Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Ruby
Hati Ane bergedub kencang, di depan pintu ruangan bosnya dia berhenti sebentar untuk merapikan penampilan dan sedikit mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri.
Setela dirasa siap, jemari lentiknya segera mengetuk pintu dengan pelan.
Tok... Tok.. Tok..
"Masuk" segera Ane memutar handle pintu setelah mendapat izin dari si empunya ruangan.
"Selamat pagi, pak" sapa Ane sopan sambil berjalan pelan memasuki ruangan.
"Pagi, silahkan duduk" ujar Bima, atasannya di perusahaan ini.
"Terimakasih, pak" ujar Ane duduk dan meletakkan tasnya dalam pangkuan.
"Selamat untuk gelar sarjana yang sudah ?kamu dapatkan ya, An. Saya sebagai atasanmu merasa sangat bangga" ujar Bima.
"Terimakasih, pak" jawab Ane sopan, dia masih menunggu bosnya ini membolak-balik berkas yang ada dihadapannya.
"Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke ruangan saya?" akhirnya, sang bos menuju ke pusat persoalan.
"Saya kurang tahu, pak. Kemarin mbak Prita hanya memberi tahu saya kalau bapak menyuruh untuk menemui bapak" kata Ane.
"Baiklah, saya akan menjelaskan maksud dan tujuan saya memanggilmu" kini sang bos tengah menatap Ane, sedikit menilik penampilannya juga.
"Terimakasih atas kerja kerasmu selama ini di perusahaan ini. Selama hampir tujuh tahun bekerja, hampir minim kesalahan yang kamu lakukan. Loyalitas dan kejujuranmu sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi dari kami" ujar Bima yabg semakin membuat Ane deg-degan.
"Sebenarnya sudah sejak lama kami ingin memberimu kesempatan mengenai jenjang karir, tapi terkendala status pendidikanmu yang hanya tamatan SMA".
"Dan mendengar kamu sudah mendapatkan gelar strata satu, beberapa waktu kemarin kami sudah mengadakan rapat intern untuk memberimu kesempatan naik jabatan sebagai manager. Tapi untuk masa training, kamu ditempatkan di cabang Bandung. Bagaimana, apa kamu setuju?" tanya Bima.
Dalam hati Ane sangat bahagia, karena kerja kerasnya selama ini mendapatkan apresiasi yang baik dari perusahaan. Dan mengenai pemindahan area, memang sudah menjadi impiannya. Apalagi akhir-akhir ini setelah kembali dipertemukan dengan Vicky.
Niat untuk pergi jauh semakin meninggi dalam benaknya. Jauh dari semua masa lalunya.
"Saya sangat berterima kasih atas apresiasi yang diberikan pada saya, pak. Dan untuk penempatan, dimana saja saya mau. Tapi, saya minta waktu untuk mempersiapkan semuanya dulu, pak. Apa boleh?" tanya Ane ragu.
"Oh, tentu saja boleh, An. Saya juga paham kalau semua butuh waktu. Ehm, apa satu bulan cukup untuk kamu mempersiapkan diri?" tanya Bima, pria yang berusia sekitar empat puluhan itu.
"Kami juga harus menginformasikan mengenai pemindahanmu ke Cabang Bandung" kata Bima.
"Satu bulan? Sepertinya cukup, pak. Kalau nanti persiapan yang saya lakukan tidak sampai satu bulan, akan saya informasikan pada bapak" jawab Ane dengan senyum terkembang.
"Ya. Semoga nanti kamu betah disana, ya. Tapi tidak menutup kemungkinan jika nantinya kamu akan dikembalikan ke kota ini jika masa training kamu berakhir" kata Bima.
"Saya tidak masalah jika harus menetap disana, pak. Terimakasih atas kepercayaan nya pada saya untuk mendapatkan jabatan ini. Semoga saya bisa meningkatkan kinerja saya nantinya" kata Ane.
"Sama-sama. Sudah sepatutnya kamu mendapatkan ini atas kerja kerasmu selama ini. Sekali lagi, selamat ya" kata Bima sambil menjulurkan tangan untuk memberi selamat pada anak buahnya ini.
