Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Neraka Lumpur Di Tangga Kiri
Mereka terjatuh, terengah-engah di depan pintu. Rei bersandar di pintu hitam ruangan ke-delapan itu, pintunya terasa sangat dingin.
"Kalian... Selamat?" Neko menoleh kiri-kanan, ke arah Rei dan Rin.
"Yeah..." Rei menjawab, masih terengah-engah, nafasnya cepat sekali.
"... Aku kena ice burn..." Kata Rin dengan terengah-engah, membuka sepatunya yang masih membeku karena es.
Ice burn adalah kondisi dimana kulit meradang (merasa seperti terbakar) karena bersentuhan dengan benda yang sangat dingin. Jaringan tubuh membeku dan rusak oleh paparan suhu yang rendah.
Neko berjalan mendekati Rin dan menjilat kakinya. Radang ice burn di kaki Rin langsung menghilangkan.
"Ahh... Kau bisa menyembuhkan luka?" Tanya Rei, "Kenapa tidak menyembuhkan aku tadi?"
Rei bangkit dari pintu, menepis debu campur es yang membekukan jubahnya.
"Kau luka apa? Goresan sepanjang 4,7cm di pipi?" Neko balik bertanya, "Kalau hanya itu, aku tidak mau buang tenaga untuk melakukannya... Ada harga yang harus dibayar dengan sebuah penyembuhan."
Neko mengambil sepatu Rin yang membeku dan melemparnya ke arah Rei, "Lakukan sesuatu dengan sepatu itu, setidaknya agar tidak beku lagi."
"Kau pikir aku apaan?" Rei menangkap sepatu itu, mengeluarkan alat las seukuran pulpen dari jubahnya, lalu melelehkan es itu.
"Nah, mari lihat dimana kita sekarang..."
Neko kembali berubah menjadi harimau, dia berjalan di dalam ruangan gelap berlantai semen yang mereka masuki.
Ruangan itu hanya sebuah tempat kosong berbentuk persegi tanpa ada celah sedikitpun.
"Kita terperangkap, ruangan ini sudah tidak ada jalan keluarnya." Ujar Rei dengan datar, duduk di lantai semen sambil melelehkan es di sepatu Rin.
"Tidak, pasti ada suatu jalan..." Sahut Neko, berkeliling dalam ruangan sempit itu, "Ruangan ini tidak berdebu, jadi pasti ada yang pernah masuk selain kita, tapi bukan dari akuarium piranha..."
Neko berhenti tepat di tengah ruangan, dia melihat ke bawah.
"Ada apa?" Tanya Rin, menghampiri Neko yang dari tadi diam sambil melihat ke bawah.
"Ada tulisan... Teka-teki...?" Jawab Neko dengan nada bertanya, dia melihat tulisan berwarna merah di tengah-tengah ruangan.
"Apa?"
Rei yang sudah selesai melelehkan es di sepatu Rin ikut bergabung memperhatikan tulisan yang ada ditengah ruangan itu.
...“Jika ingin keluar, ikuti L.P.G In The Dark”...
Begitulah bunyi kata yang tertulis dengan tinta merah darah itu.
"L.P.G? Apa artinya?" Tanya Rin, berjongkok di dekat tulisan merah itu, memperhatikan dengan seksama.
"Kalau LPG, setahuku itu tabung gas." Jawab Neko dengan nada bercanda, membuat Rin hampir tertawa.
"L.P.G... Rasanya aku pernah dengar..." Rei mengerutkan keningnya.
"Tentu saja, itu 'kan tabung gas." Sambung Neko, masih saja bercanda padahal suasana sedang serius.
"Dimana?" Tanya Rin, "Mungkin bisa menjadi petunjuk."
"Mungkin di dalam panggung latihan sulap... Atau tempat syuting film..." Jawab Rei lupa-lupa ingat, berusaha keras mengingat dimana dia pernah melihat tanda L.P.G itu... Yah, selain tabung gas...
