NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Variabel yang Tak Terduga

Minggu pagi di rumah Candisari biasanya identik dengan ketenangan. Namun, hari itu keheningan pecah oleh dering telepon Zidan yang berbunyi terus-menerus dari ruang kerjanya. Viona, yang sedang membaca novel di teras belakang, mengangkat kepala saat mendengar pintu ruang kerja terbuka dengan agak kasar.

Zidan keluar dengan wajah masam, ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet persia, alisnya berkerut dalam.

"Ada masalah, Kak?" tanya Viona, menutup bukunya.

Zidan berhenti, menatap Viona seolah baru menyadari keberadaannya.

"Klien dari proyek mall di Surabaya menarik diri. Mereka bilang desain fasadnya 'terlalu kaku' dan 'kurang memiliki jiwa'." Suaranya penuh frustrasi, nada yang jarang Viona dengar darinya. "Mereka meminta revisi total dalam tiga hari."

Viona bangkit dari kursinya, mendekati Zidan. "Tiga hari? Itu gila, Kak. Desain fasad kan butuh konsultasi struktur dulu."

"Aku tahu!" seru Zidan, lalu segera menurunkan suaranya, menyadari kemarahannya tidak pada tempatnya. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Maaf. Aku... stres."

"Nggak apa-apa, Kak," ucap Viona lembut. Ia ragu sejenak, lalu memberanikan diri menyentuh lengan Zidan. Sentuhan itu ringan, hanya ujung jarinya yang menyentuh kain kemeja pria itu.

"Mungkin... mungkin mereka benar. Mungkin desainnya memang perlu sentuhan yang lebih 'hidup'."

Zidan menoleh, menatap tangan Viona di lengannya, lalu naik ke wajah gadis itu. Matanya lelah, tapi ada rasa penasaran di sana. "Kau mengerti arsitektur?"

"Aku nggak ngerti struktur atau beban angin, Kak," jawab Viona jujur. "Tapi aku mengerti cerita. Dan arsitektur kan juga tentang bercerita, kan? Bangunan itu punya narasi."

Zidan diam. Ia tampak sedang mempertimbangkan kata-kata Viona. "Narasi..." gumamnya pelan. "Selama ini aku fokus pada fungsi dan efisiensi. Mungkin aku lupa pada emosi ruang."

Ia menatap Viona lebih lama. "Bantu aku, Vion."

Viona terkejut. "Aku? Bantu bagaimana? Aku cuma mahasiswa sastra."

"Bacakan sketsa desain baruku," pinta Zidan tiba-tiba. "Anggap saja itu sebuah cerita. Ceritakan padaku apa yang kau rasakan saat melihat garis-garis itu. Jangan pakai istilah teknis. Pakai bahasamu."

Tanpa menunggu jawaban, Zidan menarik tangan Viona—kali ini genggaman itu lebih tegas, lebih hangat—dan menyeretnya masuk ke ruang kerja. Ia membuka laptop, menampilkan render 3D sebuah lobi mall yang megah namun terasa dingin.

"Lihat," tunjuk Zidan pada layar. "Ini adalah titik masuk utama. Simetris. Efisien. Tapi klien bilang terasa seperti masuk ke bank, bukan pusat perbelanjaan."

Viona menatap layar itu. Ia memiringkan kepala, mengamati sudut-sudut tajam dan warna abu-abu dominan.

"Kalau ini cerita," mulai Viona perlahan, "tokoh utamanya merasa kecil. Dia datang untuk bersenang-senang, tapi bangunan ini malah mengintimidasi dia. Garis-garisnya terlalu tegak, seperti jari yang menunjuk-nunjuk. Tidak ada undangan. Tidak ada pelukan."

Zidan mendengarkan dengan saksama, matanya tidak berkedip.

"Pelukan...? PP-EEE-LLUU-KKAN!"

"Iya. Mall itu tempat orang berkumpul, Kak. Tempat keluarga bertemu, teman bercanda. Seharusnya ada elemen yang 'melengkung', yang menyambut. Seperti... seperti pelukan ibu. Atau seperti lengkungan senyum."

"Ya...! Benar. Aku mengerti sekarang."

Jari Zidan bergerak cepat di touchpad, mengubah beberapa parameter desain. Ia menambahkan elemen kayu hangat di bagian resepsionis, melunakkan sudut-sudut tajam pilar dengan kurva halus, dan menambahkan pencahayaan kuning keemasan di area lounge.

"Seperti ini?" tanya Zidan, menoleh ke Viona.

Viona tersenyum. "Jauh lebih baik. Sekarang terasa... ramah. Ada cerita tentang kenyamanan di sini."

