NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR

​Aroma mawar yang mekar di penghujung musim panas selalu terasa terlalu pekat di malam hari. Bagi sebagian besar penghuni Istana Valerian, wewangian itu hanyalah penghias kelopak kelopak bunga yang diterpa embun. Namun bagi Alena Virelle, wewangian itu adalah aroma ketakutan yang tersamar oleh keindahan.

​Langkah kakinya hampir tak bersuara saat melintasi jalan setapak berkerikil putih. Gaun sederhananya—perpaduan kain linen biru tua dan katun kasar—bergesek halus dengan semak-semak yang terpotong rapi. Di tangannya, sebilah lentera kecil berbahan kuningan memancarkan pendar kuning yang redup, bergoyang seirama dengan napasnya yang tertahan.

​Alena berusia tujuh belas tahun, dan ia cukup berakal sehat untuk memahami bahwa berada di sudut paling terisolasi dari Taman Mawar pada tengah malam adalah tindakan kebodohan. Jika salah satu pengawal kerajaan menemukannya, ia akan dituduh melakukan penyusupan. Namun jika yang menemukannya adalah orang yang berjanji menunggunya di sini, risikonya jauh lebih besar dari sekadar hukuman cambuk atau pengasingan.

​Risikonya adalah hatinya sendiri.

​"Kau terlambat, Alena."

​Suara itu datang dari balik bayangan kanopi pohon eboni yang tumbuh di tengah taman. Suaranya rendah, tenang, namun memiliki gema alami yang membekukan udara di sekitarnya.

​Alena menghentikan langkah. Ia menurunkan lenteranya sedikit, membiarkan cahayanya menyapu bagian bawah jubah beludru hitam yang terhias sulaman benang perak berbentuk lambang elang Kerajaan Aveloria.

​"Pangeran Adrian," bisik Alena. Ia membungkuk kecil, sebuah gestur formal yang terasa canggung di antara mereka, namun menjadi perisai tipis yang selalu ia gunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri tentang batas-bangsa.

​Pria yang berdiri di bawah naungan pohon itu melangkah maju. Dalam pendar remang lentera, garis wajah Adrian Valerian terlihat tegas, dipahat oleh disiplin ketat pelatihan militer dan tuntutan takhta yang sudah dibebankan ke pundaknya sejak lahir. Berusia dua puluh satu tahun, sang Putra Mahkota Aveloria memancarkan otoritas yang alami. Namun malam ini, di mata manusianya yang berwarna abu-abu pekat seperti langit menjelang badai, tidak ada jejak kediktatoran seorang calon raja.

​Yang ada hanya kelelahan yang disembunyikan dengan rapi.

​"Aku sudah memintamu untuk tidak memanggilku seperti itu saat kita hanya berdua," kata Adrian. Langkahnya terhenti hanya sejengkal di depan Alena. Begitu dekat hingga Alena bisa menghirup aroma kayu cendana dan dinginnya malam yang menempel pada mantel pria itu.

​"Hukum istana tidak mengenal kata 'berdua', Yang Mulia," sahut Alena pelan. Ia menatap dada Adrian, enggan menatap langsung mata yang selalu mampu membongkar seluruh pertahanannya. "Jika ada pelayan atau dewan bangsawan yang melihat—"

​"Biarkan mereka melihat."

​Kalimat itu terucap begitu ringkas, begitu santai, seolah Adrian sedang membicarakan cuaca esok hari dan bukan sebuah skandal yang sanggup mengguncang fondasi istana.

​"Jangan berbicara seperti itu," tegur Alena, keberaniannya mencetus secara spontan. Ia mengadahkan wajah, menatap Adrian tepat di matanya. "Anda adalah pewaris takhta Aveloria. Setiap kata yang Anda ucapkan memiliki bobot bagi masa depan kerajaan ini. Sedangkan saya... saya hanya putri dari seorang baronet kecil yang kebetulan diizinkan tinggal di istana sebagai juru tulis perpustakaan."

​Adrian menatap Alena dalam diam. Ia memperhatikan detail kecil yang selama beberapa bulan terakhir telah mengacaukan konsentrasinya dalam setiap rapat dewan: helai rambut cokelat keemasan yang terlepas dari gulungannya, bintik halus di pangkal hidungnya, dan bayangan kecemasan yang selalu membayangi matanya yang berwarna hijau hazel.

​"Juru tulis yang sanggup mengoreksi terjemahan naskah kuno berbahasa Elarian milik Penasihat Rowan," gumam Adrian, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman langka yang hanya pernah disaksikan oleh tembok-tembok taman ini. "Kau selalu merendahkan dirimu sendiri, Alena."

