Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Pagi itu langit masih diselimuti warna abu-abu kelabu. Matahari belum benar-benar menampakkan wujudnya ketika Rina memarkir sepeda motornya di halaman Anindiya Bridal & Makeup.
Jalanan sekitar masih teramat sepi. Hanya terdengar gesekan halus sapu lidi milik petugas kebersihan di kejauhan dan sesekali cicit burung yang bertengger di kabel listrik.
Rina melirik jam digital di ponselnya. Pukul enam lewat lima belas menit.
Ia memang sengaja berangkat lebih pagi. Selama hampir dua tahun bekerja menjadi asisten setia Anindiya, ia dipercaya memegang kunci duplikat sanggar. Jika ada klien yang datang pagi atau ada persiapan rias subuh, Rina-lah yang selalu bertugas membuka pintu lebih dulu.
Ia mematikan mesin motor, melepas helm, lalu berjalan menuju pintu kaca depan. Kunci duplikat disisipkan ke lubang sakelar.
Klik.
Pintu terdorong terbuka perlahan. Begitu kaki kanannya melangkah masuk, Rina mendadak menghentikan gerakannya.
Ruangan itu terasa sangat... berbeda.
Hening. Terlalu hening.
Padahal biasanya, udara pagi di dalam sanggar selalu terasa hangat berembus dari celah ventilasi. Namun kali ini, hawa dingin yang tak wajar langsung menyergap kulitnya—dingin yang bukan berasal dari hembusan pendingin udara, melainkan dingin yang merayap ganjil membelai tengkuk.
Rina mengusap kedua lengannya yang mendadak merinding. "Kok dingin banget ya..."
Ia melirik unit AC di dinding. Masih mati. Seluruh jendela kaca pun masih terkunci rapat.
Rina mencoba menepis firasat buruk itu. Mungkin karena ia tiba terlalu pagi, pikirnya, atau fisiknya saja yang belum sepenuhnya bugar setelah tragedi kemarin.
Ia menekan sakelar lampu utama. Cahaya lampu putih seketika menerangi seluruh ruangan depan. Namun anehnya, rasa dingin merayap itu tak jua menguap. Justru malah makin menusuk tulang.
Rina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menaruh tas selempangnya di atas meja kasir, lalu berjalan membuka tirai jendela satu per satu agar sinar matahari masuk.
Namun, saat kakinya melangkah menuju ruang koleksi gaun di bagian dalam, jalannya perlahan membatu.
Ada perasaan tak nyaman yang teramat sangat menyergap dadanya. Seolah-olah dari balik kegelapan sudut ruangan, ada sepasang mata yang sedang mengawasi tiap gerak-geriknya.
Rina refleks menoleh ke belakang. Kosong. Tak ada siapa-siapa.
Ia meringis canggung, menertawakan ketakutannya sendiri. "Jangan aneh-aneh ah, Rin..."
Ia melanjutkan langkahnya. Namun tepat saat mencapai ambang pintu ruang koleksi...
Langkahnya seketika terkunci rapat.
Di ujung ruangan yang remang-remang... tepat di samping manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gading...
Ada seseorang.
Seorang perempuan berdiri membelakangi Rina.
Rambut hitamnya yang panjang dan kusam terurai berantakan hingga menutup hampir seluruh punggungnya. Tubuhnya teramat kurus, dibalut gaun putih panjang yang menjuntai menyapu lantai.
Dada Rina seketika berdesir lega. Ia menduga itu adalah sang pemilik sanggar.
"Ya Allah... Mbak Anin sudah datang duluan?" panggil Rina seraya melangkah mendekat. "Mbak Anin?"
Tidak ada jawaban. Sosok perempuan itu tetap berdiri mematung. Tak ada gerakan bernapas sedikit pun dari pundaknya.
"Mbak..." panggil Rina lagi, mulai merasa janggal.
Masih hening.
Langkah Rina melambat. Kalau itu benar Anindiya, tidak mungkin ia mendiamkan panggilannya seperti ini. Kini jarak mereka hanya tersisa sekitar lima meter.
"Mbak Anin?"
Ruangan tetap senyap. Hanya detak jam dinding yang terdengar ketus membelah keheningan.
Tik... Tik... Tik...
Rina mulai meneliti pakaian perempuan itu dari belakang. Gaun putih yang dikenakannya tidak tampak bersih seperti koleksi sanggar. Kain bagian bawahnya kusam, kotor berlumpur, dan ujungnya nampak basah kuyup seolah baru diseret dari rawa-rawa.
Bulu kuduk di sekujur tubuh Rina seketika berdiri tegak.
"S-Siapa ya...?" suara Rina gemetar lirih.
Awalnya ia menduga ada penyusup atau klien yang menerobos masuk. Namun pintu depan tadi masih terkunci rapi saat ia tiba. Tidak mungkin ada orang luar yang bisa berada di dalam ruangan ini.
Jantung Rina berdetak amat kencang menghantam dadanya. Tenggorokannya mendadak mengering, terkunci rapat.
Perempuan itu masih bergeming membelakanginya. Namun perlahan-lahan...
Kepalanya mulai bergerak.
Bukan seluruh badannya, melainkan hanya lehernya saja yang terputar secara tak wajar. Sedikit demi sedikit... berputar kaku menuju arah Rina.
Rina mendadak membeku di tempat, tak sanggup menggerakkan tungkai kakinya.
