Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
Marina pun menambahkan bumbu yang semakin membuat Felix murka.
"Semua orang disekolah itu tahu, kalau kak Felix dan Violet itu pacaran karena saling membutuhkan."
"Kakak kan tahu sendiri, disekolah kita itu ada sistim kasta. Kak Felix punya kuasa, dan Violet si miskin itu bisa mendapatkan kasta karena menyumbang kepintarannya ke kakak," imbuh Marina dengan nada suara yang terdengar begitu menyakinkan.
Kedua tangan Felix terkepal, menahan amarah yang sangat sulit terbendung.
"Menyumbang kepintaran? Apa maksudmu?" tanya Felix dengan suara yang sangat dingin.
Bahkan sekarang ini Felix menatap Marina dengan tatapan yang sangat tajam.
Tubuh Marina bergetar, mendengar pertanyaan dari Felix.
'Aduh, kenapa aku gak pilih kosakata dulu sih! Sebelum mengadu ke Felix,' pikir Marina dalam hatinya.
"Kan selama ini selain membantu kak Felix dalan mengerjakan tugas, Violet juga memberikan contekan saat ujian ke Kak Felix ... " Ucapan Marina terhenti, bahkan dia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sial!" Felix menendang tempat sampah disekitar koridor.
Membuat suara gaduh, beberapa petugas kebersihan rumah sakit langsung berbondong-bondong menghampiri Felix dengan tatapan amarah.
"Apa lihat-lihat!" Titah Felix dengan nada menyeramkan.
Felix merasa sangat marah, karena Violet membagikan rahasianya pada Marina dan pada semua orang disekolah.
Sungguh Felix merasa sangat malu.
Walaupun apa yang barusan dikatakan oleh Marina barusan sebuah fakta, harusnya Violet itu menjaga rahasia.
Bukan malah menyebar rahasia yang mana membuat nama baik pacarnya itu tercoreng.
Sebelumnya Felix tidak mau mempercayai rumor disekolah, kalau Violet tidak mencintainya dan hanya memanfaatkan kekuasaannya seperti yang dikatakan oleh Marina barusan.
Tapi, setelah menelusuk lebih jauh, mengingat saat masa-masa pacaran dengan Violet.
Semua yang dikatakan oleh Marina benar, jika selama ini Violet memang tidak pernah mencintai dirinya.
"Kamu, sudah membuat gaduh dan kotor koridor yang sudah kami bersihkan," celetuk salah seorang petugas kebersihan.
"Dasar anak muda gak berpendidikan! Apakah kedua orang tuamu tidak mengajarkanmu ..." Ucapan salah satu petugas kebersihan terhenti, kala Felix menyodorkan pecahan uang seratus ribuan 10 lembar.
"Apakah uang ini cukup?" Ucap Felix dengan wajah sombong.
Sementara Marina sendiri semakin memandang Felix dengan tatapan kagum dan juga bangga.
Melihat aksi Felix yang terlihat sangat keren menyelesaikan masalah.
Maklumlah, Marina juga tanpa bantuan Violet otaknya itu kosong.
"Cukup ... Cukup," jawab mereka bergantian dengan wajah berbinar.
Bahkan amarah meledak yang ditunjukkan oleh beberapa petugas kebersihan itu langsung lenyap.
"Ya, inilah yang diajarkan oleh kedua orang tuaku! Semuanya tentu saja bisa diselesaikan dengan mudah kalau ada uangnya," imbuh Felix lagi seraya lalu melempar uang itu dengan tatapan sombong.
Dia berbalik begitu saja.
Para petugas kebersihan yang berjumlah 5 orang nampak berebut.
"Aku yang baru saja membersihkan koridor ini! Harusnya aku yang lebih banyak!" celetuk salah seorang petugas kebersihan.
"Loh, tadi pagi aku yang membersihkan area ini."
Mereka yang sebelumnya saling berteman dalam pekerjaan, sekarang berubah jadi musuh saat menyangkut tentang uang.
Hal itu tak luput dari tatapan tajam Romeo, yang baru saja keluar dari kantor rapat dewan direksi rumah sakit.
"Kak Yohan, aku takut! Sepertinya orang yang barusan menutup pintu adalah Felix, karena tadi aku melihat sekelebatan bayangan Felix," ujar Violet.
Sementara Yohan yang sudah tahu langsung menenangkan Violet.
"Vio, kamu tenang ya!"
Violet langsung menggeleng, "kak sepertinya Felix marah padaku! Kalau besok disekolah dia membuat perhitungan denganku disekolah gimana?"
Violet sekarang ini terlihat sangat panik, wajahnya juga berubah pucat.
Yohan memegang kedua pergelangan tangan Violet.
"Kamu makan dulu! Untuk Felix biar nanti menjadi urusanku!"