"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Langkah Pertama
Raka menelepon Kompol Yudha satu hari sebelum tenggat.
Kartu nama itu sudah tiga hari berada di meja kecilnya, diapit Buku Penghakiman dan gelas kopi sachet yang dingin. Kribo beberapa kali pura-pura tidak melihat, lalu gagal pura-pura dan bertanya, "Jadi?" setiap lima belas menit.
Pagi itu, Raka akhirnya menekan nomor.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Saya terima, Pak," kata Raka.
Di seberang, Yudha tidak terdengar terkejut. "Kantor jam delapan besok pagi. Jangan terlambat. Pakaian rapi. Kamu konsultan, bukan tamu warung."
Klik.
Panggilan putus.
Kribo yang duduk bersila di lantai langsung menepuk punggung Raka sampai hampir membuatnya menjatuhkan ponsel.
"Let's go, Detektif. Akhirnya kita punya pintu resmi."
"Kamu tidak ikut masuk."
"Aku tahu. Aku akan menjadi bayangan profesional. Lebih keren. Lebih murah. Lebih sulit diminta tanda tangan absen."
Besok paginya, Raka berdiri di depan Kantor Polres Distrik Surya.
Gedung itu tua, catnya mulai kusam, tapi hidup. Motor polisi keluar masuk. Orang-orang membawa map laporan. Seorang ibu menangis di bangku tunggu. Dua anggota berseragam berjalan cepat sambil bicara lewat radio. Udara berbau kertas, debu, kopi hitam, dan masalah manusia.
Raka memakai kemeja putih sederhana, celana hitam, dan sepatu yang semalam disikat Kribo sambil mengeluh karena "partner supernatural tidak boleh kelihatan seperti habis jatuh dari angkot."
Ia bukan polisi.
Belum tentu diterima.
Tapi untuk pertama kali, ia masuk ke tempat yang dulu hanya ia lihat dari luar.
Yudha menunggunya di pintu Satreskrim.
"Tepat waktu," kata Yudha.
"Saya berusaha, Pak."
"Jangan berusaha. Biasakan."
Raka mengangguk.
Di ruang briefing, beberapa anggota Satreskrim sudah berkumpul. Papan kasus penuh foto, peta, benang, dan catatan. Suasana mendadak sedikit berubah ketika Yudha masuk bersama Raka.
"Dengar sebentar," kata Yudha.
Ruangan hening.
"Mulai hari ini, Raka Laksana bergabung sebagai Konsultan Khusus Satreskrim Polres Distrik Surya. Statusnya di luar anggota organik dan tanpa kewenangan penangkapan. Aksesnya analisis di bawah pengawasanku. Kalau ada yang keberatan, simpan keberatan itu sampai dia terbukti tidak berguna."
Sambutan yang sangat Yudha.
Dimas Kurniawan berdiri di dekat meja, tersenyum kecil. "Akhirnya ada yang bisa diajak mikir di sini."
Seorang anggota lain mendengus pelan. "Konsultan? Kita butuh detektif, bukan influencer."
Beberapa orang tertawa kecil. Tidak keras. Cukup untuk membuat kalimat itu punya kaki dan berjalan di seluruh ruangan.
Raka mendengar.
Ia tidak menoleh.
Dulu, hinaan seperti itu mungkin akan membuat tangannya dingin. Sekarang ia hanya menyimpannya sebagai data. Orang yang paling cepat mengejek biasanya paling lambat melihat bukti.
Yudha menunjuk pria paruh baya di depan komputer besar.
"Andi Prasetyo. Dukungan teknis. Kalau kamu butuh rekaman, basis data internal, atau perangkat, bicara dengan dia. Jangan menyentuh komputernya tanpa izin kalau masih sayang jari."
Andi menjabat tangan Raka tanpa ekspresi. "Kamu yang viral itu?"
"Saya Raka."
"Hmm."
Mata Dosa aktif samar.
【Andi Prasetyo — Indeks Dosa: 2/100】
Nyaris nol.
Orang ini mungkin kering seperti papan kayu, tapi bersih.
Yudha memberi Raka kartu identitas sementara bertuliskan Konsultan Khusus. Plastik kecil itu terasa ringan di tangan, tetapi maknanya berat. Dulu ia hanya punya kartu panti, kartu kos, dan akun livestream yang sering dihina. Sekarang ada satu kartu yang membuka pintu TKP.
Sebelum kartu itu aktif, seorang staf administrasi menyodorkan tiga lembar formulir. Kerahasiaan data. Batas akses. Pernyataan tidak menyalahgunakan informasi. Raka membaca setiap baris, lalu menandatangani satu per satu.