"Di tempat sulap? L.P.G itu seperti apa? Coba diingat lagi..." Rin berkata dengan serius.
"Mungkin... Sejenis cat...?" Rei mengerutkan kening, menjawab dengan tidak pasti.
"... Cat...?" Tanya Neko, sudah kembali serius, candaan tabung gas kurang menarik, "Cat In The Dark..." Neko bergumam.
"Ohh, pasti Luminous Paint Glow!" Neko berseru setelah berpikir beberapa saat.
"Ya! Itu dia!" Sambung Rei, "Cat Luminous Paint Glow akan bersinar terang jika di senter dengan sinar UV. Kami menggunakannya untuk tulisan rahasia di tembok kosong."
Rei langsung berdiri dan berputar di ruangan itu, dan berhenti di sudut tembok.
"Rin, laptop-mu masih ada? Laptop memiliki sinar UV pada senternya."
Rei menyentuh sudut tembok tempat dia berhenti, merasa sangat yakin bahwa di situ ada Luminous Paint Glow.
Rin segera mengeluarkan laptop dari jubahnya, menyerahkan laptopnya pada Rei.
Rei menyalakan senter laptop dan mulai menyenter sudut ruangan itu. Muncul sebuah tulisan berwarna biru tua pada dinding semen ruangan itu.
...“Atap"...
"Tertulis kata atap..." Rei menyenter seluruh ruangan, tidak ada tulisan lain selain kata 'atap' di sudut ruangan itu.
"Atap? Ayo panjat atap ini..." Neko melihat ke atap semen di atas mereka.
"Baiklah... Rin, sini ku-gendong... Sentuh semua bagian atap itu, jangan terlewat satu mili pun."
Rei meletakkan laptop di lantai semen. Rin segera memakai kembali sepatunya yang sudah tidak beku lagi, mengambil laptop, dan berlari ke arah Rei.
Rei menggendong Rin di bahunya... Rin menyentuh setiap sudut atap di ruangan itu...
SREKK!
Tanpa sengaja Rin mendorong dinding atap yang ternyata bisa bergeser, menemukan lubang rahasia.
Terlihatlah sebuah lorong dengan tangga di dalamnya, menjulang tinggi ke atas. Disana gelap dan tidak kelihatan apa-apa.
"Ada tangga..." Rin membuka lebih lebar dinding atap itu.
"Bisa kau panjat?" Rei melihat ke atas, memperhatikan lorong di dalam atap itu.
"Bisa." Rin berdiri di bahu Rei dan memanjat naik ke dalam lorong gelap itu, benar-benar terlihat seperti cerobong asap yang memiliki tangga.
"Rei, ayo sini." Kata Rin mengulurkan tangannya ke bawah, dia sudah sampai di atas lorong itu.
"Kau ikut tidak?" Tanya Rei, menoleh ke arah Neko.
Neko kembali berubah menjadi seekor kucing, memanjat bahu Rei, dan mencengkeram bahunya... Terasa cukup sakit.
Rei melompat, meraih tangan Rin... Rin menariknya sekuat tenaga ke atas lorong. Dengan susah payah akhirnya mereka semua sampai di dalam lorong itu.
Mereka memanjat tangganya...
Beberapa menit kemudian, Rin yang memimpin jalan di depan melihat lubang keluar.
Dan akhirnya mereka bebas dari lorong sempit cerobong asap itu... Mereka sekarang ada di sebuah pijakan tangga.
"Dimana ini?" Tanya Rei, memperhatikan sekeliling.
"Ini tangga kiri." Jawab Neko, mengamati tangga menuju bawah dengan mata birunya, "Pasti lorong cerobong asap yang kita lewati tadi adalah jebakan untuk orang yang melewati tangga kiri... Yang masuk ke dalam lorong tersebut akan mati dimakan piranha."
"Ayo, lanjut jalan." Ajak Neko, kembali berubah menjadi harimau, memimpin di depan.