​"Saya hanya tahu diri, Adrian."

​Nama itu terlepas dari bibirnya. Tanpa gelar. Tanpa sebutan kehormatan. Dan respons Adrian terhadap panggilan itu adalah tarikan napas halus, seolah beban berat yang menghimpit dadanya mendadak terangkat seketika.

​Adrian mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan berkapalan—akibat bertahun-tahun menggenggam pedang—menyentuh dagu Alena, mengangkatnya perlahan. Sentuhan itu hangat, berkontradiksi dengan angin malam yang mulai menusuk tulang.

​"Ayahku telah menentukan jadwal pengumuman pertunanganku dengan Lady Seraphina Ardent," ujar Adrian mendadak.

​Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti bongkahan es yang dilemparkan ke permukaan telaga jernih. Keretakan rasanya merambat ke udara di sekitar mereka.

​Alena tidak terkejut. Ia sudah tahu hari ini akan datang. Seluruh Aveloria tahu bahwa keluarga Ardent memegang kendali atas setengah legiun prajurit di perbatasan utara dan sebagian besar cadangan perak kerajaan. Pernikahan antara Putra Mahkota dan putri tunggal Duke Ardent bukanlah masalah cinta, melainkan sebuah transaksi keamanan negara.

​Namun tahu tidak membuat rasa sakitnya berkurang. Ada sesuatu yang berdenyut pedih di balik dada Alena, sebuah kekosongan yang perlahan meluas.

​"Selamat, Yang Mulia," bisik Alena, suaranya terdengar datar, terlatih untuk tidak gemetar. "Lady Seraphina adalah wanita yang sangat anggun. Ia akan menjadi calon Ratu yang dicintai rakyat."

​"Kau tahu aku tidak menginginkan pernikahan itu, Alena." Suara Adrian mendadak merendah, menajam oleh intensitas emosi yang jarang ia perlihatkan. Tangannya bergeser dari dagu Alena ke sisi leher wanita itu, jempolnya mengusap garis rahangnya yang halus. "Aku tidak memedulikan aliansi Ardent. Aku tidak memedulikan berapa banyak pedang yang bisa disumbangkan oleh ayahnya untuk dewanku."

​"Tetapi Raja Cedric memedulikannya!" potong Alena, suaranya meninggi sebelum ia dengan cepat memelankannya kembali karena takut terdengar pengawal patroli. "Raja memedulikannya, dewan memedulikannya, dan rakyat Aveloria membutuhkan kepastian. Anda tidak bisa mengorbankan stabilitas kerajaan hanya untuk..."

​Alena menghentikan kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkan.

​"Untuk apa?" desak Adrian, matanya mengunci mata Alena. "Untukmu? Untuk apa yang kita rasakan selama enam bulan terakhir ini?"

​"Ini hanya kebodohan musim panas, Adrian," kata Alena, membohongi dirinya sendiri dengan kata-kata paling kejam yang bisa ia temukan. "Kita terjebak dalam ilusi perpustakaan tua dan malam-malam yang sepi. Ketika saatnya tiba, Anda akan duduk di takhta itu dan saya akan kembali ke wilayah asal keluarga saya, menikah dengan seorang ksatria atau bangsawan rendah, dan melupakan bahwa kita pernah berada di taman ini."

​Tangan Adrian yang berada di leher Alena mengetat sekilas sebelum perlahan terkulai lemas ke samping tubuhnya. Pria itu mundur satu langkah. Ekspresi hangat yang tadinya sempat muncul mendadak lenyap, digantikan oleh topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan para menteri.

​"Melupakan?" ulang Adrian. Ia tertawa pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor yang terdengar sangat menyakitkan. "Kau begitu mudah mengatakannya, Alena. Seolah-olah kau bisa menghapus semua naskah yang kita baca bersama, setiap kata yang kita bisikkan, seolah-olah kau bisa mencabut hatimu sendiri dan meninggalkannya di sini."

​Alena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menyembunyikan getaran hebat yang melanda jemarinya. Kuku-kukunya menekan telapak tangannya hingga terasa perih, sebuah usaha sengaja untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya.

​"Aku tidak akan membiarkan ayahku mengatur seluruh hidupku," kata Adrian kemudian. Suaranya kembali tenang, namun jenis ketenangan ini jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. Itu adalah ketenangan seorang pria yang telah mengambil keputusan mutlak. "Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai Putra Mahkota. Aku akan menyetujui pertunangan politik ini karena dewan memaksaku. Namun dengarkan aku baik-baik, Alena Virelle..."

