Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa?
"Assalamualaikum, Ibu. Saya Arsen, temannya Aira waktu kuliah di Bandung dulu," ucap Arsen lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan.
"Ini Ayah dan Ibu saya," lanjut Arsen.
"Wa-waalaikumsalam. Oh, temannya Aira?" Jantung Ibu Astri berdegup kencang karena bingung sekaligus minder melihat kedatangan tamu yang terlihat begitu terhormat.
"A-Aira-nya tidak ada di rumah, Le. Aira jam segini masih kerja di lahannya Pak Iqbal, kerja panen sawi," ucap Ibu Astri.
Mendengar jawaban itu, Arsen sempat tertegun sekilas. Sepasang alisnya bertaut karena bingung, bahkan kedua orang tua Arsen pun saling pandang, terkejut mendengar bahwa gadis yang sering diceritakan anak mereka ternyata bekerja sebagai buruh pemetik sayur di ladang.
"Kerja di sawah, Bu?" tanya Ibu Arsen memastikan dengan suara lembut, tanpa ada nada merendahkan sama sekali.
"Nggih, Bu. Maaf, rumahnya berantakan, mari silakan masuk duduk di dalam dulu," ucap Ibu Astri canggung, merasa tidak enak hati membiarkan tamu agung berdiri di halaman tanahnya yang berdebu.
Ibu Astri dengan tergesa-gesa menggelar tikar anyaman bambu yang permukaannya sudah mulai menipis di beberapa sudut. Rasa canggung dan minder menyelimuti benak wanita tua itu, rumah sederhananya begitu kontras dengan pakaian mewah dan pembawaan elegan para tamunya.
"Mohon maaf nggih, Bapak, Ibu, Nak Arsen... rumahnya nggih namung kados mekaten (rumahnya ya hanya seperti ini). Tidak ada kursi," ujar Ibu Astri, suaranya bergetar pelan saat ia mempersilakan mereka duduk.
Ayah Arsen, Pak Aldi, tersenyum hangat dan langsung duduk bersila di atas tikar tanpa keraguan sedikit pun. "Mboten nopo-nopo, Bu. Justru begini malah terasa adem dan guyub," jawabnya dengan nada suara yang berwibawa namun sangat bersahabat.
Ibu Arsen, Bu Mutia, ikut duduk dengan anggun di sebelah suaminya, merapikan gamis tanpa tampak risih sama sekali. Arsen duduk di dekat Ayahnya, tatapan matanya menyapu sekeliling ruangan yang bersih meski sangat sederhana.
"Kalau boleh tahu ada apa ya nak Arsen datang kesini?" tanya Ibu Astri.
"Begini, Bu. Kedatangan saya bersama orang tua saya hari ini...," Arsen sengaja menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam lalu menatap lurus mata Ibu Astri dengan penuh keyakinan. "...untuk mengutarakan niat baik saya. Ibu, saya datang ke sini untuk melamar Aira menjadi istri saya," ucap Arsen.
"Me-melamar Aira?" bisik Ibu Astri tak percaya.
Pikiran Ibu Astri berputar hebat, Aira sama sekali tidak pernah bercerita memiliki teman pria sekaya ini, apalagi menceritakan bahwa akan ada lamaran besar yang datang ke rumah reot mereka.
Menyadari situasi yang mendadak genting dan membutuhkan kehadiran sang putri sulung, Ibu Astri buru-buru keluar rumah dan menoleh ke arah rumah sebelah.
"Gio! Gio, Le!" panggil Ibu Astri dengan suara setengah berteriak memanggil anak tetangganya yang sedang memanaskan motor di seberang jalan.
Seorang pemuda tanggung berkaus oblong berlari mendekat, "Wonten menopo, Bude? (Ada apa, Bude?)" tanya Gio.
"Gio, tolong Bude, Le. Kamu cepat susul Mbak Aira, suruh dia pulang sekarang juga! Bilang kalau ada tamu penting nunggu di rumah. Cepat ya, Le!" perintah Ibu Astri dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.
"Nggih, Bude! Sekedap!" Gio melirik sekilas ke arah mobil mewah dan sosok Arsen yang berdiri tegap, lalu buru-buru memutar motornya dan melaju kencang membelah jalanan desa menuju ladang sayur.