Rei dan Rin mengikuti... Tak sampai 3 menit, mereka sudah tiba di sebuah ruangan yang pintunya berwarna coklat.
"Cepat sekali... Hanya tangga ini yang panjangnya paling pendek..." Gumam Neko, menatap curiga pintu coklat yang ada dihadapan mereka.
Mereka mendekati pintu itu dengan hati-hati.
Tanpa pikir panjang, Rei langsung memegang kenop pintu, dan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya, dia segera menarik tangan dari kenop pintu itu.
"Panas!"
Rei mengibas-ngibaskan tangannya yang melepuh di udara. Neko menjilat tangan Rei, luka melepuh itu langsung sembuh.
"Ohh...? Jadi ini mungkin ruangan berisi besi panas yang dibakar dalam suhu tinggi..." Neko menerka, mendekati kenop pintu dan membukanya menggunakan tangannya.
Dugaan Neko salah, terdapat sebuah lapangan lumpur yang sangat luas di dalam ruangan itu. Neko maju, meletakkan kaki kiri depan di lumpur itu.
Ternyata lumpur itu dingin. Kenop pintu panas karena lumpur menahan kalor, suhu di dalam ruangan itu menjadi tinggi dan tersalur pada benda penghantar panas seperti gagang pintu.
"Kita harus berenang dalam lumpur..." Neko berpikir sejenak. "Mungkin ada jebakan lagi..."
"Kalau pintu tengah salah, pintu kanan salah, berarti tinggal pintu ini dong. Mereka pasti lewat pintu ini untuk masuk ke dalam gedung ungu itu." Ujar Rei kritis, sudah menyusul masuk ke dalam ruangan itu, diikuti oleh Rin.
"Tapi... Baiklah, ayo pergi." Neko mengalahkan, berubah kembali menjadi kucing.
"Kau tidak mau bulumu kotor karena kena lumpur, ya 'kan?" Tanya Rei, menatap Neko yang mendekati Rin dengan tatapan menghina.
"Iya, kucing cinta kebersihan, tak bisa berenang." Neko menjawab santai.
"Hei, bukankah mereka tidak lewat sini?" Rin menyambung perdebatan Neko dan Rei, "Pasti tadi Neko ingin bilang: tidak ada jejak kaki atau bekas dilewati oleh manusia... Ya, 'kan?"
Rin menggendong Neko, Neko memanjat ke pundaknya.
"Benar, pandai sekali. Setidaknya kita tipe yang berpikir dulu sebelum bertindak. Tidak seperti dia, sembrono." Neko menunjuk Rei dengan ekornya, gaya menghina.
"Ngajak ribut, ya? Mana tahu kalau belum coba, 'kan? Mungkin lumpur ini bisa tertutup sendiri setelah dilewati." Ujar Rei dengan keras kepala.
"Maksudnya lumpur ini akan menghisap kita kalau kita masuk?" Rin bertanya kritis.
Mereka diam sejenak...
"Yah sudahlah, coba saja dulu, ayo." Ujar Neko, merasa tidak punya pilihan lain.
Rei dan Rin melangkah maju ke lapangan lumpur itu, masuk ke dalamnya. Terasa sensasi dingin dan sejuk di tubuh mereka.
Lapangan lumpur itu sangat luas, ujungnya pun sampai tidak kelihatan. Rei dan Rin terus berjalan menyusuri lumpur yang tingginya sebatas pinggang.
Terus lurus... Dan lurus... Namun, pemandangan masih lumpur sepanjang mata memandang. Tidak ada tanda-tanda berakhirnya kolam lumpur itu.
Mereka sudah berjalan selama lebih dari 20 menit. Pemandangannya pun tetap masih sama. Lumpur tempat mereka berjalan semakin keras dan berat. Beruntung lumpur itu bukan lumpur hisap, jauh di luar dugaan mereka.
Rin melihat seekor hewan melintas di atas lumpur yang mereka lewati... Matanya bagus sekali... Wajar saja, kalau melihat pemandangan yang sama selama lebih dari 20 menit, pasti kita akan peka dengan perubahan sekecil apapun.
