Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDT 19
...***...
Begitu sampai di rumah sakit, Arjuna langsung menuju ruangan tempat di mana Danita berada. Ketika dia masuk, ada seorang pria yang sedang duduk di samping tempat tidur Danita.
Pria itu melihat ke arah istrinya dengan tatapan yang Arjuna sendiri tidak tahu maksudnya, tapi hal itu membuatnya tidak suka.
“Anda yang menghubungi saya tadi?”
Pria tadi memalingkan wajahnya ke arah Arjuna.
“Ah, iya. Itu saya, maaf jika lancang memeriksa ponsel istri anda. Tapi saya hanya bermaksud membantunya saja.”
“Tidak masalah, terima kasih.”
“Dokter sudah memeriksanya, dan mengatakan jika Nita hanya kelelahan saja. Obatnya belum diminum karena dia belum sadar, saya simpan di laci. Takutnya Nita belum makan, saya membelikan bubur untuknya.”
Nita. Dua kali pria di depannya menyebutkan nama Danita dengan Nita.
Panggilan yang seolah-olah begitu akrab. Sebenarnya siapa pria ini?
“Karena anda sudah datang, saya permisi dulu.”
“Terima kasih,”
Pria itu menganggukkan kepalanya. Kemudian keluar dari ruangan itu.
Arjuna melangkahkan kakinya menghampiri Danita yang masih terbaring di atas tempat tidur pasien.
Bukankah tadi pagi dia baik baik saja? Apa mungkin karena kehujanan tadi malam.
Danita mengerjakan matanya, menyesuaikan dengan pencahayaan yang masuk ke matanya.
“Ini di mana?” Danita berujar lirih dan meringis karena kepalanya masih pusing.
Hal terakhir yang dia ingat adalah menunggu taksi jadi depan restoran, tapi tiba-tiba kepalanya sakit dan semuanya berubah gelap. Danita meringis menahan kepalanya yang masih pusing.
“Sudah sadar?”
Danita sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya.
Kenapa mas Juna bisa di sini?
Danita masih memandangi wajah suaminya.
“Mas yang bawa aku ke sini?”
“Menurut kamu?” Ujar Arjuna dingin
Entah kenapa Arjuna tiba tiba merasa kesal mengingat pria tadi.
“Bukan saya, dan hal itu tidak penting. Bukankah seharusnya tidak pergi menemui teman temanmu, jika tubuhmu sedang sakit. Kenapa masih memaksakan diri? Apa kamu sengaja ingin menyusahkan saya dan ingin orang lain tahu, jika saya adalah suami yang tidak becus mengurus istri.”
Sakit. Hati Danita kembali terluka mendengar ucapan Arjuna yang menuduhnya seperti itu.
“Maaf, Mas.”
Danita menundukkan wajahnya. Sebisa mungkin dia menahan air mata yang akan jatuh dari pelupuk matanya.
“Obat dan makanan sudah ada di situ, kamu tinggal memakannya. Semua sudah di siapkan hanya untukmu,” Arjuna sengaja menekan kata terakhir.
“Terima kasih, Mas.”
“Tidak perlu berterima kasih, karena bukan saya yang melakukannya.” Setelah mengatakan hal itu, Arjuna pergi dari sana.
Danita mengeryitkan dahinya.
Maksudnya apa?
...***...
“Kamu harus jaga kesehatan dong, sayang. Juna gimana sih, istrinya bisa sakit gini. Dijagain dong, Jun.”
“Dia manusia Mah, wajar kalau sakit. Lagian sudah dewasa, bukan anak kecil yang harus dijagain.”
“Kamu tuh, enggak ada romantis romantisnya jadi suami.”
“Terserah Mama aja deh,”
“Buahnya dikupasin, Jun.”
“Iya, Ma. Sudah. Kalau kebanyakan nanti enggak habis,”
“Biar aku aja yang ngabisin, Bang.”
Arjuna menjejalkan apel ke mulut adiknya.
“Kamu pakai jasa ART aja ya, kalau kecapean gini.”
“Enggak perlu, Ma.” Danita tersenyum mendengar perhatian Mama mertuanya.
“Tapi kan, kamu kecapean. Kerja dan ngurusin rumah sama suami kamu juga,”
“Danita sudah resign kok, Ma.”
“Eh, beneran?”
“Iya, minggu kemarin terakhir kerja.”
“Tapi tetap pakai ART aja deh, Nit. Mama enggak tega kalau kamu sakit gini,”
“Enggak apa-apa, Nita masih sanggup kok. Lagian nanti malah enggak ada kegiatan, nanti malah bosan.”
