"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Tinta Emas Takdir
"Buka pintunya! Pengawas Guild Borjuis Solmara datang melakukan inspeksi!" Sebuah gedoran kasar menghantam pintu kayu rumah, merusak ketenangan sore hari yang baru saja diwarnai tawa bahagia.
Paul bergegas membuka pintu, mendapati tiga pria berpakaian beludru mewah dengan sulaman timbangan emas di dada mereka langsung menerobos masuk tanpa permisi. Pria berkumis tipis di barisan depan yaitu sang ketua pengawas, menatap sekeliling rumah panggung yang sederhana itu dengan pandangan menghina.
"Ada keperluan apa tuan-tuan dari Guild agung mendatangi rumah sederhana kami?" tanya Paul.
Pria berkumis tipis itu mendengus, lalu melemparkan selembar perkamen tebal berstempel lilin merah ke atas meja kayu. "Kami ke sini untuk menegakkan keadilan dunia dagang. Gadis di rumah ini, telah melakukan monopoli dagang ilegal tanpa izin resmi di bazar Solmara. Tidak hanya itu, dia merusak harga pasar kelas atas dengan menjual barang magis tiruan dengan harga murah!"
"Tiruan? Anak saya menyulamnya sendiri dengan tangannya!" sahut Marry yang baru keluar dari dapur.
"Diam, Perempuan Tua!" bentak salah satu pengawal Guild dengan kasar. "Kain murahan dari pinggiran tidak mungkin sewangi dan selembut itu kalau tidak pakai sihir ilegal. Berdasarkan hukum Guild Borjuis, pilihannya hanya dua untuk orang seperti kalian." Pria berkumis itu maju selangkah, menatap Anna yang berdiri diam di dekat tangga. "Serahkan resep rahasia wewangian kain itu pada Guild kami, atau bayar denda ganti rugi sebesar 50 koin emas sebelum matahari terbit besok!"
"Lima puluh koin emas?!" Paul membelalak, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Ini pemerasan! Kalian hanya ingin merampok usaha anakku!"
"Jika tidak bisa bayar, anakmu akan dijebloskan ke penjara bawah tanah militer!" ancam pria berkumis itu dengan senyum licik.
Paul yang telanjur naik pitam langsung mengepalkan tinjunya. Sebagai mantan ksatria, satu hantaman tangannya bisa memecahkan tengkorak. Ia sudah bersiap maju untuk menghajar pria itu, namun sebuah tangan kecil yang dingin mendadak menahan lengannya.
"Ayah, jangan. Tolong, tahan diri Ayah," bisik Anna. Matanya yang keperakan menatap Paul dengan permohonan yang dalam.
Anna lalu berbalik menghadapi para pengawas Guild. Sejak melangkah pulang dari bazar tadi, Anna memang sudah memiliki firasat buruk. Seleret bayangan di sudut pertigaan jalan membuatnya yakin bahwa mereka sedang diikuti secara diam-diam. Oleh karena itu, begitu tiba di rumah, ia langsung meminta Marry dan Paul menyimpan seluruh ribuan koin perak hasil dagangan hari ini ke dalam kotak rahasia di bawah lantai kamar mereka. Di kantong bajunya kini hanya tersisa sedikit uang saja.
Anna merogoh sakunya, lalu mengeluarkan lima keping koin emas berkilau, modal sisa yang awalnya berniat ia gunakan untuk membeli gulungan kain baru.
"Kami hanya memiliki lima koin emas ini, Tuan Pengawas," ucap Anna dengan suara tenang namun bergetar menahan emosi. "Ini semua uang yang kami punya dari sisa penjualan. Ambil ini sebagai jaminan bahwa kami menghormati hukum Guild, dan tolong beri kami waktu."
Pria berkumis tipis itu menyambar lima koin emas itu dari tangan Anna, lalu mendengus meremehkan. "Hanya segini? Dasar miskin! Baik, ini kami anggap sebagai uang muka denda. Sisa 45 koin emas lagi harus lunas minggu depan, atau kau tahu sendiri akibatnya!"
Dengan tawa puas yang menjengkelkan, ketiga pria dari Guild Borjuis itu berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu rumah dengan keras.
Suasana rumah mendadak hening seketika. Marry langsung terduduk di kursi sambil menangis terisak, sementara Paul meninju dinding kayu hingga bergetar. "Bajingan-bajingan serakah! Mereka tidak akan pernah membiarkan orang kecil seperti kita untuk hidup tenang!"
"Maafkan Anna, Ayah, Ibu ... Gara-gara Anna, kita jadi seperti ini," lirih Anna, matanya mulai berkaca-kaca karena tidak menuruti saran dari Panglima kemarin.
"Ini bukan salahmu, Nak. Sama sekali bukan," hibur Marry sambil memeluknya erat.
