Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Lalu apa yang bisa saya bantu?"
Pelayan yang paling tua akhirnya menyerahkan sekeranjang buncis.
"Kalau Nyonya tidak keberatan, nyonya boleh bantu memotong sayuran ini."
Aisyah menerimanya dengan kedua tangan.
"Tentu. Terima kasih sudah mengizinkan saya membantu."
Kalimat sederhana itu justru membuat beberapa pelayan saling berpandangan lagi. Bukankah seharusnya merekalah yang berterima kasih kepada majikannya? Namun Aisyah justru berbicara seolah mereka sedang bekerja bersama. Aisyah kemudian duduk di salah satu kursi kecil sementara tangannya mulai memotong buncis dengan cekatan. Gerakannya rapi, cepat dan terlihat sangat terbiasa. Salah seorang pelayan perempuan memperhatikannya dengan kagum.
"Apa nyonya sering memasak?"
Aisyah tersenyum sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Ya, sejak kecil. Kalau di rumah, saya sering membantu Abi dan Kak Salsa."
Ucapan itu membuat dapur kembali dipenuhi kehangatan. Tanpa mereka sadari, kesan canggung yang tadi memenuhi ruangan perlahan mulai menghilang. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari keluarga Adhitama, Aisyah mulai diterima, bukan karena statusnya sebagai nyonya muda, melainkan karena ketulusan hatinya yang membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.
Waktu terus berlalu, tidak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Cahaya matahari yang hangat mulai menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar kediaman keluarga Adhitama. Di lantai dua, satu per satu pintu kamar mulai terbuka. Para pelayan berlalu-lalang membawa teko teh hangat, kopi, dan beberapa piring kecil berisi buah yang akan disajikan sebagai pelengkap sarapan. Di sisi lain rumah, suara langkah kaki laki-laki terdengar memenuhi lorong. Pak Wira keluar dari ruang kerjanya lebih awal dari biasanya. Setelan jasnya tampak rapi yang menandakan bahwa setelah sarapan nanti ia akan langsung menuju kantor Adhitama Group.
Tak lama kemudian, Bu Ratih juga keluar dari kamarnya. Perempuan paruh baya itu tampak jauh lebih segar dibanding semalam. Meski begitu, tatapannya beberapa kali mengarah ke ujung lorong, tepat ke arah kamar Ammar. Entah bagaimana keadaan kedua pengantin baru itu. Semalam ia sama sekali tidak berani mengganggu mereka.
Sementara itu, pintu kamar Salsa perlahan terbuka. Salsa keluar dengan wajah yang jauh lebih pucat daripada biasanya. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata sedikit pun.
Bayangan tentang Ammar dan Aisyah terus menghantuinya hingga dini hari, meski ia berulang kali meyakinkan dirinya bahwa Ammar pasti akan memegang janjinya, tetap saja rasa takut itu tidak kunjung hilang ketika melihat mertuanya sudah berada di lorong, Salsa buru-buru memasang senyum kecil.
"Selamat pagi, Pa... Ma."
"Pagi, Sayang."
Mendengar sapaan menantunya, Pak Wira hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian, Pintu kamar Ammar akhirnya ikut terbuka. Ammar keluar dengan wajah datar seperti biasanya sementara penampilannya sudah rapi dan siap untuk pergi ke kantor. Tatapannya menyapu lorong sekilas sebelum mengangguk sopan kepada kedua orang tuanya.
"Pagi, Pa."
"Pagi." Pak Wira menepuk bahu putranya. "Gimana? Apa tidur kalian nyenyak semalam?"
Ammar mengangguk singkat.
"Iya."
Jawaban itu terdengar sangat biasa. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa semalaman laki-laki itu justru berkali-kali terbangun karena bayangan seorang gadis bercadar yang diam-diam menangis di balik pintu kamar mandi terus memenuhi pikirannya yang membuatnya segera mengusir ingatan itu.
"Aku tidak boleh memikirkannya." Batin Ammar. "Aku melakukan semua ini hanya demi Salsa."
