terus dukung cerita ini dengan like dan komen jika kalian suka. agar cerita tidak mangkrak tengah jalan
"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Angin dingin berembus di hamparan tanah luas yang menjadi arena pertarungan. Langit abu-abu pekat, kabut berputar mengelilingi, dan aura mistis menyelimuti seisi tempat.
Kenzo berdiri di tengah, kedua tangannya sudah terangkat dalam posisi siap tempur. Matanya tajam menatap lawan-lawannya yang berbaris di depannya. Ada Srini, Maya, Gawandra, dan beberapa makhluk gaib lainnya yang menjadi prewangannya.
Srini mengangkat tangan. "Oke, Mas Kenzo! Latih tanding dimulai... SEKARANG!!"
Dalam sekejap, Gawandra—genderuwo besar berbulu hitam pekat dengan mata merah menyala—langsung melompat ke arah Kenzo.
Braaakkk!
Tanah bergetar saat kaki Gawandra menghantam permukaan dengan keras. Dengan tubuh setinggi hampir tiga meter dan otot-otot kekar seperti batu, dia adalah lawan yang nggak bisa diremehkan.
"HAHAHAHA! SIAP MAS!?" Gewandra tertawa menggelegar, giginya yang besar mencuat menambah kesan mengerikan.
Kenzo menyeringai. "Jangan banyak bacot!"
Gewandra langsung mengayunkan tangannya yang besar seperti batang pohon ke arah Kenzo. Angin pukulannya saja sudah cukup untuk membuat debu dan batu beterbangan.
SWOOSHH!
Kenzo menghindar dengan melompat ke belakang, tapi begitu kakinya menyentuh tanah, Maya tiba-tiba muncul dari bawahnya.
"Gotcha~!" Maya menyeringai, langsung menyabetkan kain kafannya seperti cambuk.
Kenzo buru-buru menangkis dengan lengannya yang sudah dilapisi energi gaib. DARR! Benturan keduanya mengeluarkan percikan energi hitam dan putih yang bertabrakan di udara.
Tapi belum sempat Kenzo bernapas lega, bayangan merah berkelebat dari sampingnya,srini muncul.
"Hihihihi~!"
Kuntilanak centil itu melesat dengan kuku panjang yang siap menggores leher Kenzo.
SWIIINGG!
Kenzo merunduk tepat waktu, lalu melompat mundur. "Hadeh! Satu lawan satu dong, ini nggak adil!"
"Dih, katanya mau jadi lebih kuat, tapi ngeluh?" Srini terkekeh.
Kenzo mendecak, tapi sebelum bisa membalas, Gawandra sudah menerjang lagi dengan pukulan lurus ke dadanya.
DUAAKK!
Kenzo terlempar beberapa meter, tubuhnya membentur tanah dengan keras.
"Ugh!"
Sebelum ia bisa bangkit, bayangan besar langsung melompat ke arahnya. Gawandra menyerang lagi! Kali ini dia mengangkat satu kaki raksasanya dan bersiap menghantam tubuh Kenzo.
"MAMPUS LU!!" Gawandra tertawa brutal.
Detik itu juga, mata Kenzo berkilat.
SRASSHH!!
Dalam sekejap, tubuh Kenzo lenyap dari tempatnya sebelum kaki Gawandra menghantam tanah dan menciptakan kawah besar.
Gawandra melotot. "Hah!? Ke mana dia!?"
Dari atas, suara Kenzo terdengar. "Di sini, bego!"
Gawandra mendongak, dan seketika wajahnya dihantam telapak kaki Kenzo yang berselimut energi gaib.
DUAGGG!!
Tubuh raksasa Gawandra terpelanting ke belakang dan menabrak pohon besar, batangnya langsung patah seperti ranting kecil.
"Huh... Satu kena," gumam Kenzo.
Tapi belum sempat ia santai, kain kafan Maya tiba-tiba melilit kakinya dari belakang.
"Hehe, kena!"
Kenzo terkejut. "Sial!"
Maya menariknya dengan tenaga luar biasa, membuat tubuhnya melayang di udara.
"Dapat dia! Srini, ayo!"
Srini muncul dengan cengiran lebar. "Oke, waktunya bikin Mas Kenzo babak belur!"
Ia langsung melesat dengan kuku panjangnya terhunus, siap menghujam perut Kenzo.
Kenzo mengerahkan tenaga untuk melepaskan lilitan kain kafan, tapi saat itu juga Gawandra sudah bangkit dan melompat ke arahnya dengan kepalan tangan raksasa.
"Tamat kau, Mas Kenzo!!"
Tiga serangan datang bersamaan.
Tapi Kenzo... hanya tersenyum.
Tiba-tiba tubuhnya menghilang dalam sekejap.
Maya, Srini, dan Gawandra membelalakkan mata.
"Hah!? Ke mana dia!?"
Di belakang mereka, suara Kenzo terdengar. "Di sini, guys."
Mereka bertiga menoleh, dan dalam sekejap...
BOOM!!
Sebuah hantaman energi spiritual meledak, mengguncang seluruh arena pertarungan.
Pertarungan baru saja dimulai!
Setelah Gawandra terhempas, pertarungan belum berakhir. Justru baru dimulai.
Kenzo belum sempat mengatur napas, tiba-tiba udara di sekelilingnya memanas. Suhu meningkat drastis, membuat rumput-rumput kering di bawah kakinya mulai terbakar.
"Sial… panas banget!"
Dari kejauhan, sesosok makhluk berselimut api melayang mendekat dengan kecepatan tinggi. Mata merah menyala, tubuhnya seperti tengkorak yang dilapisi api biru yang bergejolak liar.
