NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebaiknya pulang saja dulu.

"Kalian pasti tidak percaya, kan?" tanya pemuda yang berjalan di sebelah Fadil. Dia tampaknya menyadari keraguan yang terpancar dari raut wajah Bimo dan Tris.

Senyum tipis yang sempat tertangkap oleh temaram cahaya senter rupanya tidak bisa menyembunyikan kedua pemuda kota tersebut.

Tris berdeham pelan, merasa agak tidak enak karena ketahuan.

"Bukan tidak percaya. Hanya sulit saja untuk percaya," jawab Tris mencoba, namun tetap mempertahankan logikanya.

"Lagi pula ini sudah tahun 2026, masa masih ada yang main pesugihan ilmu hitam untuk mendapat kekayaan? Di zaman serba digital begini, rasanya hal seperti itu sudah tidak masuk akal lagi."

Bimo mengangguk setuju di sampingnya.

Bagi mereka yang besar di peradaban modern, cerita Fadil terdengar seperti mitos usang yang bertahan di wilayah terpencil.

Namun, Fadil tidak terlihat tersinggung ataupun berniat mendebat. Wajahnya justru makin muram, menyiratkan beban misteri yang sudah bertahun-tahun menghantui desanya.

"Kami hanya mendengar larangan para tetua," kata Fadil dengan nada suara yang berat dan pasrah.

"Sedari kecil kami dilarang keras mendekati area itu. Bahkan sampai sekarang, saat kami sudah dewasa, larangan itu masih berlaku dan tidak pernah berubah."

Fadil menghentikan langkahnya sejenak, membuat rombongan itu ikut berhenti. Ia menatap Tris dan Bimo dengan pandangan mata yang sangat serius.

"Bagi kalian orang kota, ini mungkin cuma takhayul. Tapi bagi kami yang hidup di sini, kepatuhan pada tetua adalah keharusan yang tidak bisa di langgar. Kami tidak tahu apa yang benar-benar ada di dalam Vila itu, dan sejujurnya, tidak ada satu pun dari kami yang cukup bernyali untuk mencari tahu, benar atau tidaknya cerita itu." Kata Fadil, meskipun. Sebenarnya, dia dan teman-temannya sangat penasaran sedari dulu.

"Berarti... sudah sangat lama ya cerita dan larangan itu," kata Bimo, mencoba mencerna rentang waktu dari misteri yang menyelubungi bangunan terbengkalai tersebut.

"Sudah belasan tahun," sahut pemuda desa satunya lagi.

"Bahkan mungkin lebih. Seingat saya, waktu saya masih sekecil ini," ia memberi isyarat dengan tangannya setinggi pinggang.

Tris kembali melirik ke arah belakang, memastikan jarak mereka sudah benar-benar aman dari jangkauan pandangan jendela-jendela besar vila tersebut.

"Kalau sudah belasan tahun berlalu, apa tidak pernah ada warga yang mencoba mencari tahu kebenarannya?"

"Mau mencari tahu bagaimana, kalau mendekat ke arah Vila itu saja kami tidak berani," sahut pemuda desa satunya lagi. Kalimatnya terdengar lugas.

Fadil mengangguk setuju dengan ucapan temannya. Ia mempercepat langkah kaki, seolah ingin segera keluar dari bayang-bayang kegelapan jalan setapak ini.

"Bagi kami, batas pagar Vila itu adalah garis mati. Tidak ada gunanya menantang sesuatu yang tidak kasat mata hanya demi memuaskan rasa penasaran."

Mendengar hal itu, Bimo merapatkan jaketnya karena hawa dingin yang kian menusuk. Pikiran mereka kini kembali terlempar pada misi utama malam ini.

"Lalu selanjutnya bagaimana? Kita terus mencari atau pulang dulu?" tanya Bimo, meninggal cerita horor barusan, tegang pesugihan dan tumbal.

Sepasang matanya menatap bergantian ke arah Tris dan para pemuda desa.

"Sebaiknya kita pulang saja dulu," kata Fadil langsung, yang disambut anggukan setuju oleh keempat temannya tanpa ragu sedikit pun.

Fadil mengangkat senternya, mengarahkan kilatan cahaya ke jam tangan usang yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ini sudah jam tujuh malam, dan perut juga sudah lapar."

Pemuda desa satunya lagi ikut menimpali sambil membetulkan posisi senternya yang mulai meredup.

"Benar kata Fadil. Lagipula, kita perlu memberi tahu Pak RT dan warga lainnya tentang rute yang sudah kita sisir malam ini. Kita bisa menyusun rencana yang lebih matang dan mengumpulkan lebih banyak orang untuk melanjutkan pencarian besok pagi, begitu matahari terbit, kalau memang pakde Rasman belum di temukan."

"Ya sudah, kita kembali sekarang," putus Tris akhirnya.

Rombongan kecil itu pun memutar arah, melangkah mantap meninggalkan kegelapan batas pemukiman.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!