Tak lama kemudian mereka semua berjalan menuju ruang makan. Ruang makan keluarga Adhitama berada di lantai bawah. Ruangan luas itu dipenuhi cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Meja makan panjang berbahan kayu jati telah dipersiapkan. Biasanya, sebelum semua anggota keluarga duduk, para pelayan sudah lebih dulu menghidangkan seluruh makanan. Namun pagi ini, meja itu masih kosong yang membuat Pak Wira mengernyit.
"Belum siap?" Tanya pak Wira yang membuat salah seorang pelayan segera membungkukkan badan.
"Maaf, Tuan. Hidangannya sedang dibawa."
Pak Wira mengangguk.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah dapur. Beberapa pelayan keluar sambil membawa nampan besar berisi berbagai hidangan yang membuat aroma masakan langsung memenuhi seluruh ruang makan. Sayur lodeh yang masih mengepul, Ayam goreng sambal bawang dengan aroma bawang putih dan cabai yang menggugah selera, Tempe goreng tepung, Perkedel kentang, Sambal terasi, Lalapan segar serta se-poci teh hangat. Namun, Yang membuat seluruh penghuni rumah terdiam bukanlah makanan itu. Melainkan sosok yang berjalan paling belakang sambil membawa mangkuk besar berisi sayur lodeh.
Aisyah.
Perempuan itu mengenakan gamis sederhana berwarna krem dengan celemek putih yang belum sempat dilepas. Hijab dan cadarnya tetap terpasang rapi sementara tangannya membawa mangkuk sayur lodeh dengan hati-hati agar kuahnya tidak tumpah. Begitu melihatnya langsung membuat langkah Ammar seketika berhenti begitu pula Salsa. Bu Ratih bahkan sampai berkedip beberapa kali sementara pak Wira seketika mengernyit saat melihat Aisyah yang berjalan membawa hidangan sarapan bersama para pelayan.
"Aisyah?"
Aisyah langsung menundukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum, Pa... Ma."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Wira menjawab pelan. Tatapannya kemudian berpindah kepada para pelayan yang berdiri di belakang Aisyah sementara keningnya semakin berkerut.
"Apa maksud semua ini?"
Suasana ruang makan yang semula hangat mendadak berubah tegang. Para pelayan saling berpandangan. Tak seorang pun berani menjawab, sementara Pak Wira mulai berdiri dari kursinya yang membuat suara sepatunya bergema pelan di lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan kepala pelayan.
"Wati."
Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya karena takut.
"Iya, Tuan."
"Bukankah sudah menjadi tugas kalian menyiapkan makanan?"
"I-iya, Tuan."
"Lalu kenapa kalian membiarkan Aisyah ikut memasak?"
Nada suara Pak Wira memang tidak tinggi, namun cukup membuat seluruh pelayan menegang. Mereka tahu kalau pemilik rumah itu sangat menghargai para pekerjanya, tetapi pak Wira juga sangat tegas apalagi jika menyangkut tamu atau anggota keluarganya.
"Kami..." Pelayan itu menggigit bibirnya. "Kami sebenarnya sudah melarang Nyonya, tuan."
Belum sempat pelayan itu melanjutkan kalimatnya, Aisyah buru-buru melangkah maju.
"Pa..." Suara lembut itu langsung membuat semua orang menoleh. Aisyah sekilas menoleh ke arah para pelayan yang terlihat ketakutan sebelum akhirnya ia kembali menatap pak Wira. "Maaf." Pak Wira menatap menantu barunya. "Jangan salahkan mereka." Aisyah tersenyum kecil di balik cadarnya. "Mereka sudah berkali-kali meminta Aisyah untuk tidak memasak ataupun mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Aisyah yang memaksa ingin membantu."
Pak Wira terdiam sementara Aisyah melanjutkan perkataannya dengan suara pelan.
"Aisyah hanya merasa," Ia menarik napas sebentar. "Sebagai anggota keluarga baru di rumah ini, Aisyah juga ingin melakukan sesuatu. Aisyah tidak enak kalau hanya berdiam diri sementara semua orang bekerja."
Semua orang mendengarkan. Tak ada sedikit pun Aisyah mencari muka dalam ucapan itu. Tak ada kesan ingin dipuji, justru terdengar sangat tulus.
"Aisyah juga tidak ingin merepotkan siapa pun. Aisyah hanya membantu sedikit. Kalau hasilnya kurang enak, Aisyah mohon maaf."