Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mall
Mobil sport berwarna pink itu akhirnya sampai juga di halaman rumahnya. Setelah mobil berhenti dengan mulus, Nara turun dari sana lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja ia melangkah mendekati pintu, ia melihat maminya baru keluar dari dalam rumah.
"Hai, Mami," sapa Nara dengan ceria.
Mendengar suara anak gadisnya, Felly pun menoleh dan tersenyum hangat. "Hai, sayang."
"Mami mau ke mana?" tanya Nara penasaran, matanya menatap penampilan maminya yang sudah rapi.
"Mami mau ke mall. Mau ikut, enggak? Mami mau shopping," jawab Felly.
Ya, Felly yang memiliki dua anak kembar itu memang sedang merasa stres dan bosan. Kalau dibiarkan terus-terusan di rumah, yang ada malah tiba-tiba sudah berada di rumah sakit tempat Naya berada karena terlalu larut dalam pikiran. Ronal, suaminya, harus benar-benar ekstra menjaga istrinya. Bukan karena apa-apa, ia hanya takut kalau Felly terlalu banyak mikirin anak bungsu mereka sampai akhirnya sakit. Karena itu, tadi Ronal berinisiatif meminta istrinya keluar sebentar untuk shopping, sekadar menyegarkan pikiran. Dan tentu saja, Felly langsung setuju.
"Ihh, mau ikut," ucap Nara sambil merengek manja.
"Ya sudah, sana ganti baju dulu," jawab Felly kepada anak gadisnya.
Nara pun langsung berjalan menuju kamarnya. Setelah sekitar lima belas menit, akhirnya gadis itu turun juga. Ia memakai cardigan pink yang terlihat manis, dipadukan dengan rok mini denim ruffle. Sepatu yang ia kenakan juga cocok dengan outfit-nya, belum lagi beberapa aksesori kecil yang membuat penampilannya semakin terlihat cantik dan manis.
"Ayo," ajak Nara dengan senang.
Mereka pun pergi bersama. Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah mall yang cukup ramai malam itu. Begitu turun dari mobil dan berjalan masuk, Felly menoleh ke arah Nara.
"Kamu mau makan sesuatu dulu, enggak?" tanya maminya.
Seperti ibu-ibu pada umumnya, sebelum mulai belanja, Felly lebih memilih mencari makan dulu untuk mengisi stamina. Apalagi kalau sudah shopping, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa.
"Aku pengin dessert deh, Mi," jawab Nara, karena mood-nya memang sedang ingin makanan yang manis-manis.
"Kita ke sana aja," ajak Mami Felly sambil menunjuk salah satu toko dessert di depan mereka.
Akhirnya, mereka pun masuk ke sebuah toko Bakerzin. Setelah menikmati dessert dan mengobrol sebentar, Felly dan Nara mulai berkeliling mall. Cukup lama mereka shopping, bahkan sampai menghabiskan waktu hampir dua jam untuk membeli beberapa barang. Setelah puas belanja, mereka melanjutkan kegiatan terakhir, yaitu treatment di tempat langganan Felly.
Sementara itu, di sisi lain, Selena sedang membuat proposal bersama ketua OSIS mereka, Alden. Hatinya masih berbunga-bunga karena ia masih belum percaya Alden mau diajak keluar untuk mengerjakan proposal bersama. Meski alasan mereka memang urusan sekolah, tetap saja bagi Selena itu terasa seperti sesuatu yang spesial.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, yang artinya mereka harus pulang.
"Nah, sudah selesai, kan? Besok lo print aja. Habis itu, biar gue yang nganterin ke kepala sekolah," ucap Alden.
Selena mengangguk paham. "Makasih ya, Al, udah nolongin," ucapnya dengan lembut.
"Enggak usah ngucapin makasih. Udah tugas gue juga nolongin lo," jawab Alden santai.
Setelah itu, mereka pun membereskan barang-barang dan pergi dari sana.
Di tempat lain, Felly dan Nara juga sudah selesai treatment. Wajah Felly terlihat jauh lebih segar, bahkan mood-nya pun berubah menjadi lebih happy. Treatment itu benar-benar membuatnya merasa lebih ringan.
"Yuk, kita pulang," ajak Felly.
Namun, saat mereka sudah sampai di depan, Nara tiba-tiba meraba sling bag miliknya. Wajahnya langsung berubah panik kecil saat menyadari sesuatu.
"Mami tunggu di sini dulu, ya. HP aku kayaknya ketinggalan deh," ucap Nara.
Felly mengangguk. "Ya sudah, cepat ambil. Mami tunggu di sini."
Nara pun kembali berjalan ke belakang untuk mencari handphone-nya, sementara Felly memilih menunggu di luar sambil mengecek ponselnya.
Di saat yang sama, dari arah depan, Selena berjalan bersama Alden menuju pintu keluar. Namun, langkah Selena tiba-tiba melambat saat matanya menangkap sosok perempuan cantik yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Selena langsung berjalan lebih cepat ke depan untuk menyapa idolanya. Felly merupakan salah satu model sekaligus brand ambassador dari sebuah produk skincare asal Korea. Karena itu, tidak heran kalau Selena sangat mengaguminya.
"Hai, Tante Felly," sapa Selena dengan ceria.
Felly yang semula sedang menatap ponselnya pun menoleh. "Halo," balasnya ramah.
"Tante, kenalin, aku Selena. Aku salah satu followers Tante," ucap Selena dengan antusias.
Felly tersenyum senang mendengarnya. Sikap Selena yang ramah membuatnya merasa hangat. Namun, berbeda dengan Selena, Alden yang berdiri di sebelahnya justru menatap Felly dengan ekspresi tidak percaya.
"Tante Felly," sapa Alden.
Mendengar suara itu, Felly pun mengalihkan pandangannya ke arah Alden. "Loh, Alden. Kamu gimana kabarnya?"
"Alden sehat, Tante. Tante gimana?" tanya Alden sopan.
"Tante sehat, kok," jawab Felly ramah.
Selena yang melihat interaksi itu langsung menatap Alden dengan bingung. "Loh, lo kenal, Al?"
Alden menoleh sekilas ke arah Selena. "Kenal. Tante Felly itu istrinya Om Ronal, rekan Daddy gue," jelasnya.
Selena pun mengangguk paham, meski masih terlihat sedikit terkejut karena dunia ternyata terasa sesempit itu.
Tidak lama setelah itu, Nara akhirnya keluar juga dari arah dalam. Ia masih sibuk melihat ke arah sling bag-nya sambil memastikan ponselnya sudah benar-benar ada di sana.
"Ayo, Mi. HP aku udah ketemu," ucap Nara.
Namun, saat ia mendongakkan kepalanya, langkahnya langsung berhenti. Matanya membulat ketika melihat sosok Alden berdiri tidak jauh dari maminya.
"Alden," gumamnya dalam hati.
Selena yang melihat Nara pun ikut terkejut. "Naya, lo ngapain di sini?"
"Gue sama mami gue," jawab Nara, lalu menoleh ke arah Felly.
Felly yang mendengar itu langsung tersenyum kecil. "Iya, Naya ini anak Tante. Kamu sekolah di GIS, ya?" tanya Felly memastikan.
"Iya, aku sama Alden di GIS. Jadi, Naya anak Tante?" tanya Selena, masih mencoba mencerna semuanya.
"Iya, Naya anak Tante," jawab Felly lembut.
Seketika suasana di antara mereka terasa sedikit berubah. Selena mulai menyadari sesuatu. Felly berasal dari keluarga Valenzia, dan Naya juga memiliki nama belakang Valenzia. Hal itu membuat Selena terdiam sejenak.
"Rada masih belum percaya juga sih..." pikir Selena dalam hati.
Alden pun ikut terdiam. Ia menatap Nara dengan sorot mata yang sulit diartikan. Semua potongan informasi yang sebelumnya terasa samar kini mulai tersusun satu per satu di kepalanya.
"Jadi, gadis itu Naya," ucap Alden dalam hati, menatap ke depan dengan rasa tidak percaya.
Ia menarik napas pelan, masih berusaha memastikan semuanya. "Gue harus mastiin nanti di rumah," pikirnya yakin.
Setelah pertemuan singkat itu, mereka akhirnya berpisah. Selena dan Alden melanjutkan jalan mereka keluar dari mall, sementara Felly dan Nara menuju mobil.
Selama perjalanan pulang, Felly fokus menyetir, sedangkan Nara sibuk bermain ponsel. Suasana di dalam mobil terasa cukup tenang, hanya terdengar suara musik pelan dari speaker mobil.
"Nara," panggil Felly tiba-tiba.
Nara menoleh sedikit. "Kenapa, Mi?"
"Kamu kenal sama Alden?" tanya Felly, terdengar seperti basa-basi, padahal sebenarnya ia sedang mencoba memancing reaksi anaknya.
Nara mengangkat bahu santai. "Enggak juga, sih. Tapi tahu kok."
Felly mengangguk pelan, lalu kembali menatap jalanan di depannya. "Ada yang mau Papi dan Mami bicarakan nanti."
Nara langsung menoleh, kali ini wajahnya terlihat penasaran. "Ngomongin apa?"
"Nanti aja pas sampai rumah," jawab Felly.
Jawaban itu membuat Nara semakin penasaran, tapi ia memilih diam. Entah kenapa, perasaannya mendadak menjadi tidak tenang.
Sementara itu, Alden akhirnya sampai juga di rumah sekitar pukul sembilan malam. Setelah mengantarkan Selena pulang, ia baru mengendarai motornya menuju rumah. Begitu masuk ke dalam, ia melihat Daddy Arkan sedang berada di ruang tengah.
"Hai, Boy," sapa Daddy Arkan saat melihat Alden menghampirinya.
Alden berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit pelan. Pikirannya masih dipenuhi kejadian di mall tadi.
"Gimana proposal acaranya? Udah selesai?" tanya Arkan.
"Udah, Dad," jawab Alden seadanya.
Arkan mengangguk, lalu kembali memperhatikan anak laki-lakinya yang terlihat tidak seperti biasanya. "Kenapa? Kok mukanya serius begitu?"
Alden terdiam sebentar. Ia menatap daddy-nya, seolah sedang menimbang apakah harus langsung bertanya atau tidak. Namun, rasa penasarannya sudah terlalu besar untuk ditahan.
"Daddy," panggil Alden.
"Kenapa, hm?" jawab Arkan.
"Gadis yang bakalan tunangan sama Alden itu Naya? Elnaya Bellarose Valenzia?" tanya Alden memastikan.
Mendengar pertanyaan itu, Arkan langsung menoleh dengan ekspresi terkejut. Ia tidak menyangka rahasia yang selama ini belum ia jelaskan sepenuhnya ternyata sudah lebih dulu diketahui oleh Alden.