Kehidupan Sasa sungguh berubah setelah dirinya bertemu dengan Amouru.
Laki-laki yang tidak sengaja dikenalnya di coffee shop tempat dia bekerja.
Laki-laki yang mengaku pada teman-temannya kalau Sasa adalah kekasihnya.
Tak sampai disitu,bahkan keluarga dari Amouru menyetujui hubungan mereka.
Sasa juga memiliki tiga sahabat,yang selalu bersama suka dan duka.Karena keadaan, Sasa pun memanfaatkan kehadiran Amouru sebagai kekasihnya.
Bagaimana kehidupan Sasa selanjutnya??
Yuk readers,baca cerita pertama ku.jangan lupa like, komen dan vote nya ya.terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"By the way..... emmm. Kalian jangan kaget ya." ujar Sasa bikin penasaran sahabatnya.
Lebih-lebih Amy saking penasarannya sampai menganga lebar banget.
"Cepetan dong Sa,jangan bertele-tele. kita jadi makin penasaran." bujuk Nana.
"Hmmm, kasih tahu gak yah." kata Sasa makin ngeledek sahabatnya.
"Ya udah gak usah,bikin penasaran aja.Ayo, kita kita tinggal aja Sasa." ajak Rei kesal.
Sasa sedari tadi ketawa terbahak-bahak.
"Iya, iya... Begini, aku minta tolong sama kalian buat kirimin undangan pernikahan ke temen-temen kita dulu.Kalau di kampus cuma yang aku kenal aja." pinta Sasa serius,
"Gampang itu Sa, lagian nikahnya aja sebulan lagi." kata Rei beranjak dari duduknya.
"Sebentar Rei, jangan pergi dulu aku belum selesai ngomong. Pernikahanku itu minggu depan." imbuh Sasa membuat Rei duduk kembali.Ketiga sahabatnya diam terpaku mendengar kata minggu depan.
"Kamu lagi gak becanda kan Sa,jantung ku beneran mau copot." ucap Nana dan Amy masih tidak percaya.
"Iya bener, jadi hari-hari ini aku sibuk mondar-mandir guys. Aku minta tolong sama kalian nanti ngerepotin ya." ujar Sasa memohon dengan senyuman.Memperlihatkan gigi-gigi nya yang rapi dan putih.
"Oke." jawab ketiga sahabatnya serentak menempelkan ibu jari dengan telunjuknya membentuk huruf O, tanda setuju.
Setelah mata kuliah selesai, Sasa dan juga seluruh Mahasiswa yang berada diruang kelas. berhamburan keluar untuk istirahat ada juga yang pulang seperti Sasa.
Sasa menuju pintu gerbang kampus, dengan menutup pucuk kepalanya dengan buku.Siang ini begitu panas, matahari tidak bersahabat hari ini.
Sasa berjalan agak berlari sedikit ke arah mobil mewah yang sudah menunggunya.
Devan telah membukakan pintu untuknya, didalam sudah ada Ayumi.
Mobil melaju dengan kencang dijalan yang lengang siang ini.Sementara matahari tidak bersahabat, tapi jalanan kali ini bersahabat dengannya.tidak macet.
****
Tumben hari ini mall sangat ramai.Mungkin sebagian orang memang sengaja ke mall.Karena hari ini begitu panas, jadi pada dateng ke mall dengan alasan ngadem.
"Ayumi, kita ke toko buku mana." tanya Sasa pada calon adik ipar nya.
"Toko G ka, di lantai 8.kita naik lift aja." ajak Ayumi menggandeng tangan Sasa.Ayumi sangat senang bisa akrab dengan calon kakak iparnya.
Bagi Ayumi, Sasa adalah calon ipar yang baik, menyenangkan dan lucu.
Ya, Kadang-kadang kelakuan Sasa rada konyol.
Saat ditoko buku, Sasa bertemu dengan teman sewaktu bekerja di coffeeshop. Dery namanya, Laki-laki yang menyukainya setelah Dimas.Tapi yang mendapatkan malah Aru guys, laki-laki yang tidak sengaja dikenalnya. Hehehe....
Tiba-tiba Dery menabrak Sasa yang sedang melihat-lihat buku.
"Hei... sorry." ucap Dery sebelum melihat wajah Sasa.
"Sasa.... apa kabar kamu." imbuhnya lagi setelah membalikkan badannya.
"Eh, Dery.kabat baik, bagaimana dengan kamu.Apa masih di coffeeshop. " tanya Sasa balik.
"Masih, eh... mau menikah kamu." kata Dery asal ucap ketika dia melihat buku yang sedang dipegang Sasa. Buku the wedding. Buku yang berisi macam-macam model gaun dan dekorasi ruangan.
