Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Malam Pelarian
Malam menyelimuti Kota Garnisun Valen dengan keheningan yang berbeda dari kota-kota lain yang pernah Ryosuke datangi selama pengembaraannya. Di tempat lain, malam mungkin menjadi waktu bagi penduduk untuk beristirahat setelah melewati hari yang melelahkan, tetapi di wilayah Empire Krusador, malam justru menjadi saat ketika penjagaan semakin diperketat. Cahaya obor menyala di sepanjang tembok benteng, suara langkah pasukan patroli terdengar teratur di jalan utama, dan lonceng pergantian penjaga terus bergema dari menara pengawas yang berdiri mengelilingi kota.
Dari kamar kecil di penginapan tempat karavan Gavin bermalam, Ryosuke duduk diam di dekat jendela sambil memandang ke arah kompleks militer timur yang terlihat samar dari kejauhan.
Di sana.
Di balik tembok batu yang tinggi itu, Hana berada.
Setelah enam bulan hidup dengan ketidakpastian, akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Adiknya masih hidup, tetapi kenyataan bahwa Hana berada di tangan Empire Krusador membuat hatinya tidak bisa merasa lega sepenuhnya.
Ryosuke ingin segera masuk.
Ingin segera membawa Hana keluar dari tempat itu.
Namun ia tahu, bergerak hanya berdasarkan emosi adalah keputusan yang akan membawa mereka berdua menuju kematian.
Ia menutup mata dan mengingat kembali seluruh pengamatannya selama berada di Kota Garnisun Valen. Setiap jalan yang dilewati prajurit, waktu pergantian patroli, jumlah penjaga di sekitar bangunan tahanan, hingga jalur yang paling mungkin digunakan untuk keluar.
Seorang pendekar tidak hanya menang dengan kekuatan pedang.
Kesabaran dan perhitungan adalah bagian dari pertarungan.
Ayahnya pernah mengajarkan hal itu kepadanya.
Ryosuke membuka mata.
Malam ini adalah kesempatan mereka.
Ia berdiri, mengambil kedua pedangnya, lalu mengenakan pakaian pengawal karavan yang masih menjadi penyamarannya. Nichirin-gatana berada di sisi kanan, sementara Tenkū Matō tetap tersimpan di sisi kiri dengan kain pembungkus yang menutupi sebagian besar bentuknya.
Pedang legendaris itu masih diam.
Tidak ada kegelapan yang keluar dari bilahnya.
Tidak ada tanda yang menunjukkan kekuatannya.
Dan Ryosuke berharap keadaan itu tetap bertahan.
Sebelum meninggalkan kamar, ia berhenti sejenak ketika melihat Gavin yang masih berada di ruangan sebelah, menghitung beberapa catatan dagangan.
"Aku pergi sebentar."
Gavin mengangkat kepala.
"Kau akan mencari gadis itu?"
Ryosuke terdiam beberapa saat.
Ia tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.
Gavin menghela napas pelan.
"Aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu, Ryosuke."
"Tapi aku tahu seseorang tidak akan mempertaruhkan nyawanya seperti ini jika tidak ada alasan yang sangat penting."
Ryosuke menatap pedagang itu.
"Terima kasih sudah membantu ku."
Gavin hanya tersenyum kecil.
"Jangan berterima kasih dulu."
"Kembali hidup-hidup."
Ryosuke mengangguk sebelum meninggalkan penginapan.
Udara malam terasa dingin ketika ia berjalan melewati gang-gang kecil Kota Garnisun Valen. Ia tidak menggunakan jalan utama karena terlalu banyak prajurit yang berjaga. Setiap langkahnya diperhitungkan agar tidak menimbulkan suara dan tidak menarik perhatian.
Setelah beberapa menit berjalan, ia tiba di bagian belakang kota yang berbatasan dengan saluran air.
Tempat itu jauh lebih sepi dibandingkan pusat kota.
Dari kejauhan, tembok belakang kompleks militer terlihat menjulang tinggi.
Ryosuke bersembunyi di balik semak sambil menunggu waktu yang tepat.
Dua penjaga berjalan di atas tembok.
Langkah mereka teratur.
Mereka bergerak mengikuti pola yang sama seperti yang ia amati sebelumnya.
Ryosuke menghitung dalam pikirannya.
Ketika kedua penjaga berbelok menuju sisi lain menara, ia bergerak.