Banaspati **Muncul**
"Huhuhu, Mas… kau pikir bisa menghadapi kami semua sekaligus?" suara Banaspati menggema.
Kenzo menyeringai. "Kalau aku takut, aku nggak bakal bantai kalian di sini."
Banaspati tertawa. "Sombong! Mati kau!"
**WOOSH**!
Seketika, bola api besar melesat dari tubuh Banaspati, menyapu ke arah Kenzo dengan kecepatan luar biasa.
Kenzo melompat ke samping untuk menghindar, tapi begitu kakinya menyentuh tanah—
**BRAAAK**!!
Tanah di depannya bergetar hebat.
Sebuah tangan hijau raksasa mencengkeram tanah, menimbulkan retakan besar. Makhluk bertubuh tinggi dengan otot sebesar pohon kelapa berdiri tegak. Kulitnya hijau, wajahnya beringas dengan taring panjang menyembul dari mulutnya.
Buto Ijo **Muncul**
"Mati kau!" Buto Ijo mengangkat tinjunya, lalu menghantam tanah tempat Kenzo berdiri.
**DUAAARR**!
Tanah terbelah.
Kenzo melompat ke udara, tapi begitu ia naik…
**SWIIINGG**!
Kain putih berkelebat, menyambar ke arahnya dari atas.
Sundel Bolong **Muncul**
Sundel bolong itu melayang dengan senyum menyeringai, rambut panjangnya beterbangan liar.
"Aku sudah lama ingin mencakar wajah tampanmu, Mas Kenzo!"
Kenzo berusaha memutar tubuhnya di udara untuk menghindar, tapi tepat saat itu, ekor panjang melilit kakinya.
"**HSSSSSH**!"
Siluman Ular Putih telah menunggu di bawahnya, melilit tubuh Kenzo dengan kekuatan yang cukup untuk meremukkan manusia biasa.
Kenzo merasakan lilitan itu semakin kencang.
"Ugh… kurang ajar!"
Belum selesai di situ, dari arah samping, siluman kera melesat cepat dengan cakarnya yang tajam siap menerjang.
Di belakangnya, macan putih menatap Kenzo dengan sorot mata tajam, siap menerkam kapan saja.
Dan lebih buruknya lagi—
Kuyang dan Wewe Gombel melayang di udara, menunggu kesempatan untuk menyerang,kuyang dengan gigi tajam nya dan wewe gombel, dengan kuku panjang nya siap menyerang kapan saja.
Kenzo dikepung dari segala arah!
"Tsk… rame banget ini!"
Dalam hitungan detik, semua makhluk gaib itu menyerang bersamaan.
Banaspati menyemburkan api.
Buto Ijo melompat dan menghantam ke bawah.
Sundel Bolong menerjang dengan kuku panjangnya.
Siluman ular semakin mempererat lilitannya.
Siluman kera dan macan putih menyerang dengan cakarnya.
Kuyang dan Wewe Gombel berputar mengitari Kenzo, siap menerkam.
Serangan datang dari segala arah.
Kenzo menyipitkan mata.
Saat itu juga, hawa di sekelilingnya berubah drastis.
Angin berhembus kencang.
Energi hitam pekat mulai merayap keluar dari tubuh Kenzo.
Dan saat serangan hampir mengenai tubuhnya—
**BOOOOM**!!
Ledakan energi gaib meledak dari tubuh Kenzo, menciptakan gelombang kejut yang membuat semua makhluk gaib itu terpental ke segala arah.
Banaspati terhempas dan apinya meredup sesaat.
Buto Ijo terguling ke belakang, menghantam beberapa pohon hingga tumbang.
Sundel Bolong melayang tak terkendali.
Siluman ular terpaksa melepaskan lilitannya.
Siluman kera dan macan putih jatuh ke tanah.
Kuyang dan Wewe Gombel menjerit ketakutan.
Di tengah medan perang yang porak-poranda, Kenzo berdiri dengan tatapan tajam.
"Maaf ya, tapi aku belum mau kalah."
Pertarungan jauh dari kata selesai.
PROMOSI
Judul: Malam Terakhir di Rumah Kosong
Angga menatap rumah tua di ujung gang. Sudah lama kosong, tapi malam ini ia harus masuk. Tantangan dari teman-temannya. Sederhana: masuk, ambil foto di dalam, lalu keluar.
Begitu langkah pertamanya melewati ambang pintu, udara terasa berubah. Pengap. Sunyi. Bau kayu lapuk bercampur tanah basah menyeruak. Lantai kayu berderit di bawah sepatunya.
Di ruang tamu, perabotan tua masih tertata. Sofa berdebu, jam dinding mati di angka dua belas. Lalu terdengar suara.
Tap... tap... tap...
Angga menelan ludah. Itu bukan gema langkahnya.
Lampu flash dari ponselnya berkedip. Saat ia melihat layar, dadanya mencelos. Di sudut ruangan, seorang perempuan berdiri. Rambut panjang menutupi wajahnya. Gaunnya lusuh, kakinya telanjang.
Klik!
Lampu flash kembali menyala. Sekarang perempuan itu lebih dekat.
Angga mundur, jantungnya berdebar liar. "Sial, ini nggak mungkin..."
Ia menekan tombol kamera lagi.
Klik!
Sosok itu sudah tepat di depannya. Wajahnya masih tertutup rambut. Tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan—jari-jarinya mencengkeram bahunya.
Dingin.
Tiba-tiba, suara berbisik di telinganya.
"Kenapa cuma foto? Temani aku di sini..."
itulah cerpen gabut ku jangan lupa kirim mangga ya kalau suka hihihihi
feed back la yaa😍