"Hei, ada semut." Kata Rin, menunjuk seekor semut yang berjalan di atas lumpur.
"Semut?" Neko dan Rei bertanya bersamaan... Neko langsung memindai semut itu dengan mata birunya.
"Semut peluru!" Neko berseru, mengangetkan Rei dan Rin, "Cepat menjauh darinya!"
Semut peluru setara dengan tawon pemangsa tarantula. Jika seseorang terkena sekali saja sengatannya maka rasa sakit akan menjalar ke seluruh tubuh, berkeringat dan denyut jantung meningkat. Jika beberapa kali gigitan maka bisa mengakibatkan lumpuh sementara hingga pingsan.
"Jika disengat sekali saja, rasa sakitnya bahkan tidak bisa hilang setelah 24 jam!" Lanjut Neko, "Semut itu adalah salah satu dari hewan paling mematikan di dunia!"
Tapi terlambat... Ribuan semut peluru sudah mengepung Rei, Rin, dan Neko. Sepanjang kolam berjejer dengan rapi ribuan semut. Rei dan Rin mengeluarkan senjata Amunisinya masing-masing.
"Tidak ada jalan selain maju." Neko melirik ke belakang dan tampak ribuan semut peluru berbaris mengikuti alur jalan Rei dan Rin. Semut-semut itu sudah menjadi pemakan daging karena tidak ada makanan lain di sini... Mungkin saja... Kanibal...
"Ledakkan saja, salah satu menembak depan dan satunya lagi menembak belakang! Lari!!" Neko memberi perintah.
Rei dan Rin langsung berlari di atas lumpur yang sepertinya sudah mengeras menjadi tanah.
DUARR! DOR! DOR! BLARR!
Rei menembak semut peluru yang ada di belakang dan Rin menembak semut peluru yang ada di depan. Suara ledakan bergema di sepanjang lapangan lumpur yang sudah menjadi tanah keras itu.
DUARR! BLARR! DOR! DOR! BUM! BLARR!
Suara tembakan terus berlanjut, sama sekali tak boleh berhenti, kalau berhenti kita mati. Mereka terus berlari dan berlari.
DOR! DUARR! BLARR!
Tampak sebuah pintu berwarna coklat di tengah-tengah hujan bunga api dan mayat ribuan semut peluru yang beterbangan.
Pintu itu berada 20 meter di depan... Mereka menambah kecepatan larinya, sulit sekali, mereka sudah mulai kelelahan lagi.
Pada waktu yang bersamaan, peluru senjata Amunisi mereka habis terpakai. Mereka tidak bisa menembak mati semut-semut itu lagi.
"Bagaimana ini?!" Rin berseru panik, napasnya sudah ngos-ngosan karena dari tadi terus berlari.
"Terus lari!" Neko juga berteriak frustasi, mereka berlari lurus ke depan... Didepan masih ada ratusan semut peluru yang bergerak maju.
Neko meloncat dari pundak Rin, berubah menjadi harimau, menyibak habis kerumunan semut dengan cakarnya.
DRAP! DRAP! DRAP!
Akhirnya mereka sampai di pintu keluar.
CKLEK! CKLEK!
Neko membuka kenop pintu, tapi pintunya tidak bisa dibuka. Semut-semut peluru berdatangan dengan cepat ke arah mereka.
"Tolong menyingkir!" Seru Rin singkat, cepat, dan terengah-engah.
DUAAKKK!
Rin menendang pintu itu dengan jurus karatenya... Pintu itu terbuka tapi masih terpasang sebuah rantai kunci di belakangnya.
Semut peluru semakin dekat!
Rei dengan cepat mengeluarkan alat las berukuran pulpen dan memotong tali rantai besi itu.
PRANKK! Rantai besi itu pun putus.
BRAKK! Mereka mendobrak masuk dan segera membanting pintu hingga tertutup.
To be continued...
Gubrak!