Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
Suasana di meja makan rumah megah itu terasa makin menghimpit sejak kedatangan Clarissa. Aroma hidangan malam yang menggugah selera tidak mampu menutupi ketegangan yang merayap halus di udara.
Bu Rani duduk di sisi kanan meja dengan gaun mewahnya, sementara Clarissa berada di sisi kiri, berhadapan langsung dengan Ziko.
Di ujung meja, Mahira duduk dalam hening. Kehadirannya seolah hanya dianggap sebagai pelengkap tak berarti, tempat pelampiasan kekesalan dan kejengkelan keluarga itu.
Piring-piring porselen yang berkilau telah terisi dengan aneka masakan lezat, semuanya disiapkan oleh tangan Mahira sejak sore hari. Namun, bukan ucapan terima kasih yang terdengar, melainkan rentetan sindiran halus yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan mentalnya.
"Clarissa, sayang, cobalah daging sapi saus lada hitam ini," ujar Bu Rani dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, amat kontras dengan bentakan-bentakan yang biasa ia lontarkan pada menantunya. "Tante tahu kamu biasa makan makanan berkelas di restoran-restoran berbintang saat di London. Tapi ya... anggap saja ini hidangan rumahan biasa. Maklum, yang masak kan orang dari kampung."
Clarissa menyunggingkan senyum tipis, menyendok sedikit daging tersebut dengan gerakan tangan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat anggun. "Hmm, rasanya lumayan kok, Tante. Meskipun menurut saya sausnya agak terlalu pekat dan racikan bumbunya kurang seimbang. Kalau di Inggris atau resto fine dining di Jakarta, penyajian dan konsistensi rasa seperti ini tentu belum masuk standar."
"Tuh, kan! Apa Ibu bilang, Ziko," seru Bu Rani seraya menepuk pelan tangan putranya. Matanya melirik tajam ke arah Mahira yang tetap tenang mengunyah nasinya.
"Orang yang berpengalaman dan pernah mengenyam pendidikan di luar negeri itu beda. Lidahnya peka, pengetahuannya luas. Tidak seperti orang desa yang tahu racikan bumbu begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan sama sekali selama tiga tahun ini."
Ziko tertawa kecil, menganggukkan kepala menyetujui ucapan ibunya tanpa ragu. Pria itu memandang Clarissa dengan binar bangga.
"Ibu benar," sahut Ziko seraya menuangkan air minum untuk Clarissa. "Kelas itu memang tidak bisa dibeli dengan uang, apalagi dibuat-buat. Clarissa ini jangankan soal makanan, soal analisis bisnis dan manajemen saja pemikirannya sangat brilian. Beda jauh sama Hira yang cuma lulusan sekolah biasa di desa. Diajak bicara soal proyek ratusan miliar saja pasti langsung bingung."
Mahira meletakkan sendok dan garpunya perlahan di atas piring. Gerakannya sangat halus, tanpa menimbulkan dentingan keras sedikit pun. Ia menatap tiga orang di hadapannya satu per satu. Rasa perih yang dulu sering menghantam dadanya kini telah berganti layaknya es yang beku.
Tiga tahun ia menyembunyikan statusnya sebagai putri tunggal Grand Wijaya Group, dan berpura-pura menjadi wanita sederhana demi menjaga harga diri Ziko yang tinggi, dan inilah balasan yang ia dapatkan setiap hari.
"Bu," ucap Mahira pelan namun jelas, memotong gelak tawa kecil Bu Rani dan Clarissa. "Asal Ibu tahu, orang dari desa atau dari mana pun asal usulnya, tidak menentukan seberapa mulia atau rendahnya kehormatan seseorang."
"Makanan yang ada di piring Ibu dan Mbak Clarissa saat ini dimasak dengan bahan-bahan terbaik dan kebersihan yang terjaga. Saya rasa kurang bijak jika terus-menerus membandingkan latar belakang seseorang hanya untuk merendahkannya."
Suasana di meja makan seketika membeku. Bu Rani membelalakkan matanya, kaget luar biasa karena menantu yang biasanya diam dan menurut itu berani menyela percakapannya di depan Clarissa.
"Kurang ajar kamu ya, Hira!" bentak Bu Rani seraya meletakkan sendoknya kasar ke atas piring.
Klang!
Suara dentingan nyaring memecah hening.
"Berani-beraninya kamu mengajari saya soal kehormatan. Kamu itu di rumah ini cuma numpang. Ziko yang memberi kamu makan, memberi kamu tempat tinggal di rumah megah ini. Kalau bukan karena kebaikan anak saya, kamu masih membusuk di desa sana."
"Tante, sudah... Jangan emosi," potong Clarissa dengan nada lembut yang dibuat-buat, memegang jemari Bu Rani seolah hendak menenangkan. Namun pandangan matanya yang melirik Mahira memancarkan ejekan yang amat tajam.