"Terimakasih, pak. Kalau begitu, saya permisi dulu" kata Ane senang, dan kini dia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada Aldo dan Prita.
Karena hari ini Ane sedang libur kerja, tanpa membuang kesempatan dia pergi ke sekolah Lia untuk bertemu dengan gurunya sekalian akan menjemputnya saat pulang.
Kini, diruang guru.
Ane sedang berhadapan dengan wali kelas Lia.
"Sangat disayangkan sekali jika Lia harus pindah ya, bu. Padahal prestasinya sangat baik, terutama di bidang olahraga" tutur wali kelas Lia.
"Kebetulan saya dipindahtugaskan ke luar kota, bu. Jadi, saya kan harus membawa Lia juga. Nanti berkas yang dibutuhkan untuk mutasi akan segera saya berikan ya, bu. Sekali lagi terimakasih karena selama ini sudah menjadi guru yang baik untuk anak saya" ujar Ane sekalian berpamitan karena hel pulang sekolah juga sudah berdenting.
"Sama-sama, bu. Nanti surat mutasinya akan segera saya siapkan. Semoga betah di tempat yang baru ya, bu Ane" ujar guru Lia sembari menerima uluran tangan Ane.
Selesai dengan urusan sekolah Lia, segera Ane keluar ruang guru dan ternyata Lia sudah nampak menunggu jemputannya bersama Johan.
"Hai sayang" sapa Ane yang sengaja memberi sedikit kejutan untuk putri cantiknya.
"Mama? Uwah, Lia senang sekali bisa pulang dengan mama" kata Lia sambil memeluk senang pada Ane.
"Mama sengaja kasih surprise buat kamu. Ehm, kamu juga sedang menunggu jemputan ya, Johan? Biasanya siapa yang menjemput kamu?" tanya Ane sedikit khawatir jika bertemu Vicky disini.
"Biasanya sih supir, tante. Sebenarnya aku mau mengajak Lia main, tapi kalau tante yang menjemputnya, apakah boleh kami main dulu, tante?" tanya Johan ragu.
"Lain kali saja ya, Johan. Karena tante ingin mengajak Lia pergi" ujar Ane yang membuat Johan sedikit kecewa, tapi tentu anak itu harus mengerti.
Segera Ane membawa Lia, dan baru saja Lia naik ke atas motor mamanya, Johan pun dijemput oleh Ruby yang kali ini membawa serta Robi dengan alasan masih harus meeting pada Johan.
Padahal Robi hanya ingin diberi kesempatan untuk bersama Johan meski untuk kali ini saja. Selanjutnya, Robipun akan kembali ke negaranya.
Merasa waktunya di kota ini tak akan lama lagi, Ane mengajak Lia untuk berjalan-jalan dulu hari ini. Diawali dengan makan di sebuah mall.
Dan saat keduanya tengah menikmati makanannya, rupanya ada Johan yang duduk di meja sebelah dan dengan semangatnya malah memanggil Lia.
"Aku tidak menyangka akan bertemu disini Lia" ujar Johan dari kursinya, bertegur sapa dengan Lia.
Kedua anak kecil itu saling mengobrol sambil tetap menyendokkan makanan ke dalam mulut.
Tapi satu hal yang membuat Ruby nampak sangat geram adalah, pandangan Robi yang nampak memuja saat menatap Ane.
Ya, di usianya yang semakin matang memang membuat Ane nampak makin menantang. Wajah cantik alaminya dipoles sedikit make up tipis yang semakin membuatnya mempesona.
Rambut panjangnya ditata curly di bagian ujung dan sengaja diikat sedikit saja.
Jangan tanya postur tubuhnya, seumpama gitar spanyol kata para pujangga. Tentu saja banyak tatapan memuja dari para pria untuknya.
Seperti halnya Robi, daritadi pria itu seolah tak bosan menatap Ane dari kursinya. Hingga membuat Ruby geram karena teguran darinya tak jua digubris.
Robi nampak asyik memperhatikan Ane dan segala tingkah lakunya.