Setelah makan malam yang dilalui dengan keheningan yang menyesakkan, Anna pamit untuk beristirahat. Namun, alih-alih pergi ke kamarnya, ia diam-diam membawa keranjang kain, Jarum Emas, dan Jurnal Kulit kuno peninggalan buyutnya menuju ke gudang bawah tanah. Gudang kecil berdebu itu sudah sempat ia bersihkan tempo hari agar bisa menjadi tempatnya fokus bekerja tanpa mengganggu tidur orang rumah saat pendaran cahaya jarum muncul.
Begitu pintu gudang dikunci dari dalam, pertahanan mental Anna runtuh sepenuhnya. Gadis itu terduduk di atas sebuah peti kayu lapuk, memeluk lututnya, dan mulai menangis sesenggukan di dalam kegelapan yang hanya diterangi sebatang lilin kecil.
"Kenapa ... kenapa baru saja aku merasakan kebahagiaan, selalu ada saja orang jahat yang iri dan ingin menghancurkannya?" ratap Anna di sela tangisnya. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas permukaan cover Jurnal Kulit yang terletak di pangkuannya.
WUSH!
Mendadak, ruangan pengap itu terasa menghangat. Lembaran Jurnal Kulit yang tadinya kaku mendadak terbuka sendiri dengan cepat, berhenti tepat di sebuah halaman yang selama ini kosong. Air mata Anna yang membasahi halaman itu mendadak terserap, dan dari bekas resapan tersebut, pendaran cahaya keemasan mulai muncul.
Sebuah tulisan tinta emas baru terbentuk dengan sendirinya, menari-nari membentuk deretan kalimat beraksara kuno yang entah bagaimana bisa dibaca oleh Anna dengan sangat jelas.
"Bagi penerus Thread Magic (Sihir Benang): Keindahan tidak diciptakan dari kemewahan, melainkan dari ketulusan hati yang memurnikan hal-hal terbuang. Alirkan Mana-mu melalui Jarum Emas untuk melakukan Pemurnian Serat (Fiber Purification). Ubahlah perca yang cacat tidak berharga menjadi sutra yang bernilai."
Anna tertegun, tangisnya seketika terhenti. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dan membaca tulisan itu berulang kali. "Memurnikan kain perca sisa menjadi kain kualitas tinggi?"
Sebuah ide brilian mendadak meledak di dalam kepala Anna. Matanya yang tadinya redup kini menyala kembali oleh kobaran semangat baru.
"Benar! Kalau aku membeli kain katun gulungan dari Guild, mereka akan terus melacak dan memeras ku. Tapi kalau aku pergi ke tukang rongsokan atau penjahit besar untuk mengambil kain perca sisa yang sudah dianggap sampah dan tak terpakai ... harganya pasti sangat murah, bahkan bisa gratis! Dan aku bisa menyulapnya menjadi selembar syal mewah kelas atas!" Anna mengepalkan tinjunya. "Kalian ingin menghancurkanku, Guild Borjuis? Kita lihat siapa yang akan tertawa paling akhir."
Dengan antusiasme yang membubung, Anna langsung merogoh keranjang jahitannya. Ia mengambil selembar kain perca katun kelabu yang kasar dan bernoda, sisa potongan kain minggu lalu yang ukurannya tidak sesuai.
Anna memejamkan mata, memegang Jarum Emasnya, lalu mencoba fokus mengalirkan kehangatan aneh dari dalam dadanya menuju jemarinya, persis seperti instruksi dari jurnal kuno tersebut.
TING!
Jarum Emas di tangan Anna mendadak memancarkan pendaran cahaya perak yang sangat terang dan murni. Cahaya itu perlahan merambat, menyelimuti kain perca kelabu kasar di pangkuannya. Serat-serat kain yang tadinya rapuh dan kaku mendadak mulai melentur, berkilau, dan berubah tekstur menjadi sangat halus bak untaian benang sutra.
Namun, karena Anna belum sepenuhnya bisa mengendalikan fluktuasi sihir barunya, pendaran cahaya perak dari jarum emas itu mendadak memancar terlalu kuat ke segala arah. Berkas cahaya itu memantul lurus, menghantam permukaan sebuah cermin tua berdebu di sudut tergelap gudang bawah tanah tersebut.
HUUUMMM
Cermin tua itu mendadak bergetar dan kain hitam penutupnya terjatuh. Debu-debu yang menempel di permukaannya hilang seketika. Anna memekik kaget, perlahan melangkah mundur saat melihat pemandangan di depan matanya.
Permukaan kaca cermin yang retak itu mendadak mencair, berubah bentuk menjadi substansi perak yang bergejolak layaknya air raksa cair. Di tengah pusaran air raksa di dalam cermin tersebut, sebuah gerbang dimensi magis yang memancarkan aura kegelapan kuno mendadak terbuka lebar, menarik paksa udara di dalam gudang kecil itu.
"I-Ini ... apa yang sebenarnya terjadi?!" pekik Anna panik, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat cermin itu mulai mengeluarkan suara dengungan yang memekakkan telinga.
lanjut yaaaaa