"Mungkin Mbak Hira tersinggung karena merasa kata-kata kita terlalu jujur. Kita harus maklum, Tante. Orang yang tidak pernah merasakan pendidikan tinggi dan lingkungan sosial kelas atas memang biasanya punya ego yang sensitif dan mudah merasa tersudut."
Clarissa kemudian menatap Mahira dengan tatapan penuh kepalsuan. "Mbak Hira, saya minta maaf ya kalau ucapan saya dan Tante Rani membuat Mbak merasa tidak nyaman. Tapi ini fakta di dunia nyata. Ziko ini sekarang pengusaha sukses, posisinya makin tinggi. Seorang pria sukses butuh pendamping yang sepadan, wanita yang bisa diajak berdiskusi soal ekspansi bisnis, investasi, dan relasi internasional. Bukan sekedar wanita yang hanya bisa berdiri di dapur dan mengurus jemuran."
Ziko mengangguk puas mendengar kalimat Clarissa. Kata-kata wanita itu seolah mewakili seluruh kesombongan yang selama ini terpendam di dalam dadanya.
"Dengar itu, Hira!" tegas Ziko dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Clarissa bicara demi kebaikanmu juga. Harusnya kamu sadar diri dan belajar, bukannya malah menjawab dan merasa paling benar!"
"Kamu lihat bagaimana Clarissa berpakaian, bagaimana dia bicara, bagaimana pandangan bisnisnya. Kamu itu jauh sekali di bawah dia. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, lama-lama aku malu membawamu ke acara-acara kantor."
Mahira menatap suaminya lurus-lurus. Di dalam matanya yang jernih, tidak ada setitik pun air mata. Yang ada hanyalah keputusan yang telah bulat menjadi sebuah keyakinan yang kukuh.
Ziko telah sepenuhnya buta oleh kesombongan dan godaan wanita lain. Pria itu bahkan lupa bahwa seluruh kesuksesan yang ia nikmati saat ini berawal dari suntikan dana rahasia dan relasi yang Mahira atur secara tersembunyi di awal pernikahan mereka.
"Mas Ziko merasa malu punya istri seperti saya?" tanya Mahira berbisik halus, namun suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat Ziko mengerutkan dahi.
"Ya! Tentu saja Ziko malu!" sahut Bu Rani mendahului putranya. "Mana ada istri pengusaha kaya penampilannya kusam dan dekil seperti kamu. Beda sama Clarissa. Cantik, kaya, berpendidikan. Kalau Clarissa yang jadi istri Ziko, keluarga ini pasti makin terpandang."
Clarissa tersenyum tipis, membusungkan dadanya dengan angkuh seolah kemenangan sudah berada di tangannya.
Mahira berdiri perlahan dari kursinya. Ia merapikan rok sederhananya dengan gerakan tenang dan penuh ketegasan yang tak pernah diperlihatkannya sebelumnya. Aura keanggunan yang selama ini ia tekan rapat-rapat mendadak mencuat, membuat Bu Rani dan Clarissa tertegun sejenak menyaksikan perubahan sikap wanita di hadapan mereka.
"Jika kedudukan, ijazah, dan asal-usul yang selalu Kalian perdebatkan...." kata Mahira pelan namun yakin, menatap Bu Rani dan Clarissa bergantian, "...maka bersiaplah. Karena tidak lama lagi, Kalian akan melihat sendiri sejauh mana jarak tempat saya berdiri dan tempat Kalian berpijak."
"Kamu... kamu berani mengancam kami?" pekik Bu Rani murka, berdiri dari kursinya.
"Saya tidak mengancam, Bu," jawab Mahira tenang. Ia kemudian menatap Ziko untuk terakhir kalinya malam itu. "Terima kasih atas makan malamnya, Mas. Dan terima kasih... karena sudah membuat keputusan saya terasa makin mudah."
Tanpa menunggu balasan dari Ziko yang terpaku bingung oleh kalimat istrinya, Mahira berbalik dan melangkah meninggalkan meja makan. Langkah kakinya terdengar begitu ringan dan pasti.
Di dalam kamar yang dingin sesaat setelah menyelesaikan pekerjaan dapur, Mahira melangkah menuju jendela. Ia menatap ke luar, membiarkan angin malam membelai wajahnya yang pucat.
Ia menatap jemarinya, jemari yang saban hari terbiasa mengurus rumah tangga tanpa dihargai sedikit pun.
Tidak ada lagi rasa ingin membela diri, atau rasa ingin disayangi oleh pria yang sudah dibutakan oleh gengsi. Mahira memejamkan matanya rapat-rapat.
Penderitaan dan hinaan ini akan ia simpan dan nikmati dulu sedikit lagi, sampai saatnya tiba bagi dirinya untuk meruntuhkan seluruh takhta kesombongan Ziko dan ibunya secara telak.