Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Pukul 10.00, palu hakim jatuh.
"Sidang pembacaan putusan perkara hubungan industrial antara Anwar Halim dan kawan-kawan melawan PT MakanYuk Nusantara dinyatakan dibuka."
Tidak ada yang berani batuk.
Alexander berdiri di samping Anwar. Di belakang mereka, para pengemudi memenuhi bangku sampai lorong. Laura Santoso duduk di meja tergugat dengan wajah terkunci, tangannya di atas salinan berkas.
Ketua majelis membaca bagian identitas perkara tanpa mempercepat satu kata pun.
Lalu ia masuk ke pertimbangan.
"Menimbang, bahwa meskipun perjanjian antara tergugat dan para pengemudi menggunakan istilah kemitraan, majelis menilai hubungan hukum tidak dapat semata-mata ditentukan dari judul perjanjian."
Jari Anwar gemetar di sisi tubuhnya.
Alexander tidak menoleh. Ia hanya berbisik, "Dengar sampai selesai."
"Menimbang, bahwa dari bukti notifikasi sanksi, pengaturan tarif, mekanisme penilaian performa, pembatasan pembatalan pesanan, serta penonaktifan akses kerja, terbukti adanya unsur pengendalian yang nyata dari tergugat terhadap para pengemudi penggugat."
Di meja seberang, salah satu anggota tim Laura menutup mata sebentar.
Laura tetap diam.
"Menimbang, bahwa perbedaan jam kerja dan jumlah pesanan tidak menghapus pola pengendalian yang sama. Perbedaan tersebut hanya berpengaruh terhadap perhitungan hak masing-masing, bukan terhadap keberadaan pola hubungan yang disengketakan."
Rafi menunduk. Bahunya mulai bergetar.
Ketua majelis membalik halaman.
"Menimbang, bahwa tawaran penyelesaian individual kepada sebagian penggugat tidak membuktikan kesetaraan posisi, melainkan harus dibaca hati-hati karena diberikan dalam keadaan ekonomi para penggugat yang rentan."
Alexander merasakan dada Anwar bergerak naik turun cepat.
Inilah titiknya.
"Mengadili."
Seluruh ruang sidang membeku.
"Satu, mengabulkan gugatan para penggugat untuk sebagian besar."
Suara tertahan pecah di bangku belakang, tetapi ketua majelis segera mengetuk palu kecil.
"Dua, menyatakan bahwa dalam hubungan antara tergugat dan para pengemudi penggugat terdapat hubungan kerja terselubung dalam unsur pengendalian, perintah, sanksi, dan ketergantungan ekonomi sebagaimana dipertimbangkan majelis."
Anwar menutup mulutnya.
Yanti sudah menangis tanpa suara.
"Tiga, menghukum tergugat untuk membayar ganti rugi kolektif kepada para penggugat sesuai daftar perhitungan yang akan dilampirkan dalam amar putusan ini, dengan penyesuaian berdasarkan masa kerja, riwayat order, dan kerugian yang terbukti."
Palu belum jatuh lagi, tetapi beberapa pengemudi sudah saling memegang bahu.
"Empat, menghukum tergugat untuk memulihkan akses kerja para penggugat yang dinonaktifkan karena keterlibatan dalam gugatan ini, sepanjang tidak terdapat pelanggaran disiplin yang sah dan terpisah."
Laura mengangkat kepala.
"Lima, memerintahkan tergugat menyusun ulang mekanisme perlindungan kerja dan risiko kecelakaan bagi pengemudi sesuai ketentuan hukum yang berlaku."
Ketua majelis berhenti.
Kalimat terakhir datang seperti pintu besi yang dibuka.
"Enam, menolak selain dan selebihnya."
Palu jatuh.
"Sidang selesai."
Untuk satu detik, tidak ada suara.
Lalu ruang sidang meledak.
Ratusan napas seolah keluar bersamaan. Seorang pengemudi tua duduk kembali karena lututnya lemas. Rafi menangis sambil menutup wajah. Yanti memeluk Anwar dari samping, sedangkan Anwar berdiri kaku, seperti orang yang terlalu lama memikul batu sampai lupa bagaimana meletakkannya.
"Kita menang?" suara Anwar serak.
Alexander mengangguk.
"Kita menang di tingkat ini."
Anwar tertawa sekali, pendek dan patah. Lalu ia menangis.
Ia memegang lengan Alexander dengan dua tangan. "Pak Alexander... kalau waktu itu saya mati..."
"Bapak tidak mati," potong Alexander pelan. "Dan hari ini, suara Bapak dihitung."
Panel Status menyala di tepi pandangannya.
Ting!