"Kok kamu tahu Dery, padahal aku belum kirim undangan lho." jawab Sasa polos tidak mengerti kalau Dery hanya becanda.Dilihat dari muka nya yang sedikit kecewa.
"Beneran kamu mau menikah Sa." tanya Dery lagi memastikan.
"Benar, masa aku bohong sih."
lanjut Sasa.
Gubrak... Seandainya gak malu, mungkin Dery sudah pingsan. mendengar perempuan yang disukainya akan menikah.
"Nanti aku titip kamu ya undangan buat anak-anak di coffeeshop. Nanti aku telepon kamu." Sasa mengakhiri obrolannya dengan Dery saat Ayumi menghampiri.
Kemudian Sasa dan Ayumi meninggalkan Dery yang patah hati.Menuju kasir untuk membayar buku yang sudah dicari Ayumi.
****
Hari sudah sore saat mobil sedang melaju dijalanan kota.Sasa sangat lelah setelah berkeliling Mall.Matanya sudah tidak tahan lagi, sudah 5 watt. Sasa menyenderkan kepala di kursi mobil. Dan akhirnya ketiduran.Devan membawanya ke perusahaan bukan mengantar kerumahnya.
Mobil yang dikemudikan Devan akhirnya sampai didepan kantor Aru. Setelah melewati hampir dua jam dari Mall. Mengantar Ayumi dahulu dilanjutkan Sasa.tapi Sasa tidak tahu kalau dia dibawa ke kantor.
flasback on
Devan menunggu Sasa dan Ayumi di parkiran mall.Ponselnya berdering dan bergetar di kantong celananya. Segera diangkat ponsel itu oleh Devan.
"Halo bos, ada yang bisa saya bantu." Devan menjawab panggilan dari Aru, bos nya dikantor.dia tidak pernah lupa memanggilnya dengan nama Bos.
"Apa Ayumi belum selesai ditoko buku." tanya Aru dari ujung telepon.
"Belum bos, apa ada masalah.?" tangan kanan Aru balik nanya penasaran.
"Gak ada, nanti kalau mereka pulang antar Ayumi kerumah dan bawa Sasa ke kantor." perintah bosnya.
"Baik bos, saya mengerti." Devan menutup ponselnya setelah Aru menutupnya dari ujung sana.
flasback off.
"Nona Sasa, kita sudah sampai." Devan membangunkan Sasa yang terlelap dikursi belakang kemudi.
"Eh, dimana aku Devan." Sasa mengucek matanya, membelalak kaget saat menyadari itu kantor Aru bukan rumahnya.
"Bos menyuruh saya membawa non Sasa kesini." jawab Devan kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk Sasa.
Sepanjang lobby kantor, semua karyawan menundukkan kepalanya.Sore itu memang jam nya orang kantor pulang.Banyak karyawan perusahaan yang keluar kantor untuk pulang.
"Sungguh tidak nyaman mendapat penghormatan dari orang-orang yang derajatnya sama seperti aku." gumam Sasa sambil berjalan kearah lift.
pengen rasanya buru-buru sampai ruangan Aru biar tidak ketemu orang-orang ini.
Didalam lift pun, Orang-orang memandangi Sasa dengan perasaan takut.
Buru-buru Sasa menuju ke ruangan Aru saat lift terbuka dilantai 6.
Masuk kedalam dan menjatuhkan badannya disofa. Tanpa menyadari ada Rafa di ruangan.
"Wuih.... calon pengantin sudah datang." sapa Rafa saat melihat Sasa menjatuhkan diri di sofa.
"Eh.... " Sasa tidak melanjutkan omongannya karena terkejut ada orang lain selain Aru.Sasa kira semua karyawan sudah meninggalkan kantor.Kenapa yang satu ini malah disini.
"Lihat ini, pilih yang kamu suka." Aru beranjak dari duduknya menyodorkan majalah yang berisi model gaun pengantin. kemudian balik lagi ke meja kerjannya.
Dibukanya majalah itu, dan tidak lama Sasa sudah memilih yang dia suka.
Sasa memberitahu pilihannya pada Aru.Lalu saat itu juga Aru menelepon wedding organizer yang akan menangani pernikahan mereka.
"Hai, kenapa kalian memajukan pernikahan kalian.bukannya sebulan lagi, apa kalian sudah tidak sabar." ujar Rafa tertawa menggelegar seperti petir.
"Iya, aku sudah ga sabar.memangnya kenapa, masalah buat kamu." timpal Sasa ketus, dari awal Sasa memang sedikit tidak suka dengan sifat konyolRafa.
Aru hanya senyum-senyum mendengar jawaban Sasa yang menohok.Tak disangka kekasihnya bisa juga membuat Rafa marah.