Gio mengendarai motornya seperti kesetanan membelah jalanan tanah menuju ladang Pak Iqbal. Di sana, di antara barisan tanaman sawi yang basah, Aira sedang berjongkok dengan capingnya yang miring, tangannya yang penuh lumpur baru saja hendak memasukkan seikat sayur ke keranjang.
"Mbak Aira! Mbak! Pulang, Mbak! Dipanggil Bude!" teriak Gio dari pinggir ladang, napasnya tersengal-sengal.
Aira mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaketnya yang kotor. "Ada apa, Gio? Mbak belum selesai ini, tanggung sedikit lagi," tanya Aira.
"Disuruh pulang sekarang, Mbak! Ada tamu penting di rumah. Naik mobil mewah hitam besar banget, ada orang-orang kota pakai baju bagus. Kata Bude, Mbak disuruh pulang sekarang juga!" seru Gio.
"Siapa?" tanya Aira.
"Gio nggak tahu, Mbak. Ayo pulang Mbak!" seru Gio lagi.
"Tapi, belum waktunya Mbak pulang," jawab Aira.
Gio yang tidak sabran pun turun dari sepedanya lalu menghampiri Aira dan menyeretnya dan untung saja Pak Iqbal tidak ada di sana sehingga Pak Iqbal tidak tahu jika Aira tidak ada.
Begitu motor Gio berhenti dengan decitan tajam di depan halaman, Aira turun dengan perasaan campur aduk. Napasnya masih memburu, matanya langsung membelalak lebar melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik terparkir anggun di depan rumah bambunya. Mobil itu sangat bersih, mengilat di bawah sengatan matahari pagi, membuat rumah reotnya tampak semakin kontras dan menyedihkan.
Beberapa tetangga, termasuk Bu Romlah dan Bu Darmi, sudah berdiri agak jauh di bawah pohon mangga, berbisik-bisik dengan mata yang tak lepas dari halaman rumah Aira.
"Aira! Astagfirullah, Nduk, kok malah bengong!" Suara Ibu Astri memecah keterpanaan Aira.
Ibu Astri bergegas turun dari teras, wajahnya tampak panik sekaligus tegang. Begitu mendekat, Ibu Astri langsung meringis melihat penampilan putri sulungnya. Aira masih mengenakan kaos olahraga lengan panjang yang pudar, celana training yang basah oleh sisa embun ladang dan tangan serta kaki yang menyisakan bercak lumpur kering.
"Ibu, ini ada apa? Mobil siapa?" bisik Aira bingung.
"Sudah, jangan banyak tanya dulu! Kamu lewat pintu belakang, cepat mandi yang bersih, terus dandan sing ayu. Ganti baju yang paling bagus!" perintah Ibu Astri setengah berbisik sambil mendorong pelan bahu Aira.
Aira yang masih dilingkupi rasa bingung hanya bisa menurut. Ia melangkah cepat memutari rumah, masuk melalui pintu dapur dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Guyuran air sumur yang dingin perlahan menyegarkan kepalanya yang sempat pening, namun gagal meredakan degup jantungnya yang kian bertalu-talu.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, Aira masuk ke kamarnya. Ia membuka lemari pakaian kayu yang sudah menua, lalu jemarinya terhenti pada sebuah kemeja tunik berwarna merah maroon, satu-satunya baju yang kondisinya paling baik dan paling rapi yang ia miliki. Saat melihat baju itu, ingatan Aira mendadak terlempar pada obrolan random-nya dengan Arsen di telepon tiga hari lalu.
Jantung Aira mencelos. "Nggak... nggak mungkin Arsen, kan?" gumam Aira, yang masih bingung harus memakai baju apa.
Klek.
Pintu kamar bambunya bergeser pelan, Ibu Astri masuk dengan wajah yang kini tampak lebih tenang, namun matanya berkaca-kaca. Beliau berjalan mendekati Aira, lalu menggenggam kedua tangan putrinya yang terasa sedingin es.
"Kok belum ganti baju?" tanya Ibu Astri.
"Aira harus pakai baju yang kayak gimana, Bu? Emangnya siapa yang datang?" tanya Aira.
"Teman kamu, Aira. Namanya Arsen," jawab Ibu Astri.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal