Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Arga berdiri mematung.
Tatapannya bergantian antara anak kecil di hadapannya dan kepulan asap hitam di kejauhan. Jeritan itu terdengar begitu nyata, bahkan angin membawa aroma kayu yang terbakar.
Guru Tian tidak ada. Tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk.
Anak kecil itu menggenggam lengan Arga. "Kakak... kalau terlambat... Ayah dan Ibu akan mati."
Mata anak itu dipenuhi air mata.
Arga menarik napas panjang, lalu mengingat perkataan tetua berjubah putih.
"Setiap keputusan memiliki konsekuensi."
Ia menatap anak itu. "Ayo."
Wajah anak itu langsung berbinar. "Terima kasih!"
Mereka berlari melewati padang rumput. Tak lama kemudian, sebuah desa kecil mulai terlihat.
Api berkobar di beberapa rumah. Penduduk berlarian sambil berteriak. Di tengah desa, seekor harimau roh sebesar kerbau mengaum keras. Cakar kanannya menghantam sebuah rumah hingga roboh.
Beberapa pria dewasa mencoba melawan, namun mereka terpental hanya dengan satu kibasan ekor.
Arga menghunus Pedang Penjaga Langit. "Aku akan menarik perhatiannya. Kamu selamatkan warga yang terluka."
Anak kecil itu mengangguk cepat.
Harimau roh itu menoleh dan tatapannya langsung mengunci Arga.
Wus!
Tubuhnya melesat secepat angin. Arga menyambutnya dengan tebasan lurus.
Clang!
Pedang dan cakar beradu. Gelombang kejut menghancurkan pagar-pagar di sekitar mereka.
Harimau roh itu memang kuat, namun tidak sekuat lawan-lawan yang pernah dihadapi Arga sebelumnya. Setelah beberapa jurus, Arga menemukan celah.
Sret!
Pedangnya melukai bahu binatang itu. Harimau roh meraung marah lalu melompat mundur.
Arga tidak memberi kesempatan. Ia mengerahkan seluruh Qi ke kedua kakinya.
"Langkah Bayangan."
Tubuhnya menghilang sesaat dan muncul kembali tepat di sisi harimau.
Sret!
Pedang Penjaga Langit menebas dari bawah ke atas. Darah menyembur, lalu harimau roh itu roboh ke tanah.
Perlahan, tubuhnya berubah menjadi butiran cahaya lalu lenyap.
Api yang membakar desa juga mulai padam dan jeritan penduduk menghilang. Rumah-rumah yang tadi hancur kembali utuh.
Arga mengernyit. "Hahh...?"
Dalam beberapa tarikan napas, seluruh desa berubah menjadi padang rumput kosong. Tak ada rumah, tak ada penduduk, tak ada anak kecil. Ia kembali sendirian.
Di langit, terdengar suara tua yang bergema.
"Keputusan pertama... lulus."
Arga mendongak. "Jadi memang ilusi."
Suara itu kembali terdengar. "Banyak peserta memilih mengabaikan tangisan. Mereka menganggap semuanya palsu. Namun... orang yang kehilangan belas kasih demi mengejar kemenangan tidak layak mewarisi jalan kultivasi sejati."
Arga terdiam.
Jadi... ujian ini bukan menguji apakah ia mampu membedakan ilusi, tetapi apakah ia tetap berpegang pada hati nuraninya meski tahu bisa saja sedang ditipu.
Guru Tian pernah berkata, "Hati seorang kultivator adalah fondasi dari seluruh kekuatannya."
Kini Arga mulai memahami maknanya.
Tiba-tiba, padang rumput di sekelilingnya retak. Tanah berguncang hebat dan cahaya keemasan muncul dari dalam rekahan.
Ketika cahaya itu menghilang, Arga mendapati dirinya berada di tempat yang sama sekali berbeda.
Sebuah jembatan batu tua membentang di atas jurang tanpa dasar. Di ujung seberang, berdiri seorang pemuda berjubah hitam. Pedang panjang tergantung di pinggangnya dan tatapannya dingin.
Di dadanya terpasang tanda peserta: Nomor 119.
Pemuda itu perlahan mencabut pedangnya. "Akhirnya... aku bertemu peserta lain."
Ia tersenyum tipis. "Kalau aku mengalahkanmu di sini, berarti peluangku lolos akan semakin besar, bukan?"
Arga tidak langsung mencabut pedangnya. Ia justru bertanya dengan tenang, "Siapa bilang ujian ini mengharuskan kita saling membunuh?"
Kalimat itu membuat pemuda berjubah hitam terdiam sejenak. Namun sesaat kemudian, ia tetap mengangkat pedangnya.
Sebab di atas kepala mereka, sebuah prasasti batu perlahan menyala. Di sana terukir tiga kata:
Ujian Kedua: Kepercayaan.
Arga dan pemuda bernomor 119 berdiri saling berhadapan. Di atas kepala mereka, tulisan "Ujian Kedua: Kepercayaan" terus memancarkan cahaya redup.
