."
Kirana membuka map itu. Di dalamnya ada perjanjian sederhana, bukan bahasa hukum yang mencekik. Judulnya: Perjanjian Percobaan Pernikahan Satu Tahun.
Ia membaca pelan. Mereka akan menjalani pernikahan selama satu tahun. Jika setelah satu tahun Kirana tidak ingin melanjutkan, Nathaniel akan menyetujui perceraian tanpa keberatan. Ia akan mendapat dukungan ekonomi yang cukup untuk hidup mandiri, perawatan Nio selama masa transisi, dan akses untuk mengejar pekerjaan desain tanpa ikatan tersembunyi. Jika selama tahun itu ia merasa tertekan, ia boleh menghentikan perjanjian lebih cepat.
"Kamu membuat kontrak untuk pernikahan kita?"
"Aku membuat jalan keluar yang tertulis."
"Agar aku merasa aman?"
"Agar kamu tidak perlu percaya hanya pada ucapanku."
Kirana membaca bagian demi bagian dengan lebih teliti. Ada pasal tentang tempat tinggal: ia boleh tetap di Cambridge Bay atau pindah ke tempat lain yang dipilihnya jika hubungan memburuk. Ada pasal tentang pekerjaan: Nathaniel tidak boleh mengintervensi penerimaan kerja tanpa izin tertulis darinya. Ada pasal tentang Nio: biaya pengobatan boleh dibantu, tetapi keputusan perawatan, tempat tinggal, dan kunjungan tetap berada pada Kirana sebagai keluarga utama.
Yang paling membuatnya berhenti adalah pasal terakhir.
Jika salah satu pihak merasa tidak aman secara emosional atau fisik, pihak lain wajib memberi ruang tanpa ancaman, tekanan ekonomi, atau penggunaan relasi keluarga.
Kirana menyentuh kalimat itu dengan ujung jari.
"Kamu menulis ini karena Nadine?"
"Sebagian. Karena dia. Karena kamu. Karena aku melihat terlalu banyak orang menyebut cinta untuk menahan orang yang ingin pergi."
Kirana membaca lagi. Ada ruang kosong untuk syarat tambahan darinya.
"Bagaimana kalau aku menulis bahwa kamu tidak boleh menyembunyikan identitas penting lagi?"
"Tulis."
"Bahwa semua bantuan uang harus dicatat?"
"Tulis."
"Bahwa keputusan tentang Nio tetap melalui aku?"
"Tulis."
Kirana menatapnya. "Kamu terlalu mudah setuju."
"Karena itu hakmu."
Ia menunduk ke kertas. Tangan yang memegang pena sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena ini pertama kalinya seseorang yang punya kuasa lebih besar memberinya ruang untuk menulis syarat.
"Kenapa satu tahun?"
"Karena kamu butuh waktu untuk tahu apakah aku bisa dipercaya. Aku juga butuh waktu untuk membuktikan bahwa aku tidak hanya bisa melindungi saat keadaan darurat."
"Dan kalau setelah satu tahun aku pergi?"
Nathaniel menatapnya lama. "Aku akan menandatangani."
"Kamu tidak akan menahanku?"
"Aku ingin kamu tinggal karena memilih, bukan karena kalah."
Kirana menekan pena ke kertas. Kalimat itu membuat sesuatu di dadanya sakit.
Ia menulis tiga syarat tambahan. Tidak ada rahasia identitas besar. Tidak ada bantuan yang dipakai sebagai tekanan. Tidak ada keputusan tentang keluarganya tanpa persetujuannya.
Nathaniel membaca, lalu menandatangani tanpa mengubah satu kata.
Kirana menandatangani setelahnya.
Setelah tanda tangannya selesai, ia merasa aneh. Tidak lega sepenuhnya, tidak juga terperangkap. Kertas itu tidak bisa menjamin Nathaniel tidak akan menyakitinya. Tetapi kertas itu memberi bentuk pada batas yang selama ini hanya bisa ia simpan di kepala. Jika suatu hari ia ragu pada dirinya sendiri, ia bisa membaca ulang tulisan tangannya dan mengingat bahwa ia pernah berhak meminta.
Nathaniel menggandakan dokumen itu dengan pemindai kecil di ruang kerja. Satu salinan ia berikan kepada Kirana, satu ia masukkan ke amplop tertutup.
"Kamu mau simpan di mana?" tanyanya.
"Dengan dokumen Nio."
"Baik."
Ia tidak menawarkan brankas pribadi, tidak mengatakan miliknya lebih aman. Untuk detail kecil itu, Kirana mencatat satu poin yang tidak ia ucapkan.
Tanggal di bawah tanda tangan mereka adalah hari itu. Satu tahun kemudian, angka yang sama menunggu seperti pintu terbuka.
Kirana menatap tanggal tersebut lama.
"Satu tahun," katanya.
"Satu tahun."
Di kamar tamu, Nadine bergerak gelisah dalam tidur. Di rumah kecil lain, Nio mungkin sedang bermimpi tentang hujan. Di meja makan, pernikahan yang bermula sebagai penyelamatan darurat berubah menjadi sesuatu yang punya batas, syarat, dan kemungkinan.
Kirana menutup map itu.
Untuk pertama kalinya sejak tahu nama Nathaniel, ia merasa masih punya tempat berdiri.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