“Ya sudah deh, pokoknya jangan sakit lagi. Harus jaga kesehatan, gimana mau cepat dapat cucu kalau kamunya masih sakit. Jadi enggak bisa honeymoon deh,”
Danita terkejut dan merasa tidak enak mendengar ucapan Mama mertuanya perihal anak dan bulan madu.
“Kita enggak akan ke mana-mana, Ma. Lagian dia juga lagi sakit, harus istirahat. Aku juga banyak kerjaan yang enggak bisa ditinggal.”
“Duh, Jun. Kerjaan bisa dialihkan ke Aldo dulu sebagai wakil kamu, sama sekretaris kamu juga.”
“Enggak bisa,”
“Tapi kapan Mama punya cucunya kalau kamu sibuk sama kerjaan terus?”
“Nanti,”
“Nanti kapan?”
“Kapan kapan,”
Danita meringis mendengar perdebatan antara mertua dan suaminya.
“Ih, berisik. Mama sama Abang ganggu istirahat Mbak Nita, tuh.”
“Sudah malam, Mama pulang aja. Besok Danita juga sudah boleh pulang, dan untuk cucu. Mama do'akan aja, semoga dikasih secepatnya.” ujar Arjuna.
Mama dan adiknya akhirnya berpamitan pada Arjuna dan Danita.
Arjuna memberikan buah yang tadi dikupasnya kepada Danita.
“Terima kasih, Mas.”
Arjuna berlalu begitu saja tanpa menghiraukan ucapan dari Danita.
...***...
Saat Arjuna tengah membaca kertas laporan ditangannya, terdengar suara ketukan dari luar.
“Masuk,”
“Maaf Pak, tiga puluh menit lagi kita ada meeting di luar.”
“Kamu siapkan dokumen dokumen yang akan diperlukan.”
“Baik, Pak. Saya permisi,”
Arjuna merapikan penampilannya, dan bersiap untuk pergi.
Arjuna beserta sekretarisnya sampai di Cafe tempatnya meeting nanti.
Saat Arjuna baru saja duduk, tampak dari kejauhan di salah satu sudut Cafe dia melihat Danita yang tengah duduk berhadap hadapan dengan seorang pria. Keduanya tertawa bersama.
Arjuna refleks mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras melihat hal itu. Padahal selama satu minggu ini dia berusaha berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan mereka, karena perkataan Aldo waktu itu.
Tapi, Danita. Wanita itu, justru sedang tertawa bahagia bersama dengan pria lain. Arjuna menahan diri untuk tidak melangkahkan kakinya menuju meja mereka. Kini dirinya harus fokus dengan klien yang sekarang ada di hadapannya.
...***...
Sudah satu minggu sejak keluar dari rumah sakit, tapi ada hal yang masih mengganjal Danita tentang siapa yang membawanya ke rumah sakit. Dan siang itu pertanyaannya terjawab, ternyata yang membawanya ke rumah sakit saat dia tidak sadarkan diri adalah
Ari.
Siang ini mereka bertemu di Cafe tak jauh dari kantor Danita dulu, kebetulan Danita ingin mengucapkan rasa terima kasihnya, sekaligus mengambil barang-barangnya yang masih berada di tempat kerjanya dulu.
Begitu sampai di sana, Danita mengucapkan terima kasih atas bantuan Ari. Keduanya juga mengobrol tentang pekerjaan masing-masing, Danita juga mengenalkan Ari kepada teman-temannya di kantor lamanya dulu. Meskipun di masa lalu hubungan keduanya sempat menjauh Danita sudah tidak memikirkannya lagi.
Danita sempat menanyakan kabar Christi, tapi justru diluar dugaan. Danita mendapatkan kurang duka, Christi meninggal dunia karena sakit kanker getah bening yang di deritanya. Danita meminta maaf dan turut prihatin, dia juga merasa bersalah karena tak sempat mengucapkan selamat dan bertemu secara langsung.
Ari mewakili Christi meminta maaf kepada Danita, jika ada kesalahan yang pernah membuat Danita sakit hati. Untuk mengalihkan kesedihan, Tami bertanya tentang anaknya bercerita tentang anaknya yang kini mulai begitu cerewet.
Dia bahkan sempat kewalahan, dengan berbagai macam keinginan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Karren —anaknya.
Danita tertawa mendengar cerita tentang Karren.
Waktu makan siang sudah habis, Danita juga berpamitan. Menitipkan salam untuk Karren. Tak lupa, Ari mengundang Danita dan suaminya untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Karren lusa di rumahnya.
Setelah keduanya berpisah, Danita memutuskan sekalian untuk mampir ke supermarket sebelum pulang ke rumahnya. Kebetulan beberapa stok bahan makanan sudah habis, hari ini dia sengaja membawa mobil.
Sekitar pukul setengah lima Danita sampai di rumahnya. Mobil Arjuna sudah terparkir di garasi.
