NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemburu dari Desa Qinghe

​Fajar baru saja menyingsing. Suara kokok ayam jantan sahut-menyahut, memecah kesunyian Desa Qinghe yang berkabut.

​Di sudut paling terpencil dan kumuh, berdiri sebuah gubuk tua. Atap jeraminya sudah lapuk, miring ke satu sisi, seolah bisa roboh kapan saja hanya karena hembusan angin kencang.

​Itulah rumah Shen Yu. Seorang pemuda berusia enam belas tahun yang hidup sebatang kara.

​Sejak kecil, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Dari mana ia berasal pun tetap menjadi misteri yang enggan digali oleh penduduk setempat. Bagi mereka, Shen Yu hanya punya satu identitas yang melekat sejak lahir.

​Anak haram.

​Dahulu, kata-kata makian itu kerap membuat dadanya sesak dan tinjunya mengepal erat. Namun, waktu dan kerasnya hidup telah menempa mentalnya menjadi sedingin batu.

​"Bukankah mulut busuk mereka tidak bisa membuat perutku kenyang?" gumam Shen Yu. Ujung bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang meremehkan.

​Ia memanggul busur kayu buatannya sendiri, lalu menyelipkan sebilah belati pendek di pinggang. Di punggungnya, sebuah tabung bambu berisi belasan anak panah berbulu unggas bergoyang mengikuti langkah kakinya.

​Hari ini ia harus mendapatkan buruan besar. Persediaan daging asap dan beras di gubuknya sudah benar-benar tandas.

​Saat melewati jalan utama desa, langkah Shen Yu terhambat. Beberapa pemuda yang sedang nongkrong di bawah pohon beringin tua langsung mengarahkan tatapan sinis kepadanya.

​"Hei, lihat. Bukankah itu si anak haram?" cemooh salah satu pemuda yang bertubuh gempal.

​"Wah, masih hidup rupanya. Kupikir dia sudah mati kelaparan di gubuk reyotnya," timpal yang lain, memancing tawa remeh dari kelompok tersebut.

​"Hati-hati kalau masuk hutan, Shen Yu. Jangan sampai binatang buas di sana muntah karena jijik memakan daging harammu!"

​Gelak tawa pun pecah, menggema di pagi yang dingin itu.

​Shen Yu menghentikan langkahnya. Bukannya marah atau ketakutan, ia justru menoleh dengan santai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

​"Aku memang mau pergi berburu ke hutan," ucap Shen Yu, nadanya sangat lempang.

​"Lalu? Siapa yang peduli?!"

​"Tidak ada. Aku hanya berpikir... kalau ternyata hewan mangsaku di dalam hutan jauh lebih pintar dan punya otak daripada kalian yang di sini, tolong jangan bilang siapa-siapa, ya. Kasihan kalian kalah pintar," ujar Shen Yu tenang.

​"Pfft!" Beberapa orang tua yang kebetulan lewat langsung membekap mulut, berusaha keras menahan tawa.

​Sebaliknya, wajah para pemuda yang nongkrong di bawah beringin seketika berubah merah padam. Darah mereka mendidih mendengar sindiran telak itu.

​"Bangsat! Berani sekali kau menghina kami!" Pemuda berbadan gempal itu melangkah maju dengan kepalan tangan terangkat.

​Namun, Shen Yu sudah berbalik. Ia hanya melambaikan tangan kirinya ke udara tanpa sudi menoleh lagi.

​"Aku sibuk mencari makan untuk bertahan hidup. Kalian lanjut saja mencari masalah untuk memperpendek umur."

​Sebelum para pemuda itu sempat mengejarnya, sosok Shen Yu sudah melesat cepat, menghilang di balik rimbunnya pepohonan yang membatasi desa dengan wilayah luar.

​Begitu menginjakkan kaki di kawasan Pegunungan Awan Hitam, atmosfer di sekitar Shen Yu berubah total. Ekspresi santai dan malas di wajahnya lenyap tanpa bekas.

​Tatapannya menajam, berpendar waspada bagai seekor kucing liar yang mengintai mangsa.

​Setiap langkah kakinya di atas daun-daun kering hampir tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya yang jeli bergerak aktif—memeriksa bekas pijakan di tanah berlumpur, patahan ranting yang masih basah, hingga membaca arah embusan angin lewat helai rambutnya.

​Di tempat seganas ini, berburu bukan sekadar menarik tali busur. Kesalahan sekecil apa pun, atau lengah satu detik saja, akan membalikkan keadaan: si pemburu berubah menjadi mangsa yang mengenaskan.

