NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Atas permintaan keduanya, akad dilangsungkan secara sederhana di rumah paman Mida. Paman Mida, yang dituakan dalam keluarga, membantu memfasilitasi pelaksanaan akad sesuai keyakinan dan adat keluarga yang mereka anut, disaksikan beberapa anggota keluarga yang hadir. Tidak ada tenda. Tidak ada pesta. Tidak ada pakaian mewah. Hanya sebuah ruang tamu sederhana, beberapa kursi kayu, dan suasana yang dipenuhi haru.

Sebelum akad dimulai, paman Mida memandang Fandi. "Fandi. Kalau mulai malam ini kamu menjadi suaminya, jagalah dia. Dia sudah terlalu banyak menangis."

Fandi mengangguk mantap. "InsyaAllah, Paman. Akan saya jaga dan hormati seumur hidup saya."

Mida tak kuasa menahan tangis. Selama bertahun-tahun hidupnya dipenuhi kehilangan. Kini, di tengah badai fitnah, Allah mempertemukannya dengan seseorang yang memilih berdiri di sisinya, bukan karena harta ataupun kedudukan, melainkan karena tekad untuk mendampinginya.

Setelah akad selesai, Fandi menghampiri Mida. "Mulai hari ini, kita menghadapi semuanya bersama."

Mida tersenyum di balik air matanya. "Terima kasih... karena tidak pernah meninggalkanku."

Fandi menjawab pelan, "Bukan saya yang kuat. Allah yang menguatkan kita."

Di luar rumah, malam masih terasa panjang. Perjuangan mereka belum berakhir. Kasus Harapan masih harus diselesaikan. Fitnah belum sepenuhnya berhenti. Namun kini, Mida tidak lagi berjalan seorang diri. Bersama Fandi, ia melangkah menghadapi hari-hari berikutnya dengan harapan baru dan keyakinan bahwa setiap ujian akan ada akhirnya. Usai akad, Fandi membawa Mida meninggalkan kampungnya menuju tempat lain.

Malam setelah Mida dan Fandi meninggalkan kampung, suasana desa belum juga tenang. Sebagian orang mengira semuanya telah selesai. Bagi pihak-pihak yang selama ini berusaha menekan Mida, rencana mereka dianggap berhasil. Di sebuah rumah yang tertutup rapat, beberapa orang berkumpul. "Sekarang perempuan itu sudah pergi."

"Bagus."

"Kalau dia sudah tidak tinggal di kampung lagi, lama-lama kasus ini juga akan dilupakan." Seorang lainnya tersenyum tipis. "Pengacaranya juga sudah hancur. Namanya sudah tercoreng. Mana ada lagi orang yang mau memakai jasanya?" Mereka saling berpandangan dengan wajah puas.

"Sekarang kita tinggal menyebar isu di media sosial tentang kejadian malam ini. Biasanya kalau urusan perbuatan mesum seperti ini netizen juga cepat tanggap. Kita giring opini si pengacara itu mendekati Mida dengan berpura-pura ingin membantu menyelesaikan masalah hukumnya dengan tujuan mau mendapatkan Mida si janda muda yang cantik." tawa mereka pecah bersamaan.

Mereka yakin, dengan terusirnya Mida dan rusaknya nama Fandi, perjuangan mencari keadilan akan berhenti dengan sendirinya.

Namun di sisi lain ada yang bergerak lebih cepat, Dewi kembali mengunggah perkembangan terbaru di media sosial. Ia menjelaskan bahwa Mida dan Fandi telah meninggalkan kampung karena tekanan dan fitnah, tetapi perjuangan hukum tetap berlanjut. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mengawal proses persidangan tanpa menyebarkan kabar yang belum terbukti.

Unggahan itu kembali dibagikan ribuan kali. Banyak warganet justru semakin bersimpati. Mereka menilai bahwa berbagai intimidasi yang dialami Mida dan Fandi tidak menghentikan langkah mereka. Sebaliknya, dukungan publik semakin besar.

Di tempat lain, orang-orang yang mengira Mida akan menyerah mulai menyadari bahwa rencana mereka tidak berjalan seperti yang diharapkan. Mida memang telah meninggalkan kampung. Nama Fandi sempat dicemarkan. Namun, Kembali pulih karena klarifikasi dari Dewi baik lewat media sosial maupun langsung ke masyarakat.

