"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI BALIK JENDELA PENGINAPAN
Sinar matahari pagi yang menerobos celah awan di Kota Seribu Awan menyentuh permukaan meja kayu di balkon sebuah penginapan sederhana. Han Feng duduk dengan santai, satu tangannya memegang cangkir teh yang masih mengepulkan uap, sementara matanya menatap jauh ke arah jalan utama yang kini menyerupai lautan manusia. Topi bambunya diletakkan di samping kursi, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak lebih tegas, dengan gurat kedewasaan yang lahir dari pertarungan hidup dan mati.
Di dalam tubuhnya, sebuah harmoni yang luar biasa sedang berlangsung. Terobosan ke Ranah Pondasi Dasar Level 5 tadi malam bukan hanya tentang peningkatan volume Qi, tetapi tentang perubahan kualitas. Berkat Embrio Esensi Petir Langit, aliran Qi Emas di nadinya kini memiliki semburat ungu yang samar. Setiap kali ia menarik napas, ia bisa merasakan energi petir itu berderak pelan, siap meledak kapan saja namun tetap tunduk di bawah kendalinya.
"Sepuluh ribu tahun kemarahan langit terkunci dalam setetes esensi," gumamnya pelan sambil menyesap tehnya. "Dunia ini benar-benar penuh dengan keajaiban tersembunyi."
...****************...
Han Feng tidak terburu-buru. Di saat ribuan murid sekte di bawah sana terlihat panik, ada yang berlatih gerakan pedang di tengah jalan, ada yang menelan pil penguat dengan wajah tegang, Han Feng justru memilih ketenangan. Ia tahu bahwa dalam seleksi yang akan diikuti oleh ribuan jenius, mental yang goyah adalah celah pertama yang akan dimanfaatkan musuh untuk menebas lehermu.
Dari ketinggian balkonnya, Han Feng mulai mengamati "parade" kekuatan yang masuk ke pusat kota. Kota Seribu Awan hari ini benar-benar menjadi panggung bagi para predator dari seluruh penjuru mata angin.
Dari arah Utara, sebuah gerbong raksasa yang terbuat dari es abadi meluncur tanpa roda, meninggalkan jejak salju yang membeku di atas marmer jalanan. Itu adalah rombongan Sekte Salju Abadi. Udara di sekitar mereka mendadak turun drastis, membuat orang-orang di pinggir jalan menggigil. Di atas gerbong itu berdiri seorang pemuda dengan jubah putih bersih dan rambut perak yang diikat rapi.
"Lin Xiao," bisik orang-orang di bawah. Han Feng menyipitkan matanya. Pemuda itu memiliki aura Pondasi Dasar Level 9 yang sangat stabil. Pedang di punggungnya memancarkan hawa dingin yang sanggup membekukan darah lawan bahkan sebelum pedang itu dicabut.
Tak lama kemudian, sebuah gemuruh terdengar dari arah Selatan. Tanah bergetar saat sekelompok singa api raksasa berlari kencang, menembus kerumunan yang terpaksa menepi. Mereka adalah Klan Api Merah. Pemimpinnya, seorang pria bertubuh kekar bernama Huo Yan, memancarkan hawa panas yang seolah-olah membakar atmosfer. Han Feng mencatat bahwa Huo Yan memiliki Konstitusi Tubuh Api, sebuah bakat bawaan yang membuatnya menjadi tangki energi yang tak ada habisnya.
Namun, di tengah-tengah parade kesombongan itu, perhatian Han Feng teralih pada sesuatu yang berbeda. Dari arah kerumunan sisi timur, muncul sebuah tandu yang dihiasi bunga-bunga segar yang tidak layu meski berada di ketinggian awan. Di samping tandu itu, berjalan seorang gadis muda yang mengenakan gaun sutra berwarna pink
Berbeda dengan Su Yan yang memancarkan kedinginan abadi, gadis ini tampak sangat ceria. Senyumnya terkembang saat ia sesekali menyapa penduduk kota yang menatapnya dengan kagum. Wajahnya cantik dengan pipi kemerahan dan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Namun, Han Feng tidak tertipu oleh penampilannya yang imut.
Divine Sense Han Feng mendeteksi sebuah fluktuasi energi yang sangat murni di sekitar gadis itu—sebuah aura yang menyerupai kebun bunga di musim semi namun memiliki kepadatan yang mengerikan. "Sekte Lembah Hijau... Mu Rong," gumam Han Feng. Gadis itu adalah jenius medis sekaligus petarung yang dikenal memiliki teknik Qi Kayu Surgawi. Ia adalah bukti bahwa kelembutan bisa menjadi senjata yang paling mematikan jika digunakan dengan benar.
Mu Rong tiba-tiba mendongak, seolah-olah ia merasakan ada seseorang yang sedang mengamati energinya. Matanya yang jernih menyapu balkon penginapan, namun Han Feng sudah lebih dulu menarik indranya dan bersembunyi di balik bayangan balkon dengan kecepatan yang tak terlihat mata.