Tumben Mas Juna jam segini sudah pulang, biasanya di atas jam enam baru sampai rumah.
Danita turun dari mobil, membuka bagasi mobil membawa belanjaan yang tadi dibelinya. Setelah masuk, Danita mulai menyimpan belanjaan.
Setelah itu dia memasak makanan untuk makan malam. Begitu selesai, Danita menyiapkan semua di atas meja. Saat tengah menaruh gelas, Danita melihat Arjuna berjalan ke arahnya.
“Mas, makanannya sudah siap. Mau makan sekarang? Aku siapkan dulu ya,”
Arjuna hanya diam di kursinya. Begitu Danita menyodorkan sepiring makanan ke arahnya, Arjuna menepis tangan Danita hingga piring itu jatuh dan pecah. Isinya pun berserakan di lantai.
Prang!
Danita terkejut dengan perlakuan Arjuna.
“Saya pikir kamu tidak akan kembali ke rumah ini setelah bersenang-senang dengan pacar kamu.”
Kening Danita berkerut bingung.
“Apa maksudnya, Mas?”
Arjuna bangkit dari tempat duduknya, menarik tangan Danita dan menghempas tubuh istrinya ke lantai.
Danita mengaduh kesakitan karena tangan dan bokongnya sakit. Rahang Arjuna mengetat mengingat bagaimana Danita tertawa bahagia bersama seorang pria siang tadi, sedangkan matanya tajam memandang Danita yang masih terlihat meringis.
Tangannya kemudian mencengkeram erat rahang Danita, hingga dia merintih kesakitan.
“Saya sudah katakan sama kamu, jangan pernah memiliki hubungan dengan pria lain selama kamu masih menjadi istri saya. Lalu kenapa kamu justru dengan tidak tahu dirinya melakukan itu. Siapa pria itu Danita!?” Bentak Arjuna.
“Mak-maksud Mas, apa? Nita enggak ngerti, pria siapa?”
Bibir Arjuna tersenyum miring. Dan menghempaskan cengkeramannya.
“Kamu masih menutupi kelakuanmu. Kamu pikir saya tidak tahu, hari ini kamu bertemu dengan seorang pria, selingkuhan kamu di Cafe siang tadi.”
Kini Danita mengerti maksud tuduhan Arjuna kepadanya.
“Itu teman aku, Mas. Kami memang bertemu setelah aku dari kantor lamaku, mengambil barang-barang yang masih di sana dan juga mengungkapkan rasa terima kasih karena kemarin dia yang menolongku saat tidak sadarkan diri.”
“Alasan! Kamu pikir saya percaya? Dasar wanita pembohong.”
“Sungguh Mas, aku enggak bohong.”
“Kamu bilang pada pacarmu. Jangan harap bisa bertemu atau kalian bisa bersama, karena saya tidak suka milik saya disentuh orang lain. Meskipun pernikahan ini tanpa cinta, seharusnya kamu bisa lebih menghargai saya sebagai suami kamu. Bukannya selingkuh dengan pria lain!”
Danita tertawa miris mendengar ucapan Arjuna.
“Menghargai. Apa mas sendiri pernah menghargai aku sebagai istri Mas?” Ujarnya lirih.
Arjuna terdiam mendengar pertanyaan Danita.
“Seharusnya, jika Mas tidak mencintaiku. Mengapa harus menikahi aku, Mas menarikku ke dalam masa lalu yang belum selesai. Menarik aku ke dalam pernikahan ini, jika memang tidak mencintaiku seharusnya mas menceraikan aku.”
Danita menangis tergugu di tempatnya.
Rahangnya mengeras mendengar kata cerai yang terlontar dari bibir istrinya.
Dia menarik paksa Danita ke lantai dua, menuju kamar mereka dan menghempaskan tubuh istrinya ke atas ranjang tempat tidur.
Arjuna berjalan mendekat menatap Danita yang menangis sesenggukan.
“Menceraikan kamu agar kamu bisa bersama pacar kamu. Jangan mimpi! Saya tidak akan pernah melepaskan kamu, melepaskan milik saya.”
“Aku bukan milik kamu, Mas. Jika di hati kamu masih ada orang lain. Tolong lepaskan aku, aku juga ingin bah_”
Belum sempat Danita menyelesaikan ucapannya, Arjuna mencium bibir Danita. Memangutnya dengan kasar. Mengecap setiap jengkal bibirnya.
Tangannya terus menekan tengkuk Danita yang mencoba melepaskan pangutannya. Ciuman Arjuna berubah melembutkan dan semakin menuntut.
“Kamu milik saya Nita.” Ujarnya disela-sela ciuman mereka.
Malam itu Arjuna membawa Danita melebur dalam gairah panas untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka.
...****...