"selamat pagi, yah, Bun." sapa Naya.
"pagi, sayang," balas lina Bunda naya.
" pagi,princess,"faizal ayah Naya, tersenyum ke arah putrinya.
"mau sarapan apa sayang."
"roti kacang, Bunda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 19
"Mau kemana lagi?" tanya Keenan.
"Mau ke asrama putri, boleh?"
Sebelum menjawab pertanyaan istrinya, Keenan menengok kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 15:20.
"Kita baling dulu ia, bentar lagi masuk waktu asar."
"Tapi, Naya masih mau keliling."
"Iya, nanti kita lanjut kelilingnya, sekarang waktunya untuk solat."
Naya memasang wajah cemberutnya. "Solat nya nanti dulu, mas."
Keenan menatap bola mata istrinya. "Gak baik menunda solat, sayang."
"Tap—"
"Meskipun kita tidak berdosa melaksanakan solat di akhir waktu, sebaiknya jangan di jadikan kebiasaan. Karena hal tersebut menandakan kita sebagai seorang muslim tidak memperhatikan apa yang Allah perintahkan ke kita," terang Keenan.
Naya memasang wajah cemberutnya. "Baiklah,"
Keenan terkekeh. "Mukanya jangan digituin, nanti tambah cantik."
Keenan mencubit pipi istrinya. "Senyum dong."
Naya tersenyum."udah kan."
Keenan ingin mencivm istrinya tapi dia masih waras dan sadar kalo ini masih kawasan asrama putra.
"Ayo pulang."
"Ayo."
Merekapun beranjak dari tempatnya.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka telah sampai bertepatan suara azan berkumandang.
Keenan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebagai berangkat ke mushola. Sedangkan Naya membanting tubuhnya keatas tempat tidur.
KREEK ....
Naya langsung menatap kearah pintu yang terbuka menampilkan Keenan yang terlihat sangat segar.
"Maa syaa Allah," ucap Naya sambil tersenyum.
Gadis itu langsung bangkit dari rebahan nya, dan menatap Keenan dengan seksama. Pria ini benar-benar nyaris sempurna, terkadang Naya sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa benar Keenan itu suaminya?
"Air liur nya jatuh, tuh," canda Keenan.
Dengan spontan Naya mengusap bagian mulutnya, tapi tidak mendapatkan apa yang Keenan bilang barusan.
"Iss, mas Keenan!"
"Iya, sayang. Kenapa? Hmm." Keenan berjalan kearah istrinya.
"Ngerjain aku iya?" tanya Naya dengan mata memicing.
Keenan tersenyum dan mengacak rambut istrinya. "Kenapa lihatin nya gitu amat?"
"N–naya gak lihatin mas Keenan kok."
"Gak boleh bohong, Sayang, dosa."
"Iya, iya, Naya liatin mas Keenan, habisnya ganteng sih," ucap Naya tanpa rasa malu.
"Mas ganteng iya?" tanya Keenan dengan nada menggoda.
"Ganteng ban ... Mas Keenan gak ke mushola?" tanya Naya.
"Gak dulu," jawab Keenan.
"Kenapa?"
"Istrinya mas lebih membutuhkan mas sekarang," ucap Keenan. "Sekarang kamu mandi, wudu, mas tunggu."
Naya melotot kan matanya. "S–solat bareng?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Ndk apa-apa, hehehe."
🍃🍃🍃
Satu minggu telah berlalu begitu saja, tapi ingatan Naya sama sekali tidak ada perkembangan, Keenan pikir, jika dia membawa Naya ke pesantren gadis itu akan mudah mengingat segalanya, tapi nyatanya tidak, gadis itu tetap tidak mengingat sesuatu yang berkaitan dengan pesantren.
Keenan menatap Naya yang sedang sibuk menyiapkan barang-barang mereka untuk pindah ke rumah mereka. Rumah yang dulunya mereka tinggal bersama. Keenan berharap di sana Naya mengingat segalanya, meskipun ingatan yang menyakitkan.
"Mas, rumah kita beneran udah jadi?" tanya Naya.
"Benar, sayang. Untuk apa mas boong coba?"
"Untuk nambah dosa," jawab Naya dengan wajah serius tanpa menoleh kearah Keenan.
"Naya, sini coba." Keenan memanggil Naya agar mendekat padanya.
"Bentar, mas tinggal dikit ni."
Keenan mendekat kearah Naya dan menarik tangan gadis itu agar menghadap padanya.
"Sayang, kalo ingatan kamu pulih, jangan pernah tinggalkan mas." Keenan menatap bola mata Naya.
Keenan sebenarnya sangat takut, jika Naya ingat kalo dirinya pernah memperkos*n nya.
Naya tersenyum. "Gak akan pernah."
"Janji?"
"Janji."
Keenan menarik Naya kedalam dekapannya.
🍃🍃🍃
DEG ....
jantung Naya tiba-tiba berdegup sangat kencang saat melihat bangunan rumah berlantai dua ada di depannya.
"I–ini rumah kita, mas?" tanya Naya.