Gerakan leher itu terlalu kaku dan perlahan, mengeluarkan bunyi gemertak halus seperti tulang rawan yang dipaksa bergeser.
Kriiit...
Rina menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu.
Rambut hitam panjang sosok itu bergeser lambat, menyingkap sebagian pipinya yang pucat pasi—kulit mati berwarna putih kelabu nyaris seputih kertas.
Dan saat itu juga...
Sret.
Aroma wangi bunga melati yang amat pekat, tajam, dan dingin merebak hebat membanjiri ruang koleksi. Wanginya memekakkan indra penciuman, seakan meremas paru-parunya.
Rina refleks mundur berturut-turut. Napasnya memburu panik. "Ya Allah... Ya Allah..."
Belum sempat ia membalikkan badan untuk berlari...
Zzztt...! Zzztt...!
Lampu ruangan berkedip hebat beberapa kali... lalu mati total.
Ruangan seketika tenggelam dalam kegelapan pekat. Rina menjerit histeris dalam kegelapan. Ia memejamkan mata erat-erat, hanya bisa mendengar detak jantung dan napasnya sendiri yang berpacu liar.
Beberapa detik kemudian...
Klik.
Lampu kembali menyala terang.
Rina spontan membuka mata dan melempar pandangannya ke sudut manekin.
Kosong.
Sosok perempuan itu lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah manekin kayu yang mengenakan gaun putih gading, berdiri tegak seperti sedia kala.
Rina terengah-engah, dadanya naik turun dengan hebat. "Nggak... aku pasti cuma halusinasi... cuma kecapekan..." gumamnya mencoba membodohi diri sendiri.
Dengan kaki yang bergetar hebat, ia memberanikan diri mendekati area manekin. Tidak ada noda lumpur di karpet. Tidak ada bekas jejak kaki. Namun... aroma melati yang pekat itu masih tertinggal tebal di udara.
Rina mencengkeram dadanya yang sakit karena detak jantung yang terlalu cepat. Tepat ketika ia membalikkan badan untuk melangkah keluar...
Matanya tak sengaja melirik cermin berdiri berukuran besar di samping manekin.
Tubuh Rina seketika terkunci kaku. Darahnya serasa berhenti mengalir.
Di dalam pantulan cermin besar itu...
Ia melihat bayangan dirinya sendiri, manekin kayu, dan interior ruang koleksi.
Dan tepat di belakang tubuhnya...
Berdiri sosok perempuan tadi.
Kini wajah sosok itu terpantul amat jelas di dalam cermin. Kulitnya pucat kebiruan seperti mayat tenggelam, bibirnya kelabu kering, dan rambut hitam panjang yang basah menutupi sebelah matanya. Sementara mata sebelahnya yang melotot lebar... menatap lurus ke arah mata Rina melalui pantulan cermin.
Tanpa berkedip sedikit pun.
Rina spontan berbalik ke belakang secepat kilat!
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Namun saat ia kembali melemparkan pandangan ke cermin... sosok mengerikan itu masih tetap berdiri di sana! Tetap menatapnya tajam dari dunia cermin!
Perlahan-lahan, sudut bibir pucat milik sosok di cermin itu terangkat naik... membentuk senyuman lebar yang sangat dingin, kaku, dan penuh kejahatan murni.
Bibir sosok itu bergerak-gerak pelan, membisikkan sesuatu tanpa suara yang keluar.
Rina tak sanggup lagi menahan horor yang meremas jiwanya. Ia mundur terseret-seret dalam kepanikan luar biasa. Tangannya yang gemetar meraba-raba meja rias untuk mencari pegangan.
BRUKK! BRAAKK!
Vas bunga porselen tersenggol lengannya dan hancur berkeping-keping menghantam lantai. Suara pecahan itu memecah keheningan ruangan .
Rina memejamkan mata erat-erat seraya menjerit ketakutan.
Saat ia mendongak dan memberanikan diri membuka mata kembali... pantulan di dalam cermin besar itu telah kembali normal. Sosok mengerikan dan senyuman iblis itu telah menghilang. Hanya ada bayangan Rina sendiri yang berdiri bersimbah keringat dingin dengan wajah pucat pasi.
Air mata ketakutan meledak keluar dari pelupuk matanya. Jemarinya yang gemetar hebat terburu-buru merogoh tas, mengambil ponsel. Berulang kali jarinya menekan tombol yang salah akibat panik yang luar biasa.
Nama "Mbak Anin" akhirnya tertera di layar. Rina segera menekan tombol panggilan suara.
Di saat nada sambung pertama mulai terdengar di telinganya...
Dari balik kegelapan sudut bayangan ruang koleksi...
Terdengar suara bisikan lirih seorang perempuan. Sangat pelan, dingin, dan berdengung parau di udara.
"...gaun...ku..."
Rina membeku total. Ponsel di tangannya nyaris merosot jatuh.
Bisikan itu terdengar kembali, kali ini berhembus tepat di sekeliling telinganya—amat dekat.
"...ja...ngan... am...bil... gaun...ku..."
Aroma melati busuk kembali menguar memenuhi seluruh ruangan sanggar.
Dan tepat di belakang manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gading itu... sesosok jemari pucat dengan kuku kehitaman perlahan-lahan muncul, menggapai keluar dari balik bayangan.