Puncak dari kegilaan pagi itu terjadi saat suara terompet perak yang terbuat dari tanduk naga laut bergema di seluruh penjuru kota. Dari balik gumpalan awan tertinggi, sebuah kapal terbang raksasa berwarna emas-hitam turun dengan perlahan. Kapal itu milik penyelenggara seleksi, Sekte Langit Abadi.
Aura yang keluar dari kapal tersebut begitu dominan hingga membuat keributan di jalanan mendadak hening. Para jenius dari Sekte Salju Abadi dan Klan Api Merah pun tampak meredam aura mereka sebagai bentuk penghormatan paksa.
Seorang pemuda turun dari kapal terbang dengan melayang perlahan di udara. Ia mengenakan jubah panjang dengan bordiran awan emas yang rumit. Namanya adalah Ye Chen. Saat ia mendarat, sebuah tekanan spiritual menyapu radius beberapa ratus meter.
"Inti Sejati Awal..." Han Feng mengepalkan tangannya. "Di usia yang bahkan belum mencapai dua puluh tahun, ia sudah membentuk Inti Emas. Dataran Tengah benar-benar tempat di mana para monster dilahirkan."
Han Feng menyadari bahwa standar seleksi tahun ini telah melampaui batas kewajaran. Jika ia ingin menonjol di tempat ini, ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan. Ia harus menjadi monster yang lebih besar dari mereka semua.
Han Feng turun ke lobi penginapan untuk mencari makan siang sebelum berangkat mendaftar. Suasana di kedai bawah sangat ramai dengan gosip para kultivator liar.
"Kalian dengar? Kabarnya ada pendekar liar misterius di Wadas Putih yang menghancurkan satu divisi Keluarga Li dan membuat Leluhur mereka lari terbirit-birit," ucap seorang pria bertubuh tambun dengan penuh semangat.
"Ah, itu pasti hanya bualan. Mana ada pendekar tanpa sekte yang bisa melawan Setengah Inti Sejati," sahut yang lain.
Han Feng hanya tersenyum tipis sambil mengunyah daging panggangnya. Ia menikmati statusnya sebagai "legenda tanpa nama". Baginya, ketenaran adalah beban yang hanya akan menghambat langkahnya. Setelah selesai makan, ia memakai kembali topi bambunya dan melangkah menuju Alun-alun Awan, tempat meja pendaftaran berada.
Antrean pendaftaran sangat panjang. Han Feng berdiri di barisan pengembara liar. Di kejauhan, ia bisa melihat meja khusus untuk sekte-sekte besar. Di sana, Su Yan dan Long Chen sedang mendaftar. Su Yan tampak sangat tenang, sementara Long Chen terus mencoba mencari perhatiannya. Han Feng hanya melirik sekilas lalu membuang muka, fokus pada tujuannya sendiri.
Setelah menunggu hampir satu jam, giliran Han Feng tiba. Di depan meja kayu jati yang besar, seorang penatua berambut abu-abu menatapnya dengan bosan. "Nama, asal faksi, dan letakkan tanganmu di atas Kristal Pengukur ini."
"Han Feng. Tanpa sekte," ucapnya tenang.
Ia meletakkan telapak tangannya di atas bola kristal bening tersebut. Kristal itu berfungsi untuk mendeteksi umur tulang dan level kultivasi agar tidak ada yang curang.
Awalnya, kristal itu hanya bersinar putih redup, menandakan umur Han Feng yang masih sangat muda—tujuh belas tahun. Namun, sedetik kemudian, saat energi Han Feng menyentuh sensor kristal, sesuatu yang aneh terjadi. Qi Emas yang bercampur dengan esensi petir ungu bereaksi secara berlebihan terhadap material kristal tersebut.
TING!
Bola kristal itu mendadak mengeluarkan cahaya ungu keemasan yang sangat terang, membentuk proyeksi naga kecil yang melilit di dalamnya. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga orang-orang di sekitar meja pendaftaran menutup mata mereka.
"Apa?! Umur tujuh belas tahun... Pondasi Dasar Level 5 dengan kepadatan Qi tingkat tinggi?!" teriak penatua pendaftar itu, suaranya yang tadi bosan kini berubah menjadi pekikan kaget.
Suara itu cukup keras untuk menarik perhatian panggung utama, di mana para tetua pengawas duduk. Beberapa pasang mata tajam seketika mengunci posisi Han Feng. Salah satunya adalah Tetua Gu dari Sekte Pedang Langit, yang matanya menyipit dengan kebencian dan kecurigaan yang mendalam. Di sampingnya, Su Yan pun menoleh, menatap sosok bertopi bambu itu dengan perasaan gelisah yang tak bisa ia jelaskan.
Han Feng menghela napas panjang di balik topinya. "Niat hati ingin tetap rendah hati, namun naga di dalam tubuhku sepertinya tidak suka jika terus-menerus disembunyikan. Biarlah, kota ini memang butuh sedikit kejutan."
Ia menarik tangannya dari kristal, mengambil lencana pesertanya, dan berjalan pergi dengan langkah tenang di bawah tatapan ribuan orang yang mulai berbisik-bisik tentang identitas si pengembara misterius tersebut. Seleksi belum dimulai, namun Han Feng sudah menancapkan taringnya di kesadaran mereka semua.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