Pemuda berjubah hitam mengangkat pedangnya. "Aku tidak mengenalmu."
"Aku juga."
"Lalu kenapa aku harus mempercayaimu?"
Arga menjawab dengan tenang, "Aku juga tidak memintamu mempercayaiku. Yang kuminta... jangan mengambil keputusan hanya karena ketakutan."
Pemuda itu terdiam.
Tiba-tiba, jembatan batu bergetar. Dari balik kabut, muncul suara geraman yang berat. Satu... dua... lalu enam serigala roh berukuran hampir sebesar kuda melompat naik ke atas jembatan.
Mata mereka merah menyala dan taring mereka berkilat diterpa cahaya.
Pemuda bernomor 119 langsung mengambil posisi bertarung. Arga juga mencabut Pedang Penjaga Langit. Namun, mereka tetap saling menjaga jarak dan masing-masing masih menyimpan kewaspadaan.
Auuuuuu!
Serigala pertama menerjang Arga.
Clang!
Arga menangkis cakar tajam itu. Pada saat yang sama, dua serigala lain menyerang pemuda berjubah hitam. Pertarungan langsung pecah.
Namun, dua serigala terakhir tidak menyerang. Mereka justru berlari menuju bagian tengah jembatan lalu mulai menghancurkannya.
Krak!
Batu-batu berjatuhan ke dalam jurang.
Arga membelalak. "Kalau jembatannya putus, kita berdua akan terjebak!"
Pemuda berjubah hitam ikut menyadarinya. Ia menggertakkan gigi sampai akhirnya mengambil keputusan.
"Hei!" teriaknya kepada Arga. "Aku tahan yang di sini! Kau hentikan dua serigala itu!"
Arga tidak menjawab. Ia langsung berlari—itu sudah cukup sebagai jawaban.
Pedang Penjaga Langit berkelebat.
Sret!
Serigala pertama roboh. Yang kedua melompat dari samping. Arga memutar tubuh.
Clang!
Benturan membuat lengannya sedikit mati rasa.
Di belakangnya, pemuda bernomor 119 bertarung habis-habisan melawan empat serigala sekaligus. Sebuah cakar berhasil menggores bahunya, tetapi ia tetap bertahan.
"Cepat!" teriaknya. "Aku tidak sanggup lebih lama!"
Arga menarik napas. Qi dalam dantiannya berputar lebih cepat. Ia menggabungkan Langkah Bayangan dengan teknik pedangnya.
Tubuhnya menghilang sesaat dan muncul tepat di belakang serigala terakhir.
Sret!
Kepala binatang roh itu terlepas. Pada saat yang sama, empat serigala yang melawan pemuda berjubah hitam berubah menjadi cahaya dan menghilang.
Jembatan kembali tenang. Pemuda itu terduduk sambil terengah-engah.
Arga berjalan menghampiri lalu mengulurkan tangan. "Bangun."
Pemuda itu menatap tangan tersebut cukup lama sebelum akhirnya menerimanya. Arga menariknya hingga berdiri.
Pemuda itu menghela napas. "Namaku Han."
"Arga."
Han mengangguk. "Ternyata... kau benar."
Arga mengernyit. "Tentang apa?"
"Kalau tadi kita saling menyerang, jembatan itu sudah runtuh."
Mereka menoleh ke arah prasasti. Tulisan di atasnya mulai memudar dan digantikan kalimat baru:
"Kepercayaan bukan berarti menghilangkan kewaspadaan. Kepercayaan adalah keberanian untuk bekerja sama ketika jalan itu adalah pilihan yang benar."
Begitu tulisan itu selesai muncul, seluruh jembatan berubah menjadi cahaya. Arga dan Han sama-sama menutup mata.
Ketika Arga kembali membuka matanya, ia sudah berdiri di sebuah alun-alun batu yang luas. Puluhan peserta lain juga mulai bermunculan satu per satu.
Di antara mereka, Arga melihat sosok yang sangat dikenalnya: Nara.
Begitu melihat Arga, wajah Nara yang semula tegang langsung berubah cerah. "Kau berhasil!"
Arga tersenyum. "Kau juga."
Tak jauh dari sana, Ling Yue juga muncul dengan pakaian yang sedikit berdebu, tetapi tanpa luka berarti.
Di atas langit, suara tetua berjubah hitam kembali menggema.
"Selamat. Kalian telah menyelesaikan ujian pertama. Dari tiga ribu dua ratus peserta, hanya seribu seratus delapan puluh orang yang berhasil lolos."
Lebih dari dua pertiga peserta telah gugur pada hari pertama.
Namun sebelum para peserta sempat mencerna kenyataan itu, gerbang batu raksasa di ujung alun-alun perlahan terbuka. Dari balik gerbang, terlihat tangga panjang yang menuju puncak sebuah gunung. Di puncaknya berdiri tujuh paviliun megah.
Suara tetua kembali bergema, "Besok, Ujian Kedua akan dimulai. Dan mulai saat itu, kalian tidak lagi hanya diuji oleh ilusi, tetapi juga oleh para jenius terbaik di Benua Timur."