Di usia 23 tahun, Clev adalah pendiri D&D Company, sebuah konglomerat raksasa yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari logistik, real estate, hotel dan resor, apartemen, restoran, energi, hingga investasi. Saat memutuskan membangun pusat bisnis barunya di kota Drep, ia mendapati kota itu telah lama berada di bawah kendali organisasi mafia yang mengakar di setiap sudut.
Clev tinggal di sebuah kediaman mewah di sudut utara Kota Drep bersama adiknya, Derina (19 tahun), serta orang-orang kepercayaannya: Maria dan suaminya Garry,Lenny, Mira,Thomas,serta Leo kepala keamanan yang memimpin dua anggota penjaga rumah.
Sementara itu, di pusat kota Drep, berdiri megah gedung D&D Company sebagai simbol dimulainya era baru. Di balik kemegahan perusahaan tersebut, tak seorang pun menyadari bahwa sang pendiri memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekedar bisnis, tujuan itu adalah menghancurkan organisasi mafia yang sudah lama menguasai kota Drep.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon General Blast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Bella Casa
Malam nya dengan sudah mengetahui pemimpin Mafia Karibia,Bruno memiliki anak bernama Bella, Clev langsung menugaskan Mira untuk mencari data diri Bella.
Diruang kerja Mira, Mira sedang mengeser-geser layar tablet nya
"Salah satu lulusan terbaik di sekolah nya..dia cukup pintar dan tidak memiliki masalah apapun saat di sekolah" jelas Mira melihat profil dari Bella dari layar tablet nya
"Sekarang dia adalah pemilik butik terkenal di pusat kota Drep yang bernama Bella Casa" tambah Mira lalu melihat ke arah Clev yang duduk di sofa
Clev duduk sambil melihat ponsel nya
"Bella Casa.." gumam Clev
Mira melanjutkan
"Dari foto-foto nya yang terlihat dia memiliki sifat dingin dan tenang,serta sulit dibaca" tambah Mira
Clev mengangguk
"Benar.. seperti darah seorang Mafia memang mengalir di darahnya" ujar Clev lalu berdiri
"Jadi..apa kamu dan Derina tertarik untuk datang ke butik nya langsung untuk membeli beberapa koleksi nya?" tanya Clev
Mendengar itu Mira bersandar di kursi nya
"jadi sekarang menyuruh adik mu dan asisten mu untuk menjadi agent mata-mata?" ujar Mira menatap Clev sambil melipat tangan nya di dada nya
Clev tertawa pelan
"ini kemurahan hati dari saya loh memberi kalian berdua kesempatan menambah koleksi pakaian kalian.." lalu Clev berbalik ke arah pintu untuk keluar ruangan kerja Mira
Mira menghela nafas
"ya..ku kira ini setimpal,kamu dapat informasi dan aku juga Derina mendapatkan koleksi pakaian baru" ujar Mira
Lalu Clev keluar ruangan kerja Mira.
Di salah satu apartemen yang berdiri tinggi di pusat kota Drep.
Karen sedang membuat laporan untuk diajukan di kepolisian besok nya,laporan itu mengenai sebuah sabotase yang dilakukan oleh para anggota Mafia Karibia itu kemarin malam.
"tiga orang pelaku utama sudah terlihat jelas wajah nya, besok tinggal memproses nya untuk di masukan ke penjara" lalu Karen menutup laptop nya lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Clev, yang melaporkan bahwa semua laporan sudah siap si serahkan langsung ke pihak berwenang dan pengadilan besok.
Di Utara kota Drep ,rumah Clev.
Pesan dari Karen masuk dan Clev hanya tersenyum membaca nya di ruang makan.
Derina melihat Clev tersenyum melihat ponsel nya
"Sesuatu yang menarik?" tanya Derina sambil mengunyah makanan nya
Clev lalu menatap Derina dan mengangguk
"Ya ..sangat menarik" jawab Clev
Derina lalu minum
"Mira bilang besok ingin mengajak ku ke butik Bella Casa, apa kakak memberi nya bonus hingga Mira ingin membelikan ku pakaian?" ujar Derina sambil memasukkan makanan nya lagi ke mulut nya
"Tidak juga..kau tahu kan Mira itu pelit,jadi kurasa mungkin sekarang dia sadar pelit itu tidak akan membuat nya cantik" jawab Clev yang membuat Derina tertawa lalu diikuti oleh tawa pelan Maria yang sedang menuang kan air di gelas Derina
"Kamu tidak boleh seperti itu ,Tuan Clev.." ujar Maria namun dia tertawa kecil
Tiba-tiba
"Aku mendengar nya loh.." Mira datang ke ruang makan
Derina masih tertawa
"Lihat dia Mira , bagaimana kamu bisa tahan bekerja dengan orang seperti dia" ujar Derina sambil tertawa sambil menunjuk ke arah Clev dengan garpu nya
Mira tidak menoleh dia tetap mengambil piring dan menaruh makanan ke piring nya kemudian duduk
"Entahlah ,mungkin karena kasihan.." cetus Mira lalu makan
Lalu suara tawa Derina dan Maria memenuhi ruang makan tersebut.
Sebuah suasana santai yang bertolak belakang dengan ketegangan yang di hadapi Clev beberapa hari terakhir ini, menunjukkan kehangatan di dalam rumah tersebut.
Tanpa melihat status,tanpa memandang bos.
Hanya sebuah obrolan kekeluargaan.