"Kau memang selalu menjadi ancaman dimanapun berada, seharusnya aku melenyapkanmu saja sejak dulu" geram Ruby yang sengaja mendatangi meja Ane karena terlalu emosi.
"Tante, kau seharusnya berhati-hati dengan mulutmu. Sebenarnya aku mengetahui semua kejahatanmu, bahkan aku pernah mendengar pembicaraanmu dengan om itu mengenai Johan loh tante" inisiatif Lia yang tiba-tiba membisikkan sesuatu di telinga Ruby, membuat wanita yang tanpa permisi duduk di sebelah Ane itu membelalak kaget.
"Kau mengancamku anak kecil?" ejek Ruby dengan tatapan tajamnya.
"Dia hanya berbicara yang sebenarnya. Apa kau tidak malu kalau sampai Lia melakukan apa yang tadi dia sampaikan?" kata Ane yang mendukung Lia, padahal dia tak tahu apa yang sudah Lia sampaikan.
"Sekarang pergilah ke tempatmu dan jauhi kami" ancam Ane yang membuat Ruby tak bisa berkata-kata.
Dengan wajah kesal, dia kembali ke mejanya. Dan malah mendapat gelengan kepala dari Robi yang mengisyaratkan rasa kecewanya.
"Kami duluan ya, Johan" pamit Ane sebelum pergi, karena melihat Johan yang nampak sedih membuatnya sedikit tak enak hati.
Johan hanya bisa mengangguk dan terdiam. Dia merasa sedikit malu dengan kelakuan mamanya.
"Jaga matamu itu, brengsek! Kau seperti singa kelaparan saat melihatnya" tutur Ruby yang lupa jika ada Johan bersamanya.
Dan sialnya lagi, Ruby malah terlalu memikirkan perkataan Lia. Karena tak hanya sekali saja dia mengancamnya.
"Jaga mulutmu dihadapan anak kecil, sayang" tutur Robi yang semakin membuat Johan tak menyukai pria itu.
Dalam hatinya, Johan ingin Robi menjauhi mamanya. Tapi dia terlalu takut untuk mengatakan itu semua.
Seharian ini Ane benar-benar membuat Lia letih dengan berkeliling kota. Keduanya memang jarang sekali menghabiskan waktu bersama belakangan ini.
Karena Ane yang disibukkan dengan pekerjaan dan jadwal kuliahnya. Hingga setelah lulus, Ane ingin menebus kebersamaannya dengan sepuasnya bermain berdua saja dengan Lia.
"Besok mama harus kembali bekerja, sayang. Mama harap besok kamu tidak pergi terlalu jauh ya" kata Ane saat sudah bersiap tidur dengan Lia.
"Lia hanya ingin pergi ke taman, ma. Siapa tahu bisa bertemu dengan kakek Abra lagi" ujar Lia.
"Siapa itu kakek Abra?" tanya Ane yang kembali mendengar nama baru dari mulut anaknya.
"Kakek tua yang kesepian, ma. Kasihan dia. Dulu saat Lia main ke taman sama kak Gita nggak sengaja bertemu dengannya. Mungkin akhir pekan besok, dia akan datang lagi. Lia ingin menghiburnya agar tidak kesepian, ma" ujar Lia sambil memejamkan matanya, rasa letih membuat kantuk menyerang.
Dan Ane tak bisa untuk bertanya lebih lanjut karena Lia yang sudah terlelap.
"Mama bangga karena jiwa sosial kamu sangat tinggi, nak. Dan mama sangat bersyukur karena kita dikelilingi oleh orang yang sangat baik hingga membuatmu tumbuh kuat dan berhati lembut. Mama sangat sayang sama Lia" kata Ane yang menghujani banyak kecupan di wajah putrinya.
Diapun juga harus segera beristirahat. Sedikit waktu yang dia punya harus dimanfaatkan dengan baik agar tak meninggalkan kesan yang buruk untuk orang disekitarnya.
Ane sudah tidak sabar untuk segera keluar dari circle kehidupan Alexander yang kembali menjerat hidupnya.
Semoga di kota baru nanti, diapun akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?