"Ia, sayang." Keenan tersenyum kearah Naya. "Kamu ingat sesuatu?"
Naya menyentuh kepalanya, lalu tersenyum kearah Keenan. "Tidak ada, mas."
Keenan menarik tangan Naya untuk digenggamnya. "Ayo, masuk."
"I–iya."
Keenan membuka pintu dengan kunci yang ada di tangannya. Setelah terbuka Keenan masuk kedalam. Sedangkan Naya masih berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca.
Kini bayangan itu sudah terlihat sangat jelas. Naya menutup mulutnya saat ingatannya sepenuhnya kembali.
Keenan menengok kearah Naya yang masih berdiri di ambang pintu dengan air mata mengalir dan tangannya menutup mulutnya. Melihat itu Keenan langsung berlari kearah Naya dengan keadaan panik.
"Sayang?" panggil Keenan.
"M–mas Keenan." Bibir Naya bergetar, kenangan pahit yang ada di rumah ini terlihat sangat jelas di dalam memorinya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Keenan.
Percayalah, saat ini Keenan sangat takut. Takut Naya mengingat semuanya, dan memutuskan untuk pergi lagi yang kedua kalinya.
"Naya ingin pulang ke rumah ayah."
Keenan langsung memeluk Naya dari belakang saat gadis itu sudah membalikkan tubuhnya ingin pergi.
"TIDAK!" teriak Keenan. "Mas tidak akan pernah mengizinkan mu untuk pergi, Naya."
Naya yang mendapat perlakuan Keenan yang begitu mendadak hanya bisa terdiam kaku, air matanya mulai meluncur dari tempatnya.
"N–naya, Naya tidak bisa tinggal disini, i–ini bukan tempat Naya."
Lilitan tangan Keenan semakin mengerat. Naya dapat merasakan itu.
"Ini rumah kita, sayang," ucap Keenan. Pria itu menghujani kepala Naya dengan kecupan untuk menangkan hatinya yang ketakutan.
"Maafin aku," ucap Keenan dengan mata mulai berkaca-kaca.
Sedangkan Naya hanya dapat melipat bibirnya kedalam agar tangisan tidak pecah.
Perasaannya saat ini sangat sulit. Dirinya tak dapat berbohong kalo dia sangat bahagia, karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, tapi kenapa baru sekarang?
Lima menit berlalu masih dengan posisi yang sama, Keenan benar-benar tidak ingin melepaskan perlukan nya. Sedangkan Naya larut dalam pikirannya sendiri.
Naya sedikit tersentak saat mendengar isakan Keenan. Pria ini benar-benar menangis, Naya tidak percaya, seorang Arsyad Keenan Utsman menangis.
Naya menghapus air matanya, keputusannya sudah bulat, kalau dia memberikan kesempatan kedua untuk Keenan, lagi pula Keenan sudah membuktikan selama dia lupa ingatan. Meskipun itu belum bisa di bilang bukti kesetiaan.
"Lepasin dulu," ucap Naya.
"Hiks, hiks, Gak mau!"
Naya menengok ke kanan dan ke kiri, untungnya rumah Keenan memiliki pakar yang lebih tinggi daripada manusia, jadi aman.
Naya memaksakan dirinya agar menghadap kearah Keenan. "Aku gak bakalan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Keenan melonggarkan pelukannya setelah mendengar Naya berjanji.
🍃🍃🍃
"Aku mau tidur di kamar aku yang sebelumnya," ucap Naya, saat ini mereka sudah berada diruang keluarga yang terlihat lebih luas.
"Kamarnya, sudah aku hilangkan."
Benar saja, kamar yang dulunya Naya tempati sudah tidak ada lagi, Keenan benar-benar merubah rumah ini sedikit. Keenan sengaja menghilangkan kamar itu agar Naya sekamar dengan.
"Sekarang kamar kita ada di atas, ayo naik." Keenan menarik tangan Naya agar ikut dengannya.
Naya tersenyum lebar saat tangannya ditarik Keenan untuk keatas.
"Mas Keenan?" panggil Naya.
"Apa sayang?"
"Hmm, malam it—"
"Malam yang sangat buruk, gak usah diingat-ingat," potong Keenan dengan cepat. "Maafkan aku, karena melakukan secara paksa."
Naya hanya menunduk. "Mas Keenan benar-benar sudah cinta sama Naya?"
"Sangat!"
"Kok bisa?"
Keenan terdiam, dia juga gak tau kenapa bisa secinta ini sama istrinya.
"Kok diam?" tanya Naya.
"Pernah dengar istilah, kalo sudah tak ada baru terasah, bahwa kehadiran sungguh berharga?"
"Bukannya itu lirik lagu?" tanya Naya.
"Masa sih?"
Naya menyalakan ponselnya lalu mencarinya di google. Dan benar saja itu adalah lirik sebuah lagu dangdut.
"Tuh kan, lirik lagu." Naya menyodorkan ponselnya ke depan Keenan.
"Hehehehe, pokonya itulah."
TBC.
masih bnyk teka teki ...🤔🤔🤔🤔