​Adrian kembali mendekat. Kali ini, ia tidak menyentuh Alena. Ia hanya menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Alena bisa merasakan hembusan napas hangatnya di kulit pipinya.

​"Suatu hari nanti, ketika takhta itu menjadi milikku sepenuhnya, aku tidak lagi harus tunduk pada aturan dewan tua yang ketakutan. Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali ke sisiku. Bukan sebagai rahasia di taman malam hari. Bukan sebagai juru tulis yang harus bersembunyi di balik pilar. Tetapi sebagai wanita yang hidup di sampingku."

​Alena menatap pria di hadapannya dengan rasa haru yang bercampur dengan ketakutan yang luar biasa. Janji itu... janji itu terlalu indah, terlalu berbahaya, dan sangat tidak realistis. Pangeran Adrian berbicara seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara, bukan sebagai calon penguasa yang terikat oleh hukum monarki yang kejam.

​Kerajaan Aveloria tidak pernah mengizinkan seorang wanita dari keluarga bangsawan rendah tanpa pengaruh politik untuk berdiri sejajar dengan Raja. Jika Adrian nekat melakukan hal itu kelak, dewan bangsawan akan menganggapnya sebagai ancaman dan kelemahan. Mereka tidak akan meragukan untuk menyingkirkan penyebab kelemahan itu.

​Sebab dalam permainan politik istana, menyingkirkan seorang wanita tanpa pelindung adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

​"Anda berjanji pada sesuatu yang tidak bisa Anda tepati, Adrian," gumam Alena pelan.

​Sebagai jawaban, Adrian merogoh sesuatu dari balik mantel tebalnya. Cahaya lentera yang remang menangkap kilatan logam perak dan pantulan cahaya dari sebuah batu permata kecil berwarna biru legam—sebuah batu Saphira kualitas tertinggi yang diukir halus membentuk kelopak bunga mawar.

​Itu adalah liontin pribadi keluarga Valerian, sebuah pusaka kecil yang diberikan oleh Almarhumah Nenek Adrian saat sang pangeran memenangkan pertempuran pertamanya di perbatasan barat.

​"Pegang ini," ujar Adrian sambil meletakkan rantai perak dingin itu ke telapak tangan Alena, lalu memindahkan jemari wanita itu agar menggenggamnya erat.

​"Tidak, Adrian! Ini terlalu berharga, aku tidak bisa—"

​"Ini bukan hadiah, Alena. Ini adalah ikrar," potong Adrian dengan nada tidak dapat diganggu gugat. "Selama kau memegang liontin itu, kau membawa sebagian dari jiwaku bersamamu. Jika kau ragu pada janjiku, lihat batu itu. Ingat malam ini. Ingat bahwa di balik semua hukum dan mahkota busuk ini, ada seorang pria yang menyembah tanah yang kau pijak."

​Alena meremas liontin itu. Sudut siku batu permata yang tajam menekan kulit telapak tangannya, meninggalkan rasa sakit yang nyata. Ia menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya malam itu, Alena membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes melintasi pipinya.

​Adrian mengusap air mata itu dengan jempolnya, gerakan yang sangat lembut hingga membuat dada Alena semakin sesak.

​"Jangan menangis," bisik Adrian. "Ini bukan perpisahan. Ini hanya penundaan."

​Namun malam itu, saat angin dingin berhembus kencang menerbangkan kelopak-kelopak mawar yang gugur di sekitar kaki mereka, Alena merasakan firasat yang sangat pekat di dalam dadanya.

​Sebuah firasat bahwa janji yang diucapkan di bawah naungan bayang-bayang tidak akan pernah bisa bertahan di bawah teriknya matahari istana.

​Keduanya berdiri saling menatap dalam keheningan yang panjang, menikmati sisa-sisa detik sebelum kenyataan memisahkan mereka kembali. Mereka tidak pernah tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka akan berbicara sebagai dua orang yang saling mencintai tanpa ada rahasia, tanpa ada kebohongan, dan tanpa ada darah yang menuntut kebenaran.

​Ketika Alena akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan Taman Mawar dengan membawa liontin perak di genggamannya, ia tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, kehidupan kecil baru sedang bersiap untuk tumbuh di dalam tubuhnya—sebuah rahasia yang tidak hanya akan menghancurkan janjinya dengan Adrian, tetapi juga akan memaksa dirinya menjadi seorang buronan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!