Di balai desa, Dewi berdiri di tengah kerumunan. Matanya merah menahan tangis. Ia memandang satu per satu wajah orang-orang yang telah dikenalnya sejak kecil. "Saudara-saudaraku..." Suasana perlahan menjadi hening. Dewi menarik napas panjang. "Sejak awal, yang Mida minta hanya satu. Keadilan untuk anaknya. Tapi lihat apa yang terjadi. Rumahnya diteror. Keselamatannya terancam. Orang-orang yang membantunya ikut mendapat tekanan. Bahkan nama baiknya pun difitnah." Air mata mengalir di pipinya. "Sebagai kakaknya, temannya, sahabatnya, satu-satunya orang yang mendengar keluh kesahnya ...hatiku hancur melihat semua yang telah ia alami." Dewi mengangkat pandangannya. "Aku tidak datang ke sini untuk mengajak kalian membenci siapa pun. Aku hanya ingin mengingatkan kita semua. Kalau memang masih ada rasa takut kepada Allah... jangan biarkan kebencian, fitnah, atau kezaliman menguasai hati kita." Ruangan menjadi sunyi. "Kalau ada yang merasa telah berbuat salah...berhentilah. Jangan teruskan. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri."

Dewi mengusap air matanya. "Kita semua akan kembali kepada Allah. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan ditinggalkan. Kekuasaan juga akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah amal." Ia menatap warga dengan penuh harap. "Takutlah kepada Allah. Jangan biarkan ada orang yang menderita karena ulah kita. Jangan biarkan ada keluarga yang kehilangan harapan karena kita memilih diam saat melihat ketidakadilan."

Beberapa warga mulai menundukkan kepala. Tak sedikit yang tampak tersentuh oleh ucapan Dewi.

Ia menutup ucapannya dengan suara lirih, "Aku hanya ingin kampung ini kembali menjadi tempat yang saling menjaga. Jangan sampai kita menyesal ketika kesempatan untuk berbuat benar sudah tidak ada lagi." Balai desa kembali sunyi. Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak-sorai. Hanya keheningan yang mengajak setiap orang merenungkan perkataan Dewi.

***

Malam semakin larut ketika mobil yang dikendarai Fandi memasuki halaman sebuah hotel sederhana di kota sebelah. Setelah terusir dari kampung, mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk beristirahat sebelum menentukan langkah berikutnya.

Fandi mematikan mesin mobil. "Kita menginap di sini malam ini."

Mida menatap bangunan hotel itu beberapa saat. "Harusnya tidak usah seperti ini."

Fandi menoleh. "Kenapa?"

Mida tersenyum pahit. "Abang sudah terlalu banyak membantu saya. Sudah dipukuli karena membela saya. Sudah difitnah. Sekarang... sampai harus menikahi saya." Air matanya kembali menggenang. "Kenapa, Bang?"

Fandi terdiam sejenak. Ia kemudian tersenyum tipis. "Ayah saya pernah bilang... Kalau menangani klien, jangan setengah-setengah."

Mida menatapnya heran.

Fandi terkekeh pelan. "Beliau selalu mengajarkan, kalau sudah memilih membela seseorang, lakukan dengan sepenuh hati." Ia kemudian menambahkan dengan nada yang lebih serius. "Lagipula... Sekarang kita sudah menjadi suami istri. Banyak urusan akan lebih mudah kita jalani bersama."m Bukan karena status itu menyelesaikan semua masalah. Tapi karena mulai hari ini kita saling menjaga."

Mida menundukkan kepala. "Maafkan saya kalau hidup Abang jadi ikut berantakan."

Fandi menggeleng. "Jangan pernah berkata begitu. Saya tidak pernah menyesal. Kalau saya menyerah hanya karena tekanan atau fitnah, berarti saya tidak pantas menjadi pengacara."

Mereka kemudian berjalan memasuki lobi hotel. Setelah proses administrasi selesai, Fandi meminta dua kamar yang bersebelahan.

Melihat itu, Mida berkata pelan, "Bang..."

Fandi menoleh. "Kita memang sudah menikah. Tapi saya tahu Ibu masih berduka. Saya ingin Ibu punya ruang untuk beristirahat dengan tenang."

Mata Mida kembali berkaca-kaca. "Terima kasih."

Sesampainya di depan kamar, Fandi menyerahkan kartu akses kepada Mida. "Istirahatlah. Besok perjalanan kita masih panjang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!