​Mata Shen Yu tiba-tiba terpaku pada seonggok tanah. "Jejak rusa gunung... masih sangat baru."

​Ia berjongkok, menyentuh tepi bekas pijakan kaki hewan itu yang masih lembap dengan ujung jarinya.

​Mengikuti instingnya yang tajam, Shen Yu bergerak tanpa suara, menyusuri semak-semak lebat hingga tiba di tepi sebuah aliran sungai kecil yang jernih.

​Di sana, seekor rusa dengan tanduk putih yang indah sedang menunduk, meminum air dengan tenang. Hewan itu sama sekali tidak menyadari keberadaan malaikat maut di balik semak-semak.

​Shen Yu perlahan mengangkat busur kayunya. Ia memasang anak panah, lalu menarik tali busur hingga melengkung sempurna.

​Menarik napas perlahan...

​Menahannya di tenggorokan...

​Sret!

​Tali busur dilepaskan. Anak panah membelah udara, melesat secepat kilat menuju leher sang rusa.

​Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Tepat satu inci sebelum mata panah menembus kulitnya, rusa itu tiba-tiba melompat ke samping secara tidak wajar, seolah ada insting gaib yang memperingatkannya.

​Tuk! Anak panah Shen Yu hanya menancap di batang pohon di seberang sungai.

​"Itu bukan gerakan refleks seekor rusa biasa..." Shen Yu mengernyitkan dahi.

​Belum sempat ia menganalisis kegagalannya, bulu kuduk di leher Shen Yu tiba-tiba meremang.

​Seluruh hutan mendadak menjadi hening secara tidak wajar.

​Kicau burung yang tadinya ramai seketika senyap. Suara jangkrik dan serangga malam yang tersisa langsung mati. Bahkan embusan angin yang menggoyang dedaunan pun berhenti total. Hutan itu mendadak mati.

​Shen Yu menurunkan busurnya perlahan, namun jemarinya menggenggam kayu busur itu hingga memutih.

​Pengalamannya bertahan hidup di alam liar selama bertahun-tahun membisikkan satu kenyataan pahit di telinganya.

​Kesunyian mencekam seperti ini hanya berarti satu hal: Pemangsa puncak yang berada di puncak rantai makanan telah tiba.

​Krek...

​Suara ranting yang terinjak terdengar samar dari arah jam dua di balik semak-semak belukar.

​Shen Yu tidak membuang waktu untuk menoleh. Gerakan tangannya secepat sambaran petir—mengambil anak panah baru, menarik busur, dan melepaskannya ke sumber suara dalam satu gerakan mengalir.

​Sret!

​"Auuuuuu!"

​Raungan kesakitan memecah kesunyian. Seekor serigala berbulu abu-abu pekat melompat keluar dari balik semak sambil pincang. Anak panah Shen Yu menembus tepat di lutut kaki depannya.

​"Benar dugaanku," bisik Shen Yu.

​Namun, senyum kepuasan di wajahnya langsung lenyap, digantikan oleh ketegangan yang membuat jantungnya berdegup kencang.

​Serigala itu tidak berburu sendirian.

​Satu... Tiga... Lima...

​Dalam hitungan detik, belasan serigala abu-abu bermunculan dari kegelapan balik pohon. Mereka bergerak taktis, membentuk lingkaran sempurna yang menutup semua jalur pelarian Shen Yu. Taring-taring tajam mereka menyeringai, meneteskan air liur yang kelaparan.

​"Sial. Sepertinya hari ini akulah yang tertulis di dalam menu makan siang mereka," gumam Shen Yu.

​Meski sempat berseloroh, sorot matanya tetap sedingin es. Otaknya berputar cepat, mencari celah di antara kepungan binatang-binatang buas tersebut.

​GRAAAH!

​Tanpa peringatan, seekor serigala yang berukuran paling besar melompat menerjang, mengincar tenggorokan Shen Yu dengan cakar depannya yang mengerikan.

​Shen Yu menjatuhkan dirinya, berguling ke samping di atas tanah.

​Blam! Cakar serigala itu menghantam tempat Shen Yu berdiri sebelumnya, meremukkan batu dan meninggalkan bekas robekan yang dalam di tanah.

​"Cepat juga bajingan ini!"

​Memanfaatkan momentum saat tubuhnya bangkit, Shen Yu menghunus belati pendek di pinggangnya. Dengan gerakan menusuk ke atas, ia menghantamkan bilah tajam itu tepat ke urat nadi leher seekor serigala lain yang mencoba menerkamnya dari samping.

