"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Kilauannya memantul di lantai marmer Italia yang dipoles hingga berkilau seperti cermin, menciptakan suasana megah sekaligus hangat.
Di setiap sudut ruangan, rangkaian bunga lili putih dan anggrek segar tertata rapi dalam vas-vas kristal tinggi, sementara alunan musik instrumental dari sebuah grand piano mengalun pelan, mengisi keheningan tanpa mengganggu percakapan para tamu.
Tidak ada keramaian seperti pesta perusahaan pada umumnya. Malam itu sengaja dibuat tertutup dan bersifat sangat pribadi. Hanya keluarga inti Wijaya, beberapa komisaris senior, pengacara keluarga, serta orang-orang yang sejak puluhan tahun dipercaya mendampingi perjalanan Wijaya Group yang mendapat undangan. Jumlah mereka bahkan tidak sampai tiga puluh orang, tetapi setiap sosok yang hadir memiliki pengaruh besar terhadap sejarah perusahaan tersebut.
Di sisi ruangan, beberapa pelayan berseragam hitam bergerak nyaris tanpa suara, menawarkan gelas-gelas sampanye dan hidangan pembuka dengan gerakan yang terlatih. Aroma kayu cedar dari interior ballroom berpadu dengan wangi bunga segar, menciptakan atmosfer yang elegan sekaligus menenangkan.
Namun di balik kemewahan itu, udara seakan menyimpan ketegangan yang tidak terlihat. Semua orang mengetahui bahwa malam ini bukan sekadar perayaan ulang tahun Arga Wijaya. Malam ini adalah penentu masa depan keluarga Wijaya, malam ketika status Arga sebagai pewaris tunggal perusahaan akan diumumkan secara resmi melalui pembacaan wasiat terakhir mendiang kakeknya.
Arga berdiri di dekat jendela besar yang menghadap panorama gemerlap kota. Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat pembawaannya tampak semakin berwibawa, tetapi sorot matanya tidak sepenuhnya tenang. Sesekali ia melirik ke arah Nadira yang berdiri beberapa langkah darinya. Perempuan itu mengenakan gaun panjang berwarna biru muda dengan riasan sederhana yang justru membuatnya terlihat anggun.
Nadira berusaha tersenyum kepada setiap tamu yang menyapanya, meski di balik senyum itu masih tersimpan rasa canggung berada di tengah keluarga yang belum sepenuhnya menerimanya.
Di sudut lain ballroom, Ratih Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tatapannya tajam, seolah setiap tawa kecil yang muncul di antara Arga dan Nadira menjadi sesuatu yang mengusik pikirannya. Di samping Ratih, Kevin berdiri dengan ekspresi datar, sementara Bram Santoso tampak seperti biasanya, tenang, ramah, dan sesekali tersenyum kepada para tamu.
Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa di balik suasana hangat malam itu, benih-benih konflik perlahan mulai tumbuh. Malam yang seharusnya menjadi awal baru bagi Arga justru sedang membuka pintu menuju rahasia terbesar yang selama ini tersembunyi di balik megahnya nama Wijaya Group.
Dimas berdiri dan membuka map yang dibawanya.
"Sesuai dengan isi surat wasiat almarhum Bapak Wijaya, seluruh persyaratan administrasi telah dipenuhi."
Suasana ballroom mendadak lebih hening.
"Karena itu, mulai malam ini, saudara Arga Wijaya resmi ditetapkan sebagai pewaris utama dan pemegang hak penuh atas Wijaya Group."
Tepuk tangan terdengar pelan.
Ayah Arga tersenyum tipis.
Bram menganggukkan kepala dengan bangga.
Ratih ikut bertepuk tangan, meski sorot matanya sulit dibaca.
Sementara Nadira menoleh ke arah Arga.
Pria itu terlihat tenang seperti biasanya. Namun entah kenapa, Nadira bisa melihat ada rasa lega di wajahnya. Perjuangan selama berbulan-bulan akhirnya selesai. Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Nadira.
Setelah pembacaan resmi selesai, seorang staf hotel membawa kue ulang tahun sederhana ke tengah ruangan. Hari itu ternyata juga bertepatan dengan ulang tahun Arga.
"Selamat ulang tahun, Kak," ucap Kevin pelan.
Ayah Arga ikut mengangguk. "Semoga kamu bisa memimpin perusahaan ini dengan baik."
Arga hanya mengucapkan terima kasih singkat. Ketika pandangannya bertemu Nadira, ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Malam itu seharusnya menjadi malam yang membahagiakan.
Setelah acara selesai, Arga tidak langsung mengajak Nadira pulang. Mobil mereka justru berhenti di depan hotel lain yang masih berada di kawasan pusat kota.
Nadira menoleh bingung. "Kita ke sini?"
Arga mengangguk. "Kita rayakan semua kegembiraan ini."
