NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia dibalik Ruang Rawat

"Ada kebohongan yang lahir karena pengecut. Ada pula kebohongan yang lahir karena cinta. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang memilih berbohong demi memberi harapan kepada orang yang sebenarnya sedang perlahan menuju kematian."

-----

Amira terbangun dengan napas terengah.

Dadanya naik turun cepat.

Keringat dingin membasahi pelipis.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit putih di atas kepalanya sambil berusaha mengingat apa yang baru saja dialaminya.

Gelap.

Tawa perempuan.

Suara geraman.

Dan ancaman kematian yang terus berulang.

"Kamu akan mati, Amira..."

Suara itu masih terasa jelas di telinganya.

Amira memejamkan mata sejenak.

Lalu perlahan menyadari sesuatu.

Bau antiseptik.

Suara mesin infus.

Lampu neon.

Rumah sakit.

Ia berada di rumah sakit.

"Alhamdulillah..."

Suara parau terdengar dari samping ranjang.

Amira menoleh.

Mas Anto duduk di kursi plastik dengan wajah kusut dan mata merah akibat kurang tidur.

Begitu melihat istrinya sadar, lelaki itu langsung bangkit.

Ekspresi lega memenuhi wajahnya.

"Mas..."

Suara Amira hampir tak terdengar.

Tenggorokannya terasa seperti diamplas.

"Haus."

Mas Anto buru-buru mengambil air.

Dengan hati-hati membantu Amira minum.

Tangan lelaki itu gemetar.

Sangat gemetar.

Baru sekarang Amira menyadarinya.

"Sudah berapa lama aku di sini?"

Mas Anto terdiam sesaat.

"Dua hari."

Amira membelalak.

"Dua hari?"

Lelaki itu mengangguk.

"Kamu pingsan waktu turun dari mobil."

Amira mencoba mengingat.

Halaman rumah.

Anak-anak.

Ibunya.

Lalu gelap.

Hanya itu yang tersisa.

"Aku sakit apa, Mas?"

Pertanyaan sederhana itu membuat wajah Mas Anto membeku.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

Ia teringat percakapannya dengan dokter beberapa jam lalu.

---

"Maaf, Pak Anto."

Dokter spesialis penyakit dalam meletakkan hasil laboratorium di meja.

Ekspresinya serius.

"Tapi kondisi istri Anda sangat berat."

Mas Anto merasa lututnya lemas.

"Seberapa berat, Dok?"

Dokter menarik napas panjang.

"Kedua ginjalnya sudah mengalami kerusakan tahap akhir."

Dunia seperti berhenti berputar.

Mas Anto bahkan tidak langsung memahami maksud kalimat itu.

"Jadi... bisa sembuh, kan?"

Dokter tidak menjawab.

Dan diam itu lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.

"Satu-satunya cara mempertahankan hidupnya sekarang adalah hemodialisis rutin."

"Cuci darah?"

Dokter mengangguk.

Mas Anto menunduk.

Tangannya mengepal di atas paha.

"Dok..."

Suaranya bergetar.

"Istri saya baru tiga puluh tahunan."

Dokter terlihat bingung.

"Saya juga heran."

Beliau menunjuk hasil pemeriksaan.

"Kerusakan seperti ini biasanya berkembang bertahun-tahun."

"Lalu?"

"Pada kasus istri Anda... semuanya terjadi terlalu cepat."

Terlalu cepat.

Kalimat itulah yang terus menghantui Mas Anto.

---

Kini, berdiri di samping ranjang rumah sakit, lelaki itu memaksakan senyum.

"Kamu cuma kecapekan."

Amira mengangguk pelan.

Mempercayainya sepenuhnya.

Dan justru itulah yang membuat hati Mas Anto semakin hancur.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus berbohong kepada orang yang paling ia cintai.

---

Seminggu kemudian Amira diperbolehkan pulang.

Namun hidup mereka tak pernah sama lagi.

Mas Anto melarang istrinya menyentuh pekerjaan apa pun.

Menyapu tidak boleh.

Mencuci tidak boleh.

Mengangkat ember tidak boleh.

Bahkan berjalan terlalu jauh pun tidak boleh.

Suatu pagi Amira nekat membawa setumpuk pakaian kotor ke dekat sumur.

Belum sempat tangannya menyentuh air.

"DIK!"

Suara Mas Anto menggelegar dari dapur.

Amira sampai terkejut.

Lelaki itu berlari menghampiri.

Wajahnya panik.

Benar-benar panik.

"Biar Mas yang kerjakan."

"Mas, aku cuma mau bantu."

"Biar Mas."

"Tapi—"

"Biar Mas."

Nada suaranya membuat Amira terdiam.

Ada sesuatu dalam tatapan mata suaminya yang membuatnya tak sanggup membantah.

Ketakutan.

Ketakutan yang sangat dalam.

---

Hari demi hari berlalu.

Tabungan mereka perlahan habis.

Uang hasil kerja keras Amira di Jakarta.

Uang yang seharusnya digunakan membeli semen.

Membeli kayu.

Membangun rumah impian.

Kini berubah menjadi biaya obat.

Biaya transportasi.

Biaya rumah sakit.

Sedikit demi sedikit.

Sampai hampir tak tersisa.

Namun bukan itu yang membuat warga desa mulai gelisah.

Melainkan kejadian-kejadian aneh yang mulai muncul setelah kepulangan Amira.

Beberapa warga mengaku melihat sosok hitam besar di dekat pertigaan desa.

Ada yang melihatnya duduk di pohon beringin.

Ada yang melihatnya berdiri di tengah sawah saat malam.

Ada pula yang mengaku mendengar suara langkah berat di atap rumah kosong.

Kabar itu menyebar cepat.

"Jangan-jangan ada yang pelihara pesugihan."

"Itu pasti genderuwo."

"Atau tuyul besar."

Berbagai dugaan bermunculan.

Warga mulai saling curiga.

Saling menuduh.

Tanpa menyadari satu kenyataan yang jauh lebih mengerikan.

Makhluk yang mereka lihat bukan sedang mencari tumbal.

Bukan pula penjaga pesugihan.

Ia hanya sedang menunggu.

Menunggu waktu yang tepat.

Untuk kembali ke tempat asalnya.

Ke tubuh seorang perempuan bernama Amira.

Dan melanjutkan pekerjaannya.

Sedikit demi sedikit.

Organ demi organ.

Sampai tidak ada lagi yang tersisa.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!