​Darah segar yang hangat menyembur, membasahi wajah dan baju Shen Yu. Serigala itu menggelepar sejenak sebelum akhirnya roboh tak bernyawa.

​Namun, kematian salah satu anggota kawanan justru menjadi pematik amarah bagi yang lain. Mata belasan serigala itu berubah merah darah. Mereka melolong bersamaan dan merangsek maju sekaligus!

​"Kalau terus meladeni mereka di tempat terbuka seperti ini, aku akan mati kehabisan stamina!"

​Shen Yu memutar tubuhnya, berlari sekencang mungkin menuju lereng berbatu di bagian atas pegunungan.

​Ia hafal seluk-beluk Pegunungan Awan Hitam melebihi siapa pun di Desa Qinghe. Jika ia bisa mencapai celah sempit di tebing batu, ia bisa membatasi jumlah serigala yang menyerangnya satu per satu.

​Namun, baru beberapa puluh meter ia berlari, tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergetar hebat.

​Bum! Bum! Bum!

​Getaran itu begitu kuat, seolah ada palu raksasa yang sedang menghantam bumi dari dalam.

​Langkah kaki kawanan serigala yang mengejarnya mendadak berhenti total. Binatang-binatang buas yang tadinya beringas itu tiba-tiba menundukkan kepala dalam-dalam. Ekor mereka menjuntai lemas di antara kedua kaki belakang, tubuh mereka gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat.

​"Aneh... Apa yang membuat mereka ketakutan seperti ini?" Shen Yu memperlambat larinya, ikut merasakan firasat buruk.

​ROOOAAARRR!!!

​Sebuah raungan dahsyat yang memekakkan telinga mengguncang seluruh Pegunungan Awan Hitam. Gelombang suara yang dihasilkan begitu masif hingga merontokkan dedaunan dari pohon-pohon besar di sekitarnya. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat dan menyesakkan dada.

​Wajah Shen Yu memucat. "Itu... jelas bukan suara serigala!"

​Dari balik kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti hutan, muncul sepasang mata berwarna merah menyala sebesar lentera rumah. Tekanan aura (pressure) yang dipancarkan makhluk itu begitu mengerikan, membuat dada Shen Yu terasa seperti dihantam godam tak kasat mata.

​Wush!

​Melihat sepasang mata merah itu, kawanan serigala abu-abu yang tadi mengepung Shen Yu langsung berbalik arah. Mereka lari tunggang-langkik menyelamatkan nyawa masing-masing, melupakan rasa lapar mereka begitu saja.

​Shen Yu terengah-engah, ikut melangkah mundur. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, ia merasakan teror kematian yang begitu nyata. Setiap sel di tubuhnya berteriak untuk segera lari, namun kakinya terasa seperti terpaku ke tanah.

​Sosok raksasa di balik kabut itu mulai melangkah maju, memperlihatkan siluet tubuhnya yang luar biasa besar.

​Namun, belum sempat wujud asli makhluk mengerikan itu terlihat sepenuhnya oleh mata Shen Yu, sebuah suara retakan keras terdengar dari bawah kakinya.

​KRAAAKK!

​"Apa?!" Shen Yu terpekik.

​Tanah berbatu yang ia pijak mendadak runtuh dan retak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sebuah celah jurang yang menganga lebar tiba-tiba tercipta di bawah kakinya.

​Shen Yu kehilangan pijakan. Tubuhnya terlempar, jatuh bebas ke dalam jurang gelap gulita yang tampaknya tidak memiliki dasar.

​Angin kencang menerpa wajahnya saat tubuhnya melesat turun ke kedalaman bumi. Di sisa-sisa kesadarannya yang mulai memudar akibat hantaman tekanan udara, Shen Yu sempat mendongak ke atas.

​Ia melihat sosok monster raksasa bermata merah itu berdiri di bibir jurang yang runtuh.

​Namun, bukannya melompat mengejarnya atau meraung marah karena mangsanya jatuh, makhluk raksasa itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya yang besar sedikit membungkuk khidmat.

​Monster itu... sedang memberikan penghormatan tertinggi kepada sesuatu yang berada di dasar jurang ini!

​"Apa... sebenarnya yang ada... di bawah sini...?" bisik Shen Yu parau, sebelum matanya benar-benar terpejam.

​Tubuh pemuda itu terus tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.

​Dan tepat di titik terdalam jurang mistis tersebut, sebuah berkas cahaya keemasan yang luar biasa murni perlahan-lahan mulai menyala, menyambut kedatangan sang pemburu dari Desa Qinghe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!