Pencapaian besar pertama tercatat: kemenangan kolektif dalam perkara hubungan industrial berdampak luas.
Ting!
Level meningkat: Lv15 Advokat Pemula.
Alexander hampir kehilangan napas.
Dua tingkat.
Tetapi ia tidak sempat menikmati angka itu.
Di luar ruang sidang, para wartawan sudah menunggu dengan buku catatan, kamera foto, dan kartu pers. Mikrofon dari redaksi surat kabar lokal diarahkan padanya. Wartawan portal berita hukum meminta pernyataan resmi.
"Saudara Alexander, apakah putusan ini bisa menjadi rujukan bagi pekerja platform lain?"
"Apakah MakanYuk akan langsung menjalankan putusan?"
"Apakah pihak penggugat siap jika tergugat mengajukan upaya hukum?"
Gunawan menyentuh siku Alexander singkat. "Jawab pendek. Jangan mabuk kemenangan."
Alexander mengangguk.
Ia berdiri di anak tangga pengadilan, di samping Anwar dan Yanti.
"Putusan hari ini bukan akhir dari semua masalah pekerja platform," katanya. "Tetapi ini menegaskan satu hal: perusahaan tidak bisa memakai istilah kemitraan untuk menghapus tanggung jawab ketika kenyataan menunjukkan adanya pengendalian yang nyata. Kami menghormati hak tergugat untuk menempuh upaya hukum. Tetapi selama proses itu berjalan, kami akan memastikan hak para pengemudi tidak kembali dianggap angka di layar."
Pena bergerak cepat.
Kamera foto menyala beberapa kali.
Tidak ada panggung. Tidak ada teriakan nama. Hanya halaman berita esok hari yang mulai ditulis dari kalimat-kalimat itu.
Sore itu, ketika Alexander kembali ke Kantor Hukum Adiwangsa, meja resepsionis sudah penuh telepon.
"Pak Gunawan," resepsionis berkata panik, "ada tiga perusahaan meminta jadwal konsultasi, dua serikat pekerja minta bertemu, dan satu keluarga dari luar kota bilang mereka membaca berita daring tentang putusan hari ini."
Gunawan hanya menjawab, "Catat semua. Jangan janjikan kemenangan pada siapa pun."
Lalu ia memanggil Alexander ke ruang rapat.
Di atas meja, sudah ada satu map tipis.
Alexander baru duduk ketika Gunawan mendorong map itu ke arahnya.
"Buka."
Alexander membuka halaman pertama.
Surat Keputusan Pengangkatan Advokat Tetap.
Namanya tertulis jelas: Alexander Wijaya.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti.
"Pak..."
"Kau masih muda, masih banyak kurang ajar dalam cara berpikir, dan kadang lupa tubuhmu bukan mesin," kata Gunawan datar. "Tetapi kantor ini tidak akan terus menyebutmu magang setelah hari ini."
Alexander menatap tanda tangan di bawah surat itu.
"Saya belum merasa pantas."
"Bagus. Orang yang terlalu cepat merasa pantas biasanya paling berbahaya."
Gunawan berdiri, lalu menepuk bahunya sekali.
"Mulai besok, kau datang sebagai pengacara tetap Kantor Hukum Adiwangsa. Jangan membuat saya menyesal."
Alexander menggenggam map itu.
Di kepalanya, ia mendengar suara Nathan. Di dadanya, ia merasakan berat lencana Herman Wijaya, seolah benda itu ikut menjadi saksi.
Malamnya, koran edisi pagi sudah dicetak lebih awal untuk distribusi utama.
Halaman depan menampilkan foto Alexander berdiri di tangga pengadilan, Anwar dan Yanti di sisinya.
Judulnya besar:
Pengemudi Menang, Istilah Mitra Tak Lagi Kebal.
Di Bank Cakra Sentosa cabang pusat, seorang pegawai arsip khusus meletakkan koran itu di atas meja atasannya.
"Pak, ini nama yang pernah datang bersama Herlina Halim."
Pria tua di balik meja membaca judul itu. Matanya turun ke foto Alexander, lalu ke laci yang terkunci di sisi kanan mejanya.
Di dalam laci itu, ada map lama dengan kode:
IRN-27/YP.
Di bawah kode itu tertulis satu nama.
Herman Wijaya.
Pria tua itu menutup koran perlahan.
"Jadi anak itu akhirnya mulai terdengar," gumamnya.
Keesokan paginya, telepon Kantor Hukum Adiwangsa berdering sebelum jam kerja dimulai.
Dan kali ini, yang datang bukan lagi kasus kecil yang mencari belas kasihan.
Yang datang adalah pintu-pintu besar yang selama ini tertutup.