Zidan menatap layar, lalu menatap Viona. Ekspresinya berubah dari frustrasi menjadi kekaguman yang tertahan.

"Kau punya mata yang berbeda, Vion. Aku melihat angka dan beton. Kau melihat perasaan."

"Aku hanya melihat apa yang Kakak lewatkan karena terlalu sibuk jadi jenius," goda Viona ringan.

Zidan tertawa kecil, suara yang renyah dan melegakan. "Mungkin. Atau mungkin aku hanya butuh variabel yang tidak bisa dihitung oleh kalkulator."

Mereka bekerja bersama selama dua jam berikutnya. Viona memberikan masukan dari sudut pandang naratif dan emosional, sementara Zidan menerjemahkannya ke dalam bahasa desain. Proses itu mengalir alami, tanpa canggung. Batas antara kakak tiri dan rekan kreatif seolah menguap, digantikan oleh sinkronisasi pikiran yang menakjubkan.

Saat matahari mulai tinggi, Zidan menyimpan file desain barunya. Ia tampak jauh lebih rileks.

"Terima kasih, Vion," ucap Zidan tulus. "Ini... membantu banget."

"Sama-sama, Kak. Senang bisa bantu," jawab Viona, meregangkan punggungnya yang pegal.

Zidan berdiri, berjalan ke jendela. "Kau lapar? Aku pesan makan siang. Sebagai upah konsultan."

"Wah, konsultan sastra dapat bayaran mahal nih," canda Viona.

"Silakan minta menu apa saja. Asal jangan yang aneh-aneh," sahut Zidan, balik menatapnya dengan senyum miring.

"Pizza. Pepperoni. Extra cheese," tantang Viona.

Zidan menggelengkan kepala, tapi sudah mengambil ponselnya.

"Dasar rakus. Baiklah. Pizza pepperoni extra cheese."

Sementara Zidan memesan, Viona memandangi punggung pria itu. Ada kehangatan baru di antara mereka. Bukan hanya ketertarikan fisik atau kewajiban keluarga, tapi penghargaan intelektual. Zidan menghargai pikirannya. Dan bagi Viona, itu adalah bentuk validasi yang paling ia inginkan.

Tiba-tiba, ponsel Zidan berdering lagi. Bukan dari klien, tapi dari nomor yang tidak dikenal. Zidan mengangkatnya, wajahnya berubah serius.

"Halo? ... Ya, saya Zidan. ... Apa? Kapan? ... Baik, saya akan segera ke sana."

Ia menutup telepon, wajahnya pucat.

"Ada apa, Kak?" tanya Viona cemas.

"Itu dari rumah sakit," ucap Zidan berat. "Ibu jatuh di swalayan dan pingsan. Mereka bawa ke RS Telogorejo."

Darah Viona membeku.

"Ibu?! Kenapa Kakak nggak bilang dari tadi?"

"Aku baru dapat kabar sekarang. Sopir Ibu yang menelepon," jawab Zidan cepat, sudah meraih kunci mobil dan jaketnya. "Ayo. Kita harus ke sana sekarang."

Viona tidak bertanya lagi. Ia langsung mengikuti Zidan keluar rumah, jantungnya berdebar kencang karena khawatir. Lelucon tentang pizza dan desain mall tiba-tiba terasa sangat jauh. Realitas kehidupan yang rapuh kembali menghantam mereka.

Di dalam mobil, Zidan menyetir dengan kecepatan tinggi namun tetap terkendali. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat.

"Ibu akan baik-baik saja, Kan?" bisik Viona, mencoba menenangkan dirinya sendiri dan Zidan.

Zidan tidak menjawab. Matanya terpaku ke jalan, rahangnya mengeras. Tapi Viona melihat kilatan ketakutan di mata pria yang biasanya selalu tenang itu. Ketakutan kehilangan satu-satunya orang tua yang masih ia miliki.

Viona mengulurkan tangan, menutupi tangan Zidan yang berada di tuas perseneling. Genggaman itu erat, penuh dukungan.

"Aku di sini, Kak," ucap Viona tegas. "Kita hadapi sama-sama."

Zidan melirik tangan Viona sekilas, lalu mengangguk kaku. Untuk pertama kalinya, ia tidak menolak sentuhan itu. Ia membiarkan kehangatan tangan Viona menjadi jangkar baginya di tengah badai kecemasan yang melanda.

Dan di mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit, di antara keheningan yang mencekam, ikatan mereka bertambah kuat. Bukan lagi sekadar rahasia atau ketertarikan terlarang, tapi solidaritas dua jiwa yang saling bergantung saat dunia terasa runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!