Tak lama kemudian, mereka memasuki sebuah suite di lantai atas hotel. Ruangan itu luas dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Cahaya lampu gedung terlihat seperti lautan bintang dari kejauhan.
Di atas meja sudah tersedia beberapa hidangan ringan dan sebotol anggur.
Nadira memperhatikan botol itu. "Ini mahal, ya?"
Arga melirik sekilas. "Sedikit."
Nadira mendekat dan membaca labelnya pelan. Disana tertulis Louis Roederer Cristal Brut Millésimé. Ia tidak tahu pasti harganya, tetapi dari penampilan botolnya saja sudah terlihat bahwa itu bukan minuman biasa.
"Kamu memang suka hal-hal mewah, ya."
Arga tersenyum tipis. "Ini belum seberapa, Nad."
Nadira memandang Arga dengan tatapn yang sulit dijelaskan.
Mereka duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan kota. Beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Keheningan yang muncul terasa aneh.
Karena untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nadira menyadari sesuatu. Tujuan Arga telah tercapai. Warisan sudah didapat. Posisi pewaris sudah aman. Kontrak mereka berhasil.
Lalu setelah ini apa?
Pikiran itu tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak. Arga menuangkan sedikit anggur ke dalam gelas.
"Lelah?" tanyanya.
Nadira menggeleng pelan. "Enggak."
Arga memandang lampu kota di balik jendela. "Kalau bukan karena kamu, malam ini mungkin tidak akan pernah terjadi."
Kalimat itu membuat hati Nadira justru terasa seperti tertusuk sesuatu. Kalau bukan karena dia. Kalau bukan karena pernikahan kontrak itu. Kalau bukan karena syarat warisan. Berarti memang sejak awal ia hanya bagian dari rencana Arga.
Nadira menunduk pelan. Arga tidak menyadari perubahan ekspresi itu. Baginya, malam ini terasa berbeda.
Sudah beberapa minggu mereka hidup bersama. Sarapan bersama. Berangkat bersama. Pulang bersama. Tanpa sadar, kehadiran Nadira telah menjadi bagian dari hari-harinya.
Arga menoleh. Tatapannya jatuh pada wajah Nadira yang terlihat lebih diam dari beberapa detik lalu.
Perlahan, ia mengangkat tangan dan menyelipkan beberapa helai rambut Nadira ke belakang telinganya. Gerakan sederhana itu membuat Nadira menahan napas. Tatapan mereka bertemu.
Arga mendekat sedikit. Tidak terlalu dekat. Cukup untuk membuat Nadira bisa merasakan hangat napas pria itu.
"Mas..." lirih Nadira.
Arga terdiam beberapa detik. Sejujurnya, bahkan ia sendiri tidak benar-benar mengerti kenapa ingin berada sedekat ini dengan Nadira.
Mungkin karena mereka sudah menikah. Mungkin karena ia mulai nyaman. Atau mungkin ada alasan lain yang belum berani ia akui.
"Aku pikir … kita bisa … " ucap Arga pelan, tetapi kalimat itu tidak selesai karena Nadira lebih dulu mundur. Menciptakan jarak di antara mereka.
Arga mengernyit penuh tanya. "Nad?"
Nadira tersenyum kecil. Senyum itu tidak sampai ke matanya. "Warisanmu sudah aman.Kontrak kita juga sudah berhasil.”
Arga terdiam.
"Jadi jangan lakukan hal-hal yang bikin aku salah paham." Kalimat itu membuat Arga menghela napas pelan.
"Kamu salah mengerti."
"Lalu aku harus mengerti seperti apa?"
Suasana ruangan berubah. Keheningan yang tadi terasa nyaman perlahan menjadi berat.
"Aku cuma ingin merayakan malam ini."
"Sebagai apa?" tanya Nadira.
Arga menatapnya. Nadira kembali bertanya, "Sebagai suami? Atau sebagai orang yang berhasil memenuhi syarat warisan?"
Arga tidak langsung menjawab. Justru keheningan itu yang membuat hati Nadira semakin sakit. Ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Aku hampir lupa. Aku ini cuma bagian dari kesepakatan."
Arga berdiri. "Bukan begitu."
"Lalu apa?"
Suara Nadira mulai bergetar. "Aku meninggalkan hidupku. Aku masuk ke keluargamu. Aku belajar hidup di rumah yang asing. Dan semua itu karena kita punya kontrak."
Arga memandang Nadira cukup lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Karena sebagian dari ucapan Nadira memang benar. Pernikahan mereka dimulai karena syarat warisan. Dan kini, syarat itu telah terpenuhi.
"Aku nggak mau lupa posisi aku, Mas,” ucap Nadira pelan.
Suasana malam yang seharusnya membahagiakan berubah menjadi dingin. Di balik jendela besar, lampu kota masih berkelap-kelip seperti biasa. Membuat keadaan di antara Arga dan Nadira semakin terasa mengenaskan.
Jauh lebih menyedihkan daripada saat mereka pertama kali bertemu dan menikah.