Dimas yang melihat dari samping berbisik, "Selamat datang di dunia orang dewasa. Di sini bahkan kopi perlu tanda tangan kalau mau masuk ruang barang bukti."
Raka menekan pena ke kolom terakhir. "Saya kira menangkap penjahat bagian tersulit."
"Salah. Bagian tersulit adalah membuat penjahat tetap tertangkap setelah berkasnya dibaca jaksa."
Kalimat ringan itu menempel di kepala Raka. Di luar sistem, keadilan menuntut lebih dari menemukan kebenaran. Kebenaran harus cukup rapi untuk bertahan di meja orang lain.
Tur kantor berlangsung cepat.
Ruang penyelidikan, ruang interogasi, ruang barang bukti, arsip kasus, dan lab forensik mini yang lebih mirip gudang alat lengkap daripada laboratorium televisi. Yudha menjelaskan dengan kalimat pendek.
"Kamu boleh masuk kalau ada izin."
"Kamu boleh membaca berkas yang kutugaskan."
"Kamu tidak boleh membawa keluar barang bukti."
"Tidak ada aksi solo. Clear?"
"Clear, Pak."
Mereka berhenti sebentar di depan ruang barang bukti. Dari balik kaca kecil, Raka melihat rak besi berisi kantong bukti, label tanggal, kotak tersegel, dan benda-benda biasa yang berubah menjadi saksi: pisau dapur, helm retak, sandal anak, ponsel pecah.
Yudha mengetuk pintu itu dengan ruas jarinya. "Di sini, benda lebih jujur daripada manusia. Tapi benda juga bisa dibungkam kalau petugasnya ceroboh. Ingat itu."
Raka mengangguk.
Mereka berhenti di depan papan kasus terbuka. Ada foto pencurian gudang, kekerasan jalanan, laporan orang hilang, dan beberapa wajah tersangka.
Mata Dosa menyala tanpa diminta.
Beberapa angka muncul di atas foto. 18. 34. 61. Satu foto laki-laki dengan mata cekung menunjukkan 82/100.
Raka menahan napasnya agar tidak berubah.
Di ruangan ini, dosa tidak lagi datang satu per satu. Ia menempel di papan seperti peta gelap kota.
"Jangan menatap terlalu lama," gumam Yudha di sampingnya.
Raka menoleh.
Yudha tidak melihat angka. Tapi ia melihat reaksi Raka.
"Papan kasus bisa menelan orang baru," kata Yudha. "Belajar memilih mana yang harus diselesaikan hari ini."
Siang hari, Dimas mengajak Raka makan di kantin belakang.
Nasi bungkus, teh tawar, suara sendok beradu, dan anggota polisi yang bercanda kasar setelah jam-jam penuh laporan. Dimas duduk di depan Raka seolah mereka sudah lama satu meja.
"Ayahku polisi," kata Dimas tiba-tiba. "Kakek juga. Keluarga kami menganggap seragam itu semacam penyakit turunan. Aku masuk karena tradisi, lalu baru sadar aku menyukai pekerjaan ini. Bukan bagian dramanya. Bagian ketika satu detail kecil bisa membuat keluarga korban berhenti menunggu."
Raka mengangguk pelan. "Bos Yudha percaya padamu."
"Bos Yudha percaya pada orang yang membuat pekerjaannya lebih benar. Kalau dia percaya padamu, jangan sia-siakan."
Sore hari, Raka pulang ke kos. Kribo sudah menunggu di depan laptop, membuka peta kantor dari sumber yang seharusnya tidak ia sebutkan.
"Jadi? Mereka kasih kamu lencana emas?"
"Kartu plastik sementara."
"Awal yang sederhana untuk kerajaan kriminalistik kita."
Raka membuka Buku Penghakiman.
Panel muncul.
【Status Host diperbarui.】
【Afiliasi: Konsultan Khusus Satreskrim Polres Distrik Surya.】
【Akses resmi ke TKP, arsip kasus, basis data terbatas, dan sumber daya forensik tersedia.】
【Efisiensi penyelidikan meningkat 40%.】
Kribo membaca wajah Raka. "Sistem setuju?"
"Sangat."
Raka membuka halaman berikutnya.
【Kasus Aktif: 0】
Ia tersenyum tipis.
Sekarang ia punya kantor, tim, sumber daya polisi, channel online, partner di luar, dan sistem di dalam kepalanya.
Kota Elang Biru masih penuh dosa.
Tapi kali ini, Raka tidak datang sebagai anak panti yang mengetuk pintu orang lain.
Ia punya pintu sendiri.