NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Firasat: Ada Kamera di Ruang Ganti

Mobil berhenti di depan bangunan bata merah di Tangsel tepat pukul sembilan pagi.

Vivi memandangi papan nama studio dari balik jendela. Cat emas pada huruf-hurufnya sudah sedikit pudar. Pot bugenvil di dekat pintu masih berada di tempat yang sama, hanya lebih rimbun daripada setahun lalu.

Ia pernah menghabiskan sebagian besar masa remajanya di gedung ini. Namun pagi itu, telapak tangannya terasa dingin seperti seorang murid baru.

“Saya menunggu di area parkir, Bu Vivian,” kata sopir.

Di belakang mereka, kendaraan keamanan berhenti di sisi jalan. Tidak ada seorang pun turun. Kesepakatan semalam dipatuhi.

“Terima kasih. Kalau jadwal berubah, saya kabari.”

Vivi turun dengan tas latihan di bahu. Hasil pemeriksaan awal dari dokter olahraga sudah tersimpan di ponselnya: kondisi stabil, latihan boleh dimulai bertahap, tidak lebih dari dua jam hari ini. Kalimat-kalimat itu seharusnya menenangkannya.

Yang membuat napasnya berat bukan tubuhnya.

Pintu studio terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

“Vivi.”

Regina Halim berdiri di sana dengan pakaian latihan hitam dan rambut disanggul rapi. Kerutan di sekitar matanya lebih jelas daripada yang Vivi ingat, tetapi tatapannya masih sama tajamnya, mampu menemukan lutut yang salah tekuk dari seberang ruangan.

“Miss Regina.”

Vivi baru sempat tersenyum sebelum perempuan itu menariknya ke dalam pelukan. Kehangatan yang akrab membuat tenggorokannya tercekat.

“Hampir setahun,” kata Regina setelah melepaskannya. “Kamu bahkan tidak datang saat saya mengadakan kelas terbuka.”

“Maaf.”

“Saya tidak meminta maaf.” Regina memegang kedua bahunya, memeriksa wajah dan posturnya. “Saya hanya ingin tahu apakah kamu masih mau berada di sini.”

Vivi mengangguk. “Aku mau.”

Jawaban itu terdengar lebih mantap daripada perasaannya.

Mereka masuk ke ruang latihan utama. Cahaya pagi jatuh melalui jendela tinggi, membentuk persegi panjang di lantai kayu. Regina menyerahkan air mineral yang masih tersegel, lalu membuka tablet di atas meja musik.

“Sebelum mulai, kamu perlu tahu seluruh persoalannya.”

Foto Nadya Oktaviani memenuhi layar. Perempuan itu mengenakan tutu merah yang telah dipotong sangat pendek, dikelilingi empat penari The Sweet Ballerinas. Angka pengikut pada profilnya sudah melewati satu juta.

Vivi mengenali senyum itu.

Tidak jelas, tidak utuh, tetapi cukup untuk membuat kulit di tengkuknya meremang.

“Dia pernah belajar di sini?” Vivi bertanya, meski sebagian jawabannya terasa mengambang dalam ingatan.

“Tiga tahun.” Regina menggeser layar ke sebuah video. “Saya mengeluarkannya setelah dia merekam koreografi kelas, mengubahnya menjadi tarian provokatif, lalu mengaku sebagai pencipta. Saya tidak melarang modernisasi. Saya menolak pencurian.”

Dalam video itu, Nadya tersenyum ke kamera sambil menyebut dirinya penerus baru balet Indonesia. Komentar bergerak begitu cepat sehingga hampir tak terbaca.

“Sekarang dia ingin hak penggunaan lima tahun atas Angsa di Bawah Cahaya Bulan,” lanjut Regina. “Dia mengumumkan tantangan terbuka di Balai Seni Jakarta. Kalau kelompoknya menang, saya harus menandatangani lisensi itu.”

“Dan kalau kita menang?”

“Dia mencabut klaim bahwa karya itu sudah ketinggalan zaman dan menerbitkan permintaan maaf.” Regina tersenyum tipis. “Pengacaraku memastikan semua syarat tertulis.”

Vivi memperbesar daftar tamu di dokumen festival. Satu nama dicetak tebal.

“Mr. Kovalenko datang?”

“Anton Kovalenko akan menilai pertunjukan utama. Nadya ingin memakai karya saya untuk menarik perhatiannya.”

Jadi bukan hanya balas dendam. Nadya mengincar panggung internasional dan membutuhkan nama Regina sebagai tangga.

“Kalau begitu, jangan biarkan dia memanjat.” Vivi mengembalikan tablet.

Sorot mata Regina menghangat. “Ganti pakaian. Saya ingin melihat apa yang masih diingat tubuhmu.”

***

Ruang ganti berada di ujung lorong sempit, di balik pintu putih dengan kunci kombinasi baru. Vivi masuk sendiri dan meletakkan tas di bangku.

Ruangan itu bersih. Tiga loker, satu cermin panjang, sebuah bangku, dan ventilasi persegi di dekat langit-langit. Tidak ada sesuatu yang tampak aneh.

Ia membuka ritsleting tas dan mengeluarkan pakaian latihan hitam yang dibawanya dari rumah.

Saat jemarinya menyentuh ujung kaus, sebuah potongan ingatan menghantamnya.

Pintu yang sama. Cahaya putih. Suara pesan masuk bertubi-tubi. Sebuah foto tubuhnya ketika berganti pakaian, dikirim dari nomor tak dikenal. Ancaman agar ia mundur dari pertunjukan. Rasa malu yang membuatnya muntah di wastafel.

Vivi membeku.

Ada kamera di ruangan ini.

Atau pernah ada.

Ia tidak tahu kapan dipasang, siapa yang memasang, atau apakah perubahan tindakannya telah mengubah semuanya. Yang ia ingat hanya akibatnya. Foto-foto itu pernah membuatnya tak berani menatap Regina dan memilih menghilang sebelum sempat menjelaskan.

Napas Vivi menjadi pendek. Ia memaksa tangan tetap bergerak, seolah tidak ada apa-apa. Jika seseorang sedang melihat, kepanikan hanya akan memberi tahu mereka bahwa ia sadar.

Ia mengambil pakaian latihan, lalu menyelipkan kuku ke jahitan samping. Benang elastis itu kuat. Vivi menarik sekali lagi sampai terdengar bunyi sobek kecil.

“Aduh,” katanya cukup keras.

Ia mengangkat pakaian itu di depan cermin, pura-pura memeriksa lubang sepanjang dua jari. Setelahnya, ia memasukkannya kembali ke tas tanpa melepas satu pun pakaian yang dikenakan.

Ketika keluar, Regina sedang memilih musik.

“Kenapa belum ganti?”

Vivi menunjukkan jahitan yang rusak. “Sepertinya tersangkut di tas. Aku latihan dengan ini dulu, boleh?”

Ia mengenakan kaus longgar dan celana olahraga yang cukup lentur untuk gerakan dasar. Tidak ideal, tetapi aman.

Regina menekan kain di dekat lubang. “Aneh. Kemarin Pak Yanto mengirim foto pakaian ini, masih utuh.”

Jantung Vivi melonjak. “Mungkin aku menariknya terlalu keras saat mengeluarkan.”

Regina menatapnya sesaat, lalu tidak mendesak. “Baik. Hari ini hanya evaluasi. Lima belas menit pemanasan, setelah itu barre.”

Musik piano mengalun.

Tubuh Vivi kaku pada plié pertama. Regina membetulkan arah lututnya, lalu mundur. Pada tendu ketiga, ingatan otot mulai mengambil alih. Telapak kakinya menyapu lantai, punggungnya memanjang, dan ruang yang semula terasa mengancam perlahan kembali menjadi tempat latihan.

Namun setiap kali berputar menghadap lorong, matanya mencari pintu ruang ganti.

***

Di lantai tertinggi Gunawan Group, Sebastian membaca halaman yang sama untuk keempat kalinya.

Titik lokasi Vivi tidak bergerak dari bangunan studio di Tangsel. Di layar lain, laporan sopir menyatakan pemeriksaan medis selesai dan Vivi sudah masuk pukul sembilan tepat. Kendaraan keamanan masih menunggu di luar sesuai kesepakatan.

Semua berjalan sebagaimana mestinya.

Itu tidak membuat rasa sesak di dadanya berkurang.

Seorang sekretaris perempuan berdiri di depan meja dengan map terbuka. “Pak Sebastian, rapat akuisisi dimulai dua puluh menit lagi. Apakah presentasinya perlu dipindahkan?”

“Tidak.”

“Tim legal juga menunggu persetujuan Anda.”

“Tinggalkan.”

Sekretaris itu meletakkan map dan segera pergi. Pintu tertutup pelan.

Sebastian membuka lokasi Vivi sekali lagi.

Ia telah setuju untuk tidak masuk, tidak mengirim orang ke ruang latihan, dan tidak meminta akses kamera gedung. Ia tidak akan melanggar batas yang baru diberikan Vivi kepadanya.

Tetapi setiap menit saat perempuan itu berada di luar jangkauannya membuat sesuatu di bawah kulitnya menegang.

Ia menekan nomor sopir.

“Jika jadwal berubah satu menit pun, laporkan.”

***

Satu jam kemudian, Vivi menyelesaikan rangkaian terakhir dengan napas terengah. Kakinya gemetar karena lama tidak digunakan, tetapi tidak ada nyeri tajam.

Regina memberinya handuk. “Dasarmu masih ada. Daya tahanmu yang harus dibangun kembali.”

“Aku akan mengejarnya.”

“Pelan-pelan. Saya butuh kamu di panggung, bukan di rumah sakit.”

Vivi tertawa kecil. Saat mengambil tas, ia menoleh ke arah ruang ganti sekali lagi.

Cahaya dari jendela lorong mengenai ventilasi di atas pintu.

Di balik kisi-kisi gelap itu, sesuatu memantulkan satu titik cahaya yang sangat kecil.

Vivi berhenti bernapas.

Firasatnya bukan sekadar sisa ketakutan.

Ada sesuatu di sana.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!