Tubuhnya melompat melewati saluran air, kemudian tangannya meraih celah kecil di antara batu penyusun tembok. Dengan gerakan ringan, ia menaiki dinding tanpa suara.
Sesampainya di atas, ia berhenti dan melihat keadaan di dalam kompleks.
Gudang logistik berada di sisi kiri.
Barak prajurit berada di depan.
Dan bangunan tahanan yang menjadi tujuannya berada tidak jauh dari sana.
Namun jalannya terbuka.
Jika ia bergerak sembarangan, dirinya akan langsung terlihat.
Ryosuke menunggu.
Satu regu patroli lewat.
Kemudian regu kedua.
Ia tidak bergerak sampai menemukan celah.
Ketika beberapa prajurit berhenti untuk berbicara di sisi lain halaman, Ryosuke melompat turun dan bergerak melewati bayangan bangunan.
Ia tiba di belakang gudang tanpa diketahui.
Dari sana ia bisa melihat dua penjaga berdiri di depan bangunan tahanan.
Mereka tampak santai.
Tetapi Ryosuke tahu mereka tidak boleh diremehkan.
Ia menunggu beberapa saat hingga salah satu penjaga pergi untuk memeriksa sisi lain.
Saat penjaga yang tersisa membelakanginya, Ryosuke bergerak cepat.
Tangannya menutup mulut prajurit itu sebelum sempat berteriak.
Dalam satu gerakan, gagang Nichirin-gatana menghantam bagian belakang lehernya.
Prajurit itu jatuh tanpa suara.
Ryosuke mengambil kunci dari pinggangnya lalu membuka pintu belakang bangunan tahanan.
Udara di dalam terasa lebih dingin.
Lorong panjang terbentang di hadapannya.
Beberapa sel berada di sisi kanan dan kiri.
Beberapa tahanan menatapnya dengan bingung, tetapi Ryosuke tidak berhenti.
Ia hanya memiliki satu tujuan.
Menemukan Hana.
Semakin jauh ia masuk, semakin sedikit cahaya obor yang menerangi lorong.
Akhirnya ia tiba di sebuah pintu besi yang berbeda dari yang lain.
Ada dua lapis pengunci.
Ada tanda bahwa ruangan itu memiliki penjagaan khusus.
Ryosuke membuka pintu perlahan.
Di dalam ruangan kecil itu, seorang gadis duduk diam di sudut.
Rambut hitam panjang menutupi wajahnya.
Tubuhnya terlihat jauh lebih lemah dibandingkan terakhir kali Ryosuke melihatnya.
Namun Ryosuke langsung mengenalinya.
"Hana..."
Gadis itu perlahan mengangkat kepala.
Matanya membesar.
Seolah pikirannya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan di hadapannya.
"Kak... Ryosuke?"
Suara Hana bergetar.
Ryosuke melepas topengnya.
"Aku datang menjemputmu."
Beberapa detik kemudian, Hana berdiri dan berlari memeluk kakaknya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu Kakak lagi..."
Ryosuke memejamkan mata.
"Aku juga berpikir mungkin aku kehilanganmu."
Untuk pertama kalinya setelah tragedi desa mereka, keduanya kembali bersama.
Namun waktu mereka terbatas.
Ryosuke segera membuka ikatan tangan Hana.
"Kita harus pergi sekarang."
Hana mengangguk.
Mereka berjalan keluar dari ruangan dan kembali menuju jalur tempat Ryosuke masuk.
Tetapi ketika mereka hampir mencapai pintu belakang.
Suara langkah terdengar.
Seorang prajurit muncul dari ujung lorong.
Tatapannya langsung berubah ketika melihat pintu tahanan terbuka.
"Tahanan kabur!"
Teriakan itu menggema.
Lonceng darurat berbunyi di seluruh kompleks.
Suara prajurit berlari terdengar dari berbagai arah.
Ryosuke menggenggam kedua pedangnya.
Penyusupan mereka telah gagal.
Kini tidak ada lagi jalan untuk kembali diam-diam.
Ia berdiri di depan Hana.
"Kita pergi."
Hana menatap kakaknya.
"Kak..."
Ryosuke menarik napas panjang.
"Aku sudah kehilangan keluargaku sekali."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi."
Di luar bangunan, pasukan Krusador mulai mengepung.
Dan malam itu, pelarian Ryosuke dan Hana dari Empire Krusador pun dimulai.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