Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kebenaran Terungkap
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tipis di kamar kos Rania terasa menyakitkan bagi mata Naura. Ia terbangun dengan kepala berdenyut hebat dan tubuh yang kaku karena posisi tidur yang tak karuan di atas karpet lantai. Rania duduk di sudut kamar, tampak ketakutan sambil memeluk ponselnya, sementara Kaelith masih tertidur di dekat pintu, posisi tubuhnya menunjukkan ia selalu waspada meski dalam keadaan lelah.
"Mbak... tadi ada berita di televisi kampus," bisik Rania saat melihat Naura mulai bergerak. Suaranya bergetar. "Mereka bilang Kak Kaelith buronan. Mereka bilang Mbak terlibat kasus pencurian data perusahaan besar. Mbak juga disebut-sebut sebagai kaki tangan yang merusak reputasi kampus."
Naura mencoba duduk, menahan pusing yang masih menyerang. Ia meraih ponselnya yang mati total, kemudian beralih ke laptop milik Rania. "Ran, tolong kasih tahu gue, ada sinyal internet di sini?"
"Ada, Mbak. Tapi jujur, aku takut. Orang-orang di luar kos terus membicarakan berita itu."
Naura membuka situs berita Media Warta Nusantara. Matanya membelalak. Artikel utama hari ini ditulis oleh Dimas, dengan judul besar: “Ketua BEM dan Reporter Magang Terlibat Skandal Pencurian Data Perusahaan: Motif Dendam atau Uang?”
Artikel itu disusun dengan sangat rapi, memutarbalikkan semua fakta. Dimas mencantumkan bukti palsu berupa rekaman CCTV yang diedit seolah-olah Kaelith dan Naura sedang merusak properti di gudang milik Pramudita. Mereka digambarkan sebagai dua orang yang terobsesi dengan uang dan siap melakukan apa saja, termasuk melakukan perbuatan kriminal.
Kaelith perlahan membuka matanya. Ia mendengar napas Naura yang tertahan. Ia bangkit, mendekat, dan membaca layar laptop itu. Wajahnya tidak lagi penuh amarah; ia justru terlihat tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan bagi siapa pun yang mengenalnya.
"Dia benar-benar melakukannya," gumam Kaelith. "Dia menjual jiwanya habis-habisan."
"Kita nggak bisa diam saja, Kael," ujar Naura dengan suara parau. "Kalau kita nggak bertindak hari ini, besok kita sudah nggak punya kesempatan lagi. Media di seluruh negeri bakal percaya dengan cerita sampah ini."
Kaelith menoleh ke arah Rania. "Ran, bisa pinjam flashdisk atau kartu memori?"
Rania mengangguk cepat dan menyerahkannya. Kaelith segera mencolokkan duplicate flashdisk yang mereka dapatkan dari gudang malam itu. Ia membuka file-file mentah—bukan sekadar tangkapan layar, tapi data akses log internal, nota asli yang belum di-mark up, dan percakapan e-mail antara Pramudita dengan kontraktor fiktif.
"Kita nggak akan kirim ini ke kantor berita konvensional," kata Kaelith sambil mengetik cepat. "Kita bakal pakai cara lain."
"Cara apa?"
"Live streaming," jawab Kaelith singkat. "Gue punya akses ke akun media sosial BEM yang memiliki pengikut hampir lima ratus ribu orang. Kalau kita siarkan ini secara langsung, mereka nggak bisa lagi menghapus buktinya seperti yang mereka lakukan di server redaksi."
Naura terdiam. Itu langkah yang sangat berani, sekaligus bunuh diri jika tidak berhasil. "Tapi mereka bisa menutup koneksi internet kita."
"Gue sudah mengantisipasinya. Gue bakal pakai hotspot dari berbagai provider yang sudah gue siapkan sejak semalam. Kita bakal go live dari tiga akun sekaligus supaya kalau satu ditutup, yang lain tetap jalan."
Kaelith menatap Naura. "Lo siap, Nau? Lo bakal muncul di depan jutaan orang. Lo bakal dicap sebagai penjahat sampai bukti ini terbukti benar. Lo bakal mempertaruhkan seluruh masa depan lo."
Naura menatap cermin kecil di kamar Rania. Wajahnya kucel, matanya bengkak, namun ada api yang menyala di balik tatapannya. "Masa depan gue sudah hancur sejak gue mutusin buat nggak jadi reporter pengecut, Kael. Ayo lakukan."
Pukul 14.00, mereka memindahkan posisi ke sebuah kafe di lantai atas gedung yang memiliki sinyal kuat. Kaelith sudah mengatur semuanya. Ia menggunakan laptop dengan beberapa modem cadangan. Mereka duduk di sudut, menutupi wajah dengan hoodie.
"Tiga... dua... satu," hitung Kaelith.
Layar laptop menyala. Kaelith melakukan live streaming melalui akun resmi BEM Universitas Nusantara. Jumlah penonton meroket dari puluhan menjadi ribuan hanya dalam hitungan detik.
"Halo semuanya," suara Kaelith tenang dan berwibawa, jauh dari kesan buronan yang digambarkan media. "Saya Kaelith Atharrazka. Dan di samping saya adalah Naura Adisty. Hari ini, kami tidak akan bicara soal pencurian data. Kami akan bicara soal kebenaran yang selama ini disembunyikan di balik nama besar orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai pemimpin."
Naura mulai membuka dokumen-dokumen itu satu per satu di layar yang terbagi. Ia menjelaskan setiap alur dana, mulai dari pembangunan gedung baru hingga aliran dana masuk ke rekening pribadi yang dikendalikan oleh Pramudita Atharrazka.
Jumlah penonton semakin meledak. Komentar-komentar mulai membanjir. Banyak yang menghujat, namun lebih banyak lagi yang mulai meragukan berita yang ditulis Dimas.
"Ini bukan rekayasa," lanjut Naura tegas ke arah kamera. "Tiap dokumen ini memiliki digital signature yang bisa diverifikasi oleh pihak berwenang. Kami menantang pihak berwajib untuk melakukan audit independen terhadap yayasan kampus sekarang juga!"
Di tengah live streaming, pintu kafe terbuka. Sekelompok pria berseragam keamanan swasta—orang-orang Pramudita—masuk dengan tatapan mencari-cari. Mereka tampak panik melihat berita yang sedang trending di media sosial.
"Itu mereka!" teriak salah satu pria.
Kaelith tetap tenang, meski ia tahu mereka sudah terpojok. "Kami tidak akan lari lagi. Semua bukti sudah diunggah ke server luar negeri yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Jadi, silakan kalian tangkap kami, tapi kalian tidak bisa membungkam kebenaran ini!"
Orang-orang itu mendekat. Pengunjung kafe mulai merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka. Ini adalah panggung yang mereka butuhkan.
"Kaelith! Naura!" teriak salah satu pria, berusaha menarik laptop dari tangan Kaelith.
Kaelith menahan tangan pria itu, tetap mempertahankan siaran langsung. "Tonton semuanya! Lihat bagaimana mereka mencoba menghentikan kebenaran!"
Tepat saat pria itu berhasil merebut laptop, ponsel Naura berbunyi. Itu pesan dari nomor resmi kepolisian daerah. Sebuah pesan singkat: “Kami sudah menerima data yang kalian unggah. Tim kami sedang meluncur ke lokasi kalian. Jangan lakukan perlawanan. Kalian sudah aman.”
Naura tersenyum. Ia menatap ke arah kamera yang masih menyala, menatap ribuan penonton yang menyaksikan kepanikan anak buah Pramudita. "Kami tidak takut," ucapnya dengan suara lantang.
Detik berikutnya, suara sirine polisi meraung-raung di luar gedung. Lampu biru dan merah memantul di kaca-kaca kafe. Orang-orang bayaran Pramudita langsung terdiam, pucat pasi. Mereka tahu permainan sudah berakhir.
Polisi berseragam masuk dengan sigap, mengamankan pria-pria tersebut. Salah satu petugas polisi berpangkat tinggi mendekat ke arah meja Kaelith dan Naura.
"Kaelith Atharrazka dan Naura Adisty?" tanya petugas itu.
"Ya," jawab Kaelith sambil berdiri, tangannya sedikit gemetar karena adrenalin yang mulai menurun.
"Kami sudah mengamankan Bapak Pramudita Atharrazka dan Bapak Dimas Prasetya atas laporan tindak pidana korupsi dan penculikan. Kalian ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan resmi sebagai saksi kunci."
Naura merasakan lututnya lemas. Ia terduduk kembali di kursi. Ia melihat ke sekeliling; mahasiswa-mahasiswa di kafe itu mulai bertepuk tangan. Suara tepuk tangan yang perlahan membesar menjadi sorakan dukungan.
Kaelith menatap Naura, lalu tersenyum—senyum yang benar-benar lepas, tanpa beban, tanpa kepura-puraan. Ia mengulurkan tangan ke arah Naura. "Kita berhasil, Nau. Kita benar-benar berhasil."
Naura menyambut tangan itu. Genggaman Kaelith hangat dan kuat. "Kita berhasil, Kael."
Saat mereka berjalan keluar dari kafe menuju mobil polisi, Naura melihat ke arah kerumunan. Ia melihat Rania yang berdiri di kejauhan, menangis haru sambil melambaikan tangan. Ia juga melihat rekan-rekan Redaksi yang dulu mencemooh, kini menatap mereka dengan rasa hormat.
Perjalanan ke kantor polisi terasa begitu singkat. Naura bersandar di bahu Kaelith di dalam mobil polisi. Ia merasa dunia yang selama beberapa hari ini terasa seperti neraka, kini perlahan kembali ke tempatnya. Keadilan memang tidak selalu datang dengan mudah, namun malam ini, Naura belajar bahwa kebenaran tetaplah sebuah kekuatan yang tidak bisa dipadamkan oleh uang atau jabatan.
Di dalam kantor polisi, mereka disambut oleh tim penyidik yang profesional. Data yang mereka bawa menjadi bukti yang sangat kuat untuk menjerat Pramudita dan sekutu-sekutunya. Bahkan Dimas pun tidak punya celah untuk berkelit, karena jejak digital yang ia tinggalkan di server redaksi kini telah disita sebagai bukti utama.
"Mbak Naura, Anda ingin melaporkan berita ini langsung dari sini?" tanya seorang penyidik yang ramah.
Naura menoleh ke arah Kaelith. Kaelith mengangguk.
Naura mengambil ponsel yang baru saja dikembalikan kepadanya. Ia mengetik sebuah draft pendek dan mengunggahnya ke situs Media Warta Nusantara yang kini sudah diambil alih oleh editor independen yang ditunjuk dewan pers.
“Kebenaran tidak butuh pelindung, ia hanya butuh keberanian untuk diungkapkan. Korupsi gedung kampus hanyalah permulaan. Kami tidak akan berhenti di sini.”
Naura menekan tombol publish.
"Sudah selesai," bisik Naura.
Kaelith merangkulnya erat-erat. "Dan hidup kita baru saja dimulai," balasnya.
Malam itu, di kantor polisi, di tengah hiruk-pikuk proses pemeriksaan, Naura dan Kaelith duduk berdampingan. Mereka tahu bahwa hari-hari ke depan masih akan penuh dengan proses hukum, namun mereka tidak takut lagi. Mereka telah melewati titik nadir, mereka telah melalui badai, dan mereka telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar reporter dan narasumber. Mereka adalah dua